Di Mesjid Salman / Ajip Rosidi

Benar kata Acep Iwan Saidi, salah satu aspek yang menentukan dalam usaha pemahaman terhadap puisi adalah pengalaman (experience). Benar pula pendapat yang menyebutkan, seorang penyair menulis sajak sebagai bentuk kristalisasi pengalaman dalam hidup. Dalam konteks pengalaman inilah penyair dan pembaca berkomunikasi, berdialog, dan berdiskusi sepenuhnya melalui media sastra.

Dengan alasan itulah, puisi “Di Mesjid Salman” (Terkenang Topeng Cirebon, 1993: 240) begitu mengena bagi saya pribadi. Mengena, dalam arti lain. Maksud saya, ada kemungkinan puisi ini mudah dipahami bahkan untuk orang-orang yang belum pernah memasuki masjid Salman, karena metafor-metafor dalam tiap diksinya relatif mudah dipahami. Namun, pemahaman yang berbeda akan timbul bagi mereka yang pernah beribadah maupun sekedar berdiam diri di dalam masjid di samping komplek ITB ini. Dengan kata lain, pengalaman puitis milik penyair dan pembaca, yang saya maksud di atas, akan bertemu dalam media sajak ini.

Di Mesjid Salman / Ajip Rosidi

Tanpa tiang-tiang yang menghalang
aku sujud pada cerpumu

Dalam ruang yang temaram
kupegang erat-erat tali keimanan

Guncangan-guncangan di luar
biarlah berbenturan mencari keseimbangan

Benih yang tumbuh dalam hati
semoga menghunjanamkan akar keiklasan

dengan ridoMu.

Itulah mengapa saya merasa begitu mengenal bait Tanpa tiang-tiang yang menghalang/aku sujud pada cerpumu. Saya begitu memahami maksud Ajip yang begitu tulus ketika berkata Dalam ruang yang temaram/ kupegang erat-erat tali keimanan. Suasana pencahayaan yang memang sengaja diatur sedemikian temaram adalah ciri lain masjid ini, yang saya yakin bukan hal yang tidak disengaja. Minimal orang yang berada di dalam masjid ini, dapat merasakan aura kekhusyukan untuk berusaha memegang …erat-erat tali keimanan.

Begitulah adanya. Masjid yang terkenal dengan kubah terbaliknya ‘mengharamkan’ tiang kolom penyangga beban di dalamnya. Hal ini seakan menjadi sebuah filosofi yang ingin menyampaikan bahwa tidak ada penghalang apapun antara Tuhan dengan hambaNya yang ingin sujud berdialog mendiskusikan keimanan. Seakan sebuah simbol, bahwa komunikasi Tuhan dan hambaNya berlangsung murni dua arah tanpa butuh perantara. Dan memang begitulah seharusnya.

Pengalaman lain yang saya baca dari sajak ini, adalah ketenangan batin. Betapa saat berdiam diri di masjid berlantai kayu ini, kita seolah terlepas dari hingar bingar dunia luar. Suasana tercipta begitu tenang, begitu khusyuk, hingga kita tidak perlu merisaukan Guncangan-guncangan di luar. Cukup dengan tawakal, memasrahkan segala yang terjadi, biarlah (Guncangan-guncangan di luar) berbenturan mencari keseimbangan.

Pada akhirnya suasana masjid sedemikian, akan menciptakan keintiman percakapan kita dengan Tuhan, sehingga Benih yang tumbuh dalam hati, kita harapkan akan menghunjanamkan akar keiklasan. Tentu saja hanya dengan ridoMu.[]

Arfan

__________

Tags: ,

About Arfan

Kurang ajar, makanya belajar.

Komentar anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: