Review: Sang Penari

Tafsir Visual Ronggeng Dukuh Paruk

Poster film Sang Penari.

Setelah menyaksikan film Sang Penari (2011) saya sempat kaget dan hampir-hampir kecewa, kalau saja saya tidak menemukan pernyataan sang penulis skenario, Salman Aristo, yang memilih mengatakan film ini terinpirasi kisah dalam trilogi Ronggeng Dukuh Paruk (1981), daripada mengadaptasinya.

“Karena sangat tidak mungkin mengadaptasi tiga cerita dalam trilogi novel itu ke dalam satu film.” tambahnya.

Pernyataan Salman sebelum film ini rilis pada 10 November 2011, boleh jadi adalah kalimat antisipasi agar penonton lebih permisif mendapati kenyataan bahwa tidak seluruh mozaik cerita novel terekam utuh dalam visualisasi. Dan memang tidak mungkin kisah dalam tiga buku–Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala–dimampatkan dalam gambar bergerak berdurasi satu jam lebih sedikit saja.

Sekilas Sinopsis
Film yang diangkat dari karya fenomenal trilogi Ronggeng Dukuh Paruk (RDP) milik Ahmad Tohari, mengangkat secuil kisah prahara sejarah 1965–dalam mata rantainya yang kesekian–yang menimpa komunitas kecil Dukuh Paruk. Pedukuhan sederhana dengan masyarakatnya yang belum tersentuh ideologi apapun selain kepercayaan terhadap arwah leluhur ini memiliki monumen kebudayaan turun temurun: seni ronggeng.

Film ini bercerita tentang kisah dua anak manusia di Dukuh Paruk, Srintil (Prisia Nasution) dan Rasus (Oka Antara) yang sejak kecil memendam perasaan saling menyukai. Dukuh Paruk, desa yang terlampau bersahaja memiliki seorang ronggeng yang dielu-elukan sebagai kebanggaan pedukuhan. Pada suatu pagi peristiwa keracunan tempe bongkrek merenggut nyawa nyai ronggeng dan sebagian penduduk desa. Srintil cilik turut merasa bersalah, karena orangtuanyalah si pembuat tempe beracun itu. Selepas kejadian maut tersebut Dukuh Paruk mati suri, terlebih karena tak adanya ronggeng.

Didorong perasaan bersalah, dan kepercayaan tetua Dukuh Paruk bahwa tubuhnya telah dirasuki indang ronggeng, Srintil memutuskan untuk menjadi ronggeng. Kesenian ronggeng kembali digelar. Dukuh Paruk kembali hidup. Ronggeng dalam kebudayaan masyarakat sekitar Dukuh Paruk adalah wanita yang tidak sekedar melenggak-lenggok di pentas, tetapi juga berarti wanita milik semua lelaki yang berani membayar.

Dengan definisi ronggeng tersebut, Rasus merasa Srintil telah dicuri dari kehidupannya. Srintil pun menghadapi dilema antara meneruskan cita-citanya menjadi ronggeng dan mempertahankan hubungannya dengan Rasus. Di bawah perasaan kecewa, Rasus pergi dari Dukuh Paruk, nasib membawanya memasuki dunia kemiliteran. Sementara Srintil semakin matang dan malang melintang di dunia ronggeng.

Tahun berganti tahun, dan sampailah masa dimana peristiwa geger 1965 berkecamuk. Rasus yang telah menjadi tentara menemukan kenyataan bahwa warga dan grup kesenian ronggeng Dukuh Paruk ternyata terlibat dosa sejarah tersebut, meski dalam arti yang paling bias. Akhirnya keadaan membawa dilema berikutnya, Rasus berada di persimpangan. Ia harus memilih antara pengabdian pada negara dan pencarian cintanya yang hilang, Srintil.

***

Sulit memenuhi niat saya sebelumnya, untuk tidak akan membandingkan kisah dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk dengan visualisasinya dalam film Sang Penari. Saya berusaha menonton film tersebut sebagai sebuah karya utuh yang tidak membawa beban berat untuk menyajikan kemahsyuran kisah dalam trilogi RDP. Setiap selesai menyaksikan scene demi scene, otak ini maunya mengomentari melulu kesesuaian cerita dalam film dengan kisah tertulisnya. Sulit untuk tidak. Karena, jujur, ketika menonton saya belum mahfum kalau film ini bukanlah adaptasi bulat, melainkan sekedar terisnpirasi kisah RDP, seperti pernyataan penulis skenarionya di atas.

Ada dua hal yang sengaja atau tidak selalu saya perhatikan dalam jenis film adaptasi literatur: visualisasi dan logika cerita. Dua hal tersebut yang akan memantapkan bentuk unsur-unsur penting cerita seperti latar, penokohan, dan plot. Apapun istilahnya, film adaptasi adalah dramatisasi kata-kata yang divisualisasikan. Film adaptasi haruslah mampu menyuguhkan pengalaman yang senada (jika tidak mungkin sama) dengan pengalaman membaca literaturnya. Untuk dapat memberikan pengalaman tersebut, maka visualisasi dan logika cerita menjadi penting.

Visualisasi yang Mantap
Sang Penari, saya rasa adalah film yang telah melampaui keperluan akan penilaian kualitas visualisasinya. Dalam hal ini sutradara Ifa Isfansyah patutlah berbangga atas hasil kerja kerasnya. Betapa segala hal berbau teknis nampak jelas direncanakan secara maksimal oleh Ifa, Yadi Sugandi (penata kamera), dan Eros Eflin (penata artistik).

Pengambilan gambar yang sering dilakukan secara tight (dekat, contohnya: wajah tokoh memenuhi layar) berhasil ‘mengumbar’ emosi tokoh-tokohnya secara total. Pengambilan gambar tanpa tripod (penyangga kamera) saat mengambil adegan-adegan dinamis seperti tarian ronggeng atau kericuhan pedukuhan, sehingga gambar menjadi goyang-goyang terkendali, membuat adegan lebih dramatis.

Adegan film Sang Penari.

Karakter-karakter kunci sungguh diperankan dengan maksimal. Pemeran Srintil, Rasus, Nyai dan Kang Kartareja, Kang Sakarya, hingga Sakum si buta penabuh gendang begitu total dan dramatis. Logat Banyumasan yang kental di setiap dialog terdengar alami. Khusus bicara peran, saya begitu terkesan menyaksikan pemeran Sakum dalam film.

Gerakan pemeran Srintil walau terlihat berusaha keras (baca: kurang luwes) saat adegan menari ronggeng dapat diatasi dengan sudut pengambilan gambar. Adegan yang memerlukan masyarakat umum untuk berinteraksi dengan tokoh utama, juga terlihat natural. Saya tidak menemukan pameo yang kaku (biasanya terlihat dalam gerak berjalan, atau gerak curi pandang ke kamera) yang berpotensi merusak suasana. Satu lagi yang patut diacungi jempol, adegan saat Srintil menjalani ritual bukak klambu dan ‘adegan kamar’ lainnya, jauh dari kesan seronok. Lagi-lagi teknik pengambilan gambar dan pencahayaan yang berperan di sini.

Pemilihan set lokasi terlihat maksimal. Bagaimana penggambaran pedukuhan, alam pedesaan, pasar, dan lokasi penting lainnya cukup mewakili gambaran seperti definisi cerita dalam novel aslinya. Walaupun ada scene yang menggambarkan pedesaan Paruk terlampau hijau, subur-makmur, padahal latar Dukuh Paruk dalam novel adalah desa yang kering kerontang. Namun, secara umum visualisasi film Sang Penari terbilang mantap.

Pemahaman Cerita yang Sulit
Sulit di sini bukan berarti cerita film ini berat, bukan pula karena alur yang terlampau canggih macam film-film eksperimental. Pemahaman cerita menjadi sulit justru karena hal-hal sepele. Hal-hal tersebut menjadi kekurangan yang memengaruhi logika cerita, kekurangan mendasar yang seharusnya dapat dihindari.

Pertama, minimnya narasi. Narasi menjadi penting dalam setiap karya yang bercerita. Dalam novel RDP narasi dipaparkan dengan sangat jelas, terutama karena penulisnya (Ahmad Tohari) mengambil sudut pandang orang ke tiga, pencerita yang serba tahu. Dalam film, entah mengapa pengenalan tokoh, penjelasan peristiwa, maupun penjelasan adegan penting lainnya terasa tergesa-gesa.

Akibat minimnya narasi, kaitan antara waktu dan adegan menjadi membingungkan. Maksud saya, dalam film ini adalah kaitan antara tahun dengan keadaan sosio-histori masyarakat. Memang ada penanda berupa tulisan tahun terjadinya kisah di layar. Namun apa yang sesungguhnya terjadi pada tahun tersebut kurang terjelaskan. Contoh fatalnya adalah adegan ketika pecahnya peristiwa 1965, hanya terjelaskan lewat suara berita di radio kuno. Selebihnya, penonton harus sudah tahu dari awal, bahwa pada 1965 ada gerakan G30S/PKI yang menyebabkan gegernya keadaan sosial politik kala itu. Lantas, bagaimana jika ada penonton yang tidak tahu tentang PKI dan pengaruhnya terhadap masyarakat?

Cukup sering saya temukan kejanggalan dalam film yang diakibatkan tiadanya narasi. Contoh lain yang juga fatal adalah adegan perubuhan makam Ki Secamenggala. Siapa yang merubuhkan, motifnya apa, dan dampak terhadap adegan selanjutnya apa sungguh membingungkan penonton. Lagipula, siapa itu Ki Secamenggala, kurang terjelaskan.

Kedua, penokohan yang menggantung. Siapa itu neneknya Rasus, siapa itu Juragan Perkebunan bersafari dan celana putih, siapa itu temannya Rasus dan Srintil yang menyetir mobil di akhir-akhir cerita, mereka adalah tokoh yang kurang terjelaskan perannya. Juga kurang masuk logika untuk apa mereka ada, karena tidak terlihat pengaruhnya terhadap jalan cerita.

Ketiga, hilangnya kesan jarak dalam latar. Contohnya, antara Dukuh Paruk dan pasar. Sedekat itukah hingga Rasus berpindah-pindah tempat begitu mudahnya, padahal Srintil yang ketika itu telah jadi ronggeng perlu naik andong ke pasar tersebut.

Keempat, adegan yang kurang jelas, yang tidak saya mengerti keterkaitannya dengan adegan-adegan lain. Adegan-adegan ini akhirnya mengganggu logika cerita keseluruhan. Contohnya, adegan Juragan Perkebunan yang bolak-balik ke Dukuh Paruk untuk menawar Srintil, terasa begitu cepat dan kurang jelas bagaimana akhirnya. Juga ada adegan ketika terjadi pembantaian bekas anggota partai terlarang yang ditembakki tentara. Dalam scene adegan tersebut, pencahayaan terlampau minim cenderung gelap. Mungkin untuk menghindari kesan sadis. Tapi akibatnya adegan tersebut jadi tidak jelas.

Adegan film Sang Penari.

Adegan kurang jelas lainnya, saat Srintil disekap oleh tentara, lalu temannya meminta pada penjaga supaya Srintil dapat keluar sementara waktu (Omong-omong, kenapa pula si temannya itu tidak ikut disekap? Padahal dia termasuk warga Dukuh Paruk yang kesemuanya ditangkap tentara. Kenapa dia sendiri tidak?). Mereka mengendarai mobil. Tiba-tiba Srintil ada di sebuah kamar, lalu meludahi cermin. Tidak jelas!

Untuk yang sempat membaca novelnya, adegan di atas pasti adalah adegan untuk menggantikan kisah saat Srintil ‘dijual’ oleh mandor yang baru berkenalan dengannya, kepada bos kontraktor di kota besar. Sebenarnya ini adalah adegan paling sentimentil dan paling berkesan, karena adegan inilah yang mengantar klimaks utama dari keseluruhan cerita trilogi Ronggeng Dukuh Paruk.

Terlepas dari pengaruh sensor atau hal teknis lainnya, kekurangan-kekurangan di atas pada akhirnya merusak logika cerita secara keseluruhan sehingga sulit untuk memahami film secara penuh. Sayang sekali.

***

Alhasil saya hanya mampu menduga-duga dan mengait-ngaitkan cerita dalam film dengan ingatan terhadap kisah dari novel RDP, artinya konsentrasi saya buyar. Sejujurnya, sungguh tidak nikmat menonton film adaptasi literatur dengan konsentrasi terpecah begini. Sebentar pikiran mencari ingatan gambaran dalam buku, sebentar lagi kembali mengamati layar lebar. Dalam hal ini, saya rasa beruntunglah penonton yang belum sempat membaca Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk.

Patut pula diperhatikan kekurangan-kekurangan yang sebetulnya remeh, namun justru berpotensi menggagalkan pemahaman penonton terhadap alur cerita seperti yang telah saya bahas di atas; terutama bagi penonton yang tidak awas (termasuk saya :b) dan bagi yang tidak paham ada apa di medio 60-an. Dalam hal ini, saya rasa jauh lebih baik untuk terlebih dahulu membaca Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk sebelum menonton film Sang Penari.

Akhirnya, saya kembali diingatkan, belum pernah ada film yang diadaptasi dari literatur berbahasa Indonesia yang betul-betul memuaskan.[]

Arfan

__________
Sang Penari (2011)
Sutradara: Ifa Isfansyah | Skenario: Salman Aristo, Ifa Isfansyah, Shanty Harmayn | Pemain: Oka Antara, Prisia Nasution, Slamet Rahardjo, Dewi Irawan, Landung Simatupang, Hendro Djarot, Lukman Sardi

Sumber gambar: Facebook.com/SangPenari.

Tags: , ,

About Arfan

Kurang ajar, makanya belajar.

27 responses to “Review: Sang Penari”

  1. Arfan . says :

    Terimakasih… Sempat nonton kah?

  2. embun pagi says :

    saya belum nonton, tapi sudah baca bukunya
    biasanya kalau sudah baca buku-nya
    kita cenderung kecewa pada film adaptasi buku
    rasanya “merusak” imaji yang sudah kita bangun

    tapi melihat wajah pemerannya dan seting
    (dari foto-foto yang tersaji), cukup mewakili tokohnya dan suasana dukuh yang terpencil

  3. Arfan . says :

    Betul. Biasanya ini alasan paling utama. Imaji yang sudah kita susun jadi rusak. Tapi khusus untuk film ini, saya angkat topi lah. Visualisasi suasana, tokoh, dan beberapa adegan cukup mewakili dan sama dramatisnya dengan di novel. Mungkin gegara selama proses pembuatan, Ahmad Tohari ikut mengawasi (kabarnya sih gitu).

  4. embun pagi says :

    salut….., ini point penting
    novel sudah cukup mendunia
    sayang kalau divisualisasi dengan serampangan

  5. RuRi's notes says :

    belum nih..:( pingin nonton trus bei bukunya ^^l

  6. desi puspitasari says :

    Ndak mau bacaa~ *tutup mata*

  7. Arfan . says :

    Tapi sekedar visualisasi saja yang oke. Saya gak yakin penonton yang belum sempat baca novelnya bakal paham. Bukan kerna ceritanya sulit, tapi… Yah, nonton dulu deh… :)

  8. desi puspitasari says :

    Ndak mau liat filmnya jugaa~ haha

  9. Arfan . says :

    Nah… Eksperimen nih! Coba filmnya direview sebelum baca bukunya. Pengen tahu. :)

  10. Arfan . says :

    Sip. Nonton dulu…
    :D

  11. Arfan . says :

    Eh lho?! Hahaha…
    Jadi bingung saya… :D

  12. desi puspitasari says :

    Soalnya tadi sempat sekilas baca tulisan di bagian bawah: belum pernah ada film yang diadaptasi dari literatur berbahasa Indonesia yang betul-betul memuaskan. Hehe. Jadi… cukup baca buku RDP ajaa.. < -- ga tggng jawab, pdahal dulu yg pertama ngasi tautan trailer film Sang Penari, haha. Btw, Bumi Manusia mau difilimin juga. Kalau udah jadi mau nonton ndak, Mas?

  13. desi puspitasari says :

    Btw, ndak mau baca itu maksudnya ga mau baca tulisan review film ini. Kalau bukunya mah udah. :D

  14. APRILLIA EKASARI says :

    belum baca novelnya :(

  15. Arfan . says :

    Iya nih. Padahal dulu tahu bakal ada film tentang RDP dari Mbak Desi :D

    Nonton dong, siapa tahu resensi ini terlalu subjektif.
    Tapi saya inget betul kok, saya gak ketiduran waktu di bioskop… :D

    Film Bumi Manusia? Wah?! Bingung! Hmmmm… Ah, underestimate nih…

    Tapi… Jadi inget, “harus sudah berbuat adil sejak dalam fikiran…”
    :D

  16. Arfan . says :

    Eh, iya. Maksud saya juga begitu…
    Nonton dulu, terus nanti buktiin resensi ini :b

  17. Arfan . says :

    Hmmm… Salah satu kategori buku “must read before die”-nya Indonesia nih… :D

  18. ria irwanty says :

    *reviewnya jempol pisan kang*

    Saya kira film “Sang Penari” ini benar2 diangkat dari Trilogi RDP, dan ternyata bukan, lebih tepatnya “terinspirasi”…..Saya baru baca sebagian, dan belum sempet nonton filmnya. Semakin penasaran untuk membandingkan keduanya :)

  19. Arfan . says :

    Apapun istilahfilmmaker-nya, kalau tema cerita, setting, sampai nama tokoh2nya diambil dari novel, yaaa adaptasi namanya. Setuju tak? Hehehe…

    Nah kan… Salahsatu ciri film adaptasi tuh, penontonnya jadi niat ngebanding2in buku vs film. Hehehe…

    *hatur nuhun apresiasina, nih dialung goceng…

  20. ria irwanty says :

    Lha ia, mirip kayak Laskar Pelangi yang dijadikan film. Buat yang udah baca bukunya, pasti agak kuciwa dengan filmnya….tapi ya tetep gak akan bisa sama yah reperesntasinya.

    *lonceng sapi….*

  21. Arfan . says :

    Betul, gak akan pernah sama. Kebayang dong, ribuan imajinasi pembaca, mustahil diwakili imajinasi tiga, empat orang, penulis skenario. Makanya saya tulis di atas, minimal senada lah antara novel dan film…

  22. ria irwanty says :

    Stujuuuuh :)

    *angkat topi buat kang Arfun*

  23. Ika W says :

    jd, klo blm nonton mending nonton apa ga ya? :d

  24. Arfan . says :

    Sdlapaan…
    *yg penting jangan angkat kaki :D
    **naon sih…

  25. Arfan . says :

    Ya mending nonton Mbak. Support industri film dalam negeri… :D

  26. ria irwanty says :

    *komo deui mun mengangkat kedua kaki*

    Naon siih, udah out of context :p

Komentar anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: