Tag Archive | menulis

Tentang Baca Tulis

Menulis memerlukan riset, pencarian, pengutipan, penyaduran dan itu adalah bagian-bagian dari kegiatan membaca. Sementara, membaca memerlukan nalar dan telaah mendalam untuk bersepakat atau tidak terhadap tesis yang diajukan dalam teks. Jika ya bersepakat, kamu akan mengambil ide dalam bacaanmu diam-diam sebagai bahan perenungan dan pemikiran.

Kelak jika orang lain tahu darimana kamu bisa menuangkan pikiran dalam tulisan yang luwes, kamu tinggal berdalih terinspirasi dari bacaan tersebut. Atau kamu secara terang-terangan mengutip, tentunya dengan mencantumkan sumber supaya kelak dirimu tak di-cap plagiat.

Proses olah pikir berupa usaha baca-tulis seperti yang kusebut barusan sejatinya memang usaha yang menyenangkan, sekaligus melelahkan. Tapi apalah arti itu semua, ketika tulisanmu terpampang di koran minggu atau jurnal, tahulah kamu, kalau rasanya sedap nian. Jika kebetulan tulisanmu baik, membawa hal baru, sedap dibaca, kelak banyak orang mulai membahasnya. Sanjungan dan puji-pujian tentulah harapanmu bukan?

Saranku, jangan berkeinginan sesempit itu. Harapkan pulalah kritik, karena kritik itu baik. Tulisan tanpa kritik, artinya teks yang benar-benar benar, atau sampah. Tentunya kamu tidak menginginkan yang kedua, sekaligus berpikir bahwa tidak mungkin untuk menjadi yang pertama.

Tapi, menulis ya menulis, jangan kamu jadi bingung apalagi ketakutan menghadapi teori-teori atau pakem yang ada. Keluarkanlah, karena apa yang dipendam tak akan pernah ada manfaatnya, jangan-jangan malah membusuk dan meracuni jiwamu.

Niatkanlah menulis untuk dirimu sendiri. Tulisan, minimal menjadi wahana untuk bercakap, berdialog dengan dirimu sendiri. Musyawarahkan dengan dirimu: mana yang baik, mana yang buruk dari segala apa yang kau dapati dari pengalaman hidup. Jadikan tulisan sebagai jaring rapat untuk menyaring arus deras informasi, pastikan kamu mendapat ikan kalau bukan mutiara.

Urai benang kusut isme-isme yang memusingkanmu selama ini. Jalin benang-benang isme yang sedapat mungkin mampu kamu uraikan, jalinlah menjadi selimut yang kelak akan menghangatkan jiwamu.

Sungguh, jiwamu itu sangat ringkih. Rawatlah ia dengan baca-tulis.

Arfan

__________

Pesan Singkat

Ada yang tak kentara dari cara komunikasi lewat pesan singkat: nada suara dan mimik wajah.

Dalam komunikasi tatap muka, keduanya berperan penting untuk membentuk konteks percakapan. Sebuah kalimat bisa terdengar sebagai canda ketika diucapkan dengan nada ceria atau mimik jenaka. Kalimat yang sama, bisa terdengar sebagai hinaan ketika diucapkan dengan nada atau mimik yang lain.

Pada percakapan tatap muka, besar kemungkinan keseluruhan pesan langsung ditangkap oleh si penyimak. Kalaupun ada salah paham, berbalas respon bisa langsung dilakukan untuk klarifikasi.

Beda halnya dalam percakapan tekstual lewat gawai. Kecilnya kemungkinan mengekspresikan kalimat dengan nada suara dan mimik, memperbesar kemungkinan salah tafsir oleh pembaca pesan. Di sinilah biasanya kesalahpahaman sering muncul.

Mimik ketika kita hendak mengungkapkan pesan sedikit banyak bisa terwakili oleh ikon-ikon smiley. Tanda baca titik dua sebagai mata, atau titik koma sebagai mata berkedip, lumayan dapat mewakili konteks pesan teks, pesan seriuskah itu atau bercanda misalnya.

Lain lagi dengan nada suara. Nada ketika kita berbicara erat kaitannya dengan pemenggalan kalimat. Untuk mengakomodir nada suara dalam pesan teks, kita harus pandai-pandai menggunakan tanda baca. Nada suara yang ‘terbaca’ oleh lawan bicara ketika kalimat diakhiri tanda titik, tentu berbeda dengan yang diakhiri tanda seru.

Untuk itu, bijaklah dalam berkomunikasi tekstual lewat gawai. Ada baiknya, periksa kembali tulisan kita sebelum mengirimnya. Periksa kata, tanda baca. Sudah cukup dapat dipahamikah teks kita? Adakah potensi kesalahpahaman dapat muncul?  

Jika memang informasi yang perlu disampaikan benar-benar penting, ada baiknya sampaikan pula secara lisan, lewat telepon misalnya, supaya minimal ada tambahan ‘konteks informasi’ berbentuk nada suara.

Arfan

_________

Menulis, Tanggungjawab Akademis [3] (Selesai)

Tulisan terakhir, lanjutan dari tulisan kedua.

Tentang Proses Kreatif Menulis

Proses kreatif kepenulisan Hawe Setiawan layak ditiru oleh para penulis pemula. Terutama mereka yang ingin mulai melaksanakan tanggungjawab akademis dengan menulis di media massa. Kenapa? Karena Hawe termasuk produktif sebagai penulis tema kebudayaan lokal yang didasari pemikiran ilmiah.

Secara garis besar, proses kreatif Hawe lebih menitikberatkan pada faktor mentalitas menulis. Hawe berasumsi bahwa faktor teknis seperti gaya bahasa, prasyarat media massa, dan jenis-jenis tulisan sangat mudah dipelajari seiring kegiatan kepenulisan berlangsung.

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah membentuk motivasi pribadi. Tanyakan kepada diri sendiri: Untuk apa, untuk siapa, dan mengapa saya menulis? Apapun jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini, kelak akan menjadi motivasi pribadi yang memberikan hak prerogatif bagi penulis untuk terus berkarya.

Kedua, cintai bahasa, buku, dan sastra. Penulis yang mencintai bahasa akan terus memperbaiki kualitas kepenulisannya sesuai kaidah bahasa yang logis, bernas, dan efektif. Sementara buku, jelas merupakan sumber wawasan sekaligus ‘bahan bakar’ bagi penulis. Bagai dua sisi mata uang, penulis pastilah seorang pembaca. Sedangkan sastra berkaitan dengan kemasan tulisan. Baiknya kita menggunakan sastra sebagai salah satu metode untuk mengolah bahasa tulis, memilih diksi dan merangkai kalimat, serta menajamkan sensitifitas rasa bahasa. Sehingga tulisan ‘seberat’ apapun memiliki ‘ruh’ sekaligus cair untuk dibaca.

Ketiga, awali dengan resensi. Meresensi buku, merupakan cara Hawe untuk menerus menyambung kegiatan tulis-menulis. Selain bahan yang sudah tersedia untuk dibahas, yaitu isi buku itu sendiri, menulis resensi akan melatih daya kritis penulis dalam berpendapat.

Keempat, memilih bidang amatan spesifik. Artinya, tema besar kepenulisan hendaknya harus mulai ditentukan sejak awal, dan kelak perlu dijadikan koridor dan ciri kepenulisan seseorang. Tentunya, bagi para akademisi, bidang amatan tersebut sudah sangat jelas terlihat di depan mata, yaitu bidang keilmuan masing-masing. Namun itu tidak mutlak. Dengan memilih bidang amatan, penulis akan lebih spesifik dan jeli melihat sudut pandang sekaligus lebih mendalam mengupas tema. Ibarat sebuah jargon anonim tentang keilmuan: lebih baik sempit tapi mendalam, daripada luas tetapi dangkal.

Kelima, fokus. Lagi, hal ini berkaitan dengan bidang amatan yang menjadi ciri khas penulis. Konsistensi akan membuat penulis dikenal sebagai pemikir yang memiliki otoritas di bidang tertentu. Selain itu media massa dan publik  akan mudah mengenali penulis yang fokus terhadap bidang tertentu, karena tema tersebut adalah ‘alamat rumah’ seorang penulis.

Terakhir, menulis setiap hari. Cukup jelas.(rfun)

Bandung, Mei 2011

Menulis, Tanggungjawab Akademis [2]

Tulisan kedua, lanjutan dari tulisan pertama.

Mulai Dari Media Massa

Menurut Hawe Setiawan, menulis adalah realisasi tanggungjawab akademis kepada khalayak. Logika sederhana: apa yang diketahui seorang akademis mungkin perlu pula diketahui orang banyak. Menurutnya, menulis berarti menjawab tantangan untuk menjembatani menara gading kampus dengan masyarakat.

Hawe menyangsikan bahwa tradisi literasi akademis di tanah air masih melempem, kalah jauh dari negara tetangga. Contoh sederhana, banyak profesor yang dipandang sekedar dari pengalaman mengajar, bukan dari produktifitas kepenulisannya. Belum lagi membicarakan produktifitas tulisan akademis seperti text book atau jurnal ilmiah, lagi-lagi kita tertinggal jauh dari India bahkan Vietnam.

Perlu sebuah upaya peningkatan tradisi literasi di kalangan akademisi, diantaranya dengan membuat pengondisian sistematis yang menghubungkan antara perolehan gelar keilmuan dengan produktifitas tulisan. Terdengar rumit. Namun, ada cara sederhana yang kiranya dapat dijadikan titik awal tradisi literasi masyarakat akademis: menulis di media massa.

Hawe berpendapat, tugas besar masyarakat akademis adalah menulis pengetahuan yang dipegang, dalam bahasa populer. Dan media massa adalah sarana tepat. Media massa menjadi sangat efektif bagi akademisi untuk menyampaikan pemikiran terkait keilmuan yang dimiliki kepada masyarakat, mengingat skala distribusinya yang umum.

Lagi, menurut Hawe budaya literasi yang hendak ditingkatkan lewat tradisi menulis di media massa akan membawa nilai tambah berupa: peningkatan kualitas literasi masyarakat akademis, serta penguatan kondisi daya tahan kebudayaan.

Jika saya boleh menambahkan, menulis di media massa akan membuka wawasan sekaligus ruang diskusi di tengah masyarakat. Menulis di media massa artinya menggulirkan bola salju yang terus membesar mulai dari wacana (bahkan) sampai kepada pencerahan masyarakat. (bersambung)

Menulis, Tanggungjawab Akademis [1]

Oleh Arfan Nurhadi

Petani mencangkul, menggali lahan garapan demi menggemburkan tanah untuk kemudian dijadikan media penanaman bibit. Bibit yang selanjutnya akan tumbuh menjadi ketela, bulir padi, buah, atau sawit, yang kelak membawa maslahat bagi diri sendiri maupun bagi masyarakat. Begitupun seorang akademisi, menulis, menggali lahan keilmuannya demi menggemburkan logika untuk kemudian ditanami bibit. Bibit ide serta pemikiran yang selanjutnya akan tumbuh menjadi kritik, wacana, gagasan, atau ilmu, yang kelak membawa pencerahan bagi masyarakat.

Itulah analogi yang terlintas ketika mendengar metafor dari seorang Hawe Setiawan dalam sebuah kesempatan bincang-bincang:

“Sarjana yang tidak menulis, hampir seperti petani yang tidak mencangkul.”

Hawe Setiawan adalah seorang kolumnis, begitulah dirinya ingin disebut, sekaligus akademisi yang produktif mendedahkan pemikiran dalam tulisan yang kerap mewarnai berbagai kolom media massa. Tema kebudayaan, terutama kebudayaan Sunda adalah alamat pribadi kepenulisan Hawe dalam berkarya. Kecuali menulis, Hawe mengajar Jurnalistik dan Apresiasi Sastra di UNPAS serta Kebudayaan Sunda di Pascasarjana UPI. Baginya menulis merupakan kebutuhan penghidupan, ekspresi idealisme, dan sarana mewujudkan cita-cita besar tentang Indonesia yang memiliki strategi kebudayaan.

Berangkat dari pengalaman kepenulisan Hawe, saya mencoba membuat risalah kecil tentang menulis di dunia akademis dan kaitannya dengan media massa. Proses kreatif kepenulisan Hawe kiranya lebih dari cukup untuk digunakan sebagai referensi dalam tulisan ini. Mari kita mulai…

Sekilas Tentang Dunia Akademis

Pendidikan dasar baik formal maupun non formal dimanapun di negeri ini kelak bermuara di dunia kampus. Tentu jika siklus tersebut tidak terputus oleh masalah-masalah seperti kemiskinan, akses informasi, atau infrastruktur pendidikan. Tapi itu lain hal.

Dunia kampus kelak membentuk masyarakat akademis yang berkutat dengan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan. Segala permasalahan dan kebutuhan yang dikemukakan oleh masyarakat, mau tidak mau akan berakumulasi di kampus. Selanjutnya, latar belakang permasalahan akan diolah sesuai dasar-dasar teori yang mapan, dikupas dengan pisau analisis keilmuan, untuk kemudian menghasilkan kesimpulan yang bernas. Dalam keberlangsungannya, kesimpulan tersebut akan menjadi produk atau wacana yang solutif atau bahkan akan menjadi permasalahan baru yang menuntut kajian lebih lanjut. Dengan kata lain, solusi yang dihasilkan oleh dunia akademis akan menjadi manfaat bagi masyarakat sekaligus menjadi katalis untuk meningkatkan kualitas maupun kuantitas masyarakat akademis ke depannya.

Siklus dunia akademis tersebut terangkum dalam kata kunci Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian. Masyarakat akademis hendaknya mengindahkan tiga unsur paripurna tersebut. Karena begitulah dunia akademis seharusnya berlangsung, satu poin saja luput dari pelaksanaan, berarti kecacatan dunia pendidikan tengah terjadi.

Jika Tri Dharma adalah kewajiban yang diemban para akademisi, berarti segala cara, metode, maupun media yang mendukung terlaksananya ketiga unsur utama tersebut, pun menjadi wajib. Setelah pendidikan dan penelitian, entitas ilmu pengetahuan hendaknya bisa dimafaatkan seoptimal dan seluas mungkin oleh masyarakat. Untuk itu pengabdian menjadi penting, karena di sinilah terjadinya interaksi antara akademisi dan masyarakat awam. Salah satu, dari sekian banyak, jenis interaksi tersebut adalah tulisan. Dalam kaitannya dengan Tri Dharma, berarti membuat karya tulis merupakan sebuah kewajiban, sekaligus tanggungjawab akademis. (bersambung)

Dari Diary ke Koran Pagi

Oleh Arfan Nurhadi

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Ilustrasi by Hellokids.com; Edited by rfun.wordpress.com

Kalimat Pramoedya Ananta Toer di atas adalah sebuah keniscayaan dalam peradaban manusia modern. Perkataannya menyiratkan, menulis adalah syarat mutlak menjadikan ilmu kita bermanfaat. Pada titik tertentu menulis adalah sebuah dialog abadi. Artinya sebuah tulisan tercetak, besar kemungkinan kekal dalam ruang dan waktu dan terus membuka ruang dialog. Maka menulis merupakan salahsatu bentuk eksistensi seseorang. Menulis (seharusnya) jadi bagian kehidupan manusia, layaknya makan, minum, dan kegiatan reproduksi.

Tulisan membutuhkan media agar gagasan yang terkandung di dalamnya dapat berkelana ke ruang ide khalayak umum. Pelbagai media mulai yang konvensional hingga media maya tersedia sebagai sarana mendedah gagasan, salahsatunya adalah media cetak.

Media cetak (surat kabar, majalah, jurnal, dsb.) menjadi ruang yang efektif untuk berbagi pemikiran, gagasan, dan opini berbentuk tulisan. Sekali tulisan kita tercetak di halamannya, gagasan kita akan bertengger di ruang publik. Sayangnya, bukan hal yang mudah bagi pemula untuk menembus media cetak. Namun bukan mustahil, asalkan calon penulis tahu ketentuan dasar kepenulisan di media cetak.

Perhatikan Hal Teknis

Tiap media massa memiliki karakter khas; diantaranya karakter topik bahasan, gaya penulisan, hingga panjang tulisan. Maka, penting bagi calon penulis untuk memperhatikan ketentuan teknis seperti di bawah ini.

Pertama, perhatikan syarat penulisan naskah yang mencakup jumlah karakter dan format penulisan. Surat kabar biasanya mensyaratkan naskah artikel/opini berkisar antara 4000-5000 karakter. Perhatikan pula kaidah dasar penulisan (EYD, kutipan, dan tanda baca).

Kedua, perhatikan materi naskah. Topik naskah harus aktual, minimal masih hangat diperbincangkan. Untuk tema tulisan, ada media yang membebaskan penulis memilih tema, ada pula yang tematik. Perhatikan karakter media dan target pembaca. Hal ini berkaitan dengan gaya bahasa serta topik bahasan tulisan. Sebagai gambaran, gaya bahasa dan topik majalah remaja tentu berbeda dengan majalah bisnis.

Ketiga, perhatikan keunikan tulisan. Penting untuk mengolah judul dan teras paragraf (lead) semenarik mungkin. Gunakan sudut pandang yang berbeda dari kebanyakan tulisan dalam topik yang sama. Perhatikan unsur kedekatan (proximity) tulisan dengan pembaca. Gunakan bahasa jurnalistik dan istilah yang mudah dimengerti. Ulik sisi humanis pembaca; biasanya tulisan yang mengandung ketegangan (suspense), konflik, hingga ketidaklaziman lebih menarik.

Terakhir, hendaknya tulisan berisi gagasan baru lebih dari sekedar pemikiran umum (mainstream), bahkan sedikit kontroversial jika perlu. Tentu dengan tetap memperhatikan kaidah kebenaran, faktualitas, dan akurasi data.

Mengasah Keterampilan Menulis

Kemampuan menulis bisa dilatih. Semakin kerap menulis, semakin terasah cara berpikir dan alur logika kita. Pada akhirnya keterampilan menulis akan meningkat.

Banyak buku maupun pelatihan membahas kemampuan menulis, yang biasanya berkutat di metode menulis dan syarat kebahasaan. Namun, biasanya teori hanyalah teori. Seorang calon penulis tetap perlu memperbanyak kuantitas kepenulisan, sambil meningkatkan kualitas tulisan. Di bawah, saya menawarkan beberapa kiat membiasakan menulis.

Pertama, menulis resensi setiap buku yang dibaca. Tujuannya, mengasah kepekaan terhadap ide pokok yang terkandung dalam sebuah tulisan, melatih logika berpikir tentang keterkaitan alur tulisan, dan melatih keberanian berargumen terhadap gagasan orang lain.

Kedua, bersahabat pena. Ya, surat menyurat adalah cara efektif untuk melatih kemampuan naratif seseorang dan melatih kemampuan menuangkan gagasan. Awalnya saya mengira surat menyurat sudah punah di jaman serba elektronik ini. Namun, ternyata masih banyak komunitas-komunitas sahabat pena (pen-pals) lokal maupun internasional yang saya temukan di dunia maya. Jenisnya beragam, mulai dari berbalas surat elektronik (email), bertukar kartu pos, hingga surat menyurat tradisional menggunakan jasa pos. Yang menarik, dari kegiatan ini kita bisa mempelajari bahasa hingga kebudayaan baru.

Terakhir, menulis diary (catatan pribadi). Pendapat saya, kegiatan ini sangat membantu membiasakan menulis. Yang menarik, dalam menulis diary seseorang terbebas dari segala formalitas yang biasanya membebani mental menulis. Topik penulisan diary tidak terbatas, mulai dari catatan perjalanan, curahan hati, hingga hal-hal absurd sekalipun. Terpenting, hasrat kepenulisan dapat tersalurkan. Selanjutnya, jika mau, materi diary dapat diunggah ke dalam blog pribadi. Blogging menjadi semacam percobaan, apakah tulisan kita dapat dimengerti sehingga mengundang tanggapan (comment) orang lain atau tidak.

Selanjutnya, setelah terbiasa menulis, kita akan lebih paham selukbeluk menulis. Hal ini berguna untuk keperluan menulis yang lebih serius, diantaranya menulis untuk media massa. Akhirnya kepenulisan kita bisa beranjak dari diary ke koran pagi.(rfun)

Bandung, April 2011

Referensi

Holid, Anwar. 2010. Keep Your Hand Moving: Panduan Menulis, Mengedit, dan Memolesnya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Lasa Hs. 2006. Menulis Itu Segampang Ngomong. Yogyakarta: Pinus.

Putra, Bramma Aji. 2010. Menembus Koran: Cara Jitu Menulis Artikel Layak Jual. Yogyakarta: Leutika.

Menulis, Lima Masalah Empat Solusi

Oleh Arfan Nurhadi

Illustration by Suzannesutton.com; Edited by rfun.wordpress.comSeringkali saya menghadapi blank moment ketika hendak menuliskan kalimat pertama. Padahal waktu di toilet, di jalan, di kasur, ide berdesak-desakan di kepala menuntut dituliskan. Tapi apa daya, ketika mengambil tempat di depan monitor ide-ide tadi ludes hilang, sembunyi.

‘Rutinitas’ blank moment tersebut, mendorong saya untuk mulai menganalisis apa sebab hal itu kerap kali terulang. Saya mulai dari memikirkan kembali sejak momen kemunculan ide menulis. Berikut kronologisnya:

Dimanapun dan kapanpun muncul ide tentang suatu topik yang (menurut saya) menarik untuk dituliskan, biasanya saya catat dalam notes atau handphone. Sesampainya di depan komputer, saya mulai mencari-cari referensi buku cetak maupun artikel di web, sambil memikirkan kerangka sederhana tulisan. Setelah semua bahan terkumpul, saya lihat kembali pokok pikiran yang telah dicatat, untuk memastikan. Sampailah posisi pandangan di layar putih word processor, dengan posisi duduk rileks, posisi jemari berada di atas keyboard, dan tentu saja, posisi ide yang entah dimana. Blank!

Lima Masalah Menulis

Begitulah, selalu seperti itu. Namun, setelah saya renungi kronologi tadi, sebenarnya ide itu tidak serta merta hilang. Dia ada dan selalu ada. Hanya, ada saja ‘faktor x’ yang menghambat. Menurut (perenungan) saya, faktor-faktor yang dimaksud adalah:

Pertama. Terlalu berpikir serius. Hal ini kerap terjadi pada saya. Saya terlalu menganggap ‘ide’ sebagai ‘wahyu’ yang sepatutnya ditulis dengan mendalam, sedemikian berbobot, sekaligus dengan segala kecanggihan kata-kata. Apa hasilnya? Ide tadi tidak bergerak kemana-mana.

Kedua. Terlalu memikirkan gaya penulisan. Sepertinya hal ini adalah ekses dari proses pengumpulan referensi. Ketika mengumpulkan sumber terkait dengan ide awal, dengan sendirinya saya ‘terdampar’ berkali-kali di dunia tulisan karya orang lain. Dengan sendirinya pula saya terpengaruh gaya bertutur orang lain. Hasilnya? Saya terlampau bingung harus menulis gaya seperti apa.

Ketiga. Terlalu memikirkan kaidah penulisan. Ini hal teknis yang sering menyebalkan. Terlampau banyak informasi tentang tata cara menulis, bagaimana menulis artikel, feature, esai, cara mengutip, tanda baca, dan hal teknis lainnya yang sering menghambat saya dalam memulai tulisan.

Keempat. Terlalu takut salah. Ini masalah yang sering menghambat saya menulis. Saya sering takut salah mengutip, salah berkata-kata, salah berkesimpulan, dan lainnya. Hasilnya? Saya tidak pernah menemukan kesalahan, karena tulisan saja belum ada.

Terakhir. Terlalu takut tidak penting. Lagi, sebagai ekses pencarian referensi, kadang saya terlalu silau dengan opini-opini pakar, tokoh, atau para penulis begawan yang sudah malang melintang di dunia penulisan. Akhirnya saya selalu merasa tidak ada pentingnya saya menuliskan ide yang muncul. Toh, sudah banyak yang menulis dengan ide pokok yang sama. Toh tulisan mereka lebih baik, pikir saya.

Itulah masalah saya dalam menulis.

Empat Solusi

Masalah-masalah tersebut tentunya bukan tanpa solusi. Menurut saya urutan masalah di atas dapat dijawab dengan solusi-solusi berikut:

Keep it Short and Simple. Sebenarnya ini adalah kaidah yang lumrah dipakai para jurnalis media massa. Saya teringat, teori ini saya dapatkan dari salahsatu workshop jurnalistik yang pernah saya ikuti. Intinya berpikir sederhana (simple) tentang sesuatu topik, garap bagian yang kita paham, yang kita kuasai, lalu tuliskan dengan singkat (short), efektif, dan ringkas.

Keep your hand moving. Ini adalah solusi untuk masalah kedua dan ketiga. Kalimat ini milik Natalie Goldberg, salah satu penulis Amerika. Intinya gerakan terus tangan untuk menulis. Peduli setan tentang aturan, gaya bahasa, dan segala kaidah yang merecoki mood. Jangan pernah memperbaiki apapun selama kita menulis. Tumpahkan seluruhnya sampai kehabisan kata-kata. Toh ada tahap yang dinamakan editing. Barulah di tahap ini kita susun ‘tumpahan’ kata-kata menjadi paragraf-paragraf utuh yang berkelindan, runut, dan logis. Tentang gaya penulisan, saya pernah mendengar, hal itu lahir dengan sendirinya ketika sudah terbiasa menulis.

Keep positive. Katanya berpikir positif adalah solusi untuk masalah ketakutan. Jika ternyata salah, toh ada yang namanya revisi. Tentu, dengan sebelumnya mengakui kesalahan. Tidak ada yang aneh dengan kegiatan meralat. Hal yang wajar. Terpenting berpikir positif dan mengamini kesalahan sebagai sesuatu yang tidak perlu diulang nantinya.

Niatkan menulis untuk diri sendiri. Ini solusi bagi masalah terakhir saya. Tak peduli setidak-penting apa tulisan tersebut, toh untuk saya baca sendiri. Menulis untuk diri sendiri, memang terdengar aneh. Tapi saya yakin itu bukan kegiatan yang sia-sia. Kalaupun nantinya tulisan akan dipublikasikan (dalam blog, koran, atau majalah) kita sudah punya banyak bahan, tinggal bongkar-pasang, memolesnya, dan menerbitkannya.(rfun)

Bandung, April 2011