Review: The Descendants

Sebuah Hikmah di Balik Amarah

Poster film The Descendants.

Keluarga, sebuah panggung yang sebetulnya tokohnya itu-itu saja: istri, suami, anak, dan kerabat, namun kisah yang tercipta seolah tak ada habisnya. Hebatnya, kisah itu selalu saja unik dan menarik. Seperti kisah dalam film The Descendants, drama tentang sebuah keluarga yang hampir bubar berantakan. Oh, jangan bayangkan teriakan atau pertengkaran piring terbang dalam film ini. Justru sebaliknya, The Descendants mengisahkan prahara keluarga dalam cara yang lembut dan sentimentil.

Sebagai setting cerita, Hawaii dan segala bentuk keindahannya menjadi semacam kedok yang sempurna menyamarkan duka. Bagi Matt yang merupakan keturunan darah biru Hawaii, semua puja-puji tentang kepulauan eksotis tersebut adalah omong kosong. Toh, meski lahir, tinggal, dan menua di Hawaii, hati Matt sempat tercederai juga. Itulah rangkuman cerita The Descendants, yang lucunya diutarakan oleh tokoh utamanya Matt King, sebagai narasi pembuka film.

Matt King, seorang kepala keluarga yang sedang berada dalam kondisi paling rumit dalam hidupnya. Istri Matt, Elizabeth King terbaring koma akibat kecelakaan olahraga ski air. Walhasil siklus hidup Matt yang gila kerja berubah seketika. Ia harus turun tangan mengurus kedua putrinya, si bocah Scottie yang terlalu lugu dan Alexandra, remaja yang sedang menikmati fase pemberontakan.

Dalam ‘kesendirian’-nya Matt hampir kewalahan. Ia mengakui istrinya berhasil merebut perhatiannya lewat cara terbaring koma. Matt berharap istrinya kembali seperti semula, dan Ia siap berubah menjadi ayah dan suami yang lebih baik lagi. Semula penantian Matt akan kesembuhan Elizabeth begitu tulus, sampai ketika putri tertua mereka Alexandra menguak prahara rumahtangga Matt.

Di depan Matt, Alexandra menceritakan gelagat yang mulai tidak sehat pada hubungan ayah-ibunya. Dengan muak Alex menumpahkan sumpah serapah tentang kebusukkan ibunya. Lebih muak lagi ketika Alex menyadari bahwa baru dari mulutnyalah, Matt mengetahui semua itu. Sebagai ayah, Matt sedang ‘dibombardir’ putrinya sendiri. Sebagai suami, Matt sudah jelas kalah telak.

Matt punya segala hak untuk meledakkan amarahnya kepada sang istri. Namun keadaan istrinya yang semakin mendekati kematian, tidak memungkinkan Matt untuk meluluskan amarahnya. Ironi inilah yang menjadi inti cerita. Walhasil, Matt berada dalam kondisi serba tanggung yang lucu.

Adegan film The Descendants.

Dengan rencana spontan yang meletup-letup, Matt dibantu Alexandra memutuskan untuk mencari akar masalah hubungan perkawinannya. Dari sinilah petualangan batin keluarga kecil ini dimulai. Sisi kritis Alex menjadi titik tolak pencarian. Amarah dan kekecewaan Matt, menjadi energi penggerak. Sementara sisi keluguan si bocah Scottie mampu menguatkan hati ayah dan kakaknya. Hikmahnya, kualitas hubungan ayah-anak ini semakin baik dari hari ke hari.

***

The Descendants, drama yang diadaptasi dari novel Kaui Hart Hemmings berjudul sama, disutradarai secara baik oleh Alexander Payne. Kisah prahara keluarga disajikannya dengan selera humor yang pas. George Clooney memerankan Matt King secara sempurna. Lucu, Clooney yang biasanya memerankan tokoh parlente dan cool, seperti dalam Up In the Air atau trilogi Ocean’s, kini harus memerankan ekspresi kalah yang menyedihkan.

Alexandra yang diperankan oleh Shailene Woodley juga patut diacungi jempol. Dialognya, emosinya, serta kemarahannya sebagai anak, sungguh terasa nyata. Sementara akting Amara Miller yang memerankan Scottie, tidak bisa dianggap sepele. Saya, menaruh nilai pada humor segar yang terlontar dari peran Scottie. Sungguh menggemaskan dan mencairkan ketegangan.

Hal yang paling menarik dari film drama bertema keluarga adalah kadar realitas-ceritanya yang mendekati nyata. Tidak ada jarak antara skenario film dengan penontonnya. Karena toh pengalaman nyata para penonton, yang tak lain adalah kita, seringkali menjadi sumber inspirasi fiksi bergerak itu.

Seperti itu pula, drama The Descendants mencoba menangkap secuil dari berjuta kisah manusia, yang tidak pernah berhenti belajar mengenali–sekaligus tidak pernah puas mencederai–diri sendiri.[]

Arfan

__________
The Descendants (2011)
Sutradara: Alexander Payne | Penulis: Kaui Hart Hemmings (novel) Alexander Payne (screenplay), Nat Faxon (screenplay) | Pemain: George Clooney, Shailene Woodley, Amara Miller.

Sumber gambar: imdb.com & screen captured video.

Tags:

About Arfan

Kurang ajar, makanya belajar.

Komentar anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: