Teringat Juru Kampanye

Saya sedang tidak enak hati. Terhenyak dan gundah ketika menyadari bahwa wacana ringan yang terlontar dari mulut ini, ternyata bisa menjelma harapan besar di telinga tertentu.

Ceritanya begini. Dua hari jelang lebaran saya bersilaturahmi ke kampung seseorang yang telah lama saya kenal. Rencana berkunjung ada sejak lama, bulan puasa kemarin baru terlaksana. Dulu dia tinggal di Bandung, setelah pulang kampung dan melahirkan anak kedua dia tidak kunjung kembali.

Oh ya, beliau ini adalah salahsatu orang yang berjasa bagi saya. Ketika masih di Bandung, tempat tinggalnya sering menjadi tempat singgah sejenak bagi saya. Dia sering menjadi penolong ketika saya kelaparan. Tidak jarang dia meminjami saya uang dalam bentuk lauk-pauk. Dia adalah bibi penjual nasi.

Perjalanan cukup panjang ke daerah pelosok desa, melewati banyak petak sawah dengan jalan bebatuan dan kadang tanah liat. Setelah tanya sana-sini, akhirnya sampai juga di desa tempat tinggalnya. Rumahnya baru selesai dibangun. Suaminya sedang mengecat. Untuk menyambut lebaran, katanya.

Singkat cerita, dia terkejut dan senang saya kunjungi. Setelah mengobrol panjang lebar, saya melontarkan wacana tentang kemungkinan dia kembali lagi ke Bandung. Saya sekedar ingin tahu, apakah dia bersedia berjualan lagi atau terlalu sibuk mengurus bayi.

Kebetulan saya sedang mengajukan pinjaman usaha, yang sebagian bisa saya alokasikan untuk modal awal bagi bibi penjual nasi (yang ini tidak saya utarakan).

Ternyata dia merasa sanggup. Asalkan ada tempat yang memadai baginya dan bayinya. Saya bilang, tempat itu ada dan sangat layak. Lalu kami bercakap tentang modal awal, tentang sistem kerjasama, tentang perkiraan waktu memulai usaha, dan lain-lain. Obrolan berhenti setelah saya paham bahwa kemungkinan untuk bibi berjualan nasi di Bandung masih ada. Akhirnya kami sependapat jika kelak terjadi kerjasama: saya pemodal, dia penjual.

Singkat cerita, kami berpamitan.

Inilah yang kelak menjadi kesalahan pertama, saya tidak menekankan pada bibi penjual nasi bahwa obrolan di atas masih tahap wacana. Padahal kepastian cairnya pinjaman belum saya peroleh. Tidak terbayang waktu itu, bahwa pencairan pinjaman ternyata banyak hambatan. Namun saya tetap mengusahakan.

Dan kesalahan kedua, setelah sebulan lewat saya tidak melakukan konfirmasi apapun kepada bibi penjual nasi, karena saya merasa tidak perlu. Saya masih beranggapan obrolan lalu adalah wacana yang belum berbuah kepastian apapun. Saya berasumsi bahwa bibi penjual nasi pun beranggapan sama.

Saya baru sadar saya salah–dan kaget–ketika kemarin dia balik mengunjungi saya di Bandung. Ternyata bibi penjual nasi menaruh harapan–yang terlihat amat besar–terhadap obrolan waktu lalu. Sungguh tidak saya duga sebelumnya. Hingga kini obrolan waktu lalu saya anggap wacana, sementara bibi penjual nasi menganggapnya rencana. Saya anggap nya hanya sebuah percakapan, sementara bibi penjual nasi menganggapnya harapan.

Tiba-tiba saya merasa seperti juru kampanye yang berkoar-koar menghembuskan angin surga di depan jelata. Duh.[]

Arfan

__________

Tags:

About Arfan

Kurang ajar, makanya belajar.

8 responses to “Teringat Juru Kampanye”

  1. Julie Utami says :

    Semoga Allah mendengarkan pinta akang untuk segera mendapatkan modal penolong kehidupan si bibi. Saya cuma bantu doa aja ya?!

  2. imanda husna silalahi says :

    semoga dimudahkan ya mas niat baiknya :)

  3. Arfan . says :

    Wah terimakasih Bun dukungannya… Iya semoga aja bisa terlaksana…
    Biar sama-sama enak, saya gak ada beban moril, dan si bibi gak ada beban materi… Amin…

    Sekali lagi terimakasih doanya Bun!
    :)

  4. Arfan . says :

    Amin. Semoga… Memang ini yang dibutuhkan, k-e-m-u-d-a-h-a-n… Terimakasih Mbak Husna…

  5. imanda husna silalahi says :

    panggilnya manda aja mas, hehe gausah husna :D

  6. Arfan . says :

    Hehe. Tadi komen ini ditulis sebelum berkunjung ke MPnya Manda, disana ternyata ada 'syarat&ketentuan' pemanggilan namanya :)

  7. imanda husna silalahi says :

    hahaha, bukan syarat dan ketentuan itu mas :p
    Lebih nyaman aja dipanggil manda, hehe

  8. Arfan . says :

    Oke lah kalao begitu :)

Komentar anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: