Obat Dokter

Kemarin bapak saya sakit demam, panas dingin, penyakit musim hujan. Beliau minta saya untuk mengantar ke dokter. Ada dua dokter yang pernah disambangi ketika bapak sakit, dokter Ucok dan dokter Baba (keduanya bukan nama sebenarnya). Dokter Ucok adalah dokter spesialis THT yang membuka rumah praktek sendiri. Sementara dokter Baba adalah dokter (spesialis tertentu, saya lupa) di klinik dekat rumah.

Keduanya tempat berobat yang populer di permukiman kami. Keduanya selalu ramai dikunjungi ketika musim sakit tiba dan sama-sama berlokasi di dekat rumah. Keduanya adalah dokter spesialis. Jika berobat ke klinik tempat dokter Baba berpraktek, bapak saya tidak perlu membayar sepeser pun. Karena ada fasilitas kesehatan kantor, khusus jika berobat di klinik tersebut. Sebaliknya, jika berobat di dokter Ucok, tentu saja keluar biaya. Meski begitu di kedua tempat tersebut harga berobat masih terjangkau.

Ketika itu bapak saya minta diantar ke dokter Ucok. Saya iseng bertanya kenapa beliau memilih dokter Ucok, bukan dokter Baba saja yang gratis. Jawaban bapak yang tidak saya sangka-sangka tapi terdengar logis juga:

“Di dokter Baba mah obatna garede, loba deuih!”
(“Di dokter Baba, obatnya besar-besar, banyak pula!”).

Tentu saja yang dimaksud bapak saya adalah ukuran obat tablet, kapsul, dan sejenisnya yang kelak akan tertulis dalam resep. Dan beliau malas jika harus rutin menjejalkan butir-butir obat yang besar dan banyak selama sakitnya. Ternyata, saudara-saudari… Bagi kalangan awam dunia kedokteran seperti kami, bentuk fisik obat yang kelak akan tercantum dalam resep adalah parameter penting dalam membuat keputusan: dimana kami akan berobat.

Hikmah bagi para dokter atau calon dokter, ketika kualitas ilmu kedokteran sudah sama-sama mapan, kepopuleran tempat praktek sudah sama-sama terjamin, dan ketika harga berobat bukan jadi masalah, ada yang patut dianalisa: hal-hal remeh tak terduga yang menjadi alasan sangat kuat kenapa seorang pasien berobat ke tempat anda. Bisa jadi remeh-temeh tersebut adalah sebuah sapaan, senyum, atau  seperti kisah bapak saya, diameter obat.[]

Arfan

__________
Sumber ilustrasi: http://www.guernicamag.com

Tags:

About Arfan

Kurang ajar, makanya belajar.

19 responses to “Obat Dokter”

  1. andalusia NP says :

    lekas sembuh ayahnya Arfan, syafakallahu :)

    Kalau nenek saya ke dokter suka protes, “dok, kok saya cuma dipegang-pegang terus ngobrol aja, kapan diperiksanya?”. Namanya juga orangtua :)

  2. Arfan . says :

    Terimakasih doanya Mas…
    Alhamdulillaah udah baikan.
    :)

  3. Arfan . says :

    Alhamdulillaah gak lama sakitnya. Terimakasih Teh, doanya.

    Hahaha.. Ekspektasinya berlebihan nya… Padahal dokter yang udah ahli mah, tinggal pegang2 doang udah tau gejala sakit si pasien…

  4. Julie Utami says :

    Bener, saya dulu ke dokter Spesialis Anak juga milih yang obatnya masih rasional dari segala segi, baik penting tidaknya dimakan, maupun banyaknya dan ukuran si obat. Semoga bapaknya cepat sembuh ya kang.

  5. Arfan . says :

    Wah, betul juga tuh Bun, harusnya sikap kritis pasien dibiasakan sampai ke tahap penting/tidaknya konsumsi sebuah obat. Siapa tau obat yg dianjurkan teh, jenis yang dalam jangka lama merugikan…

    Nuhun piduana Bun :)

  6. ria irwanty says :

    ternyata ya, pilihan tetap pada si pasien…

    *bapaknya smoga cepet sembuh :)

  7. Arfan . says :

    Dan alasan dibalik pilihan pasien yang harus dipelajari dokter, biar dokternya bisa lebih 'laku'.

    *Amiin terimakasih Teh Ria…

  8. ria irwanty says :

    Dokter kan mana mau tau yah, apalagi kalo udh punya nama….padahal harusnya itu bisa buat introspeksi dia….

  9. Arfan . says :

    Nah itu dia, penting pisan buat introspeksi, soalnya gak semua pasien memang memilih, ada juga yang kepaksa diperiksa dokter anu. Karena askes dsb, misalnya.

  10. ria irwanty says :

    cokpis alias cocok pisan kang……

    Mungkin karna udh berasa “jadi dokter”, rada tinggi deh :)

  11. Arfan . says :

    Mungkin ya, mungkin juga karena terlalu sibuk.

  12. ria irwanty says :

    kita aja yg model papan atas, ga sok sibuk ah

    :p

  13. Arfan . says :

    Belum model, masih calon.
    Calon model Majalah Yasin…
    :D

  14. ria irwanty says :

    itu mah gak disuruh juga harus,
    harus meninggal….

    :)

  15. Agus Zen says :

    Wah, kapan terbitnya, tuh ? pesen atu .. :D

  16. Arfan . says :

    Wah Kang. Teu acan siap…
    :)

  17. Kang Ibut ™ says :

    belajar analisis dalam menjalani hidup ke depan ya mas? heheh

  18. Arfan . says :

    Harusnya sih dalam segala hal… Hehe

Komentar anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: