Villa di Puncak Gunung Salak

Oleh Arfan Nurhadi

“Nu paling awis, ongkos ngangkutan materialna!” sahut seorang peziarah yang turut andil membangun ‘villa’ di puncak Gunung Salak.

Memang ‘villa’ gubuk yang dibangun dengan material kayu dan seng ini sangat sederhana. Namun pernyataan mas-mas tadi, mengenai mahalnya ongkos angkut material gubuk dari kaki gunung ke puncak, menjadi masuk akal mengingat track pendakian Gunung Salak yang cukup ekstrim.

Jalur Pendakian Cidahu
          Beberapa jalur pendakian menuju puncak Gunung Salak (baca: Salak I) diantaranya adalah Jalur Cidahu, jalur Cimelati, dan jalur Gunung Bunder. Jalur resmi pendakian adalah jalur Cidahu. Sedangkan jalur Cimelati merupakan jalur illegal, karena tidak ada proses registrasi untuk melewati jalur tersebut. Sementara itu jalur Gunung Bunder merupakan jalur pendakian yang melewati puncak Salak II.

Karakteristik masing-masing jalur sangat berbeda. Karakter track jalur Cidahu cukup variatif, mulai dari undakan akar, jalan setapak berbatas jurang, tanah rawa sedalam matakaki, hingga tebing yang menuntut pendaki memanjat tebing dengan bantuan tali.

Waktu tempuh dalam kondisi normal adalah 6 jam, mulai dari pos registrasi Hutan Wisata Cangkuang menuju Puncak Salak I. Waktu tempuh relatif lama, karena jalur Cidahu dilewati dengan cara memutar, mengikuti kontur punggungan gunung menuju Barat lalu berbelok ke Utara.

Jalur pendakian di jalur Cidahu sangat jelas, jarang ada jalur cabang. Pengelola memasang patok tiang berwarna hijau tiap 100 meter (patok HM – hektometer). Patok inilah yang menjadi petunjuk dalam pendakian jalur Cidahu. Lokasi pemasangan patok sangat konsisten, sehingga pendaki tidak perlu khawatir tersesat asal seksama dalam memperhatikan patok.

Sumber air terakhir berada di pos Bajuri, sekitar HM 28. Di lokasi ini ada dua area dataran cukup luas untuk camping jika berencana bermalam.

Jalur pendakian Cimelati
          Karakteristik jalur Cimelati sangat bertolak belakang dengan jalur Cidahu yang landai namun bervariatif. Jalur Cimelati didominasi undakan batu dan akar yang sangat curam. Jarang terlihat jurang seperti pada jalur Cidahu, mungkin karena jalur Cimelati ini merupakan lembahan gunung. Jalur ini ditutupi vegetasi yang cukup lebat. Baru terasa esensi penamaan Gunung Salak saat melewati jalur ini, karena beberapa kali terlihat pohon salak di sudut-sudut bebatuan.

Banyak cabang yang membingungkan pendaki yang baru pertama melewati jalur ini. Oleh karena itu kebanyakan pendaki Gunung Salak tersesat saat melewati jalur Cimelati. Namun begitu banyak pendaki mengatakan jalur Cimelati merupakan jalur ekspres. Pasalnya, dalam kondisi normal, waktu tempuh menuju puncak Salak I berkisar antara 3 – 4 jam.

Sumber air terakhir jika mendaki melewati jalur Cimelati berada di area ‘Pipa’. Begitu para pendaki menamakan area ini, karena di lokasi ini terdapat pipa yang mengalirkan mata air menuju kaki gunung.

Area ini merupakan sumber air, karena pipa tersebut bocor dan air bocoran pipa sering dimanfaatkan pendaki untuk perbekalan. Area pipa ini setidaknya memiliki tiga cabang, ke arah puncak Salak I, ke arah air terjun, dan ke arah menyesatkan:) Terdapat satu dataran yang cukup luas untuk bertenda, yaitu sekitar tiga menit sebelum area pipa.

Puncak Salak I
          Puncak Gunung Salak (Puncak Salak 1) berada di ketinggian 2211 mdpl. Setidaknya ada tiga area dataran yang memungkinkan untuk mendirikan tenda. Dataran di puncak Salak I dikelilingi oleh vegetasi pepohonan yang cukup lebat, dan hanya menyisakan sedikit space pemandangan ke bawah yang mempertegas bahwa dataran ini adalah puncak gunung.


Area paling nyaman adalah area tempat plang penanda puncak berdiri. Dataran disini dapat memuat hingga tiga tenda dan sekaligus menyuguhkan pemandangan kota Bogor yang dibingkai oleh untaian tumbuhan paku di bagian bawah dan iringan kapas awan di bagian atas. Puncak Gunung Bunder (Puncak Salak II) terlihat jelas, menunggu untuk dipijak.

Villa di Puncak Gunung Salak
          ‘Villa’ di puncak Gunung Salak, merupakan fakta yang cukup unik. Akibat dimakamkannya Mbah Gunung Salak (konon beliau adalah sesepuh salah satu pesantren) di puncak Salak I, maka banyak masyarakat yang mengunjungi makam tersebut sekedar untuk berzikir sekaligus tadabbur alam di puncak gunung.

Atas inisiatif beberapa santri yang hampir sebulan sekali mendaki puncak Salak I untuk berziarah, maka didirikanlah gubuk kayu persis di depan makam. Luasnya cukup untuk 7-9 orang dewasa tidur di dalamnya.

Yang unik, mereka tidak sekedar membangun gubuk tempat camp, melainkan dibangun pula gubuk khusus kegiatan dapur, lengkap dengan peralatan masak, bahkan di bawah gubuk camp, terdapat bath tub keramik yang dapat menampung air hujan. Mereka pun mengijinkan bagi siapa saja untuk menggunakan segala fasilitas gubuk tersebu, kapanpun. Karena itulah saya menyebutnya villa.

Beruntung saya dan teman-teman sempat bercengkrama dengan para santri tersebut di puncak. Sebenarnya, kami tidak perlu mendirikan tenda, karena mereka menawarkan kami untuk menggunakan gubuk tersebut untuk beristirahat. Cuma, punggung ini tidak rela jerih payahnya mengangkut tenda tidak dianggap.

Ada hal yang paling berkesan bagi saya di kala itu. Sepanjang malam mereka mengaji Al-Quran dengan suara lantang, dan entah mengapa suasana di puncak terasa sejuk. Tidak terasa lagi dingin akibat kuyup guyuran hujan sejak siang. Telinga disuguhi lantunan ayat suci, mata dimanjakan kerlap-kerlip city lights, dan hati diliputi bahagia.[]

__________
ilustrasi: doc. pribadi

Tags: , ,

About Arfan

Kurang ajar, makanya belajar.

Komentar anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: