Menulis, Lima Masalah Empat Solusi

Oleh Arfan Nurhadi

Illustration by Suzannesutton.com; Edited by rfun.wordpress.comSeringkali saya menghadapi blank moment ketika hendak menuliskan kalimat pertama. Padahal waktu di toilet, di jalan, di kasur, ide berdesak-desakan di kepala menuntut dituliskan. Tapi apa daya, ketika mengambil tempat di depan monitor ide-ide tadi ludes hilang, sembunyi.

‘Rutinitas’ blank moment tersebut, mendorong saya untuk mulai menganalisis apa sebab hal itu kerap kali terulang. Saya mulai dari memikirkan kembali sejak momen kemunculan ide menulis. Berikut kronologisnya:

Dimanapun dan kapanpun muncul ide tentang suatu topik yang (menurut saya) menarik untuk dituliskan, biasanya saya catat dalam notes atau handphone. Sesampainya di depan komputer, saya mulai mencari-cari referensi buku cetak maupun artikel di web, sambil memikirkan kerangka sederhana tulisan. Setelah semua bahan terkumpul, saya lihat kembali pokok pikiran yang telah dicatat, untuk memastikan. Sampailah posisi pandangan di layar putih word processor, dengan posisi duduk rileks, posisi jemari berada di atas keyboard, dan tentu saja, posisi ide yang entah dimana. Blank!

Lima Masalah Menulis

Begitulah, selalu seperti itu. Namun, setelah saya renungi kronologi tadi, sebenarnya ide itu tidak serta merta hilang. Dia ada dan selalu ada. Hanya, ada saja ‘faktor x’ yang menghambat. Menurut (perenungan) saya, faktor-faktor yang dimaksud adalah:

Pertama. Terlalu berpikir serius. Hal ini kerap terjadi pada saya. Saya terlalu menganggap ‘ide’ sebagai ‘wahyu’ yang sepatutnya ditulis dengan mendalam, sedemikian berbobot, sekaligus dengan segala kecanggihan kata-kata. Apa hasilnya? Ide tadi tidak bergerak kemana-mana.

Kedua. Terlalu memikirkan gaya penulisan. Sepertinya hal ini adalah ekses dari proses pengumpulan referensi. Ketika mengumpulkan sumber terkait dengan ide awal, dengan sendirinya saya ‘terdampar’ berkali-kali di dunia tulisan karya orang lain. Dengan sendirinya pula saya terpengaruh gaya bertutur orang lain. Hasilnya? Saya terlampau bingung harus menulis gaya seperti apa.

Ketiga. Terlalu memikirkan kaidah penulisan. Ini hal teknis yang sering menyebalkan. Terlampau banyak informasi tentang tata cara menulis, bagaimana menulis artikel, feature, esai, cara mengutip, tanda baca, dan hal teknis lainnya yang sering menghambat saya dalam memulai tulisan.

Keempat. Terlalu takut salah. Ini masalah yang sering menghambat saya menulis. Saya sering takut salah mengutip, salah berkata-kata, salah berkesimpulan, dan lainnya. Hasilnya? Saya tidak pernah menemukan kesalahan, karena tulisan saja belum ada.

Terakhir. Terlalu takut tidak penting. Lagi, sebagai ekses pencarian referensi, kadang saya terlalu silau dengan opini-opini pakar, tokoh, atau para penulis begawan yang sudah malang melintang di dunia penulisan. Akhirnya saya selalu merasa tidak ada pentingnya saya menuliskan ide yang muncul. Toh, sudah banyak yang menulis dengan ide pokok yang sama. Toh tulisan mereka lebih baik, pikir saya.

Itulah masalah saya dalam menulis.

Empat Solusi

Masalah-masalah tersebut tentunya bukan tanpa solusi. Menurut saya urutan masalah di atas dapat dijawab dengan solusi-solusi berikut:

Keep it Short and Simple. Sebenarnya ini adalah kaidah yang lumrah dipakai para jurnalis media massa. Saya teringat, teori ini saya dapatkan dari salahsatu workshop jurnalistik yang pernah saya ikuti. Intinya berpikir sederhana (simple) tentang sesuatu topik, garap bagian yang kita paham, yang kita kuasai, lalu tuliskan dengan singkat (short), efektif, dan ringkas.

Keep your hand moving. Ini adalah solusi untuk masalah kedua dan ketiga. Kalimat ini milik Natalie Goldberg, salah satu penulis Amerika. Intinya gerakan terus tangan untuk menulis. Peduli setan tentang aturan, gaya bahasa, dan segala kaidah yang merecoki mood. Jangan pernah memperbaiki apapun selama kita menulis. Tumpahkan seluruhnya sampai kehabisan kata-kata. Toh ada tahap yang dinamakan editing. Barulah di tahap ini kita susun ‘tumpahan’ kata-kata menjadi paragraf-paragraf utuh yang berkelindan, runut, dan logis. Tentang gaya penulisan, saya pernah mendengar, hal itu lahir dengan sendirinya ketika sudah terbiasa menulis.

Keep positive. Katanya berpikir positif adalah solusi untuk masalah ketakutan. Jika ternyata salah, toh ada yang namanya revisi. Tentu, dengan sebelumnya mengakui kesalahan. Tidak ada yang aneh dengan kegiatan meralat. Hal yang wajar. Terpenting berpikir positif dan mengamini kesalahan sebagai sesuatu yang tidak perlu diulang nantinya.

Niatkan menulis untuk diri sendiri. Ini solusi bagi masalah terakhir saya. Tak peduli setidak-penting apa tulisan tersebut, toh untuk saya baca sendiri. Menulis untuk diri sendiri, memang terdengar aneh. Tapi saya yakin itu bukan kegiatan yang sia-sia. Kalaupun nantinya tulisan akan dipublikasikan (dalam blog, koran, atau majalah) kita sudah punya banyak bahan, tinggal bongkar-pasang, memolesnya, dan menerbitkannya.(rfun)

Bandung, April 2011

Tags:

About Arfan

Kurang ajar, makanya belajar.

Komentar anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: