Gunung Salak, Kab. Sukabumi, Jawa Barat

Gunung Salak terletak di Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Bogor, Jawa Barat, berada di titik astronomis 6°43′ LS dan 106°44′ BT, dengan ketinggian 2,221 mdpl. Gunung ini memiliki vegetasi alami khas hutan basah. Kabarnya masih terdapat binatang langka seperti macan tutul, ayam hutan, owa jawa, dan elang jawa. Tak lupa, di tanahnya yang basah banyak terdapat pacet dan lintah yang gemar menghisap darah.

Beberapa jalur pendakian menuju puncak Gunung Salak (baca: Salak I) diantaranya adalah Jalur Cidahu, jalur Cimelati, dan jalur Gunung Bunder. Jalur resmi pendakian adalah jalur Cidahu. Sedangkan jalur Cimelati merupakan jalur illegal, karena tidak ada proses registrasi untuk melewati jalur tersebut. Sementara itu jalur Gunung Bunder merupakan jalur pendakian yang melewati puncak Salak II.

Jalur Pendakian Cidahu
Karakteristik masing-masing jalur sangat berbeda. Karakter track jalur Cidahu cukup variatif, mulai dari undakan akar, jalan setapak berbatas jurang, tanah rawa sedalam matakaki, hingga tebing yang menuntut pendaki memanjat tebing dengan bantuan tali.

Waktu tempuh dalam kondisi normal adalah 6 jam, mulai dari pos registrasi Hutan Wisata Cangkuang menuju Puncak Salak I. Waktu tempuh relatif lama, karena jalur Cidahu dilewati dengan cara memutar, mengikuti kontur punggungan gunung menuju Barat lalu berbelok ke Utara.

Jalur pendakian di jalur Cidahu sangat jelas, jarang ada jalur cabang. Pengelola memasang patok tiang berwarna hijau tiap 100 meter (patok HM – hektometer). Patok inilah yang menjadi petunjuk dalam pendakian jalur Cidahu. Lokasi pemasangan patok sangat konsisten, sehingga pendaki tidak perlu khawatir tersesat asal seksama dalam memperhatikan patok.

Sumber air terakhir berada di pos Bajuri, sekitar HM 28. Di lokasi ini ada dua area dataran cukup luas untuk camping jika berencana bermalam.

Jalur pendakian Cimelati
Karakteristik jalur Cimelati sangat bertolak belakang dengan jalur Cidahu yang landai namun bervariatif. Jalur Cimelati didominasi undakan batu dan akar yang sangat curam. Jarang terlihat jurang seperti pada jalur Cidahu, mungkin karena jalur Cimelati ini merupakan lembahan gunung. Jalur ini ditutupi vegetasi yang cukup lebat. Baru terasa esensi penamaan Gunung Salak saat melewati jalur ini, karena beberapa kali terlihat pohon salak di sudut-sudut bebatuan.

Banyak cabang yang membingungkan pendaki yang baru pertama melewati jalur ini. Oleh karena itu kebanyakan pendaki Gunung Salak tersesat saat melewati jalur Cimelati. Namun begitu banyak pendaki mengatakan jalur Cimelati merupakan jalur ekspres. Pasalnya, dalam kondisi normal, waktu tempuh menuju puncak Salak I berkisar antara 3-4 jam.

Sumber air terakhir jika mendaki melewati jalur Cimelati berada di area ‘Pipa’. Begitu para pendaki menamakan area ini, karena di lokasi ini terdapat pipa yang mengalirkan mata air menuju kaki gunung.

Area ini merupakan sumber air, karena pipa tersebut bocor dan air bocoran pipa sering dimanfaatkan pendaki untuk perbekalan. Area pipa ini setidaknya memiliki tiga cabang, ke arah puncak Salak I, ke arah air terjun, dan ke arah menyesatkan:). Terdapat satu dataran yang cukup luas untuk bertenda, yaitu sekitar tiga menit sebelum area pipa.

Puncak Salak I
Puncak Gunung Salak (Puncak Salak 1) berada di ketinggian 2211 mdpl. Setidaknya ada tiga area dataran yang memungkinkan untuk mendirikan tenda. Dataran di puncak Salak I dikelilingi oleh vegetasi pepohonan yang cukup lebat, dan hanya menyisakan sedikit space pemandangan ke bawah yang mempertegas bahwa dataran ini adalah puncak gunung.

Area paling nyaman adalah area tempat plang penanda puncak berdiri. Dataran disini dapat memuat hingga tiga tenda dan sekaligus menyuguhkan pemandangan kota Bogor yang dibingkai oleh untaian tumbuhan paku di bagian bawah dan iringan kapas awan di bagian atas. Puncak Gunung Bunder (Puncak Salak II) terlihat jelas, menunggu untuk dipijak.

Tips Utama
Bagi kawan-kawan yang ingin mendaki gunung Salak, usahakan pendakian dilakukan pada musim kemarau. Karena jika turun hujan, tanah di jalur pendakian cenderung lengket, bahkan di beberapa titik akan berubah menjadi lumpur sedalam betis. Tentunya akan menyulitkan pendakian.

Tak lupa gunakan gaitter untuk mencegah betis ini dirayapi pacet atau lintah. Bisa juga melumuri tembakau basah pada bagian tubuh yang sering kontak dengan tanah. Perokok atau bukan, selalu bawa rokok kretek (non filter, karena potongan tembakaunya besar-besar) untuk mencegah pendakian yang ‘berdarah-darah’ akibat pacet.[]

Arfan

__________
Galeri foto:


Foto: dokumen pribadi.

Tags: , ,

About Arfan

Kurang ajar, makanya belajar.

Komentar anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: