Sastrawan yang Menyita Hati (Saya)

Saya suka sastra, belum lama. Sekitar setengah windu lalu saya mulai terbuai keindahan sastra. Novel, cerpen, dan sajak yang saya nikmati selama empat tahun sungguh berpengaruh pada pandangan-pandangan saya mengenai hidup, cinta, dan kematian. Sungguh sastra adalah oase di tengah gurun rutinitas keseharian yang begitu kering.

Tidak dapat saya berucap terimakasih atas jasa mereka, merubah pandangan hidup saya sebagai pribadi. Maka, saya membuat secuil tulisan ini. Tulisan ini saya persembahkan sebagai penghargaan kepada begawan-begawan sastra yang saya kenal dekat lewat karya-karya elegan mereka.

Ahmad Tohari
Ahmad Tohari (62), sastrawan asal Banyumas, Jawa Tengah ini lahir di masa-masa kemerdekaan Indonesia. Kehidupan masa kecil yang berlatar pedesaan syahdu sangat berpengaruh besar bagi kesusastraan beliau. Hal ini dapat dibaca dari sebagian besar karya sastranya-mulai dari setting, ketokohan, alur, dan lainnya-yang bernuansa kedesaan. Sebagai contoh, novel “Di Kaki Bukit Cibalak”, yang merupakan novel pertama beliau sangat kental dengan nuansa kedesaan. Atau novel “Bekisar Merah” dan “Ronggeng Dukuh Paruk”, yang merupakan masterpice beliau, juga kental dengan nuansa kedesaan. Ada pula latar belakang masa kecil beliau di masa kemerdekaan, sedikit banyak berpengaruh pula pada karya-karyanya. Novel “Kubah” yang beliau tulis, terpengaruh oleh setting kondisi carut marut Indonesia di jaman PKI.

Tema kesusastraan Ahmad Tohari berkisar antara kehidupan keseharian, benturan budaya, takdir, agama, dan tentu saja kedesaan. Semua dapat dibaca dalam karya-karya beliau, yang diantaranya telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia seperti bahasa Jepang, Tionghoa, Jerman, Belanda dan Inggris.

Ada hal menarik, awalnya Ahmad Tohari bercita-cita menjadi dokter, namun kuliahnya di Fakultas Ilmu Kedokteran Ibnu Khaldun, Jakarta, harus kandas di tengah jalan. Begitu pula studi beliau di Fakultas Ekonomi dan Fakultas Sospol di Universitas Soedirman, tidak ada yang tuntas. Beliau tidak pernah berpikir untuk menjadi sastrawan. Namun angin takdir menghebusnya ke dunia kesusastraan.

Dari beliau, saya belajar, bahwa takdir tidak akan pernah dapat ditebak. Namun takdir yang kita usahakan, pasti merupakan keadaan terbaik bagi kita. Pun, saya belajar bahwa nilai-nilai kearifan lokal memunyai nilai jual yang tinggi jika dikemas secara baik. Beliau adalah pahlawan lokal dengan prestasi global.

***

Sapardi Djoko Damono
Ah, untuk tahu siapa beliau, lihat saja rintik hujan. Resapi keanggunaannya. Masukkan sepenuhnya ke dalam kalbu. Dan kau akan mengenal sosok Sapardi seutuhnya. Itu menurut saya.

Sapardi Djoko Damono (71)-untuk selanjutnya disingkat SDD-merupakan begawan sastra yang saya kagumi. Saya kagum akan kejeniusannya menyulap kata-kata sederhana menjadi untaian kalimat bermakna. Sepenuhnya bermakna. Jika Guinnes Book of Record memiliki kriteria rekor kalimat terpendek dengan makna terdalam, mungkin SDD pemenangnya.

Perlu saya akui, saya mulai menyukai sajak, setelah berkenalan dengan karya-karya beliau. Awalnya saya tolak mentah-mentah karya sastra yang berbau puisi. Karena bagi saya puisi itu sulit, sangat sulit tepatnya, untuk diapresiasi. Namun, entah mengapa, sajak-sajak beliau sungguh menyita hati saya. Menggelitik jiwa untuk berapresiasi.

Saya berkenalan dengan SDD lewat sajak “Aku Ingin”. Selanjutnya saya membaca sajak “Hujan Bulan Juni,” “Sajak Kecil Tentang Cinta”, dan “Berjalan Ke Barat Waktu Pagi Hari”. Lalu, saya ketagihan sajak-sajak beliau. Kumpulan puisinya seperti “Hujan Bulan Juni”, “Ayat-ayat Api,” “Kolam”, dan lainnya, sangat elegan, dan terbilang buku langka di pasaran Indonesia.

Misi saya yang terbesar yaitu mencari novel “The Old Man and The Sea” karya Ernest Hemingway yang diterjemahkan oleh SDD. Saya membayangkan betapa indahnya karya masterpiece Ernest yang kaya deskripsi tersebut, diterjemahkan dengan mental puitis SDD. Ah, sempurna!

SDD, mengajarkan saya betapa hidup terlalu indahnya untuk tidak direnungi. Betapa tidak, bulir-bulir hujan yang sepele pun sebenarnya mengandung hikmah yang tidak sedikit.

Saya belajar dari beliau, sebuah sajak dari Sang Maha Puitis: …(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS: Ali Imran: 191)

***

A. A. Navis
Semua orang generasi 90an pasti pernah membaca cerpen “Robohnya Surau Kami” yang fenomenal itu. Setidaknya, mereka yang tidak pernah bolos saat pelajaran Bahasa Indonesia waktu SD atau SMP, pernah disuruh membaca cerpen tersebut di depan kelas. Tapi tidak bagi saya, mungkin saya waktu itu sedang bolos, dan samasekali tidak senang membaca buku. Maka dari itu, saya baru membaca cerpen tersebut untuk kali pertama pada 2009 silam. Ah, sedihnya.

Ali Akbar Navis (1924-2003) adalah guru sastra terkemuka di Indonesia. Dia digelari sebagai kepala pencemooh di kalangan sastrawan. Jiwa kritisnya selalu membuat gerah diamnya beliau. Beliau tidak pernah berhenti menulis hingga akhir hayatnya. Setidaknya ada 65 karya beliau dalam bentuk novel, cerpen, dan esai.

Beliau pernah mengkritik keadaan karya sastra dewasa ini; Yang terpenting bagi seorang sastrawan, menurutnya, karyanya awet atau tidak? Ada karya yang bagus, tapi seperti kereta api, lewat begitu saja. Itu banyak dan di mana-mana terjadi.

A. A. Navis merupakan penulis visioner. Beliau dapat membaca jaman dan menuangkan dalam karya sastra. Dalam cerpen “Robohnya Surau Kami,” beliau menggambarkan robohnya tata nilai kehidupan masyarakat, yang dewasa ini semakin menjelma nyata. Padahal Navis menulis cerpen tersebut tahun 1955, namun isinya masih menggambarkan kondisi masyarakat Indonesia di tahun 2010, bahkan mungkin hingga 2020 nanti.

Belum banyak karyanya yang saya baca. Saya baru menikmati kumpulan cerpen “Robohnya Surau Kami” dan novel “Saraswati, si Gadis Dalam Sunyi.” Namun saya sudah mendapat banyak. Beliau mengajarkan kejujuran, kejujuran untuk menjalani hidup.

***

Pamusuk Eneste
Saya tahu beliau sebagai editor. Sebagai pemulung sastra Indonesia. Saya tidak tahu banyak tentang beliau. Yang saya tahu, Pamusuk adalah pencipta buku-buku seperti “Proses Kreatif, Mengapa dan Bagaimana saya menulis” (Jilid 1-4). Buku-buku tersebut berisi tentang proses kreatif para penulis, pujangga, dan sastrawan Indonesia.

Sekali lagi, tidak banyak saya tahu Pamusuk Eneste, bahkan mencari profil beliau di google saja sudah cukup sulit. Namun, saya belajar tentang sastra Indonesia dari buku-buku beliau.

***

Soe Hok Gie
Soe Hok Gie (1942-1969) mungkin bukan sastrawan seutuhnya. Namun minat kesusastraan yang tumbuh sejak dia duduk di bangku SMP telah mengantarkannya menempuh pendidikan di Fakultas Sastra Universitas Indonesia, jurusan Sejarah.

Saya berkenalan dengan Gie lewat petikan-petikan quotes-nya yang menurut saya merupakan representasi pribadi Gie seutuhnya. Entah mengapa saya begitu kagum dengan pribadi Gie yang kritis namun elegan dalam penyampaian kritiknya.

Semua tentang Gie adalah semua tentang ketidakpuasan rakyat, gelora jiwa muda, dan gunung. Ya, Soe Hok Gie adalah pendaki gunung sejati. Jiwa beliau lahir di puncak gunung dan mati di tempat yang sama. Berikut petikan quote-quote beliau yang mungkin menjadi satu-satunya cita-cita beliau yang terkabul:

“Seorang filsuf Yunani pernah menulis … nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”
“Kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras … Diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil … Orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur.”

Ya, ‘cita-cita’ beliau meninggal muda di tempat yang bukan tempat tidur telah mewujud. Beliau meninggal di Gunung Semeru, 16 Desember 1969, sehari sebelum umurnya genap 27 tahun.

Ah, Gie, anda mengajari kami tentang pemberontakan yang elegan terhadap keculasan pemerintah dan ketidakadilan dalam hidup. Untuk saya pribadi, anda mengajari bahwa alam adalah mahaguru yang sempurna untuk dimintai ilmu.

***

Sekian, semoga bermanfaat.[]

Arfan

__________

Tags:

About Arfan

Kurang ajar, makanya belajar.

2 responses to “Sastrawan yang Menyita Hati (Saya)”

  1. andalusia NP says :

    melihat siapa saja yang Arfan sukai ini, hmm…sedikitnya saya bisa mengira-ngira Arfan seperti apa orangnya hehehe

    suka kagum dng orang-orang yg bisa memengaruhi hidup org lain (dlm kebaikan tentunya), ya seperti mereka2 itu. Hanya…saya suka jd berpikir lagi, kapan ya saya bisa seperti mereka? Bisakah sy memengaruhi hidup org lain seperti halnya mereka memengaruhi hidup saya?? :))

    nice post Fan..termasuk puisi2nya di postingan sblmnya… ^_*

  2. Arfan . says :

    Wah, emang bisa yaa ngeliat pribadi orang dari author favoritnya??
    Ajarin dong teh.. Kasi contoh.. Hihihi

    Iya, kagum.. Sangat kagum saya juga..
    Hmmm, saya fikir, mereka 'berpengaruh' bukan karena kehendak mereka.
    Mereka tidak mencita2kan diri untuk jadi berpengaruh. Hal ini bisa dilihat dari keterangan mereka di beberapa literatur sejarah kepenulisan mereka. Sejauh yang saya tahu, mereka gak ada yang bercita-cita untuk pengaruhi orang. Mereka hanya menulis, karena mereka ingin menulis. Perihal tulisan mereka berpengaruh bagi orang banyak, saya rasa itu adalah anugerah.

    Saya rasa, Sang Maha Sastra sangat tahu mana karya yang layak dianugerahi keberpengaruhan seperti tulisan-tulisan mereka. Jadi gak perlu pusing berfikir, bisa atau nggak untuk memengaruhi orang lain. Pasti bisa. Pertanyaannya, layak atau tidak, kita dianugerahi keberpengaruhan..

    Hihihi..
    IMHO

Komentar anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: