Resensi: To Kill A Mockingbird

To Kill a MockingbirdMungkin hasrat ingin tahu terlampau fitrah ada dalam jiwa manusia. Dicarinya jalan untuk menembus benteng pribadi manusia lainnya. Dicarinya otoritas pemahaman terhadap kehidupan pribadi sesamanya dengan segala cara: sosialisasi, investigasi, gosip, hingga bergunjing. Termasuk, diterobosnya fakta-fakta rapuh yang kemudian dianggap kebenaran tentang seseorang, atau kita sebut prasangka (prejudice). Seperti  yang dikisahkan dalam To Kill a Mockingbird (1960).

Novel pertama dan satu-satunya, karya Nelle Harper Lee (1926-…) ini mengisahkan tentang bagaimana prasangka tidak hanya merugikan namun sekaligus berbahaya. Tidak pernah ada kebenaran dalam prasangka. Jikapun ada, kebenaran dalam prasangka sangatlah rapuh. Dalam cerita ini Harper Lee menyimpulkan lewat salah satu narasinya:

“Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya… hingga kau meyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya.”

Sekilas Sinopsis

Novel ini berkisah tentang kehidupan keluarga Atticus Finch, seorang pengacara lokal di Maycomb County. Atticus yang duda memiliki putra-putri,  Jem Finch (Jem) dan Jean Louise Finch (Scout). Mereka bertiga ditambah pembantu, seorang Afro-Amerika bernama Calpurnia, tinggal di pemukiman tua di pinggiran Alabama, Amerika Serikat.

Keluarga Atticus Finch adalah kehidupan tipikal keluarga Amerika pada masa resesi Amerika di tahun 1930-an. Masa yang dikenal sebagai Great Depression tersebut digambarkan menjadi keadaan yang serba berkecukupan di Maycomb County, permukiman tempat tinggal Atticus sekeluarga.

Atticus ayah bijak yang terlampau menyayangi kedua anaknya, adalah seorang egaliter sejati. Sebagai pengacara, dia tidak pernah membeda-bedakan kasus yang akan dibelanya. Sebagai ayah, dia tidak pernah mendidik anak-anaknya dengan keberpihakan.

Jem adalah anak laki yang beranjak remaja. Meskipun sering usil Jem selalu berusaha melindungi adiknya, Scout Finch. Jem berusaha menjadi pria sesungguhnya dengan mencoba bersikap dewasa. Bagi Scout, kenyataan bahwa Jem mulai terlihat seperti ayahnya, adalah hal yang menyebalkan. Namun begitu, Jem tetap menjadi teman bermain sekaligus tempat mengadu bagi Scout.

Scout Finch gadis cilik yang selalu ingin tahu. Bocah cerdas dan kritis yang selalu bermaja-manja di hadapan Atticus, ayahnya. Selalu terlihat tomboy di lingkungan bermainnya. Scout tidak pernah ragu untuk bertanya ini itu kepada siapapun yang ditemuinya. Juga, dia tidak ragu untuk melakukan kekerasan ketika tersudut. Atticus dan Calpurnia sering memarahi Scout akibat ulahnya.

Jem dan Scout selalu mendapat kesenangan baru pada musim panas, karena ada tokoh seperti Dill Harris, bocah jenius sahabat Jem dan Scout. Suatu saat Dill mengusulkan untuk menyelidiki seorang Arthur ‘Boo’ Radley, tetangga yang terlihat misterius di mata kanak-kanak mereka. Dill merasa perlu untuk memancing Boo Radley keluar rumah. Terlebih, Boo adalah pemuda yang jarang sekali terlihat bersosialisasi. Namun dalam kemisteriusannya Boo Radley sesungguhnya sedang ‘bermain-main’ dengan Jem, Scout, dan Dill.

Namun, sejak Atticus memutuskan untuk menjadi pengacara bagi seorang kulit hitam dalam sebuah kasus, kehidupan keluarga kecil ini berubah. Kenapa? Perlu diingat, 1930-an adalah masa dimana Amerika diselimuti racial segregation, rasisme kulit putih terhadap kulit hitam. Segala aspek kehidupan mulai dari pelayanan masyarakat hingga fasilitas angkutan umum, dibedakan peruntukkannya berdasar warna kulit. Jangan tanya tentang masalah hukum. Pada masa itu hukum yang paling pantas bagi orang kulit hitam adalah hukum gantung, meski tanpa peradilan.

Atticus ditunjuk oleh pengadilan untuk membela seorang Afro-Amerika, Tom Robinson yang dituduh memperkosa seorang wanita kulit putih. Atticus yang kulit putih ‘cari penyakit’ dengan menyetujui membela seorang negro.

Adalah Scout yang terkaget-kaget melihat kenyataan bahwa ternyata kehidupan orang dewasa tidak melulu hitam-putih, baik-buruk. Scout belajar banyak hal tentang kehidupan di luar dunianya. Untuk kali pertama Scout menyadari ternyata ada kenyataan lain yang bernama kompromi. Ada kenyataan lain yang berada di wilayah kelabu, grey area.

Tentang To Kill a Mockingbird

Novel ini bisa dikatakan memoar; kenangan masa kecil Harper Lee yang dia ceritakan ulang. Walaupun penulisnya menyangkal, tapi tidak bisa dinafikan bahwa Jean Louise Finch alias Scout Finch tidak jauh dari gambaran masa kecil Harper Lee. Bukan kebetulan jika ayah Harper Lee, Amasa Coleman Lee, memang seorang pengacara sungguhan yang menjadi dasar bagi karakter Atticus Finch. Amasa Lee sebagai pengacara, juga pernah membela orang Afro-Amerika dalam sebuah kasus pembunuhan.

Frances Cunningham Finch, mendiang ibunda Harper Lee menjadi dasar penamaan tokoh-tokoh utama: Atticus, Jem, dan Scout bernama belakang Finch. Belum lagi latar cerita yang bertempat di Maycomb County, yang tidak lain adalah lingkungan masa kecil Harper Lee di Montgomery, Alabama. Dan konon, Dill Harris adalah dua karakter yang menggambarkan satu sosok: Truman Capote muda, (yang kelak menjadi) penulis yang juga merupakan teman masa kecil Harper Lee.

Alur cerita terasa lambat di awal bab. Bab-bab permulaan yang dimanfaatkan Harper Lee untuk memperkenalkan satu per satu tokohnya, pasti sangat menjemukan kalau saja tidak dituliskan sebagai narasi seorang bocah yang serba mengejutkan. Selalu saja ada hal yang menggemaskan saat mendengar Scout Finch bercerita, membayangkan, bertanya, atau bercakap tentang sesuatu.

Karakter Scout memang dibuat sedemikian cerdas dan kritis. Namun redaksi yang digunakan untuk menuliskan narasi Scout terdengar terlalu dewasa untuk seorang anak sekolah dasar. Jika harus selalu ada kekurangan dalam sebuah karya literasi, mungkin inilah satu-satunya kekurangan karya Harper Lee.

Kekuatan novel ini terletak di penokohan dan narasi. Harper Lee menciptakan tokoh-tokoh yang terbilang banyak, namun dengan fasih menceritakan karakter masing-masing tokoh lewat sudut pandang seorang bocah, Scout Finch. Karakter-karakter yang tercipta sedemikian nyatanya, karena merupakan gambaran dari lingkungan terdekat sang penulis.

Sang narator, Scout Finch dengan leluasa bercerita tentang segala sesuatu—yang dia lihat, dengar, dan rasakan—secara jujur: bercerita tanpa motif tertentu, tanpa kemunafikkan, kepalsuan, atau kebohongan. Scout Finch, karakter utama novel ini menjadi pisau tajam bagi Harper Lee untuk mengupas karakter-karakter lainnya.

Pemaparan deskriptif dalam sudut pandang khas anak kecil membuat cerita yang sebenarnya bertemakan masalah sosial yang cukup berat menjadi terlampau cantik. Harper Lee sukses mengangkat tema rasisme dalam narasi yang unik dan menarik. Sering terdengar kocak dan lebih sering mengharukan. Saya rasa, tokoh akulah yang ‘berjasa’ untuk itu. That’s you Scout Finch!

Mockingbird sebagai frasa di judul novel, menjadi simbol tentang innocence. Analogi bagi seorang yang tidak merugikan, tidak mengganggu orang lain. Persis seperti mockingbird sejenis muraiyang hanya bersiul dan bernyanyi tanpa mengganggu ketentraman lingkungan. Membunuh mockingbird (to Kill a Mockingbird) adalah membunuh kebenaran. Dalam berbagai resensi, ada dua tokoh yang dianalogikan sebagai mockingbird, Tom Robinson dan Boo Radley. Tentang mengapa dan bagaimana kaitan analogi tersebut, pembaca sendirilah yang akan memahami.

Secara keseluruhan, saya kagum dengan ketelitian Harper Lee untuk menjaga kontinuitas dan relevansi antara judul, tema, dan gaya tutur cerita dalam novel ini. To Kill a Mockingbird, novel tentang kasih sayang dan prasangka, begitulah yang tertulis di muka buku. Cerita tigapuluhsatu bab dengan banyak kejutan, namun lebih banyak lagi perenungan.

Khusus untuk novel To Kill a Mockingbird edisi terjemahan terbitan Qanita (2009), saya mengangkat topi untuk penerjemah, Femmy Syahrani. Terjemahannya nikmat dibaca, mengalir, dan diksi yang mudah dipahami ketika itu menggambarkan ekspresi tokoh. Juga untuk penyunting dan proofreader, Berliani Mantili Nugrahani dan Emi Kusmiati. Kalau tidak salah ingat, saya hanya menemukan tujuh bentuk salah kata. Well done.

To Kill a Mockingbird memenangi penghargaan Pulitzer pada 1961. Karya besar Harper Lee ini juga pernah diangkat ke layar perak dengan judul yang sama, pada 1962 film ini memenangi piala Oscar. Kecuali itu, novel ini mendapat ‘penghargaan’ non formal sebagai “every adult should read before they die”  melebihi Bible di Inggris. Sayang karya klasik ini adalah satu-satunya buah pena penulisnya.

Fakta bahwa Harper Lee tidak menulis cerita lain, sempat mengundang kabar burung: penulis novel ini tidak lain adalah Truman Capote, atas nama Harper Lee. Namun Capote membantahnya pada 2006. Ah, kejamnya prasangka![]

Arfan


Judul: To Kill a Mockingbird | Judul Terjemahan: To Kill A Mockingbird | Penulis: Harper Lee, 1960 | Penerbit: Qanita | Cetakan: Ketujuh, Agustus 2009 | Tebal: 540 halaman

Tags:

About Arfan

Kurang ajar, makanya belajar.

7 responses to “Resensi: To Kill A Mockingbird”

  1. dewi says :

    aku suka banget novel ini,.. kagum dengan aticus yg tetap bertahan membela negro meskipun keluarganya dikucilkan. meski anak-anaknya juga terkena dampak olok-olokan tapi dia tetap bertahan, inilah cara dia mengajari anak-anaknya… :)

    • Arfan says :

      Iya keren banget. Kalau disimak, dalam jalan cerita novel ini sebetulnya banyak “tips” mengajari nilai-nilai kebaikan kepada anak.

  2. Irma Bellanca says :

    Buku to kill a mockingbird nya masih diterbitkan gak sekarang ??

  3. Yoris Garfield says :

    Hai Arfan, resensi kamu enak banget buat dibaca. Novel ini memang pantas dinobatkan sebagai warisan literatur Amerika. Walaupun bagian awalnya sedikit menjenuhkan (mungkin karena ekspekstasi saya untuk novel ini sangat besar), namun ekspektasi saya terbayarkan waktu saya selesai membacanya.

    Novel ini bisa dibilang sangat berjasa dalam merubah paradigma orang-orang terhadap ras kulit hitam.

    Great article. :)

    • Arfan says :

      Terimakasih apresiasinya mas Yoris.

      Di awal novel, konflik yang terbangun cenderung sedikit. Penulisnya menggunakan bab-bab awal untuk pengenalan karakter. Mungkin inilah yang mengundang kejenuhan pembaca, ditambah lagi biasanya kita ingin buru-buru menemukan konflik.

      Bukan hanya seperti yang disebutkan di atas, novel Harper Lee ini, menurut saya, hendak dan telah mengingatkan pembacanya untuk menjunjung hak asasi manusia setinggi yang mampu dicapai oleh society.

      Terimakasih atas kunjungannya.

      Salam.

Trackbacks / Pingbacks

  1. Selamat Jalan Harper Lee | RFUN - 20 February 2016

Komentar anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: