Menelusur Jejak Inggit-Sukarno di Bandung

Perjalanan Inggit Garnasih mengantarkan Sukarno ke gerbang kemerdekaan RI tentu saja tidak semudah perjalanan napak tilas para Aleutians pada acara Kuantar ke Gerbang: Romansa Inggit-Sukarno di Bandung. Jelas. Namun bukan itu esensinya. Maksud yang ingin saya sampaikan dari paragraf pembuka di atas adalah: acara napak tilas ini betul-betul membuka mata para peserta, bahwa ada kisah yang selama ini tenggelam dalam sejarah. Kisah besar tentang kepahlawanan seorang Inggit Garnasih dalam perjuangan pahit getir merebut kemerdekaan RI.

Sekilas Acara Napak Tilas

Acara napak tilas jejak-jejak sejarah-romansa-perjuangan pasangan Inggit dan Sukarno yang diadakan pada hari Minggu (17/4) merupakan kerjasama antara penerbit Bentang, Good Reads Indonesia, Mooi Bandoeng, dan tentu saja Komunitas Aleut!.

Napak tilas dimulai dari Museum KAA di Jalan Asia Afrika Bandung. Peserta yang mencapai 80-an orang terbagi dalam beberapa kelompok yang masing-masing dipimpin oleh seorang pemandu dari Komunitas Aleut. Setiap kelompok akan menempuh perjalanan sekitar 2 km dengan berjalan kaki, lalu peserta akan berhenti di titik-titik bersejarah untuk kemudian mendapatkan penjelasan dari para pemandu.

Peta perjalanan napak tilas Romansa Inggit-Sukarno di Bandung

Peta perjalanan napak tilas Romansa Inggit-Sukarno di Bandung.

Tempat-tempat bersejarah yang dikunjungi tentu saja ada kaitannya dengan kisah perjuangan Sukarno selama hidup bersama Inggit Garnasih, ah, tepatnya, kisah heroik Inggit Garnasih selama mendukung perjuangan Sukarno dalam proses merebut kemerdekaan RI di Bandung. Tempat bersejarah yang dikunjungi diantaranya adalah sisa-sisa bangunan penjara Banceuy tempat penahanan Bung Karno pada 1929, bangunan rancangan Sukarno setelah menjadi tukang insinyur, dan bekas rumah-rumah kontrakan pasangan Inggit-Sukarno selama menetap di Bandung.

Napak tilas yang dimulai pukul 09.00 diakhiri dengan bedah buku roman sejarah Kuantar ke Gerbang karya Ramadhan K. H. (1988). Acara bedah buku ini diisi oleh Pak Tito (cucu angkat Inggit Garnasih) dan rekannya yang bercerita panjang lebar tentang kisah-kisah mengharukan tentang perjuangan Inggit saat mendampingi Sukarno di masa penjajahan Belanda. Diskusi berlangsung dan berakhir di Rumah Bersejarah Inggit Garnasih di bilangan Jalan Inggit Garnasih (Ciateul) Bandung.

Sekilas Jejak Inggit-Sukarno di Bandung

Titik pertama yang dikunjungi dalam napak tilas kali ini adalah komplek Penjara Banceuy tempat Bung Karno ditahan selama 8 bulan (1929-1930) setelah sebelumnya ditangkap oleh pemerintah Belanda pada 29 Desember 1929 di Yogyakarta. Yang tersisa dari komplek penjara yang didirikan pada 1871 ini hanyalah sebuah pos penjagaan dan blok tahanan No. 5, tempat Sukarno mendekam.

Pos Penjagaan Penjara Banceuy di masa penjajahan

Hanya dua bangunan yang “disisakan” demi merubah komplek bersejarah ini menjadi pertokoan. Dalam autobiografi Penyambung Lidah Rakyat (Cindy Adams, 1966), Sukarno bercerita:

Banceuy adalah penjara tingkat rendah. Didirikan di abad kesembilanbelas, keadaannya kotor, bobrok dan tua. Disana ada dua macam sel. Yang satu untuk tahanan politik, satu lagi untuk tahanan pepetek.

Setidaknya keadaan kotor, bobrok, dan tua yang masih tertinggal dan aktual hingga kini (miris). Namun dari sisa bangunan yang ada, kiranya kita masih dapat menyaksikan bukti otentik sejarah bahwa Sukarno pernah mendekam di sini.

Selama Sukarno dipenjara, Inggit Garnasih dengan setianya menjenguk dan membawakan makanan bagi Sukarno. Bahkan tak jarang inggit “menyusupkan” koin gulden dalam kue-kue yang dibawanya untuk Engkus (panggilan sayang Inggit untuk Bung Karno), yang kelak digunakan untuk menyogok penjaga penjara supaya dapat membawakan surat kabar untuk Sukarno.

Selanjutnya perjalanan berlanjut ke Dewi Sartika mengunjungi bekas rumah kontrakan Inggit-Engkus yang sekarang telah menjadi Gereja Rehobot. Berlanjut ke Jalan Pungkur untuk menyaksikan rumah lainnya (Gedong Dalapan) yang kini menjadi jejeran minimarket. Setelah itu rombongan beranjak ke Jalan Djaksa. Rumah Inggit disini masih terpelihara.

Terakhir, rombongan mengunjungi Rumah Bersejarah Inggit Garnasih di Jalan Ciateul No. 8 yang sejak 1977 berganti nama menenjadi Jalan Inggit Garnasih. Pergantian nama jalan dilakukan bersamaan dengan pemberian Tanda Kehormatan “Bintang Mahaputera Utama” kepada Inggit pada tanggal 10 November 1977.

Rumah Bersejarah Inggit Garnasih di Jalan Ciateul

Rumah di Jalan Ciateul (dulu jalan Astana Anyar) ditempati Sukarno dan Inggit sejak 1926 hingga 1934 sebelum mereka dibuang ke Ende. Di rumah yang dahulu berbentuk rumah panggung inilah Sukarno memberikan pendidikan politik dan bersama-sama para intelektual muda memikirkan agenda-agenda kebangsaan yang kelak menjadi bola salju pergerakan perebutan kemerdekaan.

Rumah mungil ini menjadi tempat bernaung para pelopor kemerdekaan seperti Suyudi, Agus Salim, Ki Hajar Dewantoro, H. O. S. Cokroaminoto, Mas Mansyur, Sartono, Hatta, M. Yamin, Ali Sastro, Asmara Hadi, Trimurti, Otto Iskandardinata, Dr. Soetomo, M. H. Thamrin, Abdul Muis, Sosro Kartono, dan tentu saja Sukarno serta Inggit. Diskusi-diskusi politik di rumah ini yang selalu saja berkutat di perumusan konsep pergerakan, kelak melahirkan PNI pada 4 Juli 1927, Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, dan lainnya.

Di rumah ini pula terdapat bukti-bukti sejarah bahwa Inggit pernah berjuang habis-habisan untuk menghasilkan uang demi menyambung perjuangan Sukarno yang sedang dipenjara, sekaligus memenuhi kebutuhan hidup Inggit, Sukarno, dan Omi (Ratna Djuami, anak angkat mereka).

Ruang tengah Rumah Bersejarah Inggit Garnasih

Singkat kata rumah peninggalan ini adalah rumah perjuangan mencapai kemerdekaan RI. Dari rumah ini lahir percikan-percikan api sejarah bangsa Indonesia. Sudah sepatutnya rumah ini dipelihara sebagai bukti otentik sejarah terbentuknya Republik Indonesia.

Tentang Acara Napak Tilas, Tentang Peninggalan Sejarah

Sungguh, rasanya ingin berteriak pada pemegang kebijakan pendidikan di Indonesia, beginilah seharusnya metode pembelajaran sejarah dilakukan. Tidak sekedar khotbah guru di depan papan tulis demi menerangkan teks-teks (yang belum tentu juga valid) dari buku sejarah, melainkan dengan turun ke lapangan, berpanas-panas menelusur jejak perjalanan para pahlawan, mencium aroma perjuangan di tembok-tembok bangunan bersejarah, hingga berdiskusi langsung dengan macam-macam narasumber. Saya yakin dengan kegiatan-kegiatan seperti ini, sejarah tidak lagi “berjarak” dengan konteks kehidupan masa kini. Sehingga generasi muda masa kini tersadarkan bahwa tanah dimana ia berhura-hura (maaf, sinis!) lahir dari kisah berdarah-darah.

Ingin rasanya berteriak pada pemegang kebijakan di kota ini, beginilah fungsinya bangunan-bangunan bersejarah dipertahankan. Agar masyarakat punya media berapresiasi terhadap masa lalunya. Agar siswa-siswi sekolah punya wahana pembelajaran yang lebih dari ruang persegi dengan meja kayu yang membosankan itu. Tetapi jikapun saya berteriak sekencangnya, saya kurang yakin (maaf, pesimis!) tempat-tempat bersejarah di kota Bandung terlindungi dari gerusan kapitalis-kapitalis jahanam pendiri factory outlet, mall, dan tempat kurang penting lainnya.[]

Arfan

__________

Referensi

Ramadhan K. H. Kuantar ke Gerbang: Kisah Cinta Ibu Inggit dengan Bung Karno. Yogyakarta: Bentang, 2011.

Adams, Cindy. “Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia“. Ebook. Web. 18 Apr. 2011. <http://4shared.com/&gt;

Hutagalung, Ridwan. Handout “Kuantar ke Gerbang: Romansa Inggit-Sukarno di Bandung”. Bandung, 2011. Print.

ilustrasi: dokumen rfun.wordpress.com, google.com

NB: Oya, sekedar intermezzo kabarnya kisah Inggit Garnasih akan diangkat ke layar lebar oleh Mizan Production. Pengambilan gambar dimulai pada Juni 2011 di Bandung, sementara  film akan dirilis pada awal 2012. Pemeran Inggit dalam film ini kabarnya tante Maudy Kusnaedi. Pas lah. :)[]

__________

Tags:

About Arfan

Kurang ajar, makanya belajar.

4 responses to “Menelusur Jejak Inggit-Sukarno di Bandung”

  1. Fitri W says :

    Artikel yg bagus, bersemangat, dan menambah wawasan…keren!

  2. stik drum says :

    asyiik kelihatannya

Trackbacks / Pingbacks

  1. Napak Tilas Inggit-Soekarno « RFUN - 9 November 2012

Komentar anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: