Pantai Sundak, Indah Karena (Tidak) Dikelola Pemerintah

“Pantai ini punya-nya Kesultanan Jogja mas, yang ngurus ya kita ini!” begitu kata Pak Ponco, pemilik warung sekaligus kuncen pantai Sundak.

Takjub. Itulah kesan pertama saat menginjakkan kaki di Pantai Sundak. Awalnya saya ragu akan menemukan pantai yang “ideal” di Jogja. Apalagi pantai di daerah wisata populer seperti Jogja.

Bayangan saya, pantai di daerah wisata populer tidak akan jauh berbeda dengan keadaan pantai-pantai lain yang terkenal, seperti Pangandaran, Parangtritis, bahkan Kuta. Keadaan yang seolah-olah “wajib” bagi pantai populer, biasanya kotor, sampah berserakan, jongko pedagang yang acak-acakan, dan lainnya (meskipun tidak semua pantai populer seperti itu). Nyatanya asumsi saya mental, dibantah oleh keadaan di Pantai Sundak. Nanti saya ceritakan.

Sekilas Tentang Pantai Sundak
Secara birokratis (baca: administratif :b) Pantai Sundak berada di desa Sidoharjo, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi D.I.Yogyakarta.

Konon, penamaan Sundak adalah kependekan dari Asu dan Landak. Jadi ceritanya, dahulu ada asu (anjing) yang bertengkar dengan landak. Anjing itu mengejar landak yang berlari menuju goa. Pemilik anjing keheranan setelah mendapati anjingnya basah kuyup saat keluar dali mulut goa. Setelah dicek, ternyata di dalam goa tersebut terdapat sumber mata air. Hal ini merupakan keberuntungan bagi warga di daerah yang sulit air ini.

Karena perkelahian anjing dan landak dianggap membawa berkah, maka dinamakanlah daerah ini sebagai Sundak. Asu dan Landak.

Jika anda ingin mengunjungi tempat ini tok, disarankan membawa kendaraan pribadi saja. Lain halnya bila anda berencana menyusur pantai menuju pantai Baron, 7 km dari pantai sundak ke arah barat, lebih baik anda mencarter minibus dari Terminal Wonosari.

Untuk akomodasi, jika ingin nyaman dan tidak merepotkan warga, lebih baik untuk membangun tenda. Tapi, warga pemilik warung di pantai Sundak mengizinkan kok, jika anda ingin bermalam di warung milik mereka.

Untuk masalah konsumsi, warung milik warga setempat–yang biasanya hanya satu yang buka–menyediakan penganan standar dengan harga terjangkau, seperti nasi goreng, mie ayam, dan lainnya. Tidak ada yang istimewa selain keramahan si pemilik warung.

Oh ya, untuk kegiatan MCK, tersedia WC yang didirikan oleh warga. Meski sederhana, entah mengapa saya sangat betah berlama-lama di dalamya. Mungkin karena kebersihannya yang di atas rata-rata WC umum kebanyakan.

Potensi Flora dan Fauna Pantai Sundak
Saya tidak dapat berkata banyak tentang flora dan fauna yang ada di pantai sundak. Karena ilmu biologi saya sangat minim. Namun jika anda ingin tahu, ada blog siswa-siswi SMAIT Nur Hidayah yang cukup baik menjelaskan potensi flora dan fauna di pantai Sundak (http://www.bioman-smaitnurhidayah.co.cc/2009/03/will-go-to-sundak-beach.html).

Perjalanan ke Pantai Sundak
Untuk mencapai pantai ini kita harus naik-turun angkutan umum. Jika titik start adalah Malioboro, kita harus berjalan ke arah:

  • Stasiun Lempuyangan. Lalu cari bus ke arah
  • Terminal Giwangan. Dari terminal Giwangan, naik bus tujuan
  • Terminal Wonosari untuk kemudian berganti kendaraan menuju
  • Pantai Sundak.

Nah, di terminal Wonosari, saya mulai bingung. Setelah bertanya kiri kanan, ternyata jarang ada angkutan umum ke Pantai Sundak, apalagi pada hari-hari biasa. Alih-alih kecewa, saya justru sangat senang, pasalnya, Pantai Sundak pasti sepi pengunjung

Beruntung, salahsatu pengemudi minibus (Di Jawa Barat lazim disebut elf [baca: elp], minibus berasap hitam yang –rata-rata– pengemudinya berpotensi menjadi pereli Dakkar, dan kernetnya berbakat menjadi stuntman) menawarkan untuk mengantar kami langsung ke Pantai Sundak dengan biaya charter. Lobying skill kita diuji disini.

Berangkatlah kita dengan kepercayaan penuh kepada supir minibus, bahwa kita akan dibawa menuju ke jalan yang benar. Tak dinyana, meskipun daerah pedesaan yang relatif terpencil, namun kondisi jalan raya menuju Pantai Sundak sangat mulus. Jauh jika dibandingkan dengan kondisi jalan raya di kota besar yang berjerawat.

Sekitar satu jam, selain jalur mulus dan perjalanan yang berkelok-kelok, kami disuguhi pemandangan yang menyita mata. Jalan raya pedesaan diapit oleh rimbun pohon jati yang berselang-seling dengan ilalang. Pohon-pohon bengkok berkayu keras sering terlihat memanjati karst batu kapur berwarna putih yang kontras menjulang di atas rimbun rerumputan. Menjelang pantai, debur ombak bersorak menyambut kedatangan siapa saja yang berkunjung. Sungguh, saya sangat terkesan dengan pengalaman ini.

Heavenly Sundak
Setibanya di Pantai Sundak, kami diwanti-wanti oleh supir minibus bahwa tidak akan ada kendaraan untuk pulang nanti. Kendaraan hanya ada di hari Minggu, dan itu esok lusa. Kendaraan hanya ada di Pantai Baron, dan itu jauh dari sini. Tidak ada cukup waktu untuk was-was, debur ombak pantai Sundak sudah menggapai-gapai minta dijamah.

Oke, saya perlu mengatakan bahwa Allah adalah Seniman. Apa yang ada di depan mata adalah lukisan maha indah, lukisan dengan dominasi syahdunya biru langit dan sejuknya hijau perairan. Terbingkai oleh bukit karang di kiri dan kanan, sapuan awan di sisi atas dan pasir putih di sisi bawah. Cantik!

Kawasan pantai Sundak cukup sempit. Jika kita berjalan dari batas bukit karang di sisi kanan ke bukit karang sisi kiri, mungkin hanya memakan waktu tiga menit. Sepanjang itulah pasir putih pantai Sundak. Oh ya, saya lupa menyarankan; gunakan kacamata hitam pada tengah hari, karena pemandangan sangat silau, saking putihnya pasir pantai.

Perlu diceritakan di sini, bahwa selain indahnya kombinasi benda alam dalam view di pantai Sundak, hal lain yang menarik perhatian saya adalah pasir putih pantai Sundak sangat bersih. Tidak ada sampah sama sekali. SAMA SEKALI.

Sebenarnya ada papan pengumuman yang berisi larangan bagi pengunjung untuk berenang di pantai Sundak. Namun, beruntung saat kami ke sana, ombak sangat tenang dan perairan surut hingga sejauh 10 meter dari bibir pantai. Air laut yang terperangkap dalam palung-paling karang yang dalamnya sekitar sepinggang orang dewasa, menjadi tempat yang sempurna untuk berenang.

Bahkan kita dapat berjalan-jalan mencari bintang laut di area batu karang yang meluas, karena air surut. Tapi hati-hati, sangat disarankan untuk menggunakan alas kaki, karena selain karang yang tajam, disini banyak bulu babi. Bukan karena haram, tapi bulu babi itu tajam. Hehehe.

Oh ya, hati-hati jika berenang di pantai ini. Disarankan untuk melihat kondisi dengan seksama. Jika gelombang tinggi dan perairan tidak surut jangan memaksakan untuk berenang. Menurut beberapa sumber, sudah ada korban ganasnya pantai berkarakter pantai selatan ini.

Goa Sejarah Penamaan Pantai Sundak
Saya bertemu Pak Ponco, yang bersama anak perempuannya mengelola warung nasi. Warung ini adalah satu-satunya warung yang tidak pernah tutup. Setelah memperkenalkan diri, saya asyik bercerita dengannya. Beliau mengatakan bahwa dahulu, ombak bisa mencapai mesjid, sambil menunjuk mesjid (yang jarang digunakan) yang berjarak kira-kira 20 meter dari bibir pantai.

Beliau menyarankan kami untuk melihat-lihat goa yang menjadi sejarah penamaan pantai Sundak ini. Kami diantarnya ke sana. Goa yang cukup gelap ini memiliki kedalaman sekitar 5 meter saja. Di ujung goa terdapat semacam sumur mata air. Uniknya meskipun sangat dekat dengan pantai, air ini rasanya tawar. Menurut Pak Ponco, air disini tidak pernah surut. Di sumur inilah si Anjing tercebur saat mengejar landak.

Klimaks di Bukit Sunset
Bukit sebelah barat pantai Sundak sama seperti bukit sebelah timur, merupakan bukit karang yang berlumut. Tidak terlalu tinggi untuk dinaiki. Di atas bukit terdapat semacam gazeebo permanen sebagai tempat untuk memandang suguhan lukisan cakrawala.

Kami lebih memilih duduk-duduk di dekat bibir jurang bukit. Dari sini pemandangan sangat memikat. Pantai Sundak terlihat keseluruhan di samping timur, sedangkan di samping barat terlihat pantai Drini dan kapal-kapal nelayan yang berlabuh. Saya menyimpan sensasi takjub untuk menunggu sunset yang beberapa saat lagi terjadi.

Saya tidak salah, inilah klimaks pertunjukan alam di pantai Sundak. Jingga mengiringi surya kembali ke peraduan. Jika ini film drama, saya akan menangis darah. :)

Pantai Sundak Milik Kesultanan
Saya bertanya ihwal siapa yang sebenarnya pengelola pantai ini. Dan ternyata, menurut pengakuan Pak Ponco, oantai Sundak adalah milik Kesultanan Yogyakarta.

“Pantai ini punya-nya Kesultanan Jogja mas, yang ngurus yaa, kita ini!” begitu kata Pak Ponco, pemilik warung sekaligus salah satu kuncen pantai Sundak.

Menurut pengakuannya, dia tidak dibayar dalam menunaikan tugasnya memelihara pantai ini.

“Yaa, ini salah satu bentuk pengabdian saya kepada sri sultan, mas!” katanya sambil memandang pantai, dengan mimik yang puas.

Saya berasumsi, bahwa pantai ini bersih dan tertata rapi, karena tidak dikelola oleh pemerintah. Birokrat yang bekerja berlandaskan materi.

Pantai ini sangat bersih dan sangat tertata rapi, karena dikelola oleh Pak Ponco. Rakyat bersahaja yang bekerja berlandaskan pengabdian. Pengabdian sepenuh hati kepada Sri Sultan, pemimpin yang beliau anggap bijaksana.[]

Arfan

__________

foto dokumentasi: Angga, Subarkah, Faisal

Tags: , ,

About Arfan

Kurang ajar, makanya belajar.

4 responses to “Pantai Sundak, Indah Karena (Tidak) Dikelola Pemerintah”

  1. aloysius triantoro says :

    great….! saya yang orang jogja aja blum pernah ke sana…hanya mentok di pantai baron…next trip harus sampai ke pantai sundak…thanks buat info nya

  2. Arfan . says :

    Ok. Sama-sama…
    Seneng tulisan ini manfaat..

  3. andalusia NP says :

    bersih dan indah sekali ya Fan?!!
    Pantai itu jadinya dikomersilkan ga Fan? Di daerah pandeglang juga ada, pantai yang indah sekali tapi blm terlalu banyak dikenal org namanya “Tanjung Lesung”. Belum dikelola pemerintah, tapi jadinya dikelola swasta. Untuk masuk ke wilayah pantai yang bisa dijadikan tempat bermain kita harus bayar cukup mahal, sekitar 30rb/org. Makanya waktu itu saya dan teman2 memilih sekalian bermalam di hotel sekitar supaya dapat sekaligus voucher main di laut juga.
    Indahnya sih tanjung lesung mirip2 pantai Sundak ini, coba deh ke sana…

  4. Arfan . says :

    Oya, Tanjung Lesung, sempet mau maen kesana..
    Tapi, gak tau deh, kalo denger tempat wisata alam yang dikomersilkan, rasanya males berkunjung..
    Sebagus apapun itu, berasa nggak ada 'seni'nya..

    Dari dulu, saya sangat gak setuju ama orang2 yang mengkomersilkan fasilitas umum yang jelas2 bukan kepunyaannya.. Seharusnya, kalo mengelola, yaa udahlah, ambil uang seperlunya aja.. Bukan malah dikomersilkan membabi buta.. Dampaknya, masyarakat kecil jadi gak mampu menikmati alam ciptaan Tuhan-nya sendiri..

    Ada tuh yang kayak begitu di daerah Karimun Jawa.. Nanti saya ceritain di blog..

Komentar anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: