Archive | Musik RSS for this section

Tielman Terakhir Telah Tiada

Dalam arti luas, bicara tentang pahlawan berarti bicara akan manusia-manusia yang telah berperan positif bagi sekitarnya, dimanapun ranah perjuangannya. Untuk itu pahlawan tidak hanya identik dengan dunia perang. Dunia musik pun tak lepas dari pahlawan-pahlawan berjasa besar yang telah mengangkat martabat bangsa di blantika dunia.

Tepat di Hari Pahlawan (10/11) di penghujung tahun 2011, Andy Tielman, seorang pahlawan dunia musik tanah air telah berpulang menghadap Sang Maestro Nada. Beliau adalah dewa rock ‘n roll dunia pentolan The Tielman Brothers. Andy wafat pada usia 75 tahun di Amsterdam akibat menderita kanker sejak 2009. Andy Tielman pria kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan pada 30 Mei 1936 merupakan “the last man standing” yang memegang tampuk nama besar The Tielman Brothers. Wafatnya beliau berarti hilangnya saksi hidup kedigdayaan dunia musik Indonesia yang meledak di kala 1950-an.

Tunggu, dewa rock ‘n roll dunia, nama besar, dan kedigdayaan musik Indonesia, terdengar berlebihankah? Hmm… Sama sekali tidak. Sebut seluruh nama besar di dunia musik rock Indonesia di 10 tahun terakhir ini, niscaya mereka tak dapat mengungguli kebesaran The Tielman Brothers.

Dari Surabaya mengguncang Dunia
Jika Bung Tomo mengguncang dunia dengan memukul pasukan sekutu di Surabaya, begitupun halnya keluarga Tielman yang memulai ‘perjuangan’ dalam bermusik di kota yang sama. Berawal pada 1945, ketika itu lima Tielman bersaudara yang masih belia mulai berpentas membawakan lagu tradisional di Surabaya. Sang ayah, Herman Tielman, seorang kapten KNIL (angkatan bersenjata Belanda-Indonesia) yang memiliki bakat musik mendukung penuh kelima anaknya dengan melatih mereka memainkan alat musik.

The Tielman Family di Surabaya, Indonesia, 1947

Sedari awal Reggy (banjo, gitar) Andy (gitar), Ponthon (bass), Loulou (drum), dan Jane Tielman memainkan alat yang mereka pilih masing-masing dengan sangat memukau. Alhasil terbentuklah grup bernama The Timor Rythm Brother (TTRB) dengan posisi yang tidak pernah berubah sedari awal mereka memegang alat musik. Penamaan grup ini tidak terlepas dari asal usul moyang mereka yang berasal dari Timor. TTRB mulai menerima undangan untuk berpentas mulai dari acara privat di Surabaya hingga konser di berbagai kota besar di Indonesia.

Di awal terbentuknya TTRB, mereka selalu menampilkan musik tradisional dari berbagai daerah di Nusantara lengkap dengan peragaan tariannya. Sang ayah ikut serta dengan alat musik gitar, sementara ibu mereka, Flora Laurentine berperan sebagai pembawa acara. Pada Desember 1949 mereka tampil di Istana Negara di Jakarta atas undangan presiden Soekarno. Sejak 1951 mereka mulai mendaur ulang lagu-lagu hits dari musisi dunia seperti Elvis Presley, Chuck Berry, Les Paul, Bill Haley, dan lainnya.

Keadaan yang tidak kondusif di dalam negeri mengharuskan mereka hijrah ke Belanda pada suatu masa. Sang ayah Herman Tielman berpikir bahwa karier band ini akan lebih cemerlang di negeri kincir angin. Selepas beradaptasi, terbentuklah The Four Tielman Brothers (The 4 T’s) pada 1957. Ramalan ayahnya benar. Kelima anaknya berkarir cemerlang di dunia musik rock ‘n roll. Bahkan mereka tercatat sebagai yang pertama melahirkan sub genre indo rock, yaitu aliran rock ‘n roll yang dipengaruhi sound musik keroncong.

Saat itu musik Hawaii yang mendayu-dayu sedang menjadi tren di Eropa, berbagai pentas musik menjamur di kota-kota besar. Suatu waktu secara kebetulan The 4 T’s diundang oleh komunitas Hawaii untuk mengisi slot acara selama 20 menit. Tak disangka, dibalik latar belakang bergambar pantai dan pohon palm yang tenang, The 4 T’s tampil atraktif. Andy bermain gitar menggunakan gigi, Ponthon memainkan bass betot sambil tiduran, sementara Reggy menaiki bass sambil beratraksi dengan gitarnya, Loulou menyelingi dengan atraksi drumnya dan maju ke depan memainkan gitar Andy menggunakan stik drumnya. Belum pernah ada band yang melakukan hal segila itu. Akibatnya, mereka didaulat untuk tampil rutin pada gelaran selanjutnya.

Atraksi The Tielman Brothers dalam sebuah pentas di The Hague Zoo pada 3 Januari 1960.

Karena penampilan yang terbilang ekstrim untuk standar pentas musik di Eropa sekalipun, media semakin menyoroti band Tielman ini. Pada Januari 1959 mereka tampil di Jerman, dan untuk pertama kalinya penampilan keempat bersaudara ini mulai direkam dan ditampilkan di televisi Jerman. Sejak itulah ketenarannya semakin menjadi, mereka akhirnya dikenal sebagai The Tielman Brothers dengan julukan the Godfathers of Indo-Rock.

Inspirasi Musisi Dunia
Atraksi memainkan gitar di belakang kepala khas Andy Tielman dipercaya menginspirasi Jimi Hendrix yang kerap melakukan hal yang sama. Sang legenda George Harison bahkan mengakui terang-terangan bahwa The Tielman Brothers menginspirasi bandnya, The Beatles. Kala itu The Beatles sedang meniti karir di Hamburg, Jerman ketika mereka menyaksikan penampilan luar biasa dari The Tielman Brothers. George pun tak lupa memuji sang frontman Andy Tielman dengan sebutan “Andy The Indo-man“.

The Tielman Brothers telah menghasilkan puluhan lagu dalam puluhan vinyl dan kaset selama karir mereka sejak 1958. Hanya masalah minimnya dokumentasi & kearsipan yang menyebabkan nama besar dan karya The Tielman Brothers seolah tenggelam, bahkan di negeri asalnya sendiri, Indonesia. Tielman adalah nama besar yang tersembunyi di balik hingar bingar sejarah musik dunia. Mendiang Andy Tielman dkk. adalah pahlawan, karena dengan konsep indo-rock, mereka telah mewujudkan kedaulatan Indonesia dalam dunia musik.[]

Arfan

_________
Artikel terkait: Rolling Stone – Pionir Rock N’ Roll Dunia asal Indonesia…
Sumber gambar: http://indorock.pmouse.nl
Sumber video: http://youtube.com

Advertisements

“Nothing Compares 2 U” by Sinéad O’Connor

Nothing Compares 2 U
Written by Prince (1985)
Performed by Sinéad O’Connor
Albums I Do Not Want What I Haven’t Got (1990)

Nothing Compares 2 U pertamakali dicipta oleh Prince Rogers Nelson, atau yang tersohor sebagai Prince pada 1985. Prince mencipta lagu Nothing… pada awalnya untuk sebuah proyek band bernama The Family.

Lagu ini seolah tersembunyi sebelum Sinéad O’Connor merekam ulang dalam album I Do Not Want What I Haven’t Got (1990). Setelah rilis, Nothing… kemudian meledak di pasaran, bahkan hingga kini menjadi lagu wajib untuk mengenang dekade 90-an.

Popularitas O’Connor mulai merangkak naik setelah album kedua ini rilis, terutama karena lagu Nothing… yang merajai tangga lagu dunia kala itu. Namun, apa yang menjadi pengaruh besar suksesnya album ini, bukan semata lagu karya Prince tersebut, melainkan karena 80% materi karya O’Connor yang memang sangat matang. Musikalitasnya semakin diakui terutama selepas album ini rilis.

Kala 90-an memang milik wanita Irlandia berambut minim ini. Bersama lagu Nothing…, O’Connor menjadi wanita pertama yang dianugerahi “Video of The Year” MTV Video Music Awards. Setahun berikutnya album I Do Not… diganjar Grammy Awards. Masa bergulir namun sejarah tetap abadi. Pada 2003 Rolling Stones Magazine pun memasukkan album I Do Not… nya O’Connor dalam jajaran 500 Album Terbaik Sepanjang Masa. Tahun berikutnya, giliran lagu Nothing… versinya yang dijajarkan dalam 500 Lagu Terbaik Sepanjang Masa.

Entah yang mana pernyataan yang betul, O’Connor menjadi hebat karena lagu Nothing Compares 2 U atau tepat sebaliknya. Yang jelas, jika berbicara musisi hawa dalam dekade 90 mesti bicara Sinéad O’Connor.  Trully, nothing compares 2 her.[]

Arfan

__________

“You Don’t Know Me” by Peppi Kamadhatu

You Don’t Know Me
Written by Cindy Walker, Eddy Arnold
Performed by Peppi Kamadhatu
Albums Suddenly (2005)

Gila! Lima tahun menjadi pendengar setia suara bening Peppi Kamadhatu, baru sekarang saya tahu dia adalah biduan Indonesia asli.

Saya mulai keracunan suaranya berbarengan saat band akustik MYMP asal Filipina mulai terkenal di Indonesia, kira-kira sekitar 2006. Itulah, pada awalnya saya kira Peppi Kamadahatu adalah orang Filipina juga. Lagipula di tahun-tahun tersebut belum banyak info mengenai penyanyi kelahiran Semarang (1976) ini di internet.

Dulu, saat mengetikkan kata kunci “Peppi Kamadhatu”, yang muncul adalah laman-laman tentang situs sejarah, tentang kosmologi Buddha, dan tentang candi Borobudur. Karena ternyata Kamadhatu adalah salah satu tingkatan dalam Buddhisme yang menggambarkan semacam tingkat spiritualitas manusia. Kamadhatu juga adalah nama sekumpulan bangunan di segmen undak pertama candi Borobudur.

Nah, saya mulai curiga, kok penyanyi ini ada sangkut pautnya dengan Borobudur. Namun lama-lama saya tidak ambil pusing, dan akhirnya merasa cukup sekedar menikmati lagu-lagu di album Suddenly (2005) tanpa tahu asal muasal pelantun hits jazz daur-ulang ini.

Lama-lama mulai muncul lagi penasaran akan identitas penyanyi yang belakangan saya tahu ternyata adalah pianis pula. Ya, begitu mencoba googling di 2011 ini, ternyata sudah lumayan banyak informasi mengenai Peppi Kamadhatu. Dan baru saya tahu ternyata pianis sebuah band jazz bernama Kamadhatu ini sempat berguru pada legenda musik tanah air, Bubi Chen. Ya, wanita bernama asli Pissa Sesara adalah pianis yang merambah dunia vokal.
***
Membahas album daur ulang berarti tidak perlu menyangsikan lagu-lagunya, karena sudah jelas deretan lagu pasti berisi hits-hits besar pada jamannya. Maka di album Peppi yang satu ini, saya tidak ingin banyak komentar, silakan dengar kualitas suara sejuknya meliuk-liuk dengan irama smooth jazz.

Silakan menikmati artefak jazz mulai dari That’s What Friends Are For, Love Is A Many Splendored Thing, Route 66, Misty, Love, Fly Me To The Moon, We’re All Alone sampai You Don’t Know Me.

Omong-omong, sayang sekali ya penyanyi sekelas Peppi Kamadhatu kurang ‘meledak’ di dunia musik tanah air. Info tentangnya saja sempat sulit dicari. Tapi walau diskografi Peppi Kamadhatu masih terbilang minim di dunia maya, namun saya sudah bisa katakan: Nah, Mbak Peppi, now I do know you.[]

Arfan

__________

“I Try” by Macy Gray

I Try
Written by Macy Gray, Jeremy Ruzumna,
Jinsoo Lim, David Wilder (1997)
Performed by Macy Gray
Albums On How Life Is (1999)

Satu lagu dari tahun 90-an akhir yang menyenangkan. I Try, single dari debut album Macy Gray yang rilis pada 1999, On How Life Is. Lagu ini bernuansa pop kebanyakan, namun jadi berbeda karena diisi oleh vokal renyah Macy Gray. Lagu ini sempat menghantarkan Macy memenangi Grammy pada 2001.

Penyanyi sekaligus pencipta lagu ini, Macy Gray, adalah biduan black music yang banyak merilis lagu bernuansa pop yang dipadu padan dengan unsur soul, dan R&B. Namun sayang, tidak banyak lagunya yang melebihi kesuksesan I Try.

Musikalitas lagu ini sebenarnya sejajar dengan hits-hits pop lain yang pernah rilis. Instrumen, nada, hingga lirik yang dipergunakan pun tidak ada yang aneh. Yang membuatnya berbeda, saya rasa adalah karakter vokal Macy Gray yang cenderung berat, juga cara dia menyanyikan lagunya, begitu mengalir dan terdengar sangat soulfull.

Lagu lain yang terekomendasi dari musisi asal Ohio ini bisa ditemui di album-album berikutnya yang rilis di tahun 2000-an awal, seperti Why Don’t You Call Me, I’ve Committed Murder, One For Me, atau Strange Behaviour. Anda yang gemar musik pop, atau R&B mainstream, mungkin senang menyimak suara soulfull milik Macy Gray.[]

Arfan

__________

“Ironic” by Alanis Morissette

Ironic
Written by Alanis Morissette
Performed by Alanis Morissette
Albums Beneath the Surface (1996)

Ya semua tahu, tema musik yang paling laku adalah kisaran tema cinta, orang ketiga, dan sejenisnya. Terutama di sini, di Indonesia. Jengah betul saya mendengar lagu-lagu masa kini.

Tidak banyak musisi yang berbicara tentang hal-hal yang absurd. Dari musisi yang tidak banyak itu, salah satunya adalah Alanis Morissette. Musisi Kanada yang berjaya di 90-an ini cukup banyak mengangkat tema absurditas, di antaranya dapat kita simak dalam lagu berjudul Ironic.

Begitu jelinya Alanis mengangkat sebuah keironisan, sebuah keanehan yang justru sering mengitari kehidupan kita. Peristiwa yang kadang tidak terpikirkan untuk dijadikan sebuah nyanyian, justru bertebaran di lagu yang rilis tahun 1996 di album Beneath the Surface ini.

Kalau disimak baik-baik, lagu Ironic ternyata bercerita. Alanis membuat penokohan dan peristiwa ironis yang terjadi pada tokohnya tersebut: seorang kakek yang wafat setelah menang lotere, hujan di hari pernikahan, nasihat yang sebenarnya bijak yang baru saja kita tolak mentah-mentah, adalah diantara peristiwa-peristiwa ironis tersebut.

Tema lagu-lagunya yang kadang tak terbayang, lirik yang cergas dan catchy, serta warna vokal yang mungkin hanya dia yang punya, adalah kelebihan karya-karya Alanis. Hal itu bisa dibuktikan dalam hitsnya yang lain, seperti Hand In My Pocket, Thank You, That I Would Be Good, Uninvited, hingga You Learn.

Saat semua baik-baik saja tiba-tiba ada sesuatu yang membuat kita runtuh. Saat kita runtuh dan tak tahu berbuat apa, tiba-tiba selalu ada jalan keluar gratis. Itulah sepenggal makna yang menjadi antiklimaks ‘cerita’ Alanis ini. Di akhir lagu inilah, Alanis menyimpulkan bahwa hidup punya caranya sendiri untuk membuat kita berpikir.

Satu kalimat tentang lagu ini: Kekuatan Ironic ada di lirik.[]

Arfan

__________

“Let Go” by Frou Frou

Let Go
Written by Imogen Heap, Guy Sigsworth
Performed by Frou Frou
Albums Details (2002)

Langsung saja. Let Go adalah satu hits sukses dari album Details yang dirilis pada 2002 oleh duo eksperimental yang menamakan diri sebagai Frou Frou.

Frou Frou terdiri dari dua musisi musik elektrik sekaligus produser berbagai projek musikal, Imogen Heap dan Guy Sigsworth. Keduanya sering terlibat dalam kolaborasi pada projek album masing-masing. Guy berkontribusi banyak dalam debut album Imogen Heap, iMegaphone. Begitu juga sebaliknya Heap menyumbang vokal pada band milik Guy, Acacia. Karena sering bekerjasama, dan kebetulan eksperimen musikal mereka senada, maka pada Desember 2001, Guy dan Heap memutuskan untuk berkolaborasi dalam satu band Frou Frou.

Details adalah satu-satunya album yang dihasilkan oleh duo ini. Karena selepas rilis, tepatnya di 2003, mereka memilih untuk kembali pada projek masing-masing. Guy kembali menjadi produser dan penulis lagu untuk bermacam artis, seperti Bjork, Seal, hingga Britney Spears. Sementara Imogen Heap berkutat di solo karir dan projek album barunya kala itu, Speak For Yourself.

Usianya yang tidak genap tiga tahun, bukan berarti tidak produktif. Frou Frou menghasilkan hits-hits yang booming di berbagai media, diantaranya “Must be Dreaming“, “Airplane”,It Good To Be In Love“, dan tentu saja “Let Go“. Meski menghasilkan hanya satu album dan beberapa single namun Frou Frou menulis materi yang hampir semuanya cemerlang.[]

Arfan

__________

“Calling Occupants Of Interplanetary Craft” by Carpenters

Calling Occupants Of Interplanetary Craft
Written by John Woloschuk,
Terry Draper
Performed by Carpenters
Album Passage (1977)

Pertama kali mendengar lagu ini, bulu kuduk saya mengembang. Terutama saat mendengar opening lagu ini. Diawali dengan suara seorang pembawa acara radio yang menanyakan request lagu kepada penelepon di luar sana.

Suara penelepon itu cukup aneh, seperti suara robot. Penyiar radio berkali-kali mengungkapkan ketidakjelasan suara penelepon, sambil melempar jokes, “by the way, you sounds great over the phone…”

Si penelepon, akhirnya berkata “We are observing your earth… and we’d like to make a contact with you…” Pahamlah saya, ternyata si penelepon adalah alien yang berusaha mengontak bumi lewat siaran radio lokal.
***

Lagu berjudul asli Calling Occupants Of Interplanetary Craft (The Recognized Anthem Of World Contact Day) dicipta dan dibawakan pertama kali oleh Klaatu, band asal Kanada di debut album pertamanya, 3:47 EST (1977). Carpenters mendaur ulang lagu ini di tahun yang sama dan memasukannya ke dalam album Passage (1977).

Ini lagu imajinatif tentang manusia yang mendambakan kontak langsung dengan alien. Ide yang unik untuk tema sebuah lagu.

Menariknya, setelah merilis lagu ini, Carpenters mendapat banyak surat dari para fans (mungkin kalau dirilis sekarang, mereka akan banyak mendapat mention :b), yang menanyakan kapan tepatnya akan/telah terjadi ‘World Contact Day‘ yang dimaksud dalam lirik.

Dalam beberapa lirik, tergambar bahwa manusia dalam lagu ini sangat memohon kepada makhluk luar angkasa untuk datang ke bumi. Untuk menolong bumi mereka yang mungkin saja tidak akan survive lebih lama lagi.

Please come in peace we beseech you
Only a landing will teach them
Our earth may never survive
So do come we beg you
Please interstellar policemen…

Siapa yang dimaksud dengan ‘them‘ pada baris kedua? Bumi kita ‘never survive‘ dari apa? Asumsi saya, yang dimaksud ‘them’ pada lirik tersebut adalah pemerintahan yang gila perang, karenanya bumi ini tidak akan bertahan lebih lama lagi dari perang.

Mengingat tahun 70-an terjadi banyak perang diantaranya, perang dingin, perang Vietnam, hingga konflik Israel (yang belum usai hingga kini). Untuk itu manusia memohon kepada alien untuk datang dan ‘mengajari’ arti damai di bumi. Please interstellar policemen![]

Arfan

_________