Archive | Dokumentasi RSS for this section

Sop Kaki Kambing

Makanan ini biasanya dijajakan di warung pinggir jalan, dengan spanduk bertuliskan “Sop Kaki Kambing”, dan biasanya ditambah embel-embel ‘Khas Jakarta’, ‘Tanah Abang’, dsb. Dan yang selalu hampir pasti, ada deretan angka yang entah apa artinya, seperti ‘999’, ‘888’, dsb. Tapi saya belum pernah bertemu tenda yang bertuliskan ‘666’, padahal kan tiga angka enam ini setidaknya ada hubungan dengan baphomet, sabbatic goat, alias kambing :).

Kita bisa memilih menu sop kaki, mulai dari tetelan, lidah, potongan kepala kambing, jeroan seperti paru, usus, babat, limpa, otak, dan yang pasti jawaranya, kaki kambing. Setelah memilih bagian yang mau kita santap, pedagang tinggal meracik tetelan dengan bumbu, potongan tomat, irisan bawang daun, lalu disiram kuah. Terakhir tidak lupa ditambahkan minyak samin, seperti mentega, yang akan mencair di atas kuah panas. Disajikan dengan nasi putih panas, dan taburan bawang goreng. Juga acar yang isinya mentimun, wortel, bawang merah, dan rawit. Biar seger, peras jeruk nipis di atas sop. Sedap.

Meski hobi makanan ini, saya tak pernah tahu cara menghitung harganya. Tiap kali makan, selalu berbeda-beda harga. Mungkin karena saya selalu ambil menu sendiri. Saya biasanya selalu memilih kaki dan otak, sisanya tak tentu. Kaki, karena cara makannya tricky sementara otak, karena sensasinya yang luar biasa, lumer di lidah. Nikmat.

Oh ya, mau tahu tips supaya lebih nikmat saat menyantap sop kaki kambing?  Sebelum makan, jangan pikir dulu masalah kesehatan.[]

Arfan

__________
Galeri foto: Read More…

Kepulauan Karimun Jawa

Karimun Jawa adalah kepulauan yang terletak di daerah Utara pulau Jawa, tepatnya 5°49’ – 5°57’ Lintang Selatan – 110°04′ – 110°40′ Bujur Timur di daerah Laut Jawa.

Karimun Jawa termasuk daerah di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Setidaknya ada 27 pulau yang dimiliki Kep. Karimun Jawa

Banyak aktivitas yang dapat dilakukan oleh para pesiar, entah yang bergaya backpacker atau yang bergaya koper. Aktivitas yang dapat dilakukan di Kep. Karimun Jawa diantaranya adalah:
-Diving
-Snorkling
-Memancing
-Mengamati Burung, Terumbu Karang
-Berenang
-dll

Untuk mencapai Kep. Karimun Jawa dapat melewati Semarang atau Jepara.
Bagi para backpacker, dengan budget minimalis, disarankan menyebrang dari Jepara. Jalur itu pula yang kami lalui, demi menekan pengeluaran. Berikut rinciannya:

::Bandung – Jepara (11 jam), Bis Kramat Djati, dengan tiket Rp 72.000,-
::Jepara – Pelabuhan (10 menit), Becak, Rp 10.000,-
::Jepara – Karimun Jawa (6 jam), KMP Muria, Rp 28.500,-

Oke, setelah mendarat di Karimun Jawa, tinggal cari penginapan deh. Bebas, banyak banget penginapan di daerah ini. Mulai dari rumah penduduk, home stay, hotel, sampe pulau pribadi.Kisara harga: Rp 15.000,- sampe tak terbatas per kepala.

Nah, untuk kegiatan selama di Kep. Karimun Jawa, pinter2nya kita untuk mencari nelayan, warga atau siapapun untuk kita ajak berkegiatan bersama. Saya ceritakan kegiatan kami selama disana dalam tulisan berikut: Bicara Harga di Karimunjawa.

Oya, sangat disarankan mengunjungi Kep. Karimun Jawa pada bulan Maret-Agustus. Cuaca sedang optimal di saat ini. Diluar bulan-bulan ini, cuaca tidak menjanjikan. Gelombang tinggi. Perjalanan jadi terbatas.

Bintang 4,5 untuk Kep. Karimun Jawa
(setengah bintang dikurangi oleh CUACA BURUK, :))

Gugusan Pantai di Gunung Kidul, Jogjakarta

Gugusan pantai Kab. Gunung Kidul berada di 40 km selatan Jogja. Pantai-pantai yang ada di gugusan ini diantaranya adalah:
– Pantai Baron
– Pantai Kukup
– Pantai Sepanjang
– Pantai Drini
– Pantai Sundak
– Pantai Siung
– Pantai Wediombo

Masing-masing pantai memiliki keindahan alam dan potensi wisata tersendiri. Namun ada persamaan yang menjadi ciri khas pantai-pantai tersebut: pasir putih, kontur yang landai, daerah yang tersekat bukit karang, dan yang paling utama, SEPI! :)

Untuk cerita pengalaman di Pantai Sundak, bisa dibaca di jurnal saya berjudul Pantai Sundak Indah Karena Tidak Dikelola Pemerintah. Untuk cerita pengalaman susur pantai, bisa dibaca di Nol Rupiah Susur Pantai di Gunung Kidul.

Untuk keterangan lain, bisa dicari di Google :)

Very recomended places to visit.[]

Gunung Salak, Kab. Sukabumi, Jawa Barat

Gunung Salak terletak di Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Bogor, Jawa Barat, berada di titik astronomis 6°43′ LS dan 106°44′ BT, dengan ketinggian 2,221 mdpl. Gunung ini memiliki vegetasi alami khas hutan basah. Kabarnya masih terdapat binatang langka seperti macan tutul, ayam hutan, owa jawa, dan elang jawa. Tak lupa, di tanahnya yang basah banyak terdapat pacet dan lintah yang gemar menghisap darah.

Beberapa jalur pendakian menuju puncak Gunung Salak (baca: Salak I) diantaranya adalah Jalur Cidahu, jalur Cimelati, dan jalur Gunung Bunder. Jalur resmi pendakian adalah jalur Cidahu. Sedangkan jalur Cimelati merupakan jalur illegal, karena tidak ada proses registrasi untuk melewati jalur tersebut. Sementara itu jalur Gunung Bunder merupakan jalur pendakian yang melewati puncak Salak II.

Jalur Pendakian Cidahu
Karakteristik masing-masing jalur sangat berbeda. Karakter track jalur Cidahu cukup variatif, mulai dari undakan akar, jalan setapak berbatas jurang, tanah rawa sedalam matakaki, hingga tebing yang menuntut pendaki memanjat tebing dengan bantuan tali.

Waktu tempuh dalam kondisi normal adalah 6 jam, mulai dari pos registrasi Hutan Wisata Cangkuang menuju Puncak Salak I. Waktu tempuh relatif lama, karena jalur Cidahu dilewati dengan cara memutar, mengikuti kontur punggungan gunung menuju Barat lalu berbelok ke Utara.

Jalur pendakian di jalur Cidahu sangat jelas, jarang ada jalur cabang. Pengelola memasang patok tiang berwarna hijau tiap 100 meter (patok HM – hektometer). Patok inilah yang menjadi petunjuk dalam pendakian jalur Cidahu. Lokasi pemasangan patok sangat konsisten, sehingga pendaki tidak perlu khawatir tersesat asal seksama dalam memperhatikan patok.

Sumber air terakhir berada di pos Bajuri, sekitar HM 28. Di lokasi ini ada dua area dataran cukup luas untuk camping jika berencana bermalam.

Jalur pendakian Cimelati
Karakteristik jalur Cimelati sangat bertolak belakang dengan jalur Cidahu yang landai namun bervariatif. Jalur Cimelati didominasi undakan batu dan akar yang sangat curam. Jarang terlihat jurang seperti pada jalur Cidahu, mungkin karena jalur Cimelati ini merupakan lembahan gunung. Jalur ini ditutupi vegetasi yang cukup lebat. Baru terasa esensi penamaan Gunung Salak saat melewati jalur ini, karena beberapa kali terlihat pohon salak di sudut-sudut bebatuan.

Banyak cabang yang membingungkan pendaki yang baru pertama melewati jalur ini. Oleh karena itu kebanyakan pendaki Gunung Salak tersesat saat melewati jalur Cimelati. Namun begitu banyak pendaki mengatakan jalur Cimelati merupakan jalur ekspres. Pasalnya, dalam kondisi normal, waktu tempuh menuju puncak Salak I berkisar antara 3-4 jam.

Sumber air terakhir jika mendaki melewati jalur Cimelati berada di area ‘Pipa’. Begitu para pendaki menamakan area ini, karena di lokasi ini terdapat pipa yang mengalirkan mata air menuju kaki gunung.

Area ini merupakan sumber air, karena pipa tersebut bocor dan air bocoran pipa sering dimanfaatkan pendaki untuk perbekalan. Area pipa ini setidaknya memiliki tiga cabang, ke arah puncak Salak I, ke arah air terjun, dan ke arah menyesatkan:). Terdapat satu dataran yang cukup luas untuk bertenda, yaitu sekitar tiga menit sebelum area pipa.

Puncak Salak I
Puncak Gunung Salak (Puncak Salak 1) berada di ketinggian 2211 mdpl. Setidaknya ada tiga area dataran yang memungkinkan untuk mendirikan tenda. Dataran di puncak Salak I dikelilingi oleh vegetasi pepohonan yang cukup lebat, dan hanya menyisakan sedikit space pemandangan ke bawah yang mempertegas bahwa dataran ini adalah puncak gunung.

Area paling nyaman adalah area tempat plang penanda puncak berdiri. Dataran disini dapat memuat hingga tiga tenda dan sekaligus menyuguhkan pemandangan kota Bogor yang dibingkai oleh untaian tumbuhan paku di bagian bawah dan iringan kapas awan di bagian atas. Puncak Gunung Bunder (Puncak Salak II) terlihat jelas, menunggu untuk dipijak.

Tips Utama
Bagi kawan-kawan yang ingin mendaki gunung Salak, usahakan pendakian dilakukan pada musim kemarau. Karena jika turun hujan, tanah di jalur pendakian cenderung lengket, bahkan di beberapa titik akan berubah menjadi lumpur sedalam betis. Tentunya akan menyulitkan pendakian.

Tak lupa gunakan gaitter untuk mencegah betis ini dirayapi pacet atau lintah. Bisa juga melumuri tembakau basah pada bagian tubuh yang sering kontak dengan tanah. Perokok atau bukan, selalu bawa rokok kretek (non filter, karena potongan tembakaunya besar-besar) untuk mencegah pendakian yang ‘berdarah-darah’ akibat pacet.[]

Arfan

__________
Galeri foto: Read More…