Almarhum Tumblr

Kadang gampang saja menilai apakah sesuatu milik kita adalah buah nafsu sesaat atau memang betul sebuah kebutuhan. Salahsatu tolok ukurnya adalah kebermanfaatan. Perhatikan saja, sebesar apa manfaat dari sesuatu yang kita punya itu, minimal bagi kita pribadi. Semakin besar manfaat yang kita rasakan, semakin besar kemungkinan bahwa sesuatu tersebut adalah memang benar kebutuhan kita.

Salahsatu yang sempat saya tinjau ulang adalah blog pribadi. Kemarin saya menghapus akun sekaligus situs dan segala konten yang ada di tumblelog saya. Sedikit berat hati, namun saya tetap menghapus blog dari rimba maya. Dan, puuufftt, hilanglah blog tersebut. Alasannya, karena saya tidak merasakan kebermanfaatan yang besar, dan itu artinya memiliki akun tumblr bukan kebutuhan saya. Maka saya hapus tumblelog tersebut.

Blogosphere di Tumblr
Setelah diingat-ingat, dulu di awal 2010 saya membuat akun tumblr lebih karena tertarik akan tampilan antarmuka yang memanjakan mata dan pengalaman nge-blog yang begitu unik. Siapa yang tidak tahu, tumblr memang terkenal dengan kemudahan bagi penggunanya untuk memposting sesuatu. Tumblr bisa dikatakan termasuk salahsatu pelopor microblogging. Bahkan istilah tumblelog makin populer berkat tumblr, yaitu variasi dari blog dengan bentuknya yang singkat dan kontennya yang beragam, mulai dari tulisan, foto, video, musik, gambar, hingga percakapan.

Untuk memposting sesuatu kita tinggal klik sana klik sini, beres. Untuk memposting ulang (repost) konten pengguna lain, tinggal mengklik satu tombol ‘repost‘ saja, dan jadilah konten di laman kita. Tampilan laman kelola blog sangat sederhana dan alur kerjanya jelas. Pokoknya jargon tumblr, “the easiest way to blog“, memang mewujud di segala aspeknya.

Saking mudahnya membuat dan mengelola sekaligus memposting ulang segala jenis konten dalam tumblr, maka fenomena yang marak adalah salin rekat (copy-paste) konten. Sebenarnya, tidak ada yang salah selama data historis sumber konten diikutsertakan. Bahkan, (mungkin inilah kelebihan utama tumblr) log sumber konten akan terekam di ‘notes‘, semacam kolom komentar berbentuk log tautan siapa-siapa saja yang telah memposting ulang konten tersebut. Maka tidak akan ada istilah lupa menautkan sumber konten, karena secara otomatis tumblr akan mencantumkan log sumber konten dan siapa saja yang telah memposting ulang.

Kembali ke fenomena salin rekat, asal syarat di atas terpenuhi, oke tidak ada masalah. Namun ada satu budaya blogging yang hilang, budaya berkomentar. Sebuah konten bisa saja memiliki ribuan notes tapi setelah dicek, notes tersebut hanya berisi log siapa-siapa saja yang memposting ulang atau sekedar menyukai (likes) konten tersebut. Jarang ada komentar tertulis. Tapi mungkin disitulah ciri khas microblogging terletak. Apresiasi konten ditunjukkan secara ‘mikro’ pula. Sekedar like atau repost konten sudah berarti berpendapat. Mungkin memang begitulah budaya microblogging.

Lainnya, fenomena yang muncul adalah duplikasi konten yang marak. Sebagai misal, dari semua teman kita ada 50 orang yang kebetulan menyukai satu postingan. Dari jumlah tersebut ada 25 orang yang sangat setuju dan menyukai konten tersebut, memutuskan untuk memposting ulang. Maka, akan ada 25 posting yang isinya betul-betul identik, sama persis.

Jadi…
Itulah, menurut saya fenomena salin rekat membikin suasana kreatif jadi hilang. Jadi tidak ada motivasi posting konten buatan sendiri, lebih karena faktor psikologis: toh orang-orang pun copy-paste, pikir saya. Walaupun, masih banyak juga teman-teman yang tetap konsisten memposting konten buatan sendiri. Tapi yang namanya suasana itu kan pengaruh dari kondisi mainstream. Kalau lingkungan mainstream berkebiasaan copy-paste, mau bilang apa?

Banyak konten yang betul-betul unik di tumblr, tapi lebih banyak lagi yang hasil duplikasi. Saya mendapatkan tumblr menjadi media untuk memposting ulang konten dari rimba maya, lalu dikategorikan sedemikian rupa, sehingga tumblr lebih mirip agregator. Untuk mengaksesnya, tidak perlulah punya akun pribadi. Itulah mengapa saya menghapus akun tumblr saya.[]

Arfan
__________
NB: Ah banyak cakap kali, padahal emang males nulis aja :D
Sumber gambar: tumblr.com

Tags:

About Arfan

Kurang ajar, makanya belajar.

15 responses to “Almarhum Tumblr”

  1. Catur Hadi P says :

    saya malah belum pernah punya akun di Tumblr mas…
    kebanyakan blog jadi sulit ngurusnya ;)

  2. Arfan . says :

    Iya, jadi ribet ngurusnya. Dulu sih bikin akun gara-gara penasaran aja, tumblr tuh unik. Eh, makin sini malah gak keurus. :)

  3. Fitri Wulandani says :

    blog yg paling enak tuh kayanya multiply deh…hehehe *subjektif bgt ya*

  4. Arfan . says :

    Setuju… Paling enak n paling kekeluargaan.
    Itu yg saya rasain :)

  5. Arfan . says :

    Setuju… Paling enak, paling rame, paling kekeluargaan :)

  6. Julie Utami says :

    Tumbir atau apa pun saya nggak punya. Buat saya blogging tempatnya yang benar ya di sini, di Multiply nggak pake di mana-mana.

  7. Arfan . says :

    Tempat blogging mah gak ada salah benar atuh Bun… Mungkin maksud Bundel, Multiply tempat blogging yang cocok dengan selera ya Bun :)

    Sama kalo gitu… Saya juga ngerasa cocok blogging di MP :)

  8. Julie Utami says :

    Ah enggak keukeuh, ada salah benernya. Blogging itu di sini, tapi kalau sekedar saling sapa mah jangan di sini. Sebaliknya nyapa mah boleh aja di mana-mana gitu, tapi ngeblog ya di sini, di Mp ini yang bener hihihihi….

  9. Arfan . says :

    Hehehe… Susah atuh kalo udah keukeuh mah.
    Ya sudah, berarti MP paling bener n paling cocok buat penggemarnya… Gitu juga tempat-tempat blog lain, paling bener n paling cocok buat… penggemarnya masing-masing… Hehehe…

  10. andalusia NP says :

    tumblr bikin aku ngerasa remaja terus, Fan :D :D
    makanya isinya semua ke-TUTUBIL(tua-tua labil)-an ku :p

  11. andalusia NP says :

    tumblr bikin aku ngerasa remaja terus, Fan :D :D
    makanya isinya semua ke-TUTUBIL(tua-tua labil)-an ku :p

  12. Arfan . says :

    Hahaha… Ini tepat seperti 'pernyataan perang' salahsatu pesaing Tumblr, yaitu Posterous di laman official-nya.

    “…blogging on Tumblr is sort of like being in high school.  But you know deep-down that you can't be in high school forever.  Eventually, you have to move on.”

    Lucu, perang antar penyedia layanan blog ini. :D

  13. Arfan . says :

    Hahaha… Ini tepat seperti 'pernyataan perang' salahsatu pesaing Tumblr, yaitu Posterous di laman official-nya.

    “…blogging on Tumblr is sort of like being in high school.  But you know deep-down that you can't be in high school forever.  Eventually, you have to move on.”

    Lucu, perang antar penyedia layanan blog ini. :D

  14. imanda husna silalahi says :

    iya mas, temen2 promosi tumblr gila2an :D

  15. Kang Ibut ™ says :

    belum pernah register di tumblr :D , kurang begitu tertarik.

Komentar anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: