The Man

The Man

The Man who is dissatisfied with himself, what can we do?
-Quote di kaos kernet bis trayek Pancoran.

Advertisements

Segalanya Indah Pada Waktunya

Oh, betapa sejuknya kalimat ini… “Segalanya indah pada waktunya.”

Menentramkan, menenangkan, karena membuat keputusasaan seolah sirna. Segala sesuatu menunggu gilirannya, dan bilamana saatnya mewujud, maka sesuatu tersebut akan terasa indah. Itu kira-kira maksudnya.

Namun hati-hati, jangan terlena. Jelas bahwa kalimat ini menekankan pada tujuan, lebih tepatnya, tujuan dalam dimensi ruang dan waktu. Tidak ada diksi yang menerangkan soal proses. Disinilah saya sering terkecoh.

Baca biografi para tokoh. Siapapun dia, dikenang sebagai apapun dia, hanyalah narasi kecil dari sekian ratus halaman biografi. Bahkan tak jarang, tentang siapa dia, hanyalah tertulis secara eksplisit dalam judul (bahkan sub-judul) biografi tersebut. Yang menjadi menarik justru kisah jatuh-bangun sang tokoh. Selalu, perjuangan berdarah-darahnya yang membuat tebal teks biografi. Itulah proses, yang dijual oleh penerbit-penerbit buku biografi.

Agamapun mengisyaratkan bahwa proses jauh lebih penting dari tujuan. Katanya, Tuhan tidak memandang bentuk, rupa, maupun harta seseorang. Ia melihat lebih kepada akhlak seseorang. Akhlak, dengan kalimat lain bisa dijelaskan sebagai tindak-tanduk seseorang dalam melakoni perjalanan menuju satu tujuan tertentu. Tak begitu penting apa tujuan orang tersebut, selama baik akhlaknya, baik cara untuk mendapat tujuan tersebut, tentu ganjaran baik akan Tuhan berikan.

Saya jadi teringat kisah berikut:

Ada seorang pemuda yang dititipi seekor kuda oleh Imam Ali yang hendak menunaikan shalat. Ketika itu terbesit dalam benak si pemuda untuk diam-diam mengutil pelana kuda titipan tersebut, dan ia betul lakukan. Di dalam, Imam Ali menyelesaikan keperluannya sambil mengantungi 2 dirham tanda terimakasih untuk diberikan kepada si pemuda yang menunggui kudanya di luar. Saat Imam Ali hendak menemui pemuda tadi, didapatinya si pemuda sudah tidak ada di tempat semula.

Seorang budak Imam Ali sedang melewati sebuah pasar ketika dia menemukan sebuah pelana yang tidak asing tergeletak dalam lapak seorang pedagang. Bertanyalah ia pada si pedagang, darimana ia mendapatkan pelana kuda ini. Si pedagang menjelaskan bahwa ada seorang pemuda menjual pelana ini kepadanya beberapa waktu lalu. Budak tersebut bertanya berapa harga pelana tersebut dan si pedagang menjawab 2 dirham.

***

Dari kisah di atas, rasanya bisa sedikit kita pahami bahwa sungguh segala ketentuan sudah ada dan pasti. Bagaimanapun kita berusaha, pada akhirnya kita akan mendapatkan hal yang itu-itu juga. Bukan masalah waktu ataupun seberapa hasilnya yang perlu kita risau. Titik fokusnya hanyalah pada bagaimana usaha kita untuk mencapai tujuan tersebut. Selalu tentang proses: cara yang baik, atau cara yang buruk.

Tujuan kita yang hakiki bisa jadi adalah proses itu sendiri. Pembelajaran kita terletak pada proses. Tidak begitu penting pada akhirnya gagal atau berhasil. Apa yang menjadi bernilai justru hanyalah proses.

Jadi, mungkin kita jangan terburu-buru merasa tenang ketika mendengar “segalanya indah pada waktunya”. Tenanglah saat sudah melakukan proses yang baik.[]

Arfan

__________

Men plan. God laughs.

“Men plan. God laughs.”

~Anonymous

Mual

Saat paling memualkan bagi saya adalah ketika hati paham rasa namun pikir gelap kata.

–Perenung yang kurang baca, minim daya ungkap.

Keberkatan Waktu

Jika kita tidak menyediakan waktu untuk Allah, maka kita tiada pernah punya waktu untuk apapun.

(Kesimpulan sementara tentang keberkatan waktu. Saripati dari pengalaman dan perenungan sabda-sabda.)

STUDIA HUMANIKA “Media Budaya, Budaya Media”

(Bagian II: Sisi Filosofis/Wacana)

Latar Belakang
Pada penghujung abad ke-20 dan awal abad ke-21, muncul arus balik sekularisasi atau penentangan terhadap sekularisme. Dengan arus balik tersebut, dinding-dinding pemisah antara entitas agama, sainstek dan sosial-budaya mulai lebur. Batasan antara sistem nilainya tidak lagi sepekat dahulu, ketika sekularisasi masih sangat kuat berpengaruh.

Meski telah terjadi arus balik sekularisasi, hubungan antara sains-teknologi, sosbud, dan agama, masih menghadapi dua permasalahan besar:

Pertama, masih berkembang anggapan di antara banyak para ilmuwan dan teknokrat (termasuk di ITB), bahwa agama menghambat perkembangan sainstek. Karena itulah, sekularisasi masih banyak didukung kaum ilmuwan dan teknokrat modern.

Kedua, adanya sistem nilai/ideologi tunggal yang sangat berkuasa/berpengaruh. Sistem tersebut adalah sistem nilai/ideologi ekonomi. Ideologi ini merengsek ke semua sistem dan memangsa nilai-nilai dari sistem-sistem tersebut.

Karena MEDIA menjadi ranah PERTEMUAN dan PERTEMPURAN antara ketiga sistem nilai di atas, maka ia menarik untuk dikaji.

Tujuan pengkajian ini adalah membangun sebuah STRATEGI KEBUDAYAAN yang memungkinkan terjadi DIALEKTIKA YANG SEHAT antara sistem AGAMA, SAISNTEK dan SOSBUD. Kajian media dalam kerangka strategi kebudayaan Indonesia, akan menyediakan dasar pemikiran, skenario-skenario dan model strategi kebudayaan dalam ranah media tersebut. Read More…

Birokrasi

Segala apa yang masih bisa dipersulit, mestilah dipersulit.
Segala apa yang tidak mudah, haruslah tetap tidak mudah.
Untuk itu semua birokrasi ada.

~Pengantar pelamar kerja yg sedang mempersiapkan berkas-berkas lamaran kerja.