Dari Diary ke Koran Pagi

Oleh Arfan Nurhadi

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Ilustrasi by Hellokids.com; Edited by rfun.wordpress.com

Kalimat Pramoedya Ananta Toer di atas adalah sebuah keniscayaan dalam peradaban manusia modern. Perkataannya menyiratkan, menulis adalah syarat mutlak menjadikan ilmu kita bermanfaat. Pada titik tertentu menulis adalah sebuah dialog abadi. Artinya sebuah tulisan tercetak, besar kemungkinan kekal dalam ruang dan waktu dan terus membuka ruang dialog. Maka menulis merupakan salahsatu bentuk eksistensi seseorang. Menulis (seharusnya) jadi bagian kehidupan manusia, layaknya makan, minum, dan kegiatan reproduksi.

Tulisan membutuhkan media agar gagasan yang terkandung di dalamnya dapat berkelana ke ruang ide khalayak umum. Pelbagai media mulai yang konvensional hingga media maya tersedia sebagai sarana mendedah gagasan, salahsatunya adalah media cetak.

Media cetak (surat kabar, majalah, jurnal, dsb.) menjadi ruang yang efektif untuk berbagi pemikiran, gagasan, dan opini berbentuk tulisan. Sekali tulisan kita tercetak di halamannya, gagasan kita akan bertengger di ruang publik. Sayangnya, bukan hal yang mudah bagi pemula untuk menembus media cetak. Namun bukan mustahil, asalkan calon penulis tahu ketentuan dasar kepenulisan di media cetak.

Perhatikan Hal Teknis

Tiap media massa memiliki karakter khas; diantaranya karakter topik bahasan, gaya penulisan, hingga panjang tulisan. Maka, penting bagi calon penulis untuk memperhatikan ketentuan teknis seperti di bawah ini.

Pertama, perhatikan syarat penulisan naskah yang mencakup jumlah karakter dan format penulisan. Surat kabar biasanya mensyaratkan naskah artikel/opini berkisar antara 4000-5000 karakter. Perhatikan pula kaidah dasar penulisan (EYD, kutipan, dan tanda baca).

Kedua, perhatikan materi naskah. Topik naskah harus aktual, minimal masih hangat diperbincangkan. Untuk tema tulisan, ada media yang membebaskan penulis memilih tema, ada pula yang tematik. Perhatikan karakter media dan target pembaca. Hal ini berkaitan dengan gaya bahasa serta topik bahasan tulisan. Sebagai gambaran, gaya bahasa dan topik majalah remaja tentu berbeda dengan majalah bisnis.

Ketiga, perhatikan keunikan tulisan. Penting untuk mengolah judul dan teras paragraf (lead) semenarik mungkin. Gunakan sudut pandang yang berbeda dari kebanyakan tulisan dalam topik yang sama. Perhatikan unsur kedekatan (proximity) tulisan dengan pembaca. Gunakan bahasa jurnalistik dan istilah yang mudah dimengerti. Ulik sisi humanis pembaca; biasanya tulisan yang mengandung ketegangan (suspense), konflik, hingga ketidaklaziman lebih menarik.

Terakhir, hendaknya tulisan berisi gagasan baru lebih dari sekedar pemikiran umum (mainstream), bahkan sedikit kontroversial jika perlu. Tentu dengan tetap memperhatikan kaidah kebenaran, faktualitas, dan akurasi data.

Mengasah Keterampilan Menulis

Kemampuan menulis bisa dilatih. Semakin kerap menulis, semakin terasah cara berpikir dan alur logika kita. Pada akhirnya keterampilan menulis akan meningkat.

Banyak buku maupun pelatihan membahas kemampuan menulis, yang biasanya berkutat di metode menulis dan syarat kebahasaan. Namun, biasanya teori hanyalah teori. Seorang calon penulis tetap perlu memperbanyak kuantitas kepenulisan, sambil meningkatkan kualitas tulisan. Di bawah, saya menawarkan beberapa kiat membiasakan menulis.

Pertama, menulis resensi setiap buku yang dibaca. Tujuannya, mengasah kepekaan terhadap ide pokok yang terkandung dalam sebuah tulisan, melatih logika berpikir tentang keterkaitan alur tulisan, dan melatih keberanian berargumen terhadap gagasan orang lain.

Kedua, bersahabat pena. Ya, surat menyurat adalah cara efektif untuk melatih kemampuan naratif seseorang dan melatih kemampuan menuangkan gagasan. Awalnya saya mengira surat menyurat sudah punah di jaman serba elektronik ini. Namun, ternyata masih banyak komunitas-komunitas sahabat pena (pen-pals) lokal maupun internasional yang saya temukan di dunia maya. Jenisnya beragam, mulai dari berbalas surat elektronik (email), bertukar kartu pos, hingga surat menyurat tradisional menggunakan jasa pos. Yang menarik, dari kegiatan ini kita bisa mempelajari bahasa hingga kebudayaan baru.

Terakhir, menulis diary (catatan pribadi). Pendapat saya, kegiatan ini sangat membantu membiasakan menulis. Yang menarik, dalam menulis diary seseorang terbebas dari segala formalitas yang biasanya membebani mental menulis. Topik penulisan diary tidak terbatas, mulai dari catatan perjalanan, curahan hati, hingga hal-hal absurd sekalipun. Terpenting, hasrat kepenulisan dapat tersalurkan. Selanjutnya, jika mau, materi diary dapat diunggah ke dalam blog pribadi. Blogging menjadi semacam percobaan, apakah tulisan kita dapat dimengerti sehingga mengundang tanggapan (comment) orang lain atau tidak.

Selanjutnya, setelah terbiasa menulis, kita akan lebih paham selukbeluk menulis. Hal ini berguna untuk keperluan menulis yang lebih serius, diantaranya menulis untuk media massa. Akhirnya kepenulisan kita bisa beranjak dari diary ke koran pagi.(rfun)

Bandung, April 2011

Referensi

Holid, Anwar. 2010. Keep Your Hand Moving: Panduan Menulis, Mengedit, dan Memolesnya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Lasa Hs. 2006. Menulis Itu Segampang Ngomong. Yogyakarta: Pinus.

Putra, Bramma Aji. 2010. Menembus Koran: Cara Jitu Menulis Artikel Layak Jual. Yogyakarta: Leutika.

Tags:

About Arfan

Kurang ajar, makanya belajar.

Komentar anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: