Archive | Film RSS for this section

Review: The Descendants

Sebuah Hikmah di Balik Amarah

Poster film The Descendants.

Keluarga, sebuah panggung yang sebetulnya tokohnya itu-itu saja: istri, suami, anak, dan kerabat, namun kisah yang tercipta seolah tak ada habisnya. Hebatnya, kisah itu selalu saja unik dan menarik. Seperti kisah dalam film The Descendants, drama tentang sebuah keluarga yang hampir bubar berantakan. Oh, jangan bayangkan teriakan atau pertengkaran piring terbang dalam film ini. Justru sebaliknya, The Descendants mengisahkan prahara keluarga dalam cara yang lembut dan sentimentil.

Sebagai setting cerita, Hawaii dan segala bentuk keindahannya menjadi semacam kedok yang sempurna menyamarkan duka. Bagi Matt yang merupakan keturunan darah biru Hawaii, semua puja-puji tentang kepulauan eksotis tersebut adalah omong kosong. Toh, meski lahir, tinggal, dan menua di Hawaii, hati Matt sempat tercederai juga. Itulah rangkuman cerita The Descendants, yang lucunya diutarakan oleh tokoh utamanya Matt King, sebagai narasi pembuka film.

Matt King, seorang kepala keluarga yang sedang berada dalam kondisi paling rumit dalam hidupnya. Istri Matt, Elizabeth King terbaring koma akibat kecelakaan olahraga ski air. Walhasil siklus hidup Matt yang gila kerja berubah seketika. Ia harus turun tangan mengurus kedua putrinya, si bocah Scottie yang terlalu lugu dan Alexandra, remaja yang sedang menikmati fase pemberontakan.

Dalam ‘kesendirian’-nya Matt hampir kewalahan. Ia mengakui istrinya berhasil merebut perhatiannya lewat cara terbaring koma. Matt berharap istrinya kembali seperti semula, dan Ia siap berubah menjadi ayah dan suami yang lebih baik lagi. Semula penantian Matt akan kesembuhan Elizabeth begitu tulus, sampai ketika putri tertua mereka Alexandra menguak prahara rumahtangga Matt.

Di depan Matt, Alexandra menceritakan gelagat yang mulai tidak sehat pada hubungan ayah-ibunya. Dengan muak Alex menumpahkan sumpah serapah tentang kebusukkan ibunya. Lebih muak lagi ketika Alex menyadari bahwa baru dari mulutnyalah, Matt mengetahui semua itu. Sebagai ayah, Matt sedang ‘dibombardir’ putrinya sendiri. Sebagai suami, Matt sudah jelas kalah telak.

Matt punya segala hak untuk meledakkan amarahnya kepada sang istri. Namun keadaan istrinya yang semakin mendekati kematian, tidak memungkinkan Matt untuk meluluskan amarahnya. Ironi inilah yang menjadi inti cerita. Walhasil, Matt berada dalam kondisi serba tanggung yang lucu.

Adegan film The Descendants.

Dengan rencana spontan yang meletup-letup, Matt dibantu Alexandra memutuskan untuk mencari akar masalah hubungan perkawinannya. Dari sinilah petualangan batin keluarga kecil ini dimulai. Sisi kritis Alex menjadi titik tolak pencarian. Amarah dan kekecewaan Matt, menjadi energi penggerak. Sementara sisi keluguan si bocah Scottie mampu menguatkan hati ayah dan kakaknya. Hikmahnya, kualitas hubungan ayah-anak ini semakin baik dari hari ke hari.

***

The Descendants, drama yang diadaptasi dari novel Kaui Hart Hemmings berjudul sama, disutradarai secara baik oleh Alexander Payne. Kisah prahara keluarga disajikannya dengan selera humor yang pas. George Clooney memerankan Matt King secara sempurna. Lucu, Clooney yang biasanya memerankan tokoh parlente dan cool, seperti dalam Up In the Air atau trilogi Ocean’s, kini harus memerankan ekspresi kalah yang menyedihkan.

Alexandra yang diperankan oleh Shailene Woodley juga patut diacungi jempol. Dialognya, emosinya, serta kemarahannya sebagai anak, sungguh terasa nyata. Sementara akting Amara Miller yang memerankan Scottie, tidak bisa dianggap sepele. Saya, menaruh nilai pada humor segar yang terlontar dari peran Scottie. Sungguh menggemaskan dan mencairkan ketegangan.

Hal yang paling menarik dari film drama bertema keluarga adalah kadar realitas-ceritanya yang mendekati nyata. Tidak ada jarak antara skenario film dengan penontonnya. Karena toh pengalaman nyata para penonton, yang tak lain adalah kita, seringkali menjadi sumber inspirasi fiksi bergerak itu.

Seperti itu pula, drama The Descendants mencoba menangkap secuil dari berjuta kisah manusia, yang tidak pernah berhenti belajar mengenali–sekaligus tidak pernah puas mencederai–diri sendiri.[]

Arfan

__________
The Descendants (2011)
Sutradara: Alexander Payne | Penulis: Kaui Hart Hemmings (novel) Alexander Payne (screenplay), Nat Faxon (screenplay) | Pemain: George Clooney, Shailene Woodley, Amara Miller.

Sumber gambar: imdb.com & screen captured video.

Advertisements

Review: The Old Man and the Sea

Santiago dan Marlin Itu…

Poster film The Old Man and the Sea.

Karya sastra yang indah memang tak pernah berhenti sampai sebatas teks. Setelahnya, akan selalu bermunculan karya tafsir tentangnya. Contoh populernya yaitu film. Film adaptasi merupakan media yang menggoda untuk menjadi alternatif bentuk dari karya prosa, cerpen, atau drama. Menggoda, karena di dalamnya seolah terjadi perdebatan imajinasi: imajinasi penonton (pembaca) melawan imajinasi sineas. Dalam konteks ini, menurut saya, tidak banyak film adaptasi yang terbilang berhasil.

Di antara yang sedikit itu adalah film pendek berjudul The Old Man and the Sea (rilis 1999) karya Alexander Petrov. Dari judulnya saja sudah bisa diterka, film ini adalah adaptasi karya Ernest Hemingway berupa novela berjudul sama, The Old Man and the Sea (terbit 1952). Karya penting Hemingway yang mengantar penulisnya memenangkan Pulitzer pada 1953 itu diadaptasi oleh Petrov dalam bentuk animasi berdurasi 20 menit saja. Lewat animasi pendek ini, Petrov mampu menyuguhkan secara utuh imajinasinya tentang kisah Santiago, nelayan tua yang heroik itu.

***

Di tengah kegamangan karena keberuntungannya yang makin tumpul, Santiago diam-diam masih memelihara semangat mudanya. Suatu malam, dengan diantar Manolin, bocah didikannya, Santiago berangkat melaut bersama puluhan nelayan di kampungnya. Santiago memisahkan diri. Di tengah laut, hanya ada ia, sampan, dan beberapa mata pancing. Satu persatu mata kail ia masukan ke kedalaman laut. Tak disangka-sangka, ada seekor ikan yang menyambar umpan. Dari tarikannya, Santiago menebak bahwa ini ikan besar. Santiago berjuang menarik tali pancing. Ia merasa karirnya sebagai nelayan belumlah habis.

Setelah seharian tarik ulur, seketika ikan yang tersangkut pada kail itu melompat ke udara. Santiago terbelalak ketika mengetahui bahwa ia sedang melawan marlin raksasa yang ukurannya lebih besar dari sampannya. Walau kekuatannya hampir habis dan tangannya perih teriris tali pancing, semangat mudanya yang belum padam membakar Santiago untuk terus berjuang menangkap marlin tersebut. Padahal Santiago bisa berhenti kapan saja ia mau. Namun dibalik semuanya, sebenarnya Santiago sedang memperjuangkan rasa yang terselip di batin. Sebuah rasa pembuktian yang tak lain ditujukan kepada diri sendiri: bahwa ia masih mampu!

Begitulah kira-kira sinopsis film juara kategori animasi pendek Academy Awards tahun 1999 ini. Banyak hal menarik dalam novela The Old Man and the Sea, yang terkenal karena bentuk deskriptifnya yang kuat, diringkas secara visual oleh Petrov dalam animasinya. Mulai dari konflik batin hingga konflik Santiago saat bergumul melawan ikan marlin, hampir semuanya persis tergambarkan. Kekurangan utama film ini, terutama adalah lemahnya penokohan Manolin, bocah yang sering menemani kegiatan Santiago. Dalam novela, penokohan Manolin termasuk kuat, karena ia bisa membawa dialog yang kelak akan menggambarkan kisah panjang Santiago. Namun begitu, film ini tetap mengandung kekuatan novela Hemingway yang paling sentimentil, yaitu kontemplasi pribadi seorang nelayan tua tentang kebanggan, kemuraman, hingga keyakinan hidup.

Adegan film The Old Mand and the Sea.

Secara umum, film ini berhasil membawa ruh yang terdapat dalam karya tulis aslinya. Jika boleh menganalisa, saya rasa ada dua hal utama yang memengaruhi keberhasilan film adaptasi ini:

Pertama, karya tulis yang diadaptasi menjadi film ini sedari awal merupakan karya yang ringkas dan padat.

The Old Man and the Sea karya Hemingway adalah prosa bertempo cepat dengan sedikit penokohan, serta konflik yang fokus dan tidak melebar. Beberapa menyebutnya novela, lebih panjang dari cerpen, namun tidak sepanjang novel. Walhasil, ide cerita yang diangkat menjadi sinema sudah bulat. Maka tidak perlu lagi menyaring secara berlebihan bagian-bagian tertentu yang akan difilmkan (seperti kebanyakan film adaptasi). Dengan kata lain, penonton yang telah membaca karya Hemingway tidak akan kecewa karena kehilangan terlalu banyak bagian novela; Sementara, penonton yang belum sempat membaca tidak akan kebingungan, karena plot cerita dalam film sama bernasnya dengan yang ada dalam buku.

Kedua, pemilihan teknik animasi yang tepat.

Ini yang menurut saya paling menarik. Alih-alih memanfaatkan teknologi digital, Aleksander Petrov sang animator, memilih teknik animasi manual. Ia menggambar rincian adegan per adegan untuk kemudian disatukan dalam komputer. Teknik ini, apalah namanya, persis seperti pada pembuatan film kartun tradisional, ribuan gambar yang kemudian ditampilkan bergantian secara periodik sehingga menghasilkan kesan bergerak. Petrov membuat hampir 29,000 gambar (!) untuk menghasilkan 20 menit gambar bergerak. Dalam animasi, ini hal yang wajar. Tapi tunggu dulu, teknik menggambar Petrov betul-betul manual. Ia menggunakan pastel yang dioles pada kaca sebagai kanvas, yang dibentuk sedemikian menggunakan jemari hingga menjadi lukisan yang diinginkan. Di titik inilah saya terkagum-kagum dengan karya animator asal Rusia ini.

Nah, ini maksud saya. Teknik menggambar Petrov yang menggunakan jemari sebagai kuas dan kaca sebagai kanvas, menghasilkan gambar-gambar realis yang boleh dikata tidak sungguh-sungguh menyerupai objek aslinya. Tepat seperti bentuk bayangan dalam kepala seseorang ketika sedang membaca karya sastra. Itulah mengapa saya begitu nyaman menonton film adaptasi ini, karena tidak merasa sedang didikte untuk mengikuti imajinasi pembuat film. Walhasil, sebagai penonton saya tidak terjebak untuk membandingkan film dengan imajinasi pribadi hasil pembacaan karya Hemingway tersebut. Toh, gambar animasinya cukup kabur untuk dapat dikatakan mendikte, namun cukup jelas untuk bercerita.

Dalam konteks film adaptasi sebagai “adu debat imajinasi”, seperti yang saya kemukakan di awal, teknik animasi Petrov berhasil berdiplomasi dengan santun kepada penontonnya. Lewat animasinya, Petrov seolah menawarkan tafsirannya atas karya Hemingway, namun tetap mempersilahkan penonton mengagumi imajinasinya sendiri.[]

Arfan

__________
The Old Man and the Sea (1999)
Sutradara: Aleksandr Petrov | Penulis: Ernest Hemingway (novel), Aleksandr Petrov (skenario) | Pengisi suara: Gordon Pinsent, Kevin Duhaney and Yôji Matsuda.

Sumber gambar: resensi-resensi-film.blogspot.com & screen captured video.

Review: Agora

Cerita Hypatia Dari Alexandria

Poster film Agora.

Ia adalah seorang astronom, matematikawan, sekaligus filsuf ternama asal Alexandria, Mesir. Hypatia (370-415 M) berkembang ketika Alexandria berada dalam rentang masa kejayaan sebagai pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Sebagai cendekiawan, Hypatia berkegiatan di Musaeum Alexandria, sebuah komplek yang mencakup laboratorium penelitian, perpustakaan, ruang-ruang kelas, serta amphiteathre; yang kelak menjadi cikal bakal bentuk kampus modern. Dan, ya, Hypatia berkegiatan di hampir semua ruang Musaeum sebagai peneliti, pustakawan, dan juga pengajar filsafat alam.

Di zaman wanita masih menjadi warga kelas dua, Hypatia telah mencapai derajat tinggi berkat ilmu pengetahuan. Tidak hanya meneliti dan mengajar, Hypatia juga berperan sebagai pemuka masyarakat. Pendapatnya didengar, pandangannya diperhitungkan, tidak hanya dalam lingkaran masyarakat, tapi juga dalam lembaga semacam parlemen kala itu. Hypatia, ia pemikir, ia pengajar, ia legenda, dan ia wanita. Bayangkan!

Jika belum terbayang, ada baiknya anda menyaksikan film Agora (2009), sebuah film biografi tentang Hypatia karya sutradara Spanyol, Alejandro Amenábar. Sutradara sekaligus penulis skenario film ini mencoba menafsir sejarah hidup Hypatia dalam periode keemasannya, yaitu ketika Hypatia banyak menghasilkan karya hasil penelitian dan kegiatan akademisnya pada awal abad ke-5.

Sayangnya, dalam kenyataan, hampir semua rekam jejak karya Hypatia tiada yang bersisa. Sejarah sebetulnya ‘hanya’ mencatat Hypatia lewat surat-suratnya, atau tulisan-tulisan cendekiawan lain yang merujuk karyanya.

Kenapa gerangan karya Hypatia tiada yang bersisa?

Inilah salahsatu konflik menarik yang mewarnai plot film Agora. Selain pusat pembelajaran kebudayaan dan ilmu pengetahuan, Musaeum Alexandria juga menjadi tempat berdirinya kuil kaum pagan. Pada masa yang sama kota Alexandria, yang berada di bawah kekaisaran Roma, menjadi salahsatu pusat perkembangan agama Kristen. Disinilah konflik bermula. Kaum fundamentalis Kristen Romawi yang sedang gencar-gencarnya menyebarkan ajaran, menilai bahwa kaum pagan adalah para pendosa yang gemar melakukan bid’ah. Untuk itu, mereka harus di-Kisten-kan atau dimatikan sekalian.

Segala hal yang berkaitan dengan paganisme mulai dari patung hingga manuskrip dihancurkan dan dibakar. Tidak terkecuali Library of Alexandria yang menyimpan ribuan manuskrip dan dokumentasi penelitian maupun pemikiran cendekiawan Alexandria. Tercatat dalam sejarah, pada 391 M perpustakaan kuno yang kelak menjadi cetak biru perpustakaan modern tersebut dihancurkan oleh fundamentalis Kristen, termasuk karya-karya Hypatia di dalamnya.

Adegan film Agora.

Di tengah kemelut keagamaan yang semakin parah di Alexandria, Hypatia tetap melanjutkan risetnya tentang astronomi yang sempat tertunda. Keteguhan hatinya membuahkan hasil. Tercatat dalam sejarah, Hypatialah yang pertamakali memetakan bahwa bumi mengelilingi matahari dalam lintasan elips, ketika masyarakat belum lagi beranjak dari kepercayaan bahwa bumi itu datar dan adalah pusat alam semesta (riset Hypatia tentang orbit elips jauh mendahului hukum Johannes Kepler tentang hal yang sama pada 1609).

Sebagai filsuf, Hypatia bersikukuh untuk tidak pernah menerima mentah-mentah segala sesuatu yang belum sempat dipertanyakan, termasuk masalah keyakinan. Atas dasar inilah ia menolak untuk menerima ajaran Kristen. Karenanya Hypatia tetap dicap sebagai kafir oleh rahib-rahib Kristen saat itu. Dan seperi manuskrip karyanya, Hypatia ‘dihancurkan’ secara barbar dan biadab.

Terlepas dari akurasi sejarah dalam film Agora–mengingat minimnya sumber otentik mengenai Hypatia–saya tetap menikmatinya sebagai film biografi yang faktual. Diluar kekurangan fokus cerita akibat terlalu banyak konflik yang muncul, saya rasa film ini masih menyimpan daya tarik tematik, walaupun (jujur!) film ini agak membosankan di bagian pertengahan. Namun berkat akting Rachel Weisz yang secara anggun memerankan Hypatia, konsentrasi menonton saya tetap tertambat.

Lewat film ini saya baru mengetahui tentang Hypatia, cendekiawan visioner anak kandung budaya keilmuan Alexandria. Ia memiliki segala kriteria untuk digolongkan sebagai wanita modern, berpendidikan, beradab, dan terhormat. Karenanya, Hypatia adalah tipikal manusia yang melampaui zamannya.[]

Arfan

__________
Agora (2009)
Sutradara: Alejandro Amenábar | Skenario: Alejandro Amenábar, Mateo Gil | Pemain: Rachel Weisz, Max Minghella, Oscar Isaac.

Sumber gambar: imb.com & screen captured video.

Review: About Elly

Kompromi Tentang Elly

Poster film About Elly.

Elly adalah satu-satunya orang asing yang turut serta dalam liburan-bersama tiga keluarga muda asal Tehran. Adalah Sepideh yang diam-diam merencanakan Elly untuk bergabung. Bukan tanpa maksud, Sepideh berniat menjodohkan Elly dengan salah seorang kerabatnya, Ahmad, yang baru saja menduda. Seiring perjalanan liburan, tidak perlu waktu lama bagi semua orang dalam lingkaran keluarga memahami rencana perjodohan tersebut.

Kecuali Sepideh, tidak ada yang tahu bahwa di balik rencana manis perjodohan itu tersimpan sesuatu tentang Elly yang kelak mengundang konflik. Sepideh yang berperan sebagai ‘mak comblang‘, terdorong oleh keadaan untuk melakukan kompromi dalam bentuk apapun demi terjalinnya hubungan baru bagi Elly dan Ahmad. Maksud Sepideh baik, pada mulanya.

Dalam film Iran  berjudul asli Darbereye Elly ini, sutradara Asghar Farhadi menggarap secara apik tema sederhana tentang kebohongan demi kebaikan (white lie). Plot yang linear, karenanya memudahkan memahami jalan cerita, justru menjadi kekuatan film yang mengantar penulis sekaligus sutradaranya menjuarai Silver Bear for Best Director pada Berlin Film Festival ke-59 ini.

Karakter utama, Sepideh (Golshifteh Farahani), Elly (Taraneh Alidoosti), dan Ahmad (Shahab Hosseini), diperankan secara natural. Terutama pada bagian dialog. Hal ini bisa terjadi, mungkin akibat kelugasan para pemerannya untuk melakukan improvisasi skrip. Kecuali itu, filmografi yang Asghar Farhadi lakukan membuat penonton serasa melebur dalam kepanikan tokoh serta merasakan ketergesaan konflik cerita. Yang saya maksud, terutama akibat teknik pengambilan gambar yang variatif dan dinamis.

Adegan film About Elly.

Karakter Elly yang pendiam dan pemalu, dengan mudah dikupas oleh sutradara lewat konflik yang bermula dari peristiwa hilangnya Elly secara tiba-tiba. Dari sini, satu per satu fakta samar tentang Elly mulai terbuka. Begitu pula yang terjadi pada kebohongan-kebohongan putih Sepideh. Konflik demi konflik muncul berurutan sampai akhirnya terbentuk gambaran utuh tentang tokoh Elly, ketika justru sang tokoh itu sendiri telah dilenyapkan dari layar.

Asghar Farhadi tidak sedang menjual wajah aktrisnya, tidak pula sedang mengumbar kecanggihan sinematografi (tidak, karena memang setiap segi film ini terkesan sederhana). Dalam film ini Asghar sedang memamerkan plot yang bernas dan dengan sendirinya plot tersebut benar-benar ‘bercerita’ kepada para penontonnya.

Dua hal yang menurut saya menarik dari film  adalah ide cerita dan cara film ini berkisah. Seperti cerpen, ide cerita film ini fokus pada satu masalah, yaitu untuk mengungkap karakter Elly. Sementara, cara film ini berkisah adalah lewat dialog. Ya, keutuhan kisah film About Elly sebagian besar terbangun lewat dialog.

Seperti film Iran lainnya, tidak ada yang bombastis dalam film ini, selain kekuatan ide ceritanya. Meski latar cerita bukan tempat yang indah berwarna-warni, walau minim iringan latar musik, film ini lebih dari sekedar menarik. Film About Elly adalah jenis film dengan plot, latar, dan ide sederhana, namun mampu bercerita secara utuh.[]

Arfan

_________
About Elly (2009)
Sutradara: Asghar Farhadi | Skenario: Asghar Farhadi (screenplay), Azad Jafarian (story) | Pemain: Golshifteh Farahani, Shahab Hosseini, Taraneh Alidoosti.

Sumber gambar: wikipedia.com & screen captured video.

Review: Persepolis

Memoar Marjane Satrapi

Poster film Persepolis.

Majalah Matabaca (April, 2008) pernah mengangkat profil D. Sastro dalam salahsatu edisinya yang fokus membahas tentang komik. Dari satu artikel saya baru tahu, Dian mengidolakan Marjane Satrapi, komikus wanita asal Iran penggarap kisah Persepolis. Saya pun mulai penasaran dengan Marjane Satrapi, karena idolanya idola saya mesti jadi idola saya juga. :D

Persepolis (2003) adalah salah satu karya Marjane ‘Marji’ Satrapi yang paling sukses. Komik bernuansa monokrom ini menggambarkan memoar Marji tentang masa-kecil s/d remaja-nya yang penuh konflik kejiwaan. Bisa dikatakan Persepolis adalah autobiografi Marjane Satrapi.  Selain komik, ternyata Persepolis didedah dalam animasi yang juga disutradarai dan ditulis oleh Marjane (rilis 2007). Berhubung kesempatan menyimak animasinya datang lebih dulu ketimbang membaca komiknya, maka resensi kali ini ditulis berdasar amatan terhadap film Persepolis.

Persepolis, animasi monokrom yang disadur dari komik Persepolis dan Persepolis 2, berkisah tentang memoar seorang tokoh utamanya, wanita Iran bernama Marjane Satrapi. Lewat gaya naratif Marji yang tiba-tiba teringat masa kecilnya ketika berada di bandara, membawa kisah Persepolis bergulir dalam potongan-potongan kenangan.

Potongan kisah diawali dari gejolak Revolusi 1979 di Iran, dimana terjadi transisi pemerintahan Iran dari monarki menuju Republik Islam. Di tengah latar seperti itu, Marji kecil tumbuh dalam sebuah keluarga liberal yang memegang prinsip kebebasan berpendapat. Sejak dini Marji sudah gemar berdiskusi tentang ini itu, sekaligus terbiasa mengutarakan pendapat di tengah keluarga. Lewat tokoh ayah, paman, serta–terutama–neneknya, Marji belajar banyak hal tentang kehidupan, mulai dari sistem ketatanegaraan, hubungan sosial, hingga masalah integritas diri lewat wawasan keperempuanannya.

Hal-hal yang muncul kemudian–terutama di kalangan akar rumput–sebagai buah revolusi, seperti tindakan represif pemerintahan, fundamentalisme, dan pemberlakuan hukum Islam, menjadi konflik dalam kisah pertengahan Persepolis. Pada masa ini polisi moral berkeliaran di pemukiman demi menegakkan syariat Islam. Hal-hal seperti kewajiban mengenakan chador bagi perempuan, pemisahan laki-perempuan dalam sekolah umum, atau pelarangan konsumsi produk barat digambarkan oleh Marjane secara karikatur. Sangat menarik.

Kisah berlanjut ke masa perang Iran versus Irak. Dalam kondisi kritis ini, orangtua Marji memutuskan untuk memindahkannya ke Wina. Marji remaja yang masih dilanda kesedihan karena untuk kali pertama berpisah hidup dengan keluarganya, langsung diberedel dengan kultur barat yang terlampau asing baginya. Pada masa peralihan menuju dewasa hal-hal sentimentil seperti persahabatan, percintaan, dan kontemplasi pribadi cukup mendominasi jalan cerita. Bagi saya, bagian ini yang paling membosankan alias antiklimaks yang rada mengecewakan.

***

Adegan animasi Persepolis.

Mozaik yang menurut saya menarik adalah masa-masa Marji kecil yang bercita-cita menjadi nabi, serta sering membayangkan dirinya sedang berdialog dengan Tuhan. Kecuali itu, masa pemberlakuan hukum Islam yang ditafsir secara tunggal oleh pemerintah yang berkuasa kala Marji remaja adalah kisah yang paling menarik. Marjane Satrapi, lewat tokoh Marji remaja mengritik kebijakan syariat Islam tersebut secara vulgar. ‘Bahasa’ humor khas komikus sangat kentara di bagian pertengahan ini, walau cenderung mendeskreditkan sebuah paham tertentu.

Marjane Satrapi dengan cerdas menterjemahkan hal-hal sensitif keagamaan dalam humor satir lewat penokohan Marji remaja yang bengal, namun tetap menempatkan diri sebagai feminin. Tidak lupa musik latar film ini sangat menarik karena memadukan bebunyian khas Timur Tengah dengan nada-nada kekinian. Alhasil membawa nuansa original bagi animasi.

Menonton Persepolis, saya mendapatkan bahwa Marjane Satrapi sedang berkhutbah. Khutbah yang tidak kentara dan cenderung bernuansa karikatur: melebih-lebihkan bagian tertentu untuk menggambarkan keseluruhan pandangannya: tentang Revolusi Iran, tentang fundamentalisme, dan lebih dari itu, tentang feminisme.[]

Arfan

__________
Persepolis (2007)
Sutradara: Vincent Paronnaud, Marjane Satrapi | Skenario: Marjane Satrapi (comic), Vincent Paronnaud (scenario) | Pengisi suara: Chiara Mastroianni, Catherine Deneuve and Gena Rowlands.

Sumber gambar: impawards.com & screen captured video.

Review: Midnight in Paris

Sebuah Kontemplasi dalam Parodi

Poster film Midnight in Paris.

Tak terkatakan bagaimana meluapnya perasaan seorang penulis pemula yang melewati malam-malam panjang berdiskusi bersama para penulis pujaannya. Apalagi jika mereka adalah penulis besar legendaris. Kecuali dalam mimpi, berdiskusi dengan F. Scott Fitzgerald, Ernest Hemingway, Gertrude Stein, dan T. S. Eliot tentang literasi adalah pengalaman mewah yang irasional.

Namun itulah kenyataan yang dialami Gil Pender pada setiap malam-malam hangat di Paris. Gil sedang berada di tengah proyek penulisan novelnya ketika pasangan Zelda Fitzgerald dan F. Scott Fitzgerald memperkenalkan Gil kepada Ernest Hemingway. Dengan keterkejutan yang meluap-luap Gil mencoba sadar, nama-nama yang baru saja berjabat tangan dengannya bukan kebetulan serupa nama besar dalam sejarah sastra, melainkan itulah mereka.

Hemingway yang menolak permohonan Gil untuk mengkritik prosanya, mengantar Gil menemui Gertrude Stein, penyair sekaligus pengasuh seniman-seniman besar di medio 1920-an yang juga membidani kelahiran sastrawan Lost Generation. Hemingway percaya penuh untuk merombak apapun yang tidak memuaskan Stein dalam proses kelahiran karyanya. Gil tahu semua itu bahkan tanpa lebih dulu mengalaminya, ia tahu sejarah, dan terutama karena Gil adalah manusia masa kini yang tersesat di masa 1920-an.

Setiap bel tengah malam berdentang, sebuah Peugeot tua menjemput Gil untuk berkelana dengan absurd melintas batas waktu dari tahun 2010 ke pesta minum-minum Hemingway. Peugeot tua membawa Gil melihat proses kreatif Pablo Picasso; membawa Gil kedalam percakapan surreal dengan Man Ray, Luis Bunuel, dan Salvador Dali; dan terutama mengantar Gil menemui Adriana, sebuah asmara yang ‘jauh’ dan tidak nyata. Gil ingin Inez turut serta dalam malam-malam ajaib pada masa terbaik Paris menurut Gil. Namun tunangan Gil tersebut menuduhnya telah terperosok terlalu jauh dalam fantasi literasi yang hanya ada di benak gilanya.

***

Adegan film Midnight in Paris.

Lewat Midnight in Paris, Woody Allen kembali mengumbar imajinasi ‘telur Napoleon’-nya, penciptaan sederhana yang tak terpikirkan sebelumnya. Allen menghidupkan sekaligus memarodikan nama-nama besar angkatan Lost Generation dan surrealist 1920-an dalam kisah unik dan menyenangkan. Film ini mengingatkan pada karya Allen lainnya, Whatever Works (2009), yang sama-sama menokohkan seorang protagonis (alter ego Woody Allen?) yang cerdas dan kritis dalam mempertanyakan kemapanan nilai-nilai kehidupan. Begitu juga dengan plot. Terlalu banyak plot yang serba kebetulan dalam kedua film Allen ini. Tapi begitulah, lewat plot yang terkesan sembarangan dan serba kebetulan, Allen sebetulnya sedang menyajikan keteraturan konsep berceritanya.

Allen memberi sinyal adanya kisah romantis sedari awal, lewat lekuk sudut kota Paris yang mengisi hampir empat menit scene permulaan. Bumbu humor ia tampilkan lewat parodi penokohan seniman dunia. Sementara tema utama film ditandai oleh dentang bel, dan malam di kota Paris. Tidak lupa iringan backsound yang melumerkan keindahan visual kota Paris bak sebuah sajian pentas teater klasik.

