Menulis, Tanggungjawab Akademis [3] (Selesai)

Tulisan terakhir, lanjutan dari tulisan kedua.

Tentang Proses Kreatif Menulis

Proses kreatif kepenulisan Hawe Setiawan layak ditiru oleh para penulis pemula. Terutama mereka yang ingin mulai melaksanakan tanggungjawab akademis dengan menulis di media massa. Kenapa? Karena Hawe termasuk produktif sebagai penulis tema kebudayaan lokal yang didasari pemikiran ilmiah.

Secara garis besar, proses kreatif Hawe lebih menitikberatkan pada faktor mentalitas menulis. Hawe berasumsi bahwa faktor teknis seperti gaya bahasa, prasyarat media massa, dan jenis-jenis tulisan sangat mudah dipelajari seiring kegiatan kepenulisan berlangsung.

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah membentuk motivasi pribadi. Tanyakan kepada diri sendiri: Untuk apa, untuk siapa, dan mengapa saya menulis? Apapun jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini, kelak akan menjadi motivasi pribadi yang memberikan hak prerogatif bagi penulis untuk terus berkarya.

Kedua, cintai bahasa, buku, dan sastra. Penulis yang mencintai bahasa akan terus memperbaiki kualitas kepenulisannya sesuai kaidah bahasa yang logis, bernas, dan efektif. Sementara buku, jelas merupakan sumber wawasan sekaligus ‘bahan bakar’ bagi penulis. Bagai dua sisi mata uang, penulis pastilah seorang pembaca. Sedangkan sastra berkaitan dengan kemasan tulisan. Baiknya kita menggunakan sastra sebagai salah satu metode untuk mengolah bahasa tulis, memilih diksi dan merangkai kalimat, serta menajamkan sensitifitas rasa bahasa. Sehingga tulisan ‘seberat’ apapun memiliki ‘ruh’ sekaligus cair untuk dibaca.

Ketiga, awali dengan resensi. Meresensi buku, merupakan cara Hawe untuk menerus menyambung kegiatan tulis-menulis. Selain bahan yang sudah tersedia untuk dibahas, yaitu isi buku itu sendiri, menulis resensi akan melatih daya kritis penulis dalam berpendapat.

Keempat, memilih bidang amatan spesifik. Artinya, tema besar kepenulisan hendaknya harus mulai ditentukan sejak awal, dan kelak perlu dijadikan koridor dan ciri kepenulisan seseorang. Tentunya, bagi para akademisi, bidang amatan tersebut sudah sangat jelas terlihat di depan mata, yaitu bidang keilmuan masing-masing. Namun itu tidak mutlak. Dengan memilih bidang amatan, penulis akan lebih spesifik dan jeli melihat sudut pandang sekaligus lebih mendalam mengupas tema. Ibarat sebuah jargon anonim tentang keilmuan: lebih baik sempit tapi mendalam, daripada luas tetapi dangkal.

Kelima, fokus. Lagi, hal ini berkaitan dengan bidang amatan yang menjadi ciri khas penulis. Konsistensi akan membuat penulis dikenal sebagai pemikir yang memiliki otoritas di bidang tertentu. Selain itu media massa dan publik  akan mudah mengenali penulis yang fokus terhadap bidang tertentu, karena tema tersebut adalah ‘alamat rumah’ seorang penulis.

Terakhir, menulis setiap hari. Cukup jelas.(rfun)

Bandung, Mei 2011

Tags:

About Arfan

Kurang ajar, makanya belajar.

Trackbacks / Pingbacks

  1. Menulis, Tanggungjawab Akademis [2] « Rfun - 26 May 2011

Komentar anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: