Resensi: Manusia Indonesia

Manusia Indonesia (Sebuah Pertanggungan Jawab)

“Wajah lama sudah tak keruan di kaca, sedang wajah baru belum jua jelas.” Itulah kutipan kalimat yang cukup menohok untuk mengawali sebuah buku yang cukup kontroversial di jamannya. Tepatnya sebuah buku yang disarikan dari naskah pidato kebudayaan Mochtar Lubis pada 6 April 1977, di TMII Jakarta.

Pertanyaannya, apa yang membuat buku ini kontroversial? Jawabnya adalah keseluruhan isi pidato Mochtar Lubis yang sangat tajam mengkritik keadaan sosial masyarakat Indonesia pada waktu itu. Bayangkan, saat kehidupan masyarakat Indonesia berada pada zona nyaman (tahun 1977 relatif tidak ada konflik berarti) sekonyong-konyong Bung Mochtar dengan pedas menguak keburukan-keburukan manusia Indonesia melalui pandangan kritisnya.

Sifat-sifat tentang (kita) manusia Indonesia yang beliau kemukakan pada kesempatan pidato itu antara lain, manusia Indonesia itu hiprokit dan munafik, tidak bertanggungjawab, feodal, percaya takhayul, dan artistik, namun lemah dalam segi karakter.

Terdengar familiar? Ya, saya rasa disitulah letak kekuatan–naskah pidato yang kemudian menjadi isi–buku ini, relevan dan aktual. Entah mengapa, sifat-sifat yang tertera pada naskah yang ditulis tahun ’77 ini rasa-rasanya tetap layak disematkan pada kebanyakan manusia Indonesia kini. Sikap-sikap elite di kursi dewan, pemuka-pemuka di televisi, hingga rakyat desa seolah terus menerus membenarkan apa yang dikatakan Mochtar 34 tahun silam.

Pandangan Mochtar yang menyentil banyak pihak itu, walau terkesan subjektif, namun tetap dikemas bersama data-data faktual di jamannya, argumen yang kokoh, serta narasi yang lugas. Walau terkesan menghakimi, kapasitas Mochtar sebagai budayawan dan jurnalis, seolah mentasbihkan naskah pidatonya menjadi objektif dan akurat. Kecuali berisi naskah polemik Mochtar, buku ini juga memuat tanggapan-tanggapan tokoh di masa itu yang mencoba beradu argumen dengan si empunya lewat media massa, lengkap dalam bentuk kliping.

Oh ya, tentang alasan-alasan mengapa Mochtar secara ‘tega’ menyebutkan manusia Indonesia seperti tersebut di atas, tentu saja Anda harus membaca buku yang sampai 2001 masih terus naik cetak ini.

Satu nilai tambah dari buku yang sebenarnya sudah sangat berbobot ini adalah karikatur halaman sampul buatan G. M. Sidharta. Ya, siapa yang tidak tahu Om Pasikom? Karakter rakyat sahaja yang menjadi ikon sebuah media besar di Indonesia ini digambarkan sedang memandangi wajahnya di kaca yang buram. Disitu dia terlihat memikirkan sesuatu. Memikirkan bagaimana tampak wajah sesungguhnya. Karikatur ini seolah mempertegas kalimat pertama di buku Mochtar, “Wajah lama sudah tak keruan di kaca, sedang wajah baru belum jua jelas”.[]

Arfan


Judul: Manusia Indonesia: (Sebuah Pertanggungjawaban) | Penulis: Mochtar Lubis, 1977 | Penerbit: Yayasan Idayu | Cetakan: – | Tebal: 135 halaman

Tags:

About Arfan

Kurang ajar, makanya belajar.

Komentar anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: