Karena Allah

Sampai kini saya masih belum paham apa arti dari kalimat-kalimat yang berakhiran dengan keterangan “…karena Allah”. Contoh kalimat yang sering saya dengar adalah: “Saya mencintai fulan/fulanah karena Allah”, “Saya melakukan ini/itu karena Allah”, atau “Berjuanglah karena Allah”. Jujur, kalimat-kalimat tersebut masih terdengar abstrak bagi telinga batin saya.

Kalimat berakhiran “…karena Allah” tersebut, secara harfiah masih mungkin saya bayangkan meski agak samar. Bahwa segala apa yang kita lakukan adalah berdasarkan padaNya. Artinya, Allah menjadi motivasi yang melatari segala tindak tanduk kita. Kira-kira begitulah, definisi yang saya bayangkan dan tentunya saya reka-reka sendiri.

Maksud saya, yang belum saya pahami adalah arti kalimat tersebut secara praktis.

Apakah yang dimaksud mencintai seseorang karena Allah? Saya belum paham. Sampai kini, saya mencintai seseorang karena seseorang tersebut memang memiliki arti khusus dalam hidup saya. Saya mencintai ibu karena ibu sayalah yang telah melahirkan dan membesarkan saya dengan segala pengorbanan penuh kasihnya. Andaikata saya lahir dari rahim wanita lain, mungkin saya akan mencintai wanita lain tersebut dan tidak pernah mencintai wanita yang menjadi ibu saya sekarang.

Apalah pula yang dimaksud melakukan sesuatu karena Allah? Juga saya belum paham. Saya beribadah karena perintahNya. Jika saya melanggarnya, maka saya akan mendapat hukumanNya. Saya tidak mau dihukum karena hukuman pasti berat dan menyusahkan saya. Jika perintahNya saya kerjakan, maka saya akan mendapat pertolonganNya, segudang pahala, bermacam kemudahan dalam hidup, keberkahan, dan keutamaan-keutamaan lainnya. Inilah yang saya mau, karena saya akan menjadi orang yang beruntung dan selamat, tentu dengan izinNya.

Dari dua ilustrasi di atas, terbuktilah apa yang saya lakukan didasari oleh sebuah motivasi yang jelas-jelas berfokus pada “Saya”. Perbuatan-perbuatan baik saya lakukan demi keuntungan dan kebaikan “Saya”. Pertanyaannya, dimanakah Allah?

***

Konon, pengetahuan-pengetahuan semacam ini ada tingkatan-tingkatannya. Dimulai dari tingkat terendah, yaitu syariat, tingkat pemahaman orang-orang kebanyakan. Lalu ada tingkat tarekat, kemudian makrifat, hingga tingkat tertinggi, hakekat.

Dan tiga tingkatan terakhir dari tingkatan-tingkatan tersebutlah yang melahirkan apa yang disebut cinta sejati, melahirkan apa yang dinamakan kebenaran universal. Yang membenamkan kemuliaan-kemuliaan kepada sufi. Yang membawa energi pada pengorbanan para nabi. Yang membuat Rasul S.A.W masih memikirkan keselamatan umatnya, bahkan sampai ketika ajal menjemput.

Jadi intinya, ‘perjalanan karena Allah’ ini masih saaaangat jauh….[]

Arfan

__________

Tags:

About Arfan

Kurang ajar, makanya belajar.

One response to “Karena Allah”

  1. ria irwanty says :

    Kita ada disini juga karena Allah :)

Komentar anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: