Nol Rupiah, Susur Pantai di Gunung Kidul

 “Dari Sundak gak ada angkutan Mas. Kalo mau, jalan dulu ke pantai Baron, baru di sana ada angkutan!”

Itulah petuah terakhir supir minibus saat menurunkan kami di pantai Sundak. Namun, karena euphoria berlebih akan keindahan pantai, maka kami tidak menyimak kalimat ‘bijak’ sang supir.

Setelah lelah bermain ombak di tengah hari, kami beristirahat sambil mendirikan tenda. Saat sedang santai, barulah kami ngeh akan kata-kata sang si supir minibus tadi. Bahwa esok, saat kami akan kembali ke Jogja kami harus berjalan kaki menuju pantai Baron yang kami tidak tahu seberapa jauh jaraknya dari pantai Sundak.

Disusunlah rencana perjalanan esok hari. Karena tidak tahu berapa lama dan trek seperti apa yang akan ditempuh untuk berjalan menuju pantai Baron, maka kami harus berangkat sepagi mungkin dari pantai Sundak. Susur pantai kawan!

Garis Pantai Kabupaten Gunung Kidul
Garis pantai selatan di Kab. Gunung Kidul (40 km arah selatan Jogja) melintang sepanjang barat ke timur. Banyak pantai menarik yang sangat disarankan untuk dikunjungi. Rata-rata pantai di Gunung Kidul berpasir putih, daerahnya cukup sempit, pantai landai, bibir pantai didominasi karang tempat hidup berbagai makhluk air, bersih dan sepi pengunjung. Jadi, jika kita berkunjung di waktu yang tepat, (terutama di hari kerja) maka kita seakan berada di pantai pribadi.

Pantai-pantai dengan karakteristik khas tersebut, biasanya dibatasi oleh bukit karang di sisi kiri dan kanan. Kurang lebih ada 13 pantai yang berjajar dengan sekat bukit karang. Rute susur pantai yang (tidak) sengaja kami lakukan dimulai dari pantai Sundak, pantai Drini, P. Sepanjang, P. Kukup dan berakhir di P. Baron.

Menurut Pak Ponco, (warga di pantai Sundak) jarak dari pantai Sundak ke pantai Baron adalah 7 km. Trek perjalanan berupa bukit karang, perkebunan nenas milik warga, pasir putih pantai, dan pedesaan.

Here We Go
Perjalanan dimulai pada pukul 06.00 tepat, dari bukit karang sebelah kanan pantai Sundak. Tidak lama berjalan, kami menginjakkan kaki di pasir putih pantai Drini. Sayang, matahari belum tampak sempurna, sehingga pemandangan di pantai Drini kurang maksimal.

Terus berjalan ke barat, menyusur pantai Drini menuju ke pantai Sepanjang yang berjarak sekitar 1km. Kita akan disuguhi lansekap yang indah disini. Berjalan di pasir putih, dengan belaian ombak di kaki kiri, sementara sapuan tetumbuhan berdaun lancip di sisi kanan. Hijau batu karang yang berdiri di depan menandakan kami akan sampai di pantai berikutnya, Pantai Sepanjang.

Sama seperti dua pantai sebelumnya, pantai Sepanjang berpasir putih dengan hamparan karang datar di bibir pantai. Namun bedanya, garis pantai Sepanjang adalah yang terpanjang dari semua pantai di Gunung Kidul. Katanya, pemerintah setempat berencana untuk menjadikan pantai Sepanjang menjadi Kuta ke-2 di Indonesia.

Pada jalur perjalanan pantai Sepanjang kita bisa beristirahat di bukit-bukit karang yang cukup tinggi untuk melihat pemandangan pantai Drini di sebelah barat dan gugusan pantai-pantai di sebelah timur. Kita harus hati-hati untuk beraktifitas di bukit-bukit karang ini, karangya tajam kawan! Jurang bukit akan langsung melempar siapa saja yang tak waspada, menuju debur ombak di bawahnya.

Dari bukit di sekitar pantai Sepanjang jelas terlihat pantai Kukup, Baron, Ngrenehan, dan Ngobaran yang masing-masing dibatasi ‘sekat’ bukit karang. Mereka melirik-lirik dari balik bukit karang, minta dijamah.

Dari pantai Sepanjang, seharusnya kami singgah di pantai Kukup. Namun sayang, bukit karang pembatas pantai Sepanjang-Kukup yang cukup tinggi menyulitkan kami untuk mendakinya. Akhirnya kami berbelok ke Utara ke arah perkebunan milik warga.

Labirin Perkebunan Jagung
Dari sini kami tidak pernah lagi menginjak pasir putih. Kami menyusuri perkebunan jagung, nenas dan pedesaan yang sangat sepi. Bisa dihitung jari, warga yang berpapasan dengan kami.

Kami banyak menghabiskan waktu di perkebunan ini. Bukan menikmatinya, foto-foto, atau istirahat. Kami tersesat!

Kondisi perkebunan mengingatkan saya pada scene film “The Beach”, yang diperankan Leonardo di Caprio, saat dia berlari dikejar-kejar musuh di ladang dengan tumbuhan-tumbuhan setinggi orang bule dewasa. Bedanya, tumbuhan di film itu adalah pohon-pohon marijuana (Cannabis sativa). Sedangkan ladang tempat kami tersesat adalah pohon-pohon Zea mays (Jagung boss!). Sayang sekali. :p

Yang menarik, saat saya bertanya kepada dua ibu-ibu petani di kebun Jagung perihal jalur menuju pantai Baron, mereka menjawab dengan bahasa Jawa yang sangat tidak saya pahami. Saya tahu sedikit bahasa Jawa standar. Namun, bahasa yang ibu tersebut gunakan, saya betul-betul tak paham.

Saya : “Bu, numpang tanya, kalo mau ke pantai Baron lewat mana ya?”

Ibu 1 : “#7*$&%*#(@&$*($*!”

Saya : “Mmmmmhhh…”

Ibu 2 : “Iki toh, *%$&(@&%(#$!” (sambil menunjuk-jari ke arah Utara)

Saya : “Oooohh! HATUR NUHUN Bu!”

Ibu 1&2: “….” (sambil angguk-angguk, lalu saling pandang keheranan)

Ternyata, bahasa Indonesia belum menjadi bahasa nasional sesungguhnya, sebagaimana ikrar Sumpah Pemuda.

Selepas terbebas dari ‘labirin’ perkebunan, akhirnya kami menemukan jalan aspal. Waktu menunjukkan pukul 12.00. Sambil istirahat, kami menikmati buah srikaya yang kami dapat (curi) dari kebun. ;)

Kami melanjutkan perjalanan melalui jalan aspal yang diapit oleh pesawahan di kiri kanan. Cukup jauh kami berjalan. Tidak banyak yang bisa diceritakan.

Tiba di Pantai Baron
Pukul 13.00 kami tiba di Pantai Baron. Berarti, total waktu tempuh perjalanan susur pantai adalah 7 jam. Tidak ada yang istimewa di pantai ini (setidaknya menurut pendapat saya pribadi). Dari gerbang masuk sudah banyak terlihat sampah dan kios-kios yang semrawut. Mungkin karena pantai ini adalah pantai yang paling sering dikunjungi wisatawan.

Berhubung sangat lelah dan karena kesan pertama yang tidak menggoda (banyak sampah dll), maka saya jadi malas untuk melihat-lihat pantai. Beristirahatlah kami di warung es kelapa muda, yang rasanya seperti minuman dari surga, saat itu.

Tidak lama, kami menumpang minibus yang bertebaran di pelataran parkir pantai Baron, menuju Wonosari untuk kemudian ke Jogja.

Cukup kecewa juga, karena perjalanan ini berakhir di pantai Baron. yang tidak istimewa saat itu. Seharusnya, perjalanan kami dimulai dari pantai Baron dan berakhir klimaks di pantai Sundak. Lalu merana karena tidak ada kendaraan pulang dari pantai Sundak. :)

Oke, tak apa-apa. Yang cukup menghibur, kami menyadari bahwa kita sudah dapat mengunjungi lima dari banyak pantai yang indah di Kab. Gunung Kidul, tanpa mengeluarkan uang tiket, retribusi, dsb. Hanya dengan nol rupiah saja![]

Arfan

__________
Foto dokumentasi: Angga, Subarkah

Tags: , ,

About Arfan

Kurang ajar, makanya belajar.

11 responses to “Nol Rupiah, Susur Pantai di Gunung Kidul”

  1. andalusia NP says :

    waaa nol rupiah?? seru juga ya!!
    saya ke tanjung lesung habis cukup banyak uang, soalnya masuk ke daerah pantainya aja bayar :((

    btw, foto yg paling atas bagus sekali…

  2. Arfan . says :

    Hehehe.. Iya, soalnya, kita berhenti di Pantai Sundak yang gak ada “tiket box”-nya, waktu itu.
    Terus, kita seharian susur pantai, yang notabene gak lewat “tiket box”, melainkan lewat bibir pantainya langsung. Jadi gak pernah bayar deh..

    Btw, Tanjung Lesung perlu dicoba kayaknya nih..

  3. blackapple maulana says :

    mas, boleh minta rute ke pantai tsb dari jogja pake angkutan umum/bus ??
    saya jg tertarik buat pergi kesana..

  4. Arfan . says :

    Om Vortex, maaf baru sempet bales..
    Kebetulan saya jarang buka MP akhir2 ini.
    Ini rute kalo pake bis umum dari Jogja:
    – Terminal Giwangan, Bus – 2 jam (Rp 5000)
    – Pasar Wonosari, Sewa elf/minibus – 1 jam (Nego)
    – Sampe deh di Pantai Sundak

    Oya, harga sekarang, saya gak tau ya mas..

  5. Angga Adhi Perdana says :

    mas, bukannya waktu itu sampean susur pantai ke baron pake motor y?

  6. Catur Hadi P says :

    Saya kok lebih suka pantai2 lain selain Baron ya…
    Seperti Drini, Krakal, dsb… Soalnya Baron terlalu rame dan sudah kotor sih hehe..

  7. Arfan . says :

    Hehehe.. Iya, situ yang jalan sendirian..
    Ane terakhir2 naek motor, abis capek sih..
    Yaah, kalo diitung, berarti keluar 7rb lah..
    Itung2 amal :b

  8. Arfan . says :

    Iya mas, katanya sih begitu (rame & kotor)..
    Tapi waktu dulu belum terlalu kotor..
    Lagian, waktu itu saya gak sempet keliling2 Baron, kecapean :)

    Btw, thx kunjungannya :)

  9. Catur Hadi P says :

    Baron banyak orang karena akses masuknya mudah mas… kalo yang lainnya masih sepi karena medannya sulit… tapi pantainya cantik banget ….

  10. Arfan . says :

    Oke… Meluncur ke tkp!

Komentar anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: