Menanti Sang Penari

Saya pribadi tidak merasa perlu melihat visualisasi elektronik dari cerita fenomenal berjudul “Ronggeng Dukuh Paruk” (1981) yang legendaris itu. Kenapa? Karena Ahmad Tohari (1948-…) sang empunya cerita sudah ‘terlalu’ rinci menggambarkan segala sesuatu yang bisa diimaji dalam masterpiece-nya ini. Anda pembaca Ronggeng Dukuh Paruk (RDP), tentunya sudah ‘mendokumentasikan’ secara khusus gambaran tentang Srintil, Rasus, suasana Dukuh Paruk, hingga puncak peristiwa komunisme yang melukai hati, dalam imajinasi pribadi.

Cerita RDP diadapatasi (kembali) dalam film berjudul “Sang Penari“. Film karya sutradara Ifa Isfansyah yang skenarionya ditulis oleh Salman Aristo, Ifa Isfansyah, dan produser Shanty Harmayn ini akan rilis pada November 2011.

Sebelumnya RDP pernah divisualisasikan dalam film berjudul “Darah dan Mahkota Ronggeng” (1983) setelah cerita bersambung di koran Kompas ini dibukukan. Film lawas yang dikerjakan oleh sutradara Yazman Yazid kurang begitu populer, mungkin karena pengaruh represif rezim saat itu yang tidak memberi ruang gerak pada segala isu berbau komunisme yang notabene menjadi konflik dalam cerita RDP.

Happy Salma dalam film Sang Penari.

Kekhawatiran
Sejujurnya, ketika mengetahui cerita Ronggeng Dukuh Paruk akan diadaptasi (kembali) dalam sebuah film, saya sedikit khawatir. Dari pengalaman menyimak film adaptasi novel yang pernah ada, saya tidak pernah terpuaskan. Mungkin banyak dari anda yang juga memiliki pengalaman kecewa terhadap film adaptasi novel, apalagi karya sastra. Memang wajar. Adalah sebuah hal sulit untuk menterjemahkan karya tulis dalam sebuah media visual. Sulit dan kerap mengecewakan, karena imajinasi individual tidak pernah dapat terakomodir dalam sebuah visualisasi massal, sebuah film.

Makanya saya mengkhawatirkan memori-imaji yang telah Ahmad Tohari sapukan di kanvas imajinasi saya sebagai pembaca, kelak akan rusak setelah menyimak film Sang Penari.

Setidaknya ada dua kekhawatiran saya (tapi semoga buruk sangka saya ini patah kelak):

Pertama, khawatir kurang kuatnya penokohan dalam film. Gambaran kekenesan Srintil, kelelakian Rasus, lansekap Dukuh Paruk, hingga kecabulan masyarakatnya, telah dideskripsikan oleh Tohari begitu rincinya di tiap narasi dalam novelnya. Pembaca, dalam hal ini menerjemahkan deskripsi cerita langsung dari penulisnya. Nah dalam film, penonton berada di posisi  menyimak citra hasil ‘karangan’ sutradara dan penulis skenario, yang menerjemahkan cerita dari penulis. Jadi saya khawatir ada bias deskripsi.

Kedua, khawatir hilangnya plot maupun konflik-konflik kecil yang sesungguhnya sangat berarti. Garis besar RDP menceritakan tragedi kemanusiaan 1965, sebuah catatan gelap di Indonesia dari sudut pandang jelata yang diwakili Srintil dan Rasus. Karena bercerita lewat tokoh jelata, Ahmad Tohari banyak mendapat lahan untuk mengungkap sisi-sisi humanis manusia. Maka setiap konflik dalam novel RDP, betapapun sepele, justru menjadi sangat berarti dalam menyusun klimaks yang mengguncang. Nah, karena durasi film tidak panjang, sisi plot dan konflik inilah yang saya khawatir akan hilang di sana-sini.

Sedangkan untuk masalah pemeran tokoh cerita dan setting cerita, saya tidak begitu ambil peduli. Toh imajinasi anda tentang cantiknya paras Srintil pasti berbeda dengan imajinasi saya. Toh fantasi sutradara tentang suasana malam bukak klambu, saat Srintil ‘diwisuda’, pasti berbeda dengan fantasi anda. :-b

Antisipasi
Untuk itu saya kira, perlulah melakukan antisipasi dengan meletakkan sejenak seluruh bayangan penokohan dan plot yang terbaca dari literatur karya Tohari sebelum menyimak visualisasinya. Tinggalkan memori-imaji cerita bersama lembaran novel Tohari di rumah. Pergilah ke bioskop dengan ceria, bukan dengan niat membandingkan buku dan layar lebar, tentu saja supaya tidak kecewa.

Namun bagi anda yang belum sempat membaca RDP, saya tidak tahu–oleh karenanya tidak dapat menyarankan–apakah lebih baik membaca novelnya terlebih dulu sebelum menyimak filmnya, atau sebaliknya. Karena sesungguhnya pengalaman membaca dan menonton tidak akan pernah sama.

Tetapi, dari semua kekhawatiran di atas saya hanya dapat berasumsi: karena Ronggeng Dukuh Paruk begitu menawan hati, maka Sang Penari patut dinanti.[]

Arfan

__________
Sumber gambar: Facebook.com/SangPenari
Keterangan: Sinopsis cerita novel bisa dilihat di resensi Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk di blog ini.

Tags: ,

About Arfan

Kurang ajar, makanya belajar.

11 responses to “Menanti Sang Penari”

  1. desi puspitasari says :

    Eh, aku kemarin jg bikin QN ttg ini. :D

    Kalau dari trailernya sih Srintilnya sepertinya bagus. Cuman Rasusnya agak kurang… Jadi bimbang besok: antara pingin menonton atau enggak.

  2. Arfan . says :

    Iya, saya kan komen juga disitu. Beres komen baru bikin tulisan di atas. Jadi, saya tahu tentang film ini dari QN mbak Desi. :D

    Wah kalo trailer, susah dijadiin patokan euy. Biasanya trailer mah nampilin yang bagus2 doang. Filmnya belum tentu. Tetep kudu nonton sih, penasaran juga. :b

  3. Arfan . says :

    Btw katanya tanggal 16 Okt 2011 ada nonton bareng film Sang Penari di Jogja. Bener gitu? Gratis gak ya?

  4. desi puspitasari says :

    Nah, iya itu. Antara pingin nonton (karena liat trailer) dan enggak (karena itu trailer).

    Yang di Jogja belum tahu, ini pake hape jadi belum buka link. Hehe.

    Btw, aku udah pernah nonton film yang versi taun lama, lho. Secara gambaran suasana dapet. Srintilnya juga luwes. Apalagi siapa itu dukunnya, pas kesurupan tayub sama Srintil di makam bagus. Tapi kurang menarik. Gak tau kenapa.

  5. Bambang Priantono says :

    Paling enak tetap dalam bentuk novel ini, bisa berimajinasi

  6. Arfan . says :

    Hahaha. Bingung2 amat. Yang jelas mah, ini cerita luarbiasa, kalau filmnya biasa, ya pembaca pasti kecewa. :)

    Oh yang versi lama, saya belum pernah simak. Kurang menarik mungkin kerna pemerannya aktor-aktris jadul kali :D

  7. Arfan . says :

    Ya setuju. Justru kenikmatan baca novel ada di situ, imajinasi.

    Tapi kan yang namanya manusia, gak pernah puas berkarya, pengen coba bermacam media. Walaupun, untuk kasus adapatasi novel ke film, seringnya kurang maksimal… Tapi film-film adapatasi macam ini patut diapresiasi lah. Daripada bioskop kita penuh sama film-film tahayul. :)

  8. Ika W says :

    sempet 'ga sengaja' baca novelnya…btw sudah tayang kah?

  9. Arfan . says :

    Wah gak sengaja yang indah itu namanya, hehehe.
    Kabarnya film rilis pada 11-11-11. Tapi di beberapa tempat sudah ada tayang perdana, nonton bareng sama penulisnya malah.

  10. Ika W says :

    waah pasti seru ketemu penulisnya..
    smg hasil filmny benar2 tak mengecewakan krn katanya pengawalan sang penulis thdp pembuatan film ini lbh ketat dibanding pembuatan film yg dulu :-)

Trackbacks / Pingbacks

  1. Review: Sang Penari « RFUN - 5 November 2012

Komentar anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: