Resensi: Ronggeng Dukuh Paruk

Ronggeng Dukuh Paruk (Trilogi)

Saya mengamini pendapat yang menyebutkan bahwa trilogi Ronggeng Dukuh Paruk (1981) merupakan karya masterpiece yang dihasilkan selama karier kesusastraan Ahmad Tohari. Saya pun meyakini bahwa trilogi Ronggeng Dukuh Paruk (selanjutnya tertulis RDP) merupakan satu dari sedikit literatur yang layak dibaca sebagai  roman sejarah yang menyinggung masa paling kelam dalam catatan historis kemanusiaan di Indonesia.

Ahmad Tohari terbilang berani untuk mengangkat tema yang termasuk tabu untuk dibicarakan di masanya. Tragedi 1965. Tragedi kemanusiaan yang dianggap sebagai noda sejarah yang diharamkan oleh rezim otoritarian yang bertiran kala itu, justru menjadi unsur gawatan dalam alur trilogi yang secara sentimentil didedahkan Ahmad Tohari dalam usahanya membangun klimaks cerita RDP.

Sekilas Proses Kreatif

Laiknya karya-karya sebelumnya, Di Kaki Bukit Cibalak (1978) dan Kubah(1980), Ahmad Tohari tidak sedikitpun mengabaikan pengalaman kedesaannya dalam merangkai cerita dalam trilogi RDP.

Lihatlah, begitu rincinya Tohari menggambarkan lansekap alam pedukuhan yang tak jarang dideskripsikan dengan istilah-istilah lokal. Begitu kompleksnya penokohan yang tercipta, sekaligus dengan ragam konflik kehidupan individu, lengkap dengan wawasan sederhana masing-masing tokoh yang khas rakyat pedesaan. Belum lagi, begitu mengenanya Tohari bercerita tentang konflik batin para tokohnya yang sarat dengan pelbagai nilai-nilai kemanusiaan.

Merupakan kemustahilan jika Tohari tidak melakukan pengamatan mendalam atas aktualitas sosiokultural pedukuhan kala itu, jika bukan karena pengalaman kedesaannya yang campur tangan dalam proses kreatif.

Rangkaian cerita RDP ditulis dalam kurun waktu tahun 1980-1985 setelah sebelumnya Tohari ‘mengandung janin’ RDP selama 15 tahun yang kelak dilahirkan dalam bentuk trilogi. Perihal maksud dan tujuan menulis RDP, Tohari mengatakan (dalam Eneste, 2009: 117):

“Saya (Ahmad Tohari – pen.) menulis RDP karena saya harus melahirkan sesuatu yang sudah saya kandung dalam jiwa saya. Saya hamil sastra maka kelahiran sebuah karya sastra adalah sesuatu yang alami dan dialektis. Tujuannya? Ah, tanyalah kaum perempuan yang dengan susah-payah melahirkan bayi-bayi tercinta.”

Tohari  menyebutkan bahwa trilogi RDP ditulis atas nama pertanggungjawaban moral sebagai pengarang, terhadap tragedi besar yang terjadi pada tahun 1965. Kesaksian atas nama kemanusiaan. Apalagi sampai awal tahun 80-an boleh dibilang belum ada laporan yang memadai menyangkut tragedi yang menelan ratusan ribu manusia sebagai korban itu (Eneste, 2009: 118).

Tohari begitu berani menyinggung keadaan sosial tepat di titiknya yang paling pedih di masa itu. Tragedi 1965 begitu membekas di jiwa Tohari muda (SMA kala itu), hingga pada puncaknya mendesak untuk dituliskan. Tak ayal, Tohari yang sedang menjabat sebagai redaktur harian Merdeka di Jakarta, saat itu memilih untuk pulang ke kampung halaman bermodal sebuah mesin tik demi menyelesaikan trilogi RDP. Keberanian kedua Tohari, meninggalkan pekerjaan demi berkarya.

Terbungkam Selama 22 Tahun

Mulanya, trilogi RDP sebenarnya merupakan cerita bersambung di harian Kompas pada tahun 80-an. Sesudah dibukukan dalam sebuah novel, pada tahun 1983 cerita Ronggeng Dukuh Paruk difilmkan. Melalui cerita bersambung dan film, secara tidak langsung trilogi RDP dipromosikan secara cuma-cuma. Karena itu, buku kedua dan ketiga, Lintang Kemukus Dinihari dan Jantera Bianglala tidak terlalu sulit untuk diterima masyarakat.

Namun begitu, karena tekanan tirani begitu kuat di masanya, maka Kompas maupun penerbit Gramedia tidak mau mengambil resiko untuk menerbitkan salahsatu bab dalam cerita trilogi RDP yang terlalu berbau tragedi komunisme. Untuk itu bab tersebut terbungkam selama 22 tahun.

Hingga akhirnya terbitlah trilogi RDP dalam satu bundel buku berjudul Ronggeng Dukuh Paruk (2003). Novel Tohari terbitan Gramedia ini memuat lengkap bagian yang terpangkas selama dua dasawarsa. Untuk itu, buku trilogi RDP ini memiliki nilai tambah dibanding ketiga buku yang sebelumnya dicetak terpisah: otentik.

Sekilas Sinopsis

Trilogi RDP terdiri dari tiga buku terpisah dengan judul berurut: Ronggeng Dukuh Paruk(dalam edisi 2003 berjudul Catatan Buat Emak), Lintang Kemukus Dinihari , dan Jantera Bianglala. Ketiga buku tersebut menjalin rangkaian cerita tentang kisah seorang ronggeng bernama Srintil dan kisah seorang pemuda bernama Rasus, yang keduanya menjadi tokoh pengejawantahan rakyat kecil yang berasal dari daerah terpencil, Dukuh Paruk.

Dukuh Paruk, sebuah desa terpencil di Selatan Jawa, yang memiliki ciri budaya tersendiri berupa tradisi ronggeng. Ronggeng adalah simbol kehidupan bagi desa kecil, miskin, dan bersahaja itu. Srintil yang dipercaya telah ‘dirasuki’ indang ronggeng segera ditahbiskan tetua adat menjadi pemangku gelar Ronggeng Dukuh Paruk.

Rasus, lelaki sahabat masa kecil Srintil, sedikit banyak merasa kehilangan Srintil yang resmi menjadi ronggeng. Karena dalam adat pedukuhan tersebut, ronggeng berarti wanita milik semua orang, untuk tidak menyebutkan sundal, lonte, atau pelacur. Namun, ronggeng dalam wawasan norma masyarakat Dukuh Paruk tidak kurang dari seorang dewi suci perlambang harga diri kolektif masyarakat desa. Rasus mengalah. Rasus pergi.

Seluruh unsur kehidupan Dukuh Paruk bersemangat, menggeliat, semenjak Srintil menjadi ronggeng. Gairah kehidupan Dukuh Paruk bertahan sampai malapetaka politik tahun 1965 meletus. Selepas tragedi sosial tersebut, Dukuh Paruk kehilangan nyawa. Srintil yang menjadi simbol pedukuhan, ditahan karena dosa politis. Dukuh Paruk hancur dibakar.

Selepas penahanan, Srintil mulai menyadari wawasan harkat martabat manusia sesungguhnya. Srintil melepas gelar ronggeng. Dia mulai menata hidup baru dengan berusaha menjadi wanita baik-baik. Srintil mulai berangan membina rumah tangga. Tentu saja Rasus yang pertama ada di angannya. Namun keadaan belum memungkinkan. Berbagai halang rintang mengaduk emosi para tokoh di dalamnya. Keadaan melahirkan konflik batin yang mengguncang jiwa Srintil. Mengguncang sampai ke titik yang paling hancur.

***

Kiranya resensi kali ini tidak perlu lebih panjang lagi. Sekedar menggambarkan, trilogi Ronggeng Dukuh Paruk setidaknya dapat dirangkum dalam tiga kata kunci: ronggeng, pedesaan, dan tragedi 1965.

Baiknya pembaca menyelami sendiri cerita penuh makna yang dapat dijadikan sebuah refleksi sejarah. Sejarah sosiokultural di kalangan akar rumput yang nyata pernah terjadi di negeri ini. Sejarah sosiokultural yang dikemas lewat pandangan bersahaja seorang sastrawan.

Narasi Tohari dalam trilogi RDP, tak ayal lagi akan mengaduk, menjungkirbalikan emosi pembaca sampai ke ranah yang paling mengejutkan.[]

Arfan Nurhadi

__________

Judul: Ronggeng Dukuh Paruk | Penulis: Ahmad Tohari, 1981 | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Cetakan: Keenam, Januari 2011 | Tebal: 408 halaman

About these ads

Tags:

About Arfan

Kurang ajar, makanya belajar.

4 responses to “Resensi: Ronggeng Dukuh Paruk”

  1. Anonymous says :

    cerdas berisi dan jas merah banget

Trackbacks / Pingbacks

  1. Review: Sang Penari « RFUN - 5 November 2012
  2. Menanti Sang Penari « RFUN - 5 November 2012

Komentar anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: