Resensi: Kubah

Kubah

Kikuk selepas terbebas dari penjara di Pulau B., yang telah merenggut hidupnya selama 12 tahun, Karman berusaha berjalan menjauhi lapas walau gontai. Di bawah pohonan rimbun Karman akhirnya beristirahat, namun pikirannya tidak. Pikirannya melayang-layang ke tahun-tahun kelam di barak, ke momen pedih kehilangan istri dan sanak famili, sampai ke masa-masa getir saat dosa sejarah mulai ia tanggung. Dari sinilah cerita sepanjang sebelas bab dimulai.

Ada apa dengan Kubah?

Lewat novel Kubah (1980), Ahmad Tohari bercerita tentang sejarah kelam Indonesia pada masa-masa pengkhiantan sebuah partai komunis dari sudut pandang seorang Karman, seorang lelaki desa yang terpaksa menanggung beban sejarah. Berlatar pedesaan pada tahun 60-70an, Tohari bernarasi tentang kegetiran hidup mantan anggota partai terlarang di Indonesia yang kemudian terbuang oleh partai maupun oleh lingkungannya.

Lalu, kenapa Kubah? Karena kubah-lah yang akan merubah hidup seorang Karman. Menariknya dari kegelapan masa lalu. Menyelamatkannya dari penolakan masyarakat. Serta memanusiakan kembali Karman menjadi manusia seutuhnya.

Novel dengan akhiran yang sengaja dibiarkan menggantung (open ending) ini diakui penulisnya bertujuan supaya pembaca terus berpikir tentang keseluruhan cerita, sehingga pembaca dapat membayangkan sendiri akhir cerita sesuai dengan aspirasi masing-masing. Di dalam salah satu esai Ahmad Tohari beropini, bahwa open ending menjadi semacam eksperimen demokratisasi antara pembaca dan pengarang, sekaligus beliau mengakui kepasrahannya, apakah eksperimen ini berhasil atau gagal.

Novel yang diselesaikan dalam waktu dua bulan ini pernah mendapat Penghargaan Yayasan Buku Utama pada tahun 1981. Kecuali itu novel ini pernah mendapatkan kritik tajam dari seorang Abdurrahman Wahid (alm.), dengan menyatakan, karena ditulis oleh seorang pemula maka Kubah tidak punya kelebihan yang menonjol, tak ada ketegangan (suspense), serta alur mudah terbaca.

Namun begitu novel Indonesia pertama yang bertemakan G30S ini, patut diapresiasi sebagai literatur yang turut mewarnai khazanah sejarah kelam komunisme yang pernah menghantui bangsa ini. Lewat Kubah, Ahmad Tohari telah mewarnai kanvas sejarah, tentu saja, dengan menggunakan kuas-kuas sastra.[]

Arfan


Judul: Kubah | Penulis: Ahmad Tohari, 1980 | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Cetakan: Ketiga, Agustus 2005 | Tebal: 189 halaman

Tags:

About Arfan

Kurang ajar, makanya belajar.

Komentar anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: