Tag Archive | animasi

Review: The Old Man and the Sea

Santiago dan Marlin Itu…

Poster film The Old Man and the Sea.

Karya sastra yang indah memang tak pernah berhenti sampai sebatas teks. Setelahnya, akan selalu bermunculan karya tafsir tentangnya. Contoh populernya yaitu film. Film adaptasi merupakan media yang menggoda untuk menjadi alternatif bentuk dari karya prosa, cerpen, atau drama. Menggoda, karena di dalamnya seolah terjadi perdebatan imajinasi: imajinasi penonton (pembaca) melawan imajinasi sineas. Dalam konteks ini, menurut saya, tidak banyak film adaptasi yang terbilang berhasil.

Di antara yang sedikit itu adalah film pendek berjudul The Old Man and the Sea (rilis 1999) karya Alexander Petrov. Dari judulnya saja sudah bisa diterka, film ini adalah adaptasi karya Ernest Hemingway berupa novela berjudul sama, The Old Man and the Sea (terbit 1952). Karya penting Hemingway yang mengantar penulisnya memenangkan Pulitzer pada 1953 itu diadaptasi oleh Petrov dalam bentuk animasi berdurasi 20 menit saja. Lewat animasi pendek ini, Petrov mampu menyuguhkan secara utuh imajinasinya tentang kisah Santiago, nelayan tua yang heroik itu.

***

Di tengah kegamangan karena keberuntungannya yang makin tumpul, Santiago diam-diam masih memelihara semangat mudanya. Suatu malam, dengan diantar Manolin, bocah didikannya, Santiago berangkat melaut bersama puluhan nelayan di kampungnya. Santiago memisahkan diri. Di tengah laut, hanya ada ia, sampan, dan beberapa mata pancing. Satu persatu mata kail ia masukan ke kedalaman laut. Tak disangka-sangka, ada seekor ikan yang menyambar umpan. Dari tarikannya, Santiago menebak bahwa ini ikan besar. Santiago berjuang menarik tali pancing. Ia merasa karirnya sebagai nelayan belumlah habis.

Setelah seharian tarik ulur, seketika ikan yang tersangkut pada kail itu melompat ke udara. Santiago terbelalak ketika mengetahui bahwa ia sedang melawan marlin raksasa yang ukurannya lebih besar dari sampannya. Walau kekuatannya hampir habis dan tangannya perih teriris tali pancing, semangat mudanya yang belum padam membakar Santiago untuk terus berjuang menangkap marlin tersebut. Padahal Santiago bisa berhenti kapan saja ia mau. Namun dibalik semuanya, sebenarnya Santiago sedang memperjuangkan rasa yang terselip di batin. Sebuah rasa pembuktian yang tak lain ditujukan kepada diri sendiri: bahwa ia masih mampu!

Begitulah kira-kira sinopsis film juara kategori animasi pendek Academy Awards tahun 1999 ini. Banyak hal menarik dalam novela The Old Man and the Sea, yang terkenal karena bentuk deskriptifnya yang kuat, diringkas secara visual oleh Petrov dalam animasinya. Mulai dari konflik batin hingga konflik Santiago saat bergumul melawan ikan marlin, hampir semuanya persis tergambarkan. Kekurangan utama film ini, terutama adalah lemahnya penokohan Manolin, bocah yang sering menemani kegiatan Santiago. Dalam novela, penokohan Manolin termasuk kuat, karena ia bisa membawa dialog yang kelak akan menggambarkan kisah panjang Santiago. Namun begitu, film ini tetap mengandung kekuatan novela Hemingway yang paling sentimentil, yaitu kontemplasi pribadi seorang nelayan tua tentang kebanggan, kemuraman, hingga keyakinan hidup.

Adegan film The Old Mand and the Sea.

Secara umum, film ini berhasil membawa ruh yang terdapat dalam karya tulis aslinya. Jika boleh menganalisa, saya rasa ada dua hal utama yang memengaruhi keberhasilan film adaptasi ini:

Pertama, karya tulis yang diadaptasi menjadi film ini sedari awal merupakan karya yang ringkas dan padat.

The Old Man and the Sea karya Hemingway adalah prosa bertempo cepat dengan sedikit penokohan, serta konflik yang fokus dan tidak melebar. Beberapa menyebutnya novela, lebih panjang dari cerpen, namun tidak sepanjang novel. Walhasil, ide cerita yang diangkat menjadi sinema sudah bulat. Maka tidak perlu lagi menyaring secara berlebihan bagian-bagian tertentu yang akan difilmkan (seperti kebanyakan film adaptasi). Dengan kata lain, penonton yang telah membaca karya Hemingway tidak akan kecewa karena kehilangan terlalu banyak bagian novela; Sementara, penonton yang belum sempat membaca tidak akan kebingungan, karena plot cerita dalam film sama bernasnya dengan yang ada dalam buku.

Kedua, pemilihan teknik animasi yang tepat.

Ini yang menurut saya paling menarik. Alih-alih memanfaatkan teknologi digital, Aleksander Petrov sang animator, memilih teknik animasi manual. Ia menggambar rincian adegan per adegan untuk kemudian disatukan dalam komputer. Teknik ini, apalah namanya, persis seperti pada pembuatan film kartun tradisional, ribuan gambar yang kemudian ditampilkan bergantian secara periodik sehingga menghasilkan kesan bergerak. Petrov membuat hampir 29,000 gambar (!) untuk menghasilkan 20 menit gambar bergerak. Dalam animasi, ini hal yang wajar. Tapi tunggu dulu, teknik menggambar Petrov betul-betul manual. Ia menggunakan pastel yang dioles pada kaca sebagai kanvas, yang dibentuk sedemikian menggunakan jemari hingga menjadi lukisan yang diinginkan. Di titik inilah saya terkagum-kagum dengan karya animator asal Rusia ini.

Nah, ini maksud saya. Teknik menggambar Petrov yang menggunakan jemari sebagai kuas dan kaca sebagai kanvas, menghasilkan gambar-gambar realis yang boleh dikata tidak sungguh-sungguh menyerupai objek aslinya. Tepat seperti bentuk bayangan dalam kepala seseorang ketika sedang membaca karya sastra. Itulah mengapa saya begitu nyaman menonton film adaptasi ini, karena tidak merasa sedang didikte untuk mengikuti imajinasi pembuat film. Walhasil, sebagai penonton saya tidak terjebak untuk membandingkan film dengan imajinasi pribadi hasil pembacaan karya Hemingway tersebut. Toh, gambar animasinya cukup kabur untuk dapat dikatakan mendikte, namun cukup jelas untuk bercerita.

Dalam konteks film adaptasi sebagai “adu debat imajinasi”, seperti yang saya kemukakan di awal, teknik animasi Petrov berhasil berdiplomasi dengan santun kepada penontonnya. Lewat animasinya, Petrov seolah menawarkan tafsirannya atas karya Hemingway, namun tetap mempersilahkan penonton mengagumi imajinasinya sendiri.[]

Arfan

__________
The Old Man and the Sea (1999)
Sutradara: Aleksandr Petrov | Penulis: Ernest Hemingway (novel), Aleksandr Petrov (skenario) | Pengisi suara: Gordon Pinsent, Kevin Duhaney and Yôji Matsuda.

Sumber gambar: resensi-resensi-film.blogspot.com & screen captured video.

Review: Persepolis

Memoar Marjane Satrapi

Poster film Persepolis.

Majalah Matabaca (April, 2008) pernah mengangkat profil D. Sastro dalam salahsatu edisinya yang fokus membahas tentang komik. Dari satu artikel saya baru tahu, Dian mengidolakan Marjane Satrapi, komikus wanita asal Iran penggarap kisah Persepolis. Saya pun mulai penasaran dengan Marjane Satrapi, karena idolanya idola saya mesti jadi idola saya juga. :D

Persepolis (2003) adalah salah satu karya Marjane ‘Marji’ Satrapi yang paling sukses. Komik bernuansa monokrom ini menggambarkan memoar Marji tentang masa-kecil s/d remaja-nya yang penuh konflik kejiwaan. Bisa dikatakan Persepolis adalah autobiografi Marjane Satrapi.  Selain komik, ternyata Persepolis didedah dalam animasi yang juga disutradarai dan ditulis oleh Marjane (rilis 2007). Berhubung kesempatan menyimak animasinya datang lebih dulu ketimbang membaca komiknya, maka resensi kali ini ditulis berdasar amatan terhadap film Persepolis.

Persepolis, animasi monokrom yang disadur dari komik Persepolis dan Persepolis 2, berkisah tentang memoar seorang tokoh utamanya, wanita Iran bernama Marjane Satrapi. Lewat gaya naratif Marji yang tiba-tiba teringat masa kecilnya ketika berada di bandara, membawa kisah Persepolis bergulir dalam potongan-potongan kenangan.

Potongan kisah diawali dari gejolak Revolusi 1979 di Iran, dimana terjadi transisi pemerintahan Iran dari monarki menuju Republik Islam. Di tengah latar seperti itu, Marji kecil tumbuh dalam sebuah keluarga liberal yang memegang prinsip kebebasan berpendapat. Sejak dini Marji sudah gemar berdiskusi tentang ini itu, sekaligus terbiasa mengutarakan pendapat di tengah keluarga. Lewat tokoh ayah, paman, serta–terutama–neneknya, Marji belajar banyak hal tentang kehidupan, mulai dari sistem ketatanegaraan, hubungan sosial, hingga masalah integritas diri lewat wawasan keperempuanannya.

Hal-hal yang muncul kemudian–terutama di kalangan akar rumput–sebagai buah revolusi, seperti tindakan represif pemerintahan, fundamentalisme, dan pemberlakuan hukum Islam, menjadi konflik dalam kisah pertengahan Persepolis. Pada masa ini polisi moral berkeliaran di pemukiman demi menegakkan syariat Islam. Hal-hal seperti kewajiban mengenakan chador bagi perempuan, pemisahan laki-perempuan dalam sekolah umum, atau pelarangan konsumsi produk barat digambarkan oleh Marjane secara karikatur. Sangat menarik.

Kisah berlanjut ke masa perang Iran versus Irak. Dalam kondisi kritis ini, orangtua Marji memutuskan untuk memindahkannya ke Wina. Marji remaja yang masih dilanda kesedihan karena untuk kali pertama berpisah hidup dengan keluarganya, langsung diberedel dengan kultur barat yang terlampau asing baginya. Pada masa peralihan menuju dewasa hal-hal sentimentil seperti persahabatan, percintaan, dan kontemplasi pribadi cukup mendominasi jalan cerita. Bagi saya, bagian ini yang paling membosankan alias antiklimaks yang rada mengecewakan.

***

Adegan animasi Persepolis.

Mozaik yang menurut saya menarik adalah masa-masa Marji kecil yang bercita-cita menjadi nabi, serta sering membayangkan dirinya sedang berdialog dengan Tuhan. Kecuali itu, masa pemberlakuan hukum Islam yang ditafsir secara tunggal oleh pemerintah yang berkuasa kala Marji remaja adalah kisah yang paling menarik. Marjane Satrapi, lewat tokoh Marji remaja mengritik kebijakan syariat Islam tersebut secara vulgar. ‘Bahasa’ humor khas komikus sangat kentara di bagian pertengahan ini, walau cenderung mendeskreditkan sebuah paham tertentu.

Marjane Satrapi dengan cerdas menterjemahkan hal-hal sensitif keagamaan dalam humor satir lewat penokohan Marji remaja yang bengal, namun tetap menempatkan diri sebagai feminin. Tidak lupa musik latar film ini sangat menarik karena memadukan bebunyian khas Timur Tengah dengan nada-nada kekinian. Alhasil membawa nuansa original bagi animasi.

Menonton Persepolis, saya mendapatkan bahwa Marjane Satrapi sedang berkhutbah. Khutbah yang tidak kentara dan cenderung bernuansa karikatur: melebih-lebihkan bagian tertentu untuk menggambarkan keseluruhan pandangannya: tentang Revolusi Iran, tentang fundamentalisme, dan lebih dari itu, tentang feminisme.[]

Arfan

__________
Persepolis (2007)
Sutradara: Vincent Paronnaud, Marjane Satrapi | Skenario: Marjane Satrapi (comic), Vincent Paronnaud (scenario) | Pengisi suara: Chiara Mastroianni, Catherine Deneuve and Gena Rowlands.

Sumber gambar: impawards.com & screen captured video.

Review: Lakon Pada Suatu Ketika

Upin dan Ipin? Lewat!

Wuih… Upin & Ipin doang mah lewat! Begitu ujar saya dalam hati ketika pertama kali melihat cuplikan animasi berjudul Lakon Pada Suatu Ketika.

Animasi diawali dengan latar pasar di satu kota, yang memperlihatkan kesibukan masyarakat pinggiran. Lalu muncul tokoh, seorang kakek yang sedang menunggu pesanan mie rebus di satu kios. Oh ya, penggambaran tokoh kakek ini sekilas persis tokoh kakek pada film Up. Tiba-tiba terjadi sesuatu yang luar biasa yang pada akhirnya merubah jalan cerita ke ide film The Transformer. Wah, pokoknya mengejutkan dan bikin senyum-senyum sendiri. Silakan tonton kalau tidak percaya.

Adegan animasi Lakon Pada Suatu Ketika.

Kota yang menjadi latar cerita nampaknya Jakarta, terlihat dari detil logo DKI pada papan billboard tentang pajak, gedung, bemo, dan bus kota. Detil-detil yang sangat sengaja dipersiapkan oleh pembuat animasi ini pantas diacungi jempol. Menariknya, detil-detil tersebut sangat dekat dengan keseharian masyarakat kita. Contoh detil yang kentara diantaranya gerobak bakso, poster Iwan Fals, botol kecap, mangkok bergambar ayam jago, bungkus rokok 234. Belum lagi karakter serta pakaian tokoh-tokohnya, sangat khas Indonesia.

Animasi berdurasi 4 menit ini diunggah (8/12) oleh Lakon Animasi, (nampaknya) sebuah studio animasi asal Solo, Indonesia. Begitu setidaknya info minim yang tercantum di laman Facebook-nya. Laman webnya belum lagi rampung, tidak ada info selain tautan dan gambar. Kurang jelas apa dan siapa di balik cuplikan animasi yang menurut saya sangat mengagumkan ini. Juga kurang jelas maksud diunggahnya video ini. Apakah sebagai trailer, promo, atau sekedar unjuk karya? Entahlah.

Yang jelas cuplikan animasi ini ternyata bersambung, dan kita disuruh menunggu hingga 2012 untuk melihat lanjutannya. Hmmm, terlihat seperti strategi promosi film panjang. Semoga saja betul, karena industri film dalam negeri butuh film animasi seperti ini. Dan jika betul, sekali lagi, Upin Ipin doang mah lewat![]

Arfan

__________
Situs terkait:
Streaming video
http://www.facebook.com/lakonanimasi
http://www.lakonanimasi.com/
http://vimeo.com/lakonanimasi

Sumber gambar: screen captured video.