Archive | Obituari RSS for this section

Selamat Jalan Harper Lee

Harper Lee (April 28, 1926 – February 19, 2016)

Semoga sepeninggalmu semakin banyak pembaca kisah Atticus, sehingga kelak semakin sedikit manusia-manusia yang terlalu sibuk mencampuri urusan manusia lainnya.[]


Sumber gambar: en.wikipedia.org

Selamat Jalan

Detik seperti menetes tak kentara, ketika tersiar kabar hilangnya seorang teman yang sedang dalam pencarian. Kiranya ekspresi yang paling spontan adalah terhenyak. Awalnya kita kaget, lalu tak mau percaya dan berharap-cemas bahwa pasti ada yang salah tentang kabar tersebut, dan pada akhirnya menerima sepasrah mungkin kehendak Allah. Apa mau dikata? Tiada lagi yang bisa dilakukan selain itu, kita terlalu lemah.

-Angelina Yofanka- Mahasiswi Teknik Kelautan ITB (1992-2012)

Itu yang saya rasakan ketika Selasa (7/2) mendengar kabar bahwa seorang mahasiswa Teknik Kelautan ITB hilang dalam sebuah kegiatan arung jeram di Sungai Cikandang, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Kaget luar biasa walau masih belum tahu siapa sebenarnya mahasiswa sealmamater tersebut. Dan saya berharap media salah tulis, mungkin korban bukan mahasiswa Kelautan, atau kalau ya, mungkin bukan mahasiswa ITB. Setelah mendapat info dan berita yang lebih jelas, ternyata benar, sang korban hanyut adalah Angelina Yofanka (19), mahasiswi Teknik Kelautan ITB angkatan 2009. Fanka, begitu dia disapa, anggota KMPA (Keluarga Mahasiswa Pecinta Alam) Ganesha ITB, menurut kabar hilang dalam sebuah latihan rafting di sungai Cikandang.

Duh, beliau adalah adik angkatan saya di jurusan tersebut di atas. Waktu itu saya terlalu ngeri untuk membayangkan yang bukan-bukan. Segala kemungkinan kecelakaan olahraga arus deras, sungguh bukan hal yang menyenangkan untuk dibayangkan. Alhasil, saya hanya berharap semoga Yofanka segera ditemukan dalam keadaan baik-baik saja. Waktu itu hari kedua Fanka dinyatakan hilang. Tak kurang 150 kepala yang tergabung dalam tim SAR dari Angkatan Laut, Koramil, KMPA ITB, Mahitala UNPAR, hingga Wanadri turun ke lapangan mencari korban (kronologis pencarian disajikan secara baik dan informatif dalam blog saveyofanka.blogspot.com).

Yang lebih tak terbayangkan lagi, adalah batin ayah dan ibu beliau. Duh, gadis mereka yang masih belia, belahan jiwa, tumpuan kebanggaan, calon tukang insinyur, hilang… Hilang terbawa arus sungai. Mungkin remuk redam perasaan sang Ibu, hampir pecah hati sang ayah. Tapi siapa yang tahu, kedalaman hati dan ketegaran jiwa mereka.

Semua doa bertaburan lewat media sosial, lewat acara kampus, dan terlebih lagi lewat hati masing-masing sanak, teman, dan siapapun yang rela menyumbang doa. Namun seperti kata Tolstoi:

“Tuhan Maha Tahu, tapi Dia menunggu”.

Dia menunggu semua hati dipersatukan lewat empati. Dia menunggu masing-masing kita terlarut dalam doa. Dan pada waktunya, Dia berkehendak lain. Di hari ketiga pencarian, Yofanka ditemukan, tanpa kata.

***

Sekali lagi, (dan sudah berkali-kali) kita kembali diingatkan bahwa kematian bukanlah perihal usia. Bersiaplah setiap saat, ujar-Nya.[]

Arfan

___________
*** Innalillahi wainailaihi roji’un. Selamat menempuh petualangan baru…

Sumber foto: saveyofanka.blogspot.com

Tielman Terakhir Telah Tiada

Dalam arti luas, bicara tentang pahlawan berarti bicara akan manusia-manusia yang telah berperan positif bagi sekitarnya, dimanapun ranah perjuangannya. Untuk itu pahlawan tidak hanya identik dengan dunia perang. Dunia musik pun tak lepas dari pahlawan-pahlawan berjasa besar yang telah mengangkat martabat bangsa di blantika dunia.

Tepat di Hari Pahlawan (10/11) di penghujung tahun 2011, Andy Tielman, seorang pahlawan dunia musik tanah air telah berpulang menghadap Sang Maestro Nada. Beliau adalah dewa rock ‘n roll dunia pentolan The Tielman Brothers. Andy wafat pada usia 75 tahun di Amsterdam akibat menderita kanker sejak 2009. Andy Tielman pria kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan pada 30 Mei 1936 merupakan “the last man standing” yang memegang tampuk nama besar The Tielman Brothers. Wafatnya beliau berarti hilangnya saksi hidup kedigdayaan dunia musik Indonesia yang meledak di kala 1950-an.

Tunggu, dewa rock ‘n roll dunia, nama besar, dan kedigdayaan musik Indonesia, terdengar berlebihankah? Hmm… Sama sekali tidak. Sebut seluruh nama besar di dunia musik rock Indonesia di 10 tahun terakhir ini, niscaya mereka tak dapat mengungguli kebesaran The Tielman Brothers.

Dari Surabaya mengguncang Dunia
Jika Bung Tomo mengguncang dunia dengan memukul pasukan sekutu di Surabaya, begitupun halnya keluarga Tielman yang memulai ‘perjuangan’ dalam bermusik di kota yang sama. Berawal pada 1945, ketika itu lima Tielman bersaudara yang masih belia mulai berpentas membawakan lagu tradisional di Surabaya. Sang ayah, Herman Tielman, seorang kapten KNIL (angkatan bersenjata Belanda-Indonesia) yang memiliki bakat musik mendukung penuh kelima anaknya dengan melatih mereka memainkan alat musik.

The Tielman Family di Surabaya, Indonesia, 1947

Sedari awal Reggy (banjo, gitar) Andy (gitar), Ponthon (bass), Loulou (drum), dan Jane Tielman memainkan alat yang mereka pilih masing-masing dengan sangat memukau. Alhasil terbentuklah grup bernama The Timor Rythm Brother (TTRB) dengan posisi yang tidak pernah berubah sedari awal mereka memegang alat musik. Penamaan grup ini tidak terlepas dari asal usul moyang mereka yang berasal dari Timor. TTRB mulai menerima undangan untuk berpentas mulai dari acara privat di Surabaya hingga konser di berbagai kota besar di Indonesia.

Di awal terbentuknya TTRB, mereka selalu menampilkan musik tradisional dari berbagai daerah di Nusantara lengkap dengan peragaan tariannya. Sang ayah ikut serta dengan alat musik gitar, sementara ibu mereka, Flora Laurentine berperan sebagai pembawa acara. Pada Desember 1949 mereka tampil di Istana Negara di Jakarta atas undangan presiden Soekarno. Sejak 1951 mereka mulai mendaur ulang lagu-lagu hits dari musisi dunia seperti Elvis Presley, Chuck Berry, Les Paul, Bill Haley, dan lainnya.

Keadaan yang tidak kondusif di dalam negeri mengharuskan mereka hijrah ke Belanda pada suatu masa. Sang ayah Herman Tielman berpikir bahwa karier band ini akan lebih cemerlang di negeri kincir angin. Selepas beradaptasi, terbentuklah The Four Tielman Brothers (The 4 T’s) pada 1957. Ramalan ayahnya benar. Kelima anaknya berkarir cemerlang di dunia musik rock ‘n roll. Bahkan mereka tercatat sebagai yang pertama melahirkan sub genre indo rock, yaitu aliran rock ‘n roll yang dipengaruhi sound musik keroncong.

Saat itu musik Hawaii yang mendayu-dayu sedang menjadi tren di Eropa, berbagai pentas musik menjamur di kota-kota besar. Suatu waktu secara kebetulan The 4 T’s diundang oleh komunitas Hawaii untuk mengisi slot acara selama 20 menit. Tak disangka, dibalik latar belakang bergambar pantai dan pohon palm yang tenang, The 4 T’s tampil atraktif. Andy bermain gitar menggunakan gigi, Ponthon memainkan bass betot sambil tiduran, sementara Reggy menaiki bass sambil beratraksi dengan gitarnya, Loulou menyelingi dengan atraksi drumnya dan maju ke depan memainkan gitar Andy menggunakan stik drumnya. Belum pernah ada band yang melakukan hal segila itu. Akibatnya, mereka didaulat untuk tampil rutin pada gelaran selanjutnya.

Atraksi The Tielman Brothers dalam sebuah pentas di The Hague Zoo pada 3 Januari 1960.

Karena penampilan yang terbilang ekstrim untuk standar pentas musik di Eropa sekalipun, media semakin menyoroti band Tielman ini. Pada Januari 1959 mereka tampil di Jerman, dan untuk pertama kalinya penampilan keempat bersaudara ini mulai direkam dan ditampilkan di televisi Jerman. Sejak itulah ketenarannya semakin menjadi, mereka akhirnya dikenal sebagai The Tielman Brothers dengan julukan the Godfathers of Indo-Rock.

Inspirasi Musisi Dunia
Atraksi memainkan gitar di belakang kepala khas Andy Tielman dipercaya menginspirasi Jimi Hendrix yang kerap melakukan hal yang sama. Sang legenda George Harison bahkan mengakui terang-terangan bahwa The Tielman Brothers menginspirasi bandnya, The Beatles. Kala itu The Beatles sedang meniti karir di Hamburg, Jerman ketika mereka menyaksikan penampilan luar biasa dari The Tielman Brothers. George pun tak lupa memuji sang frontman Andy Tielman dengan sebutan “Andy The Indo-man“.

The Tielman Brothers telah menghasilkan puluhan lagu dalam puluhan vinyl dan kaset selama karir mereka sejak 1958. Hanya masalah minimnya dokumentasi & kearsipan yang menyebabkan nama besar dan karya The Tielman Brothers seolah tenggelam, bahkan di negeri asalnya sendiri, Indonesia. Tielman adalah nama besar yang tersembunyi di balik hingar bingar sejarah musik dunia. Mendiang Andy Tielman dkk. adalah pahlawan, karena dengan konsep indo-rock, mereka telah mewujudkan kedaulatan Indonesia dalam dunia musik.[]

Arfan

_________
Artikel terkait: Rolling Stone – Pionir Rock N’ Roll Dunia asal Indonesia…
Sumber gambar: http://indorock.pmouse.nl
Sumber video: http://youtube.com

Steve Jobs

Good Jobs & Good Bye!

__________
image by: Jonathan Mak
visit: apple.com/stevejobs