Menyambut Bulan (Belanja) Ramadhan

Begitu mulianya bulan Ramadhan, sampai-sampai hanya dengan perasaan bahagia menyambutnya, seseorang sudah terhitung beramal baik. Memang selayaknya demikian, mengingat keutamaan-keutamaan di bulan suci ini yang tidak terhingga. Perasaan bahagia tentu saja relatif, dan hanya orang tersebut yang dapat merasakannya. Adapun rasa bahagia bisa saja terekspresikan melalui perbuatan.

Bila diperhatikan, yang justru benar-benar berbahagia dalam menyambut bulan suci umat Islam ini adalah justru para pemodal, para pelaku industri. Hampir di segala bidang, para pemodal jor-jor-an menggelontorkan dana untuk memaksimalkan produksi industrinya, karena tahu di bulan suci ini pendapatan mereka akan meningkat pesat.

Di bidang sinematografi, pemilik modal memproduksi lebih dari satu sinetron kejar tayang yang bertema religi. Mereka memproduksi besar-besaran karena tahu, perusahaan televisi akan bersedia menampung sinetron produk mereka untuk ditayangkan di saat-saat prime-time.

Di bidang penyiaran, pemilik modal mengubah lebih dari satu jam tayang demi menampung sinetron-sinetron religi yang diharapkan akan mendongkrak rating. Mereka memotong acara anu, mengontrak artis-artis lawak, memproduksi acara anu secara besar-besaran, karena tahu perusahaan sirup, operator, hingga mobil-keluarga akan berbelanja slot iklan di saat-saat prime-time.

Di bidang industri, pemilik modal memproduksi barang lebih dari biasanya, bahkan menciptakan varian baru versi Ramadhan. Mereka menambah kapasitas produksi, ongkos belanja iklan jauh-jauh hari, karena tahu hasil produksinya akan terserap optimal oleh industri retail. Terlebih, produk mereka telah dipublikasikan oleh televisi di saat-saat prime-time.

Di bidang retail, pemilik modal menambah stok barang lebih dari biasanya. Mereka merias, memperluas konter masing-masing demi memperbesar peluang datangnya konsumen. Tak peduli berapa besar dana digelontorkan demi itu semua, karena tahu barang retail bertumpuk-tumpuk tersebut akan ludes seketika oleh para konsumen. Terlebih karena target market mereka telah terdoktrin iklan di saat-saat prime time.

***

Jadi, kebahagiaan menyambut bulan suci Ramadhan justru malah berputar di lingkaran industri. Siapa mereka? Mereka adalah pemilik modal, pelaku industri, atau ekstrimnya mari kita sebut: kapitalis.

Celakanya, kebahagian menyambut bulan suci Ramadhan (biasanya) sedikit tersimpang makna menjadi kebablasan belanja ini itu, di lingkaran konsumen. Siapa mereka? Mereka adalah target market industri, konsumen potensial, niche, atau ekstrimnya mari kita sebut: ya kita-kita ini.[]

Arfan

___________
Sumber ilustrasi: goeboekoenik.blogdetik.com

Tags:

About Arfan

Kurang ajar, makanya belajar.

10 responses to “Menyambut Bulan (Belanja) Ramadhan”

  1. Catur Hadi P says :

    iya betul…kita orang2 yang tidak punya modal malah jadi konsumtif saat Ramadhan…

  2. Arfan . says :

    Masyarakat kita agak aneh memang, saat Ramadhan segala diada-adakan, segala dibeli. Yang tidak begitu perlu, jadi seolah penting. Fenomena ini yang sebetulnya membuat bahagia para pelaku bisnis. :)

  3. Bambang Priantono says :

    Mari belanja..hehehehehee..

  4. Arfan . says :

    Mariii… Habiskan gaji ke-13 untuk belanja…
    Zakat mah nomor empat…
    :D

  5. Bambang Priantono says :

    Hahahahaa..
    Aku kok malas belanja ya bulan Ramadhan kali ini

  6. Arfan . says :

    Wah jangan males dong mas…
    Ntar produk2 di pasaran siapa yang beli? Kasian mereka udah bayar iklan mahal2.
    :D

  7. Bambang Priantono says :

    Beneran, tahun ini aku gak mikir untuk beli apa.
    Baju masih bagus
    Ngapain beli baru..
    Buat 3 ponakanku saja cukup

  8. Arfan . says :

    Bagus deh Mas..
    Berarti alokasi sedekahnya makin besar…

    Hmmm, tapi traktiran buka bareng gak nolak lho Mas, sekalian makan2 jawara MPID awards 2011!
    :b

  9. Bambang Priantono says :

    Huahahahahaa…kesini dong..

    HAri Raya aku mudik ke Malang

  10. Arfan . says :

    Hehehe… Serius nih??
    Ah Malang, jauh dari Bandung…
    Eh, saya pernah lho dua kali ke Malang..
    Enak ya, adem kotanya..
    :)

Komentar anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: