Negatif Positif

Pernahkah kamu mengalami kejadian yang membuat diri merasa tertampar begitu hebat? Misal, ketika satu kejadian yang sekonyong-konyong membawa memorimu pada satu titik tertentu, dan membikin tersadar seharusnya kamu memilih langkah A, bukan langkah B yang membawamu ke kondisi buruk. Lebih parahnya lagi, taruhlah A adalah langkah yang sudah lama kamu perhitungkan secara cermat, matang, dan yakin, namun tidak jadi kamu ambil karena hal-hal sepele. Sementara, taruhlah B adalah langkah yang kamu ambil berdasarkan nafsu sesaat dan tanpa pikir panjang.

Rasa sesal pasti bakal datang bertubi. Dan pasti menyakitkan. Tiba-tiba diri dinaungi energi negatif seperti amarah, rasa bersalah, mengutuk diri sendiri, kecewa, dan bentuk negatif lainnya.

Memang tiada jaminan langkah A akan membawa ke jalan yang lebih baik. Toh langkah tersebut tidak jadi diambil, maka kamu belum tahu hasilnya. Tetapi itu tadi, langkah A tersebut adalah buah perenungan dan kontemplasi yang tidak main-main. Sementara langkah B adalah keputusan yang datang tiba-tiba, lalu kamu ambil, dan hasilnya jelas: buruk. Dalam kasus ini, sangatlah wajar untuk menyesal dan mengasumsikan bahwa langkah A lebih baik dari B.

Kita semua sepakat, penyesalan selalu datang terlambat; Dan amarah, rasa bersalah, atau kecewa, tidak akan mengubah apapun. Yang sudah terjadi tak akan pernah terhapus di linikala memori. Kabar buruknya, energi negatif yang kadung bersemayam dalam diri tak akan pernah hilang. Bukankah sifat energi itu kekal?

Namun, kabar baiknya adalah energi bisa terkonversi. Artinya masih ada kesempatan untuk kita mengubah energi negatif yang merusak menjadi energi positif yang membangun. Sekarang tinggal bagaimana kita mencari cara untuk berdamai dengan diri sendiri, dan ini yang paling penting, konversi energi. Bayangkan betapa besar luapan energi negatif buah dari penyesalan yang dapat diubah menjadi energi positif seperti: semangat berkarya, suntikan keyakinan, atau kehendak untuk berbagi.

Ya, kita tinggal mencari cara untuk konversi energi. Cara saya untuk itu, dimulai dari yang sederhana, ya seperti inilah, menulis.[]

Arfan

__________

Tags:

About Arfan

Kurang ajar, makanya belajar.

Komentar anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: