Resensi: Norman Edwin, Catatan Sahabat Sang Alam

Norman Edwin, Catatan Sahabat Sang Alam

Ibarat tokoh Old Shatterhand dalam cerita Winnetou karya Karl May, Norman Edwin adalah tokoh petualang luar biasa yang serba bisa. Itulah gambaran yang terbayang oleh saya, ketika membaca 64 kisah di buku Norman Edwin Catatan Sahabat Sang Alam ini. Norman, wartawan yang juga jebolan Mapala UI ini adalah petualang yang memiliki kecintaan sejati terhadap alam. Hal ini digambarkan oleh kumpulan catatan perjalanan yang merupakan artikel-artikel majalah maupun koran edisi tahun 1980-an. Apa yang menjadi menarik tentu bukan sekedar perjalanan panjangnya berpetualang di alam liar, melainkan juga catatan jurnalistiknya yang sangat deskriptif dan naratif.

Kegilaan Norman terhadap alam liar telah membawanya naik turun puncak gunung, memanjat tebing batu, menjelajah dasar goa, berlayar di samudera, hingga mengkoordinasikan proyek pencarian korban hilang di alam bebas. Tidak cukup sampai disitu, Norman yang berminat besar di bidang arkeologi juga merupakan jurnalis media massa, diantaranya: majalah Mutiara, Suara Alam, dan Kompas. Sungguh sebuah paduan minat yang sempurna untuk menghasilkan berbagai catatan perjalanan berkualitas.

Sebagian kisah di buku ini bercerita tentang perintisan Norman dan tim dari Mapala UI sebagai warga Indonesia pertama yang akan menaklukan 7 Summit, proyek ambisius yang belakangan ini mulai marak lagi gaungnya di kalangan pendaki gunung. Kala itu Norman dan tim telah berhasil menaklukan beberapa puncak dari pucuk tertinggi dunia yang tersebar di tujuh benua. Namun sayang, takdir berujar lain.

Catatan lain bercerita tentang ekspedisi-ekspedisi tak masuk akal di zamannya, seperti ekspedisi rintisan gua vertikal Luweng Ombo di Pacitan, ekspedisi lintas belantara Kalimantan, pengarungan jeram-jeram di Aceh, Kalimantan, dan Jawa, serta pemanjatan tebing curam di lembah Yosemite, US. Juga ada catatan perjalanan proyek penjelajahan samudera dengan kapal Phinisi, perjalanan budaya di Baduy, operasi SAR pencarian korban hilang di gunung Gede-Pangrango di Jawa Barat, hingga operasi pemindahan gajah di Sumatera, yang kesemuanya itu menokohkan seorang kuli tinta bernama Norman Edwin.

Bahasa jurnalistik khas milik Norman mengantarkan pembaca merasakan dinginnya kabut gunung, derasnya arus liar, terjalnya tebing batu, dan sejuknya angin pedalaman. Kecuali itu, bahasan atikelnya ada pula yang berupa rangkuman tata cara, tips dan trik pendakian gunung, hingga analisa penyebab kematian korban alam bebas yang rasanya tetap relevan untuk digunakan sebagai acuan hingga kini.

Catatan perjalanan, yang menjadi ruh buku ini, berupa artikel-artikel karya Norman di berbagai media massa yang dikumpulkan dalam bentuk kliping oleh sang istri, Karina Arifin. Pengantar di tiap bab yang banyak ditaburi bahasa slengean khas bahasa gaul 80-an, merupakan ulah editor Rudy Badil, yang merupakan sobat seperjuangan Norman semasa di Kompas. Sang editor juga banyak berkisah tentang kehidupan pribadi Norman sebagai sobat, ayah, dan suami, di bagian lampiran buku ini. Sedangkan sebagian foto dokumentasi perjalanan Norman merupakan buah karya Arbain Rambey, jurnalis foto yang kerap menjadi ‘dosen tamu’ di berbagai komunitas fotografi. Kiranya dapat ditebak bagaimana serunya isi buku ini.

Dari gaya bahasa dan penyajian secara umum buku ini, pembaca yang baru mengenal Norman Edwin dari buku ini seolah diajak menjadi partner perjalanannya selama menapak alam bebas. Sementara pembaca angkatan tua yang mengalami masa muda di jaman Soeharto seolah mendengarkan cerita dari sobat lama yang baru pulang berkelana.

Buku ‘narsistik’ tentang Norman Edwin ini layak dibaca bagi para pecinta alam pemula sebagai panduan praktis dan mind booster tentang berbagai wawasan kepencinta-alaman. Layak pula dibaca oleh para dedengkot pecinta alam yang sudah malang melintang keluar masuk rimba, sebagai bentuk apresiasi dan berbagi pengalaman sesama pecinta alam. Atau untuk backpacker urban yang mulai bermunculan belakangan, sebagai panduan bagaimana seharusnya sebuah perjalanan itu terjadi. Juga bagi para travel writter, kiranya buku ini dapat menjadi vitamin sebagai suplai ide.

Norman Edwin seolah berwasiat lewat buku ini, bahwa sebuah perjalanan idealnya bukan hanya petualangan hura-hura belaka, melainkan sebuah proses terciptanya makna mendalam tentang alam dan kehidupan, yang kemudian menjadi bahan dalam transfer ilmu lewat catatan perjalanan yang informatif.[]

Arfan


Judul: Norman Edwin, Catatan Sahabat Sang Alam | Penulis: Rudy Badil (Editor), 2010 | Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia | Cetakan: Pertama, Mei 2010 | Tebal: xvi + 423 halaman

Tags:

About Arfan

Kurang ajar, makanya belajar.

Komentar anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: