Archive | Buku RSS for this section

Resensi: To Kill A Mockingbird

To Kill a MockingbirdMungkin hasrat ingin tahu terlampau fitrah ada dalam jiwa manusia. Dicarinya jalan untuk menembus benteng pribadi manusia lainnya. Dicarinya otoritas pemahaman terhadap kehidupan pribadi sesamanya dengan segala cara: sosialisasi, investigasi, gosip, hingga bergunjing. Termasuk, diterobosnya fakta-fakta rapuh yang kemudian dianggap kebenaran tentang seseorang, atau kita sebut prasangka (prejudice). Seperti  yang dikisahkan dalam To Kill a Mockingbird (1960).

Novel pertama dan satu-satunya, karya Nelle Harper Lee (1926-…) ini mengisahkan tentang bagaimana prasangka tidak hanya merugikan namun sekaligus berbahaya. Tidak pernah ada kebenaran dalam prasangka. Jikapun ada, kebenaran dalam prasangka sangatlah rapuh. Dalam cerita ini Harper Lee menyimpulkan lewat salah satu narasinya:

“Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya… hingga kau meyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya.”

Sekilas Sinopsis

Novel ini berkisah tentang kehidupan keluarga Atticus Finch, seorang pengacara lokal di Maycomb County. Atticus yang duda memiliki putra-putri,  Jem Finch (Jem) dan Jean Louise Finch (Scout). Mereka bertiga ditambah pembantu, seorang Afro-Amerika bernama Calpurnia, tinggal di pemukiman tua di pinggiran Alabama, Amerika Serikat. Read More…

Resensi: Ronggeng Dukuh Paruk

Ronggeng Dukuh Paruk (Trilogi)

Saya mengamini pendapat yang menyebutkan bahwa trilogi Ronggeng Dukuh Paruk (1981) merupakan karya masterpiece yang dihasilkan selama karier kesusastraan Ahmad Tohari. Saya pun meyakini bahwa trilogi Ronggeng Dukuh Paruk (selanjutnya tertulis RDP) merupakan satu dari sedikit literatur yang layak dibaca sebagai  roman sejarah yang menyinggung masa paling kelam dalam catatan historis kemanusiaan di Indonesia.

Ahmad Tohari terbilang berani untuk mengangkat tema yang termasuk tabu untuk dibicarakan di masanya. Tragedi 1965. Tragedi kemanusiaan yang dianggap sebagai noda sejarah yang diharamkan oleh rezim otoritarian yang bertiran kala itu, justru menjadi unsur gawatan dalam alur trilogi yang secara sentimentil didedahkan Ahmad Tohari dalam usahanya membangun klimaks cerita RDP.

Sekilas Proses Kreatif

Laiknya karya-karya sebelumnya, Di Kaki Bukit Cibalak (1978) dan Kubah(1980), Ahmad Tohari tidak sedikitpun mengabaikan pengalaman kedesaannya dalam merangkai cerita dalam trilogi RDP.

Lihatlah, begitu rincinya Tohari menggambarkan lansekap alam pedukuhan yang tak jarang dideskripsikan dengan istilah-istilah lokal. Begitu kompleksnya penokohan yang tercipta, sekaligus dengan ragam konflik kehidupan individu, lengkap dengan Read More…

Resensi: Kubah

Kubah

Kikuk selepas terbebas dari penjara di Pulau B., yang telah merenggut hidupnya selama 12 tahun, Karman berusaha berjalan menjauhi lapas walau gontai. Di bawah pohonan rimbun Karman akhirnya beristirahat, namun pikirannya tidak. Pikirannya melayang-layang ke tahun-tahun kelam di barak, ke momen pedih kehilangan istri dan sanak famili, sampai ke masa-masa getir saat dosa sejarah mulai ia tanggung. Dari sinilah cerita sepanjang sebelas bab dimulai.

Ada apa dengan Kubah?

Lewat novel Kubah (1980), Ahmad Tohari bercerita tentang sejarah kelam Indonesia pada masa-masa pengkhiantan sebuah partai komunis dari sudut pandang seorang Karman, seorang lelaki desa yang terpaksa menanggung beban sejarah. Berlatar pedesaan pada tahun 60-70an, Read More…

Resensi: Keep Your Hand Moving

Keep Your Hand Moving (Panduan menulis, mengedit, dan memolesnya)

Terpesona akan simplisitas cover buku ini, termasuk tipografi judul dan sub judul yang ditulis dengan style desain kekinian, maka saya langsung mencomotnya dari rak toko buku. Setelah membaca nama pengarangnya, Anwar Holid, saya langsung percaya buku ini bagus. Karena setahu saya Anwar adalah editor kawakan yang juga sering menjadi praktisi dan pembicara di berbagai kelas penulisan.

Lalu saya berekspektasi tentang rincian (guide line) yang ditulis beliau di buku ketiganya ini. Pikir saya, akan ada panduan lengkap tentang EYD hingga rincian jenis-jenis tulisan, mengingat judulnya yang persuasif dan berkesan membahas kepenulisan secara umum, Keep Your Hand Moving.

Ternyata ramalan saya sedikit meleset. Tidak ada rincian yang bersifat guide line dalam buku ini, tidak ada rincian jenis-jenis tulisan. Ternyata ini bukan jenis buku “How to…” yang banyak beredar. Ramalan yang lainlah, tentang kepenulisan secara umum, justru yang benar. Dengan kata lain, buku ini memang benar-benar membahas kepenulisan secara umum.

Anwar Holid membagi bahasannya dalam delapan bab. Dalam bab pengantar dan dua bab awal Anwar mencoba memotivasi pembaca dengan Read More…

Resensi: Manusia Indonesia

Manusia Indonesia (Sebuah Pertanggungan Jawab)

“Wajah lama sudah tak keruan di kaca, sedang wajah baru belum jua jelas.” Itulah kutipan kalimat yang cukup menohok untuk mengawali sebuah buku yang cukup kontroversial di jamannya. Tepatnya sebuah buku yang disarikan dari naskah pidato kebudayaan Mochtar Lubis pada 6 April 1977, di TMII Jakarta.

Pertanyaannya, apa yang membuat buku ini kontroversial? Jawabnya adalah keseluruhan isi pidato Mochtar Lubis yang sangat tajam mengkritik keadaan sosial masyarakat Indonesia pada waktu itu. Bayangkan, saat kehidupan masyarakat Indonesia berada pada zona nyaman (tahun 1977 relatif tidak ada konflik berarti) sekonyong-konyong Bung Mochtar dengan pedas Read More…

Resensi: Totto-chan, Gadis Cilik di Jendela

Totto-chan: The Little Girl at the WindowDulu, saya sebal denga anak kecil. Maksud saya, tau kan anak kecil umuran 4-7 tahun. Tiap apa-apa yang dipegang pasti patah, rusak, jatuh, hilang. Belum lagi berisik, acak-acakan, kotor, dan kekacauan lainnya! Tapi saya mulai tobat (serius!) dari sikap anti anak kecil setelah baca buku ini. Serius, ini buku mencegah saya dari percobaan pembunuhan. :D

Anak kecil memang diciptakan ajaib, kreatif, imajinatif, dan untuk beberapa poin tertentu, bahkan jenius. Kadang kita sebagai orang ‘dewasa’ menganggap kelakuan kreatif mereka dengan banyak cap: nakal, bandel, gak bisa diem, atau pengacau.

Saking nakalnya seorang bocah, sering kita anggap perbuatan mereka itu sebagai hal negatif yang sudah diluar batas. Padahal, demi Tuhan, mereka itu berbuat hal yang paling wajar, paling normal, dan paling benar menurut norma dan pengertian mereka.

Justru manusia dewasa yang sering terlalu dungu dalam memahami sikap anak kecil. Daya imajinasi, kreatifitas, dan pola pikir kita semakin sempit dimakan rutinitas, aturan-aturan, norma, dan lainnya yang kita anggap sebagai Read More…

Resensi: Norman Edwin, Catatan Sahabat Sang Alam

Norman Edwin, Catatan Sahabat Sang Alam

Ibarat tokoh Old Shatterhand dalam cerita Winnetou karya Karl May, Norman Edwin adalah tokoh petualang luar biasa yang serba bisa. Itulah gambaran yang terbayang oleh saya, ketika membaca 64 kisah di buku Norman Edwin Catatan Sahabat Sang Alam ini. Norman, wartawan yang juga jebolan Mapala UI ini adalah petualang yang memiliki kecintaan sejati terhadap alam. Hal ini digambarkan oleh kumpulan catatan perjalanan yang merupakan artikel-artikel majalah maupun koran edisi tahun 1980-an. Apa yang menjadi menarik tentu bukan sekedar perjalanan panjangnya berpetualang di alam liar, melainkan juga catatan jurnalistiknya yang sangat deskriptif dan naratif.

Kegilaan Norman terhadap alam liar telah membawanya naik turun puncak gunung, memanjat tebing batu, menjelajah dasar goa, berlayar di samudera, hingga mengkoordinasikan proyek pencarian korban hilang di alam bebas. Tidak cukup sampai disitu, Read More…