STUDIA HUMANIKA “Media Budaya, Budaya Media”

(Bagian I: Sisi Praksis/Gerakan)

LATAR BELAKANG
Sejak terjadinya Renaissance, Aufklarung dan Revolusi Industri, pemisahan agama, sainstek, dan sosial-budaya semakin terlihat. Keterpecahan atau pemisahan ini lazim dikenal sebagai “sekularisasi”. Paham yang mendukung keterpecahan atau pemisahan tersebut dikenal sebagai “sekularisme”.

Akan tetapi, pada penghujung abad ke-20 dan awal abad ke-21, muncul arus balik sekularisasi atau penentangan terhadap sekularisme. Dengan arus balik tersebut, dinding-dinding pemisah antara ketiga entitas tersebut sebenarnya mulai lebur. Batasan antara sistem nilainya tidak lagi sepekat dahulu, ketika sekularisasi masih sangat kuat berpengaruh.

Meski telah terjadi arus balik sekularisasi, hubungan antara sains-teknologi, sosbud, dan agama, masih menghadapi dua permasalahan besar:

PERTAMA, masih berkembang anggapan di antara banyak para ilmuwan dan teknokrat (termasuk di ITB), bahwa agama menghambat perkembangan sainstek. Karena itulah, sekularisasi masih banyak didukung kaum ilmuwan dan teknokrat modern.

Kaum agamawan dan penganut agama perlu menggali, hal apa saja sebenarnya dalam agama yang mampu mendorong perkembangan sainstek? Usaha penggalian ini mau tidak harus berjalan selaras dengan usaha mengubah penafsiran dan pemahaman agama menjadi lebih lateral, terbuka dan dialektis.

KEDUA, adanya sistem nilai/ideologi tunggal yang sangat berkuasa/berpengaruh. Sistem tersebut adalah sistem nilai/ideologi ekonomi. Ideologi ini merengsek ke semua sistem dan memangsa nilai-nilai dari sistem-sistem tersebut.

Padahal idealnya, sistem nilai dalam sosbud sendiri harus berjalan seimbang, dan tidak hanya mementingkan sistem nilai ekonomi. Lebih luas lagi, sistem nilai dari agama, sainstek dan sosbud (meski ketiganya dalam arus balik sekularisasi menjadi semakin melebur) pun dapat saling berdialektika atau memperkuat satu sama lain.

Karena MEDIA menjadi ranah PERTEMUAN dan PERTEMPURAN antara ketiga sistem nilai di atas, maka ia menarik untuk dikaji. Tujuan pengkajian ini adalah membangun sebuah STRATEGI KEBUDAYAAN yang memungkinkan terjadi DIALEKTIKA YANG SEHAT antara sistem AGAMA, SAISNTEK dan SOSBUD. Kajian media dalam kerangka strategi kebudayaan Indonesia, akan menyediakan dasar pemikiran, skenario-skenario dan model strategi kebudayaan dalam ranah media tersebut.

Beranjak dari uraian di atas, permasalahan utama yang perlu dikaji tentang media adalah:

  • Bercokolnya ideologi ekonomi yang mengatur media sedemikian rupa sehingga fungsinya menyempit menjadi sarana hiburan;
  • Belum optimalnya fungsi media dalam mendorong pemahaman beragama yang terbuka, dialektis dan lateral dalam rangka mendorong pengembangan sainstek.

Akibat penyempitan fungsi media, pesan-pesan dari sistem nilai agama, sainstek dan sosbud yang tampil lewat media, harus dikemas menjadi hiburan. Akhirnya hiburan menjadi tujuan utama pesan-pesan tersebut, yang pada gilirannya mengarahkannya pada tujuan ekonomi.

Di negara-negara maju, disamping media komersial yang mengutamakan hiburan (demi tujuan ekonomi), juga terdapat media pemerintah yang berfungsi sebagai media publik. Idealnya, media publik memberikan civic education (pendidikan kewargaan) maupun nilai-nilai lain untuk mengimbangi terpaan hiburan dari media komersial. Sayangnya, di Indonesia fungsi media pemerintah sebagai media publik ini tidak atau kurang berjalan.

Jadi, yang diperlukan adalah penguatan fungsi media publik untuk mengimbangi pengaruh media komersial yang menuhankan rating dan pada akhirnya: profit. Untuk itu, terdapat dua pilihan strategi (yang dapat saja dilaksanakan sekaligus). Pertama, memperkuat fungsi media pemerintah sebagai media publik. Kedua, memperkuat fungsi media kampus maupun komunitas sebagai media publik.

Saat ini dan ke depan, yang tampaknya lebih feasible adalah pilihan kedua. Untuk itu, dalam rangka memperkuat media kampus dan media komunitas, terdapat dua pertanyaan yang perlu dikaji:

  • Bagaimana membangun komunitas-komunitas berbasis nilai yang unik, yang tidak tunduk pada nilai ekonomi semata, serta mampu berpikir terbuka, dialektis dan lateral? Komunitas-komunitas seperti inilah akan menjadi khalayak bagi media-media publik yang tidak berideologi ekonomi;
  • Bagaimana menghubungkan komunitas-komunitas seperti ini agar mampu berjejaring dan menggerakkan masyarakat?

Untuk MENJAWAB kedua pertanyaan tersebutlah, kegiatan pengkajian ini diadakan.

MATERI, PEMBICARA DAN WAKTU PENYAMPAIAN MAKALAH
Kegiatan ini akan dibagi menjadi dua bagian. BAGIAN PERTAMA (selama Ramadhan) akan membahas aspek PRAKSIS/GERAKAN dari permasalahan ini. Sementara BAGIAN KEDUA (selepas Ramadhan) akan membahas aspek FILOSOFIS/WACANA dari permasalahan media.

Pembicara dan materi yang akan disampaikan pada BAGIAN PERTAMA adalah:

1. MEDIA DAN POLITIK (Jumat, 27 Juli 2012)
• FARID GABAN (freelance journalist, mantan Redpel Tempo & Redaktur Eksekutif Republika)
• S. KUNTO ADI WIBOWO (dosen dan peneliti Fikom Unpad)

2. MEDIA DAN EKONOMI (Sabtu, 28 Juli 2012)
• AHMAD DJAUHAR (Wakil Pemimpin Umum Bisnis Indonesia, mantan Pemred Bisnis Indonesia )
• M. TAUFIQURRAHMAN (mantan Redaktur Pelaksana Desk Ekonomi & Bisnis Tempo)

3. MEDIA DAN AGAMA (Jumat, 03 Agustus 2012)
• ENI MARYANI (dosen dan peneliti Fikom Unpad)
• SOLAHUDIN (kontributor vivanews.com, penulis dan peneliti gerakan Islam)

4. MEDIA DAN OLAHRAGA (Sabtu, 04 Agustus 2012)
• TORIQ HADAD (Corporate Chief Editor Tempo)
• AZYUMARDI AZRA (pemerhati olahraga, kolumnis Kompas)

5. MEDIA DAN PENDIDIKAN (Kamis, 09 Agustus 2012)
• SOFIE DEWAYANI (peneliti bahasa, literasi dan sastra anak)
• SETO MULYADI (psikolog, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak)

6. MEDIA DAN SENI (Sabtu, 11 Agustus 2012)
• AMINUDIN T. H. SIREGAR (kurator dan pengajar KK Estetika & Ilmu Seni FSRD ITB)
• KRISHNAMURTI (praktisi video art dan kritikus seni)

WAKTU
Setiap Jumat & Sabtu (kecuali Kamis 09 Agustus 2012) pkl. 13:00-18:00 WIB (dua sesi diselingi istirahat dan shalat Ashar). Sesi pertama berisi penyampaian materi dari dua pembicara, sedangkan sesi kedua adalah tanya jawab.

TEMPAT
Ruangan GSS (Gedung Sayap Selatan) Kompleks Masjid Salman ITB

BIAYA
Biaya pendaftaran dan kuliah Rp. 250 ribu (dapat dicicil tiga kali). Khusus bagi peserta Studia Humanika yang telah mengikuti tiga event dengan kehadiran di atas 50% (dibuktikan dengan sertifikat) akan mendapat diskon 30%.

Jika hanya ingin mengikuti 1-3 tema, peserta dikenakan biaya Rp 50 ribu per pertemuan. Lebih dari 3 tema dianggap mengikuti keseluruhan rangkaian acara.

FASILITAS
Sertifikat, snack (menu ta’jil/berbuka puasa) dan materi kuliah (soft dan hardcopy)

INFO & PENDAFTARAN
Daftar langsung ke sekretariat Divisi Pengkajian dan Penerbitan Salman ITB, Ruangan Back Office Gd. Kayu Lt. 1 Komp. Masjid Salman ITB Jl. Ganesha No. 7. Untuk informasi lebih lengkap, silakan sms ke ANIS (0857-941-73686), atau bertanya via e-mail ke studia.humanika@salmanitb.com, atau ke wall FB Studia Humanika.[]

Tags: ,

About Arfan

Kurang ajar, makanya belajar.

Komentar anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: