Review: Persepolis

Memoar Marjane Satrapi

Poster film Persepolis.

Majalah Matabaca (April, 2008) pernah mengangkat profil D. Sastro dalam salahsatu edisinya yang fokus membahas tentang komik. Dari satu artikel saya baru tahu, Dian mengidolakan Marjane Satrapi, komikus wanita asal Iran penggarap kisah Persepolis. Saya pun mulai penasaran dengan Marjane Satrapi, karena idolanya idola saya mesti jadi idola saya juga. :D

Persepolis (2003) adalah salah satu karya Marjane ‘Marji’ Satrapi yang paling sukses. Komik bernuansa monokrom ini menggambarkan memoar Marji tentang masa-kecil s/d remaja-nya yang penuh konflik kejiwaan. Bisa dikatakan Persepolis adalah autobiografi Marjane Satrapi.  Selain komik, ternyata Persepolis didedah dalam animasi yang juga disutradarai dan ditulis oleh Marjane (rilis 2007). Berhubung kesempatan menyimak animasinya datang lebih dulu ketimbang membaca komiknya, maka resensi kali ini ditulis berdasar amatan terhadap film Persepolis.

Persepolis, animasi monokrom yang disadur dari komik Persepolis dan Persepolis 2, berkisah tentang memoar seorang tokoh utamanya, wanita Iran bernama Marjane Satrapi. Lewat gaya naratif Marji yang tiba-tiba teringat masa kecilnya ketika berada di bandara, membawa kisah Persepolis bergulir dalam potongan-potongan kenangan.

Potongan kisah diawali dari gejolak Revolusi 1979 di Iran, dimana terjadi transisi pemerintahan Iran dari monarki menuju Republik Islam. Di tengah latar seperti itu, Marji kecil tumbuh dalam sebuah keluarga liberal yang memegang prinsip kebebasan berpendapat. Sejak dini Marji sudah gemar berdiskusi tentang ini itu, sekaligus terbiasa mengutarakan pendapat di tengah keluarga. Lewat tokoh ayah, paman, serta–terutama–neneknya, Marji belajar banyak hal tentang kehidupan, mulai dari sistem ketatanegaraan, hubungan sosial, hingga masalah integritas diri lewat wawasan keperempuanannya.

Hal-hal yang muncul kemudian–terutama di kalangan akar rumput–sebagai buah revolusi, seperti tindakan represif pemerintahan, fundamentalisme, dan pemberlakuan hukum Islam, menjadi konflik dalam kisah pertengahan Persepolis. Pada masa ini polisi moral berkeliaran di pemukiman demi menegakkan syariat Islam. Hal-hal seperti kewajiban mengenakan chador bagi perempuan, pemisahan laki-perempuan dalam sekolah umum, atau pelarangan konsumsi produk barat digambarkan oleh Marjane secara karikatur. Sangat menarik.

Kisah berlanjut ke masa perang Iran versus Irak. Dalam kondisi kritis ini, orangtua Marji memutuskan untuk memindahkannya ke Wina. Marji remaja yang masih dilanda kesedihan karena untuk kali pertama berpisah hidup dengan keluarganya, langsung diberedel dengan kultur barat yang terlampau asing baginya. Pada masa peralihan menuju dewasa hal-hal sentimentil seperti persahabatan, percintaan, dan kontemplasi pribadi cukup mendominasi jalan cerita. Bagi saya, bagian ini yang paling membosankan alias antiklimaks yang rada mengecewakan.

***

Adegan animasi Persepolis.

Mozaik yang menurut saya menarik adalah masa-masa Marji kecil yang bercita-cita menjadi nabi, serta sering membayangkan dirinya sedang berdialog dengan Tuhan. Kecuali itu, masa pemberlakuan hukum Islam yang ditafsir secara tunggal oleh pemerintah yang berkuasa kala Marji remaja adalah kisah yang paling menarik. Marjane Satrapi, lewat tokoh Marji remaja mengritik kebijakan syariat Islam tersebut secara vulgar. ‘Bahasa’ humor khas komikus sangat kentara di bagian pertengahan ini, walau cenderung mendeskreditkan sebuah paham tertentu.

Marjane Satrapi dengan cerdas menterjemahkan hal-hal sensitif keagamaan dalam humor satir lewat penokohan Marji remaja yang bengal, namun tetap menempatkan diri sebagai feminin. Tidak lupa musik latar film ini sangat menarik karena memadukan bebunyian khas Timur Tengah dengan nada-nada kekinian. Alhasil membawa nuansa original bagi animasi.

Menonton Persepolis, saya mendapatkan bahwa Marjane Satrapi sedang berkhutbah. Khutbah yang tidak kentara dan cenderung bernuansa karikatur: melebih-lebihkan bagian tertentu untuk menggambarkan keseluruhan pandangannya: tentang Revolusi Iran, tentang fundamentalisme, dan lebih dari itu, tentang feminisme.[]

Arfan

__________
Persepolis (2007)
Sutradara: Vincent Paronnaud, Marjane Satrapi | Skenario: Marjane Satrapi (comic), Vincent Paronnaud (scenario) | Pengisi suara: Chiara Mastroianni, Catherine Deneuve and Gena Rowlands.

Sumber gambar: impawards.com & screen captured video.

Tags: ,

About Arfan

Kurang ajar, makanya belajar.

6 responses to “Review: Persepolis”

  1. Arfan . says :

    Persepolis (2007)

    PERSEPOLIS trailer

    Persepolis | Myspace Video
    Directors: Vincent Paronnaud, Marjane Satrapi Writers: Marjane Satrapi (comic), Vincent Paronnaud (scenario) Stars: Chiara Mastroianni, Catherine Deneuve and Gena Rowlands

  2. desi puspitasari says :

    Kemarin diputer di Metro..

  3. Arfan . says :

    Oh ya? Saya dapet unduh.
    Hehee.

  4. Bambang Priantono says :

    Aku baca komiknya sih

  5. Arfan . says :

    Iya pernah diposting di review yang dulu ya Mas.
    Kebalik, saya baca komiknya belum, baru nonton filmnya.

  6. ana ana says :

    saya sudah muter2 (ke gramedia maksudnya) & mencari secara ol tapi saya belum menemukan buku ini untuk dibeli, barangkali disini bapak/ibu punya info siapa tahu masih ada stock buku…atau ada yang sudi mencopy-kan buku, saya akan sangat berterima kasih (tentu saja ongkos meng-copy & mengirim + terima kasih atas kebaikan hati bapak/ibu akan saya tanggung) terima kasih banyaaaakk sebelumnya

Komentar anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: