Malu Berdoa

Beberapa hari ini saya jarang berdoa, tepatnya, jarang memanjatkan doa secara sungguh-sungguh. Bukan karena cukup atau puas atas keadaan saat ini, sungguh, masih terlalu jauh jika patokannya adalah idealisme dan cita diri. Bukan juga karena tidak merasakan manfaat atas kegiatan berdoa tersebut, lancang selancangnya manusia kalau memang iya.

Jadi, apa sebab jarangnya saya berdoa?

Malu. Satu kata itu yang betul-betul menggelayuti batin tiap hendak berdoa. Malu karena cara memohon yang salah, atau sebutlah, doa yang ‘tidak beradab’.

Begitu banyaknya saya menghaturkan doa yang sebetulnya tidak lain merupakan kumpulan perintah hambanya pada Tuhan. Bayangkan… Hamba yang maha kecil ini memerintah Tuhannya! Kata-kata seperti ‘tolong’ dan ‘mohon’, nampaknya hanyalah pemanis yang sekedar menghaluskan rangkaian kalimat perintah yang dirapalkan di depan Tuhan, karena sesungguhnya sehabis kata-kata tersebut terdapat banyak permintaan yang cenderung berbentuk mandat, arahan, dan negosiasi daripada berbentuk harapan. Semuanya dijabarkan seolah sayalah yang paling tahu dan paling mengerti apa yang saya butuh dan bagaimana semuanya harus berjalan.

Buruk sekali cara doa seperti ini, alasannya karena jika tidak terkabul, selalu bisa ditebak, ada yang kecewa di balik dada ini.

Katanya doa adalah senjata. Senjata betul-betul disebut senjata jika dan hanya jika digunakan untuk bertempur. Pedang setajam silet adalah hiasan dinding jika sekedar tergantung di tembok. Seperti halnya doa, sekhidmat apapun penyampaiannya, sebernas apapun pilihan kata-katanya, sedalam apapun harapan yang dititipkan di sela-sela pengucapannya, namun tanpa diiringi ‘pertempuran berdarah-darah’ sia-sialah adanya. Doa bukan lagi senjata, melainkan kata-kata yang tergantung di langit.

Saya pikir, jika yang pertama tadi cara doa yang buruk, maka doa tanpa usaha adalah cara yang sesat. Alasannya, dengan sekedar berdoa tanpa diiringi pergerakan, sesungguhnya saya tengah menafikkan ke-maha bijaksana-an Tuhan.

Jadi sampai kapan saya masih merasa malu memanjatkan doa? Nampaknya tidak sampai terlalu lama lagi. Karena saya sedang berharap supaya secepatnya dapat mengerti adab berdoa yang baik dan benar, serta diberi kekuatan untuk selalu mengiringi tiap kata dalam doa dengan keringat. Dan untuk semua itu, langkah pertama yang paling masuk akal adalah berdoa.[]

Arfan

_________
Sumber ilustrasi: flickr.com

Tags:

About Arfan

Kurang ajar, makanya belajar.

29 responses to “Malu Berdoa”

  1. Iwan Yuliyanto says :

    Kontemplasi yang menarik.
    Asal jangan seperti “Doa Yang Mengancam” ya :)

  2. Arfan . says :

    Wah apa lagi tuh doa yang mengancam? Kedengerannya serem… Judul sinetronkah? :D

  3. Iwan Yuliyanto says :

    Ya gitu deh, karena dangkalnya ilmu. Itu judul film layar lebar, kalo ndak salah diproduksi th 2008.
    Ceritanya sang tokoh sudah merasa sekian lama terlalu banyak berbuat kebaikan, beribadah dan amalan2 baik lainnya, tapi tetap saja menjadi miskin & hidupnya penuh penderitaan. Sehingga suatu hari ia berdoa dihadapan Tuhannya dg berteriak, kalo suatu hari do'anya tidak diterima / dikabulkan dirinya akan menjadi kafir dan menghujat-Nya sbg pembohong.

  4. Arfan . says :

    Oh, iya, jadi keingetan… Yang diperanin Aming kalo gak salah ya. Belum pernah nonton sih. Cuma kalau dari sinopsis singkat dari mas Iwan, tema besarnya mirip-mirip cerita Robohnya Surau Kami, saat hasil perbuatan tidak sejalan dengan harapan. Moga gak akan pernah kejadian mengancam Tuhan deh :|

  5. ria irwanty says :

    hayu atuh berdoa lagi,
    dimulai dari hal-hal yg kecil :)

  6. Arfan . says :

    Iya teh, hayu, sedang memulai.

    *Berdoa… Mulai…
    :)

  7. ria irwanty says :

    mengheningkan cipta eta mah Jang,
    hehehhhe

    *sambil nyanyi lagu “Syukur”

  8. Arfan . says :

    Oh iya ya? Haduh, sudah pasalingsingan memori upacara Senin jeung berdoa dalam kelas teh… :D

  9. ria irwanty says :

    hahahhha….

    *GuBrak, katinggang tihang bendera*

  10. Arfan . says :

    –silent–
    *bediriin tiang bendera, ngerek orang yang kebetulan nyangkut di talinya.
    :b

  11. ria irwanty says :

    –senyamsenyum di pojokan sambil liatin yg ngerek bendera—

    Sapa yah yg nyangkut itu, berasa kenal
    :p

  12. Arfan . says :

    Ebuset!! Yang senyam-senyum jurignya atuh…

    *Jalan cepet. Kabur. Sereemm… Celana basah. Ngompol…

  13. ria irwanty says :

    :D

    *celingukan di belakang bisi aya nu hiber*

  14. Arfan . says :

    :|

    *Har, jadi celingukan beneran yeuh…

  15. ria irwanty says :

    *sukurin….weeek*

    :p

  16. Catur Hadi P says :

    Saya kalo malu sih nggak, cuma kadang nggak khusuk aja ;(

  17. Arfan . says :

    Hmm, kalau nggak khusyuk mah, masalah semua orang.
    Susah memang mencapai khusyuk tuh…

  18. andalusia NP says :

    Fan, baca lagi puisi “Dalam Doaku” sapardi, itulah yang selalu membuat saya kembali semangat melangitkan doa-doa :)

  19. andalusia NP says :

    ini Teh Ria temennya Teh Deani bukan ? ;-)

  20. Arfan . says :

    Hiks. Begitu agungnya Sang Pendengar, mengepung tiap detik dengan kesempatan berdoa. Tinggallah si hamba yang harus memilih.

    Hatur nuhun udah mengingatkan, untuk kembali ke jalan (puisi) yang lurus Teh.
    :)

  21. Arfan . says :

    Wah, kurang tau Teh… Mungkin yang bersangkutan bisa jawab? cc@sahabatry :)

    *asa twitter

  22. ria irwanty says :

    eH ia, Deani yg anak Antrop kan ….

    *ini teh Anda yg di UI ?? hapunten ya, ini akun MP yg baru jadinya ada bbrpa kawan lama yg ketinggalan di invite….Punten ya Nda*

  23. ria irwanty says :

    @Arfun @Pondok Kata sudah dijawab ke yg bersangkutan

    (twitter pisan ihhh)

  24. andalusia NP says :

    Iya Teh Deani anak antrop, Teh. ooo akun baru? dunia kecil ya, akhirnya bertemu lagi :-)

    sekarang ketemunya langsung ngegosip di rumahnya Arfan :p

  25. ria irwanty says :

    Udah ku invite ya Anda :)

    *ngagosip di rumah batur, hehehhe*

  26. andalusia NP says :

    ahahaha makasih teteh :)

    *biarin kita ngegosip sambil makan kacang, biar Arfan yang beresin :D*

  27. ria irwanty says :

    sami-sami :)

    *nyampah lagi, kali ini bawa bacang…..:p

  28. Arfan . says :

    Ebuset…! Ada halal bihalal gak ajak2…

    *#lagisibuk bersih-bersih lapak bekas #reunian… Lagi nyapu kulit kacang serakan, eeh kepeleset kulit bacang #OMG :D

  29. ria irwanty says :

    Maklumlah, reunian disini…mumpung gratis….hehhehe

    *cuma mentertawakan yg jatuh :p

Komentar anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: