Archive | Opini RSS for this section

Tentang Baca Tulis

Menulis memerlukan riset, pencarian, pengutipan, penyaduran dan itu adalah bagian-bagian dari kegiatan membaca. Sementara, membaca memerlukan nalar dan telaah mendalam untuk bersepakat atau tidak terhadap tesis yang diajukan dalam teks. Jika ya bersepakat, kamu akan mengambil ide dalam bacaanmu diam-diam sebagai bahan perenungan dan pemikiran.

Kelak jika orang lain tahu darimana kamu bisa menuangkan pikiran dalam tulisan yang luwes, kamu tinggal berdalih terinspirasi dari bacaan tersebut. Atau kamu secara terang-terangan mengutip, tentunya dengan mencantumkan sumber supaya kelak dirimu tak di-cap plagiat.

Proses olah pikir berupa usaha baca-tulis seperti yang kusebut barusan sejatinya memang usaha yang menyenangkan, sekaligus melelahkan. Tapi apalah arti itu semua, ketika tulisanmu terpampang di koran minggu atau jurnal, tahulah kamu, kalau rasanya sedap nian. Jika kebetulan tulisanmu baik, membawa hal baru, sedap dibaca, kelak banyak orang mulai membahasnya. Sanjungan dan puji-pujian tentulah harapanmu bukan?

Saranku, jangan berkeinginan sesempit itu. Harapkan pulalah kritik, karena kritik itu baik. Tulisan tanpa kritik, artinya teks yang benar-benar benar, atau sampah. Tentunya kamu tidak menginginkan yang kedua, sekaligus berpikir bahwa tidak mungkin untuk menjadi yang pertama.

Tapi, menulis ya menulis, jangan kamu jadi bingung apalagi ketakutan menghadapi teori-teori atau pakem yang ada. Keluarkanlah, karena apa yang dipendam tak akan pernah ada manfaatnya, jangan-jangan malah membusuk dan meracuni jiwamu.

Niatkanlah menulis untuk dirimu sendiri. Tulisan, minimal menjadi wahana untuk bercakap, berdialog dengan dirimu sendiri. Musyawarahkan dengan dirimu: mana yang baik, mana yang buruk dari segala apa yang kau dapati dari pengalaman hidup. Jadikan tulisan sebagai jaring rapat untuk menyaring arus deras informasi, pastikan kamu mendapat ikan kalau bukan mutiara.

Urai benang kusut isme-isme yang memusingkanmu selama ini. Jalin benang-benang isme yang sedapat mungkin mampu kamu uraikan, jalinlah menjadi selimut yang kelak akan menghangatkan jiwamu.

Sungguh, jiwamu itu sangat ringkih. Rawatlah ia dengan baca-tulis.

Arfan

__________

Pesan Singkat

Ada yang tak kentara dari cara komunikasi lewat pesan singkat: nada suara dan mimik wajah.

Dalam komunikasi tatap muka, keduanya berperan penting untuk membentuk konteks percakapan. Sebuah kalimat bisa terdengar sebagai canda ketika diucapkan dengan nada ceria atau mimik jenaka. Kalimat yang sama, bisa terdengar sebagai hinaan ketika diucapkan dengan nada atau mimik yang lain.

Pada percakapan tatap muka, besar kemungkinan keseluruhan pesan langsung ditangkap oleh si penyimak. Kalaupun ada salah paham, berbalas respon bisa langsung dilakukan untuk klarifikasi.

Beda halnya dalam percakapan tekstual lewat gawai. Kecilnya kemungkinan mengekspresikan kalimat dengan nada suara dan mimik, memperbesar kemungkinan salah tafsir oleh pembaca pesan. Di sinilah biasanya kesalahpahaman sering muncul.

Mimik ketika kita hendak mengungkapkan pesan sedikit banyak bisa terwakili oleh ikon-ikon smiley. Tanda baca titik dua sebagai mata, atau titik koma sebagai mata berkedip, lumayan dapat mewakili konteks pesan teks, pesan seriuskah itu atau bercanda misalnya.

Lain lagi dengan nada suara. Nada ketika kita berbicara erat kaitannya dengan pemenggalan kalimat. Untuk mengakomodir nada suara dalam pesan teks, kita harus pandai-pandai menggunakan tanda baca. Nada suara yang ‘terbaca’ oleh lawan bicara ketika kalimat diakhiri tanda titik, tentu berbeda dengan yang diakhiri tanda seru.

Untuk itu, bijaklah dalam berkomunikasi tekstual lewat gawai. Ada baiknya, periksa kembali tulisan kita sebelum mengirimnya. Periksa kata, tanda baca. Sudah cukup dapat dipahamikah teks kita? Adakah potensi kesalahpahaman dapat muncul?  

Jika memang informasi yang perlu disampaikan benar-benar penting, ada baiknya sampaikan pula secara lisan, lewat telepon misalnya, supaya minimal ada tambahan ‘konteks informasi’ berbentuk nada suara.

Arfan

_________

Segalanya Indah Pada Waktunya

Oh, betapa sejuknya kalimat ini… “Segalanya indah pada waktunya.”

Menentramkan, menenangkan, karena membuat keputusasaan seolah sirna. Segala sesuatu menunggu gilirannya, dan bilamana saatnya mewujud, maka sesuatu tersebut akan terasa indah. Itu kira-kira maksudnya.

Namun hati-hati, jangan terlena. Jelas bahwa kalimat ini menekankan pada tujuan, lebih tepatnya, tujuan dalam dimensi ruang dan waktu. Tidak ada diksi yang menerangkan soal proses. Disinilah saya sering terkecoh.

Baca biografi para tokoh. Siapapun dia, dikenang sebagai apapun dia, hanyalah narasi kecil dari sekian ratus halaman biografi. Bahkan tak jarang, tentang siapa dia, hanyalah tertulis secara eksplisit dalam judul (bahkan sub-judul) biografi tersebut. Yang menjadi menarik justru kisah jatuh-bangun sang tokoh. Selalu, perjuangan berdarah-darahnya yang membuat tebal teks biografi. Itulah proses, yang dijual oleh penerbit-penerbit buku biografi.

Agamapun mengisyaratkan bahwa proses jauh lebih penting dari tujuan. Katanya, Tuhan tidak memandang bentuk, rupa, maupun harta seseorang. Ia melihat lebih kepada akhlak seseorang. Akhlak, dengan kalimat lain bisa dijelaskan sebagai tindak-tanduk seseorang dalam melakoni perjalanan menuju satu tujuan tertentu. Tak begitu penting apa tujuan orang tersebut, selama baik akhlaknya, baik cara untuk mendapat tujuan tersebut, tentu ganjaran baik akan Tuhan berikan.

Saya jadi teringat kisah berikut:

Ada seorang pemuda yang dititipi seekor kuda oleh Imam Ali yang hendak menunaikan shalat. Ketika itu terbesit dalam benak si pemuda untuk diam-diam mengutil pelana kuda titipan tersebut, dan ia betul lakukan. Di dalam, Imam Ali menyelesaikan keperluannya sambil mengantungi 2 dirham tanda terimakasih untuk diberikan kepada si pemuda yang menunggui kudanya di luar. Saat Imam Ali hendak menemui pemuda tadi, didapatinya si pemuda sudah tidak ada di tempat semula.

Seorang budak Imam Ali sedang melewati sebuah pasar ketika dia menemukan sebuah pelana yang tidak asing tergeletak dalam lapak seorang pedagang. Bertanyalah ia pada si pedagang, darimana ia mendapatkan pelana kuda ini. Si pedagang menjelaskan bahwa ada seorang pemuda menjual pelana ini kepadanya beberapa waktu lalu. Budak tersebut bertanya berapa harga pelana tersebut dan si pedagang menjawab 2 dirham.

***

Dari kisah di atas, rasanya bisa sedikit kita pahami bahwa sungguh segala ketentuan sudah ada dan pasti. Bagaimanapun kita berusaha, pada akhirnya kita akan mendapatkan hal yang itu-itu juga. Bukan masalah waktu ataupun seberapa hasilnya yang perlu kita risau. Titik fokusnya hanyalah pada bagaimana usaha kita untuk mencapai tujuan tersebut. Selalu tentang proses: cara yang baik, atau cara yang buruk.

Tujuan kita yang hakiki bisa jadi adalah proses itu sendiri. Pembelajaran kita terletak pada proses. Tidak begitu penting pada akhirnya gagal atau berhasil. Apa yang menjadi bernilai justru hanyalah proses.

Jadi, mungkin kita jangan terburu-buru merasa tenang ketika mendengar “segalanya indah pada waktunya”. Tenanglah saat sudah melakukan proses yang baik.[]

Arfan

__________

Negatif Positif

Pernahkah kamu mengalami kejadian yang membuat diri merasa tertampar begitu hebat? Misal, ketika satu kejadian yang sekonyong-konyong membawa memorimu pada satu titik tertentu, dan membikin tersadar seharusnya kamu memilih langkah A, bukan langkah B yang membawamu ke kondisi buruk. Lebih parahnya lagi, taruhlah A adalah langkah yang sudah lama kamu perhitungkan secara cermat, matang, dan yakin, namun tidak jadi kamu ambil karena hal-hal sepele. Sementara, taruhlah B adalah langkah yang kamu ambil berdasarkan nafsu sesaat dan tanpa pikir panjang.

Rasa sesal pasti bakal datang bertubi. Dan pasti menyakitkan. Tiba-tiba diri dinaungi energi negatif seperti amarah, rasa bersalah, mengutuk diri sendiri, kecewa, dan bentuk negatif lainnya.

Memang tiada jaminan langkah A akan membawa ke jalan yang lebih baik. Toh langkah tersebut tidak jadi diambil, maka kamu belum tahu hasilnya. Tetapi itu tadi, langkah A tersebut adalah buah perenungan dan kontemplasi yang tidak main-main. Sementara langkah B adalah keputusan yang datang tiba-tiba, lalu kamu ambil, dan hasilnya jelas: buruk. Dalam kasus ini, sangatlah wajar untuk menyesal dan mengasumsikan bahwa langkah A lebih baik dari B.

Kita semua sepakat, penyesalan selalu datang terlambat; Dan amarah, rasa bersalah, atau kecewa, tidak akan mengubah apapun. Yang sudah terjadi tak akan pernah terhapus di linikala memori. Kabar buruknya, energi negatif yang kadung bersemayam dalam diri tak akan pernah hilang. Bukankah sifat energi itu kekal?

Namun, kabar baiknya adalah energi bisa terkonversi. Artinya masih ada kesempatan untuk kita mengubah energi negatif yang merusak menjadi energi positif yang membangun. Sekarang tinggal bagaimana kita mencari cara untuk berdamai dengan diri sendiri, dan ini yang paling penting, konversi energi. Bayangkan betapa besar luapan energi negatif buah dari penyesalan yang dapat diubah menjadi energi positif seperti: semangat berkarya, suntikan keyakinan, atau kehendak untuk berbagi.

Ya, kita tinggal mencari cara untuk konversi energi. Cara saya untuk itu, dimulai dari yang sederhana, ya seperti inilah, menulis.[]

Arfan

__________

40 Hari

Empat puluh hari paling penting di hidup saya, dimulai pada malam 18 Juli. Kelak di hari ke-40, semua akan terjawab. Dan hari itu adalah hari baru bagi saya, untuk memulai kembali atau meneruskan apa yang telah dirintis.

Semoga memang benar inilah cara-Nya mendidik saya untuk lebih memantaskan diri saya menjadi imam, untuk lebih membijakkan pemikiran, untuk lebih menjadikan diri saya manusia dewasa seutuhnya.

Tak bosan dengan petuah Leo Tolstoi pada salah satu cerpennya:

“Tuhan Maha Tahu, Tapi Dia Menunggu.”[]

Arfan

__________

Karena Allah

Sampai kini saya masih belum paham apa arti dari kalimat-kalimat yang berakhiran dengan keterangan “…karena Allah”. Contoh kalimat yang sering saya dengar adalah: “Saya mencintai fulan/fulanah karena Allah”, “Saya melakukan ini/itu karena Allah”, atau “Berjuanglah karena Allah”. Jujur, kalimat-kalimat tersebut masih terdengar abstrak bagi telinga batin saya.

Kalimat berakhiran “…karena Allah” tersebut, secara harfiah masih mungkin saya bayangkan meski agak samar. Bahwa segala apa yang kita lakukan adalah berdasarkan padaNya. Artinya, Allah menjadi motivasi yang melatari segala tindak tanduk kita. Kira-kira begitulah, definisi yang saya bayangkan dan tentunya saya reka-reka sendiri.

Maksud saya, yang belum saya pahami adalah arti kalimat tersebut secara praktis.

Apakah yang dimaksud mencintai seseorang karena Allah? Saya belum paham. Sampai kini, saya mencintai seseorang karena seseorang tersebut memang memiliki arti khusus dalam hidup saya. Saya mencintai ibu karena ibu sayalah yang telah melahirkan dan membesarkan saya dengan segala pengorbanan penuh kasihnya. Andaikata saya lahir dari rahim wanita lain, mungkin saya akan mencintai wanita lain tersebut dan tidak pernah mencintai wanita yang menjadi ibu saya sekarang.

Apalah pula yang dimaksud melakukan sesuatu karena Allah? Juga saya belum paham. Saya beribadah karena perintahNya. Jika saya melanggarnya, maka saya akan mendapat hukumanNya. Saya tidak mau dihukum karena hukuman pasti berat dan menyusahkan saya. Jika perintahNya saya kerjakan, maka saya akan mendapat pertolonganNya, segudang pahala, bermacam kemudahan dalam hidup, keberkahan, dan keutamaan-keutamaan lainnya. Inilah yang saya mau, karena saya akan menjadi orang yang beruntung dan selamat, tentu dengan izinNya.

Dari dua ilustrasi di atas, terbuktilah apa yang saya lakukan didasari oleh sebuah motivasi yang jelas-jelas berfokus pada “Saya”. Perbuatan-perbuatan baik saya lakukan demi keuntungan dan kebaikan “Saya”. Pertanyaannya, dimanakah Allah?

***

Konon, pengetahuan-pengetahuan semacam ini ada tingkatan-tingkatannya. Dimulai dari tingkat terendah, yaitu syariat, tingkat pemahaman orang-orang kebanyakan. Lalu ada tingkat tarekat, kemudian makrifat, hingga tingkat tertinggi, hakekat.

Dan tiga tingkatan terakhir dari tingkatan-tingkatan tersebutlah yang melahirkan apa yang disebut cinta sejati, melahirkan apa yang dinamakan kebenaran universal. Yang membenamkan kemuliaan-kemuliaan kepada sufi. Yang membawa energi pada pengorbanan para nabi. Yang membuat Rasul S.A.W masih memikirkan keselamatan umatnya, bahkan sampai ketika ajal menjemput.

Jadi intinya, ‘perjalanan karena Allah’ ini masih saaaangat jauh….[]

Arfan

__________

Semacam Catatan Akhir Tahun

Seperti yang sudah-sudah, pagi di tahun baru adalah pagi yang sama, hanya berbeda nama. Pagi dimana harapan dan cita-cita dicetak ulang, tak lupa kadang harus ada redefinisi makna. Repetisi yang menjelma ritual–resolusi adalah harta karun di hari pertama. Tujuannya selalu mulia dan kemungkinannya tetap cuma dua: berhasil atau tertunda. Kemungkinan gagal? “Lho!” kata sang bijak bestari, “Kegagalan bukanlah kemungkinan melainkan pilihan sadar anda.”

Kalender tak pernah mau tahu. Dia cuma menunjukkan batas-batasnya, selanjutnya terserah kita… kamu dan aku. Oh, tak lantas jadi lebih berarti sobekan kalender terakhir itu, karena sesungguhnya hari-hari lain adalah sama istimewanya: perihal perannya merobek kita, waktu demi waktu. Merobek dendam yang terlalu usang, merobek harap yang terlalu anggun.

Satu Januari yang itu-itu juga, hanya saja semakin gemuk berkat tumpukan rencana lapuk dan hal-hal yang tak selesai. Dan kita yang akhirnya menanggung ini-itu, terpaksa terkoyak girang yang melonjak, atau (sekaligus) teriris duka yang sinis. Kita belum tahu–tapi kelak akan sadari–kemungkinan 1 Januari yang makin langsing karena hasrat yang lunas terbeli. Atau… mungkin 1 Januari yang kurus kering, akibat asa yang kini mati?

Bandul jam selalu berbalik arah. Sementara yang tak sabar akhirnya menyerah, dan yang tak sadar akhirnya berdarah. Begitulah adanya dari tahun ke tahun, dari abad ke abad sejarah. Tiada mesti selain pasrah. Toh, tiada pernah ujian dari-Nya melebihi apa yang kita sanggup tanggung, kata pemuka dalam ceramah.

Sorak sorai yang menemani malam penghujung masa, juga bunyi terompet dan letup kembang api sebagai anak kandung euforia, tak lantas pantas mengawal pergantian kala; tak juga bermakna untuk melepas masa. Karena sejatinya tak ada yang berganti selain angka. Detik demi detik, waktu sekedar merawat tugasnya, menggiring takdir untuk menemui lakon dalam kisah syahdunya: kita.[]

Arfan

__________
Ilustrasi: flickr.com