Men plan. God laughs.

“Men plan. God laughs.”

~Anonymous

Mual

Saat paling memualkan bagi saya adalah ketika hati paham rasa namun pikir gelap kata.

–Perenung yang kurang baca, minim daya ungkap.

Keberkatan Waktu

Jika kita tidak menyediakan waktu untuk Allah, maka kita tiada pernah punya waktu untuk apapun.

(Kesimpulan sementara tentang keberkatan waktu. Saripati dari pengalaman dan perenungan sabda-sabda.)

STUDIA HUMANIKA “Media Budaya, Budaya Media”

(Bagian II: Sisi Filosofis/Wacana)

Latar Belakang
Pada penghujung abad ke-20 dan awal abad ke-21, muncul arus balik sekularisasi atau penentangan terhadap sekularisme. Dengan arus balik tersebut, dinding-dinding pemisah antara entitas agama, sainstek dan sosial-budaya mulai lebur. Batasan antara sistem nilainya tidak lagi sepekat dahulu, ketika sekularisasi masih sangat kuat berpengaruh.

Meski telah terjadi arus balik sekularisasi, hubungan antara sains-teknologi, sosbud, dan agama, masih menghadapi dua permasalahan besar:

Pertama, masih berkembang anggapan di antara banyak para ilmuwan dan teknokrat (termasuk di ITB), bahwa agama menghambat perkembangan sainstek. Karena itulah, sekularisasi masih banyak didukung kaum ilmuwan dan teknokrat modern.

Kedua, adanya sistem nilai/ideologi tunggal yang sangat berkuasa/berpengaruh. Sistem tersebut adalah sistem nilai/ideologi ekonomi. Ideologi ini merengsek ke semua sistem dan memangsa nilai-nilai dari sistem-sistem tersebut.

Karena MEDIA menjadi ranah PERTEMUAN dan PERTEMPURAN antara ketiga sistem nilai di atas, maka ia menarik untuk dikaji.

Tujuan pengkajian ini adalah membangun sebuah STRATEGI KEBUDAYAAN yang memungkinkan terjadi DIALEKTIKA YANG SEHAT antara sistem AGAMA, SAISNTEK dan SOSBUD. Kajian media dalam kerangka strategi kebudayaan Indonesia, akan menyediakan dasar pemikiran, skenario-skenario dan model strategi kebudayaan dalam ranah media tersebut. Read More…

Birokrasi

Segala apa yang masih bisa dipersulit, mestilah dipersulit.
Segala apa yang tidak mudah, haruslah tetap tidak mudah.
Untuk itu semua birokrasi ada.

~Pengantar pelamar kerja yg sedang mempersiapkan berkas-berkas lamaran kerja.

Sop Kaki Kambing

Makanan ini biasanya dijajakan di warung pinggir jalan, dengan spanduk bertuliskan “Sop Kaki Kambing”, dan biasanya ditambah embel-embel ‘Khas Jakarta’, ‘Tanah Abang’, dsb. Dan yang selalu hampir pasti, ada deretan angka yang entah apa artinya, seperti ’999′, ’888′, dsb. Tapi saya belum pernah bertemu tenda yang bertuliskan ’666′, padahal kan tiga angka enam ini setidaknya ada hubungan dengan baphomet, sabbatic goat, alias kambing :).

Kita bisa memilih menu sop kaki, mulai dari tetelan, lidah, potongan kepala kambing, jeroan seperti paru, usus, babat, limpa, otak, dan yang pasti jawaranya, kaki kambing. Setelah memilih bagian yang mau kita santap, pedagang tinggal meracik tetelan dengan bumbu, potongan tomat, irisan bawang daun, lalu disiram kuah. Terakhir tidak lupa ditambahkan minyak samin, seperti mentega, yang akan mencair di atas kuah panas. Disajikan dengan nasi putih panas, dan taburan bawang goreng. Juga acar yang isinya mentimun, wortel, bawang merah, dan rawit. Biar seger, peras jeruk nipis di atas sop. Sedap.

Meski hobi makanan ini, saya tak pernah tahu cara menghitung harganya. Tiap kali makan, selalu berbeda-beda harga. Mungkin karena saya selalu ambil menu sendiri. Saya biasanya selalu memilih kaki dan otak, sisanya tak tentu. Kaki, karena cara makannya tricky sementara otak, karena sensasinya yang luar biasa, lumer di lidah. Nikmat.

Oh ya, mau tahu tips supaya lebih nikmat saat menyantap sop kaki kambing?  Sebelum makan, jangan pikir dulu masalah kesehatan.[]

Arfan

__________
Galeri foto: Read More…