Owen Wilson memerankan Gil Pender dengan cermat, gesture dan dialognya tidak terkesan berlebihan. Begitu pula Rachel McAdams yang memerankan karakter Inez dengan asyik, terlepas dari gesture yang hampir seragam tiap Inez berdialog. Karakter Adriana yang elegan sukses diperankan Marion Cotillard yang juga mencuri perhatian. Tokoh-tokoh seniman ekspatriat yang bermukim di Paris, dari Cole Porter, Gertrude Stein, Luis Bunuel, Man Ray, hingga Salvador Dali diperankan secara teliti lewat logat sampai potongan rambut. Menyaksikan visualisasi Ernest Hemingway yang sesumbar, Pablo Picasso yang kaku, hingga Dali yang meledak-ledak sungguh kocak dan menyenangkan.

Dalam repertoar latar tengah malam di Paris, Woody Allen mencoba berkisah tentang sebuah obsesi akan masa lampau yang ‘menyesatkan’ karena ketiadaannya. Betapa lewat sebuah parodi Allen ingin menyarankan, bahwa romantisme masa lalu tidak selalu lebih baik dari masa kini yang jelas-jelas nyata. Midnight in Paris, adalah usaha Allen dalam berbicara tentang eksistensi tanpa membunuh mood penontonnya; dan Allen berhasil, film ini menyenangkan sekaligus mencerahkan.[]

Arfan

__________
Midnight in Paris (2011)
Sutradara: Woody Allen | Skenario: Woody Allen | Pemain: Owen Wilson, Rachel McAdams, Michael Sheen, Carla Bruni, Nina Arianda, Marion Cotillard, Corey Stoll, Adrien Brody.

Sumber gambar: comingsoon.net & moviepicturedb.com.

Review: Lakon Pada Suatu Ketika

Upin dan Ipin? Lewat!

Wuih… Upin & Ipin doang mah lewat! Begitu ujar saya dalam hati ketika pertama kali melihat cuplikan animasi berjudul Lakon Pada Suatu Ketika.

Animasi diawali dengan latar pasar di satu kota, yang memperlihatkan kesibukan masyarakat pinggiran. Lalu muncul tokoh, seorang kakek yang sedang menunggu pesanan mie rebus di satu kios. Oh ya, penggambaran tokoh kakek ini sekilas persis tokoh kakek pada film Up. Tiba-tiba terjadi sesuatu yang luar biasa yang pada akhirnya merubah jalan cerita ke ide film The Transformer. Wah, pokoknya mengejutkan dan bikin senyum-senyum sendiri. Silakan tonton kalau tidak percaya.

Adegan animasi Lakon Pada Suatu Ketika.

Kota yang menjadi latar cerita nampaknya Jakarta, terlihat dari detil logo DKI pada papan billboard tentang pajak, gedung, bemo, dan bus kota. Detil-detil yang sangat sengaja dipersiapkan oleh pembuat animasi ini pantas diacungi jempol. Menariknya, detil-detil tersebut sangat dekat dengan keseharian masyarakat kita. Contoh detil yang kentara diantaranya gerobak bakso, poster Iwan Fals, botol kecap, mangkok bergambar ayam jago, bungkus rokok 234. Belum lagi karakter serta pakaian tokoh-tokohnya, sangat khas Indonesia.

Animasi berdurasi 4 menit ini diunggah (8/12) oleh Lakon Animasi, (nampaknya) sebuah studio animasi asal Solo, Indonesia. Begitu setidaknya info minim yang tercantum di laman Facebook-nya. Laman webnya belum lagi rampung, tidak ada info selain tautan dan gambar. Kurang jelas apa dan siapa di balik cuplikan animasi yang menurut saya sangat mengagumkan ini. Juga kurang jelas maksud diunggahnya video ini. Apakah sebagai trailer, promo, atau sekedar unjuk karya? Entahlah.

Yang jelas cuplikan animasi ini ternyata bersambung, dan kita disuruh menunggu hingga 2012 untuk melihat lanjutannya. Hmmm, terlihat seperti strategi promosi film panjang. Semoga saja betul, karena industri film dalam negeri butuh film animasi seperti ini. Dan jika betul, sekali lagi, Upin Ipin doang mah lewat![]

Arfan

__________
Situs terkait:
Streaming video
http://www.facebook.com/lakonanimasi
http://www.lakonanimasi.com/
http://vimeo.com/lakonanimasi

Sumber gambar: screen captured video.