Review: Midnight in Paris

Sebuah Kontemplasi dalam Parodi

Poster film Midnight in Paris.

Tak terkatakan bagaimana meluapnya perasaan seorang penulis pemula yang melewati malam-malam panjang berdiskusi bersama para penulis pujaannya. Apalagi jika mereka adalah penulis besar legendaris. Kecuali dalam mimpi, berdiskusi dengan F. Scott Fitzgerald, Ernest Hemingway, Gertrude Stein, dan T. S. Eliot tentang literasi adalah pengalaman mewah yang irasional.

Namun itulah kenyataan yang dialami Gil Pender pada setiap malam-malam hangat di Paris. Gil sedang berada di tengah proyek penulisan novelnya ketika pasangan Zelda Fitzgerald dan F. Scott Fitzgerald memperkenalkan Gil kepada Ernest Hemingway. Dengan keterkejutan yang meluap-luap Gil mencoba sadar, nama-nama yang baru saja berjabat tangan dengannya bukan kebetulan serupa nama besar dalam sejarah sastra, melainkan itulah mereka.

Hemingway yang menolak permohonan Gil untuk mengkritik prosanya, mengantar Gil menemui Gertrude Stein, penyair sekaligus pengasuh seniman-seniman besar di medio 1920-an yang juga membidani kelahiran sastrawan Lost Generation. Hemingway percaya penuh untuk merombak apapun yang tidak memuaskan Stein dalam proses kelahiran karyanya. Gil tahu semua itu bahkan tanpa lebih dulu mengalaminya, ia tahu sejarah, dan terutama karena Gil adalah manusia masa kini yang tersesat di masa 1920-an.

Setiap bel tengah malam berdentang, sebuah Peugeot tua menjemput Gil untuk berkelana dengan absurd melintas batas waktu dari tahun 2010 ke pesta minum-minum Hemingway. Peugeot tua membawa Gil melihat proses kreatif Pablo Picasso; membawa Gil kedalam percakapan surreal dengan Man Ray, Luis Bunuel, dan Salvador Dali; dan terutama mengantar Gil menemui Adriana, sebuah asmara yang ‘jauh’ dan tidak nyata. Gil ingin Inez turut serta dalam malam-malam ajaib pada masa terbaik Paris menurut Gil. Namun tunangan Gil tersebut menuduhnya telah terperosok terlalu jauh dalam fantasi literasi yang hanya ada di benak gilanya.

***

Adegan film Midnight in Paris.

Lewat Midnight in Paris, Woody Allen kembali mengumbar imajinasi ‘telur Napoleon’-nya, penciptaan sederhana yang tak terpikirkan sebelumnya. Allen menghidupkan sekaligus memarodikan nama-nama besar angkatan Lost Generation dan surrealist 1920-an dalam kisah unik dan menyenangkan. Film ini mengingatkan pada karya Allen lainnya, Whatever Works (2009), yang sama-sama menokohkan seorang protagonis (alter ego Woody Allen?) yang cerdas dan kritis dalam mempertanyakan kemapanan nilai-nilai kehidupan. Begitu juga dengan plot. Terlalu banyak plot yang serba kebetulan dalam kedua film Allen ini. Tapi begitulah, lewat plot yang terkesan sembarangan dan serba kebetulan, Allen sebetulnya sedang menyajikan keteraturan konsep berceritanya.

Allen memberi sinyal adanya kisah romantis sedari awal, lewat lekuk sudut kota Paris yang mengisi hampir empat menit scene permulaan. Bumbu humor ia tampilkan lewat parodi penokohan seniman dunia. Sementara tema utama film ditandai oleh dentang bel, dan malam di kota Paris. Tidak lupa iringan backsound yang melumerkan keindahan visual kota Paris bak sebuah sajian pentas teater klasik.

Owen Wilson memerankan Gil Pender dengan cermat, gesture dan dialognya tidak terkesan berlebihan. Begitu pula Rachel McAdams yang memerankan karakter Inez dengan asyik, terlepas dari gesture yang hampir seragam tiap Inez berdialog. Karakter Adriana yang elegan sukses diperankan Marion Cotillard yang juga mencuri perhatian. Tokoh-tokoh seniman ekspatriat yang bermukim di Paris, dari Cole Porter, Gertrude Stein, Luis Bunuel, Man Ray, hingga Salvador Dali diperankan secara teliti lewat logat sampai potongan rambut. Menyaksikan visualisasi Ernest Hemingway yang sesumbar, Pablo Picasso yang kaku, hingga Dali yang meledak-ledak sungguh kocak dan menyenangkan.

Dalam repertoar latar tengah malam di Paris, Woody Allen mencoba berkisah tentang sebuah obsesi akan masa lampau yang ‘menyesatkan’ karena ketiadaannya. Betapa lewat sebuah parodi Allen ingin menyarankan, bahwa romantisme masa lalu tidak selalu lebih baik dari masa kini yang jelas-jelas nyata. Midnight in Paris, adalah usaha Allen dalam berbicara tentang eksistensi tanpa membunuh mood penontonnya; dan Allen berhasil, film ini menyenangkan sekaligus mencerahkan.[]

Arfan

__________
Midnight in Paris (2011)
Sutradara: Woody Allen | Skenario: Woody Allen | Pemain: Owen Wilson, Rachel McAdams, Michael Sheen, Carla Bruni, Nina Arianda, Marion Cotillard, Corey Stoll, Adrien Brody.

Sumber gambar: comingsoon.net & moviepicturedb.com.

Tags: ,

About Arfan

Kurang ajar, makanya belajar.

2 responses to “Review: Midnight in Paris”

Komentar anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: