Tag Archive | pelesir

Hospitality Club – Bringing people together…

Tautan: http://hospitalityclub.org

Hospitality Club (HC) adalah situs jejaring silaturahmi yang memungkinkan para penggunanya untuk saling berkunjung dan saling menyediakan akomodasi bagi pengguna lainnya, baik pengguna lokal maupun mancanegara. Artinya, setiap member HC punya kesempatan untuk mendapatkan akomodasi gratis ketika sedang berkunjung ke kota atau negara tertentu.

Situs jejaring silaturahmi non-profit berbasis homestay network pertama di dunia ini didirikan tahun 2000. Sementara status sebagai jejaring silaturahmi terbesar telah diambil alih oleh CouchSurfing (CS), situs sejenis yang didirikan tahun 2003, karena tampilannya lebih modern dan lebih user friendly. Lebih dari itu CS merupakan situs for-profit. Dapat dibayangkan pengelolaan dan promosi situs yang lebih terorganisir, sehingga berhasil menjaring lebih banyak member.

Apa dan Bagaimana
Dengan jargon “bringing people together“, situs HC memang benar-benar membuka peluang bagi seluruh pelancong (traveller) di muka bumi ini untuk saling berkunjung dan saling bertukar informasi kebudayaan, dengan harapan besar mewujudkan kedamaian dunia. Begitu yang tertulis di halaman depan situs.

Member HC yang berencana untuk mengunjungi lokasi tertentu pada waktu tertentu, tinggal mencari database member yang bertempat tinggal di lokasi tujuan. Selanjutnya si calon tamu tinggal menghubungi si calon tuan rumah, untuk menanyakan kesediaan waktu/tempat bagi si calon pelancong. Setiap member berhak mengatur apa-apa saja yang mereka akan sediakan, dan apa saja yang tidak mereka sediakan bagi calon tamu.

Tidak ada urusan biaya di sini. Setiap member HC yang berminat untuk menyediakan akomodasi (baik berupa tempat tinggal sementara, kendaraan, atau waktu untuk guiding) melakukannya secara sukarela. Begitupun status keanggotaan dan pengurusan organisasi HC lokal maupun internasional, dilakukan secara sukarela.

Masalah kemanan? Tenang saja, setiap member akan saling memberi rate kepercayaan. Member tamu (guest) akan mengapresiasi laman profil member tuan rumah (host) yang pernah ia singgahi, begitupun sebaliknya. Alhasil, di setiap laman profil member, selalu ada keterangan tentang siapa saja yang pernah berkunjung dan kemana saja si member pernah berkunjung. Dan kita tinggal mempelajari ‘tingkat kebaikan’ si member lewat komentar-komentar yang dia terima.

Mungkin karena berbasis sukarela, maka situs HC sedikit membosankan dari segi tampilan. Bahkan update info situs dari pengelola pun sangat jarang. Makannya, member HC banyak yang beralih ke CouchSurfing, karena disana situsnya ‘lebih hidup’. Persis seperti para pengguna Friendster yang beramai-ramai beralih ke Facebook.

Saya pribadi mulai mengenal situs ini di 2008 setelah membaca buku Back “Europe” Pack: Keliling Eropa 6 Bulan Hanya 1.000 Dolar karya Marina Silvia K. (2008) yang bercerita dalam bukunya tentang keuntungan memanfaatkan jejaring HC untuk menekan biaya perjalanan ke luar negeri, terutama karena biaya akomodasi gratis.

Sayangnya situs Hospitality Club kini semakin meredup, banyak yang lebih memilih CouchSurfing karena itu tadi, situsnya ‘lebih hidup’.[]

Arfan
__________
NB: Ini laman profil saya di Hospitality Club: secure.hospitalityclub.org/hc/travel.php?cid=rfun

Bicara Harga di Karimunjawa

“Orang Bandung suka ngerusak harga. Maksa ingin dapat snorkel, dia bilang mau bayar berapapun. Akibatnya,nelayan-nelayan di sini jadi naikkin harga! Duh saya bilang!” sahut Pak Musairi.

Kepulauan Karimunjawa termasuk daerah administratif Jepara, Jawa Tengah. Kepulauan Karimunjawa memiliki 27 pulau yang membentang dari Barat ke Timur dengan ciri khas dan kelebihan masing-masing. Pulau yang terbesar adalah Pulau Menjangan Besar. Di pulau ini terletak pelabuhan penyeberangan kapal ro-ro yang menghubungkan Kep. Karimunjawa dengan Jepara dan Semarang.

Akses menuju Kep. Karimunjawa adalah dengan penyeberangan kapal cepat dari Semarang atau kapal ro-ro dari Jepara. Waktu tempuh menggunakan kapal cepat dari Semarang adalah 3 jam. Sedangkan penyeberangan dengan kapal ro-ro dari Jepara memakan 6 jam perjalanan, meskipun jarak Jepara-Karimunjawa lebih dekat. Berikut in jadwal penyebrangan Ke Karimunjawa:

Jepara – Karimunjawa (KMP Muria)

– Waktu tempuh 6 jam

– Harga tiket

Bisnis : Rp 25.000

VIP : Rp 50.000

– Jadwal keberangkatan :

Jepara – Karimunjawa:

Sabtu, Senin, dan Rabu, pukul 09.00.

Karimunjawa – Jepara:

Minggu, Selasa, dan Kamis, pukul 08.00

Semarang/Jepara – Karimunjawa ( KMC Kartini)

– Waktu tempuh 3 jam

– Harga tiket :

VIP Semarang – Karimunjawa : Rp 131.000

VIP Karimunjawa – Semarang : Rp 128.000

VIP Jepara – Karimunjawa : Rp 83.000

Bisnis Semarang – Karimunjawa : Rp 111.000

Bisnis Karimunjawa – Semarang : Rp 108.000

Bisnis Jepara – Karimunjawa : Rp 63.000

– Jadwal keberangkatan :

Senin : Setiap minggu pertama dan minggu ketiga

Semarang – Karimunjawa, 07:00 WIB

Jepara – Karimunjawa, 09:30 WIB

Hari Selasa : Setiap minggu pertama dan minggu ketiga

Karimunjawa – Semarang & Karimunjawa – Jepara, 11:00 WIB

Sabtu : Semarang – Karimunjawa, 08.30 WIB

Hari Minggu : Karimunjawa – Semarang, 14.00 WIB

Anda yang akan melakukan perjalanan ke Karimunjawa, disarankan untuk mengecek jadwal penyebrangan kapal dan harga tiket di:

ASDP Jepara : (0291) 591 048.

Pengalaman saya menaiki KMP Muria, cukup menyenangkan. Cukup bersih, WC-nya cukup nyaman, ada televisi yang biasanya menyajikan dangdut, dan kapal bergerak cukup lama untuk tidur siang atau main catur. :)

Selain membawa penumpang, KMP Muria juga membawa bahan-bahan pokok seperti kelapa, telur, beras, dll. Ada juga truk, mobil, dan motor yang ‘menumpang’ di dek bawah kapal.

Akomodasi dan Kebutuhan Sehari-hari
Konsentrasi penduduk terbanyak berada di pulau Menjangan Besar, yang juga merupakan gerbang menuju Kep. Karimunjawa. Di pulau ini terdapat banyak akomodasi mulai dari penyewaan rumah penduduk, cottage, hingga hotel. Pusat ‘kehidupan’ berada di pulau ini.

Harga penginapan di Menjangan Besar bervariasi antara 15.000, 125.000, hingga jutaan rupiah per malam per kepala. Tentunya harga berbanding lurus dengan fasilitas yang ditawarkan.

Biasanya, rumah penduduk menjadi andalan para backpacker yang ‘mengharamkan’ biaya mahal. Fasilitas rumah penduduk, menurut saya cukup mumpuni untuk hanya sekedar singgah. Fasilitas yang ditawarkan penduduk adalah wellcome drink (es kelapa muda), tempat tidur, wc, air minum galon, dan bahkan kita bisa minta dimasakkan makanan sehari-hari dengan biaya tambahan. Kami menginap di rumah Pak Musairi. Beliau orang Madura yang sudah puluhan tahun berada di Karimunjawa. Beliau sangat baik, kita sering mengobrol tentang ini-itu pada malam hari. Obrolannya seru. Oya, Pak Musairi menawarkan harga sewa rumah per kepala Rp 15.000 per malam.

Untuk urusan perut, selain bisa meminta penduduk untuk memasakkan makanan, kita bisa juga makan di warung Bu Ester. Begitulah, warung ini cukup terkenal, karena mungkin satu-satunya warung makanan di pulau Menjangan Besar. Penganan yang tersedia tidak terlalu istimewa, kira-kira seperti menu warteg di kota besar. Namun harga yang ditawarkan sangat cocok, kisaran 4.000-8.000 rupiah sekali makan, dengan menu nasi + lauk + sayur + teh manis. Cukup ideal untuk mengisi tenaga sebelum menjelajah pulau-pulau.

Ada beberapa warung kelontongan dan satu pasar tradisional yang menyediakan kebutuhan sehari-hari seperti mie instant, air minum, sendal jepit, rokok, sabun, dll. Tidak ada ATM disini. Maka para pelancong disarankan untuk membawa uang secukupnya dalam bentuk cash. Jika membawa kendaraan bermotor, perlu diketahui, tidak ada SPBU (yang berfungsi) disini. Maka kebutuhan bahan bakar hanya diperoleh secara eceran di pinggir-pinggir jalan. Biasanya warga setempat berjualan bensin premium di depan rumah mereka, dengan harga sekitar 7.000 per botolnya (entah 1 liter atau bukan, bensin dijual per botol, sebesar botol jamu).

Oya, tiap malam minggu, di kantor kecamatan selalu diadakan ‘layar tancep’ (canggih juga sih, pake infokus lho!). Kantor kecamatan terletak di seberang lapang bola, dekat pelabuhan kapal nelayan, dekat warung Bu Ester tadi. Setiap ada layar tancap, jalan di sekitar diramaikan oleh lapak –lapak dadakan, penonton berkerumun di pinggir lapangan, atmosfir hiburan rakyat sangat kental saat itu. Tapi ada satu yang mengganjal, suguhan layar tancap tersebut adalah… sinetron!

Pasokan listrik di Karimunjawa tidak penuh 24 jam. Nyala listrik terbatas pada pukul 18.00 hingga pukul 06.00 keesokan harinya. Maka, jika rombongan menginap di rumah penduduk, selain mengantri pemakaian wc, kita juga mengantri colokan listrik.

Adventure
Jika akan berpetualang ke Karimunjawa, idealnya secara rombongan, berkisar antara 10 -20 orang per rombongan. Kenapa? Karena dalam penyewaan kapal nelayan nantinya, harga sewa tidak terasa terlalu mahal. Harga sewa kapal nelayan kapasitas 10 orang berkisar antara Rp 300.000-350.000 per hari. Untuk kapasitas 20 orang, harga sewa kapal nelayan sekitar Rp 600.000.

Sementara itu, harga sewa alat snorkling adalah Rp 30.000 per hari. Satu set alat snorkeling berupa kacamata, snorkle, fin (kaki katak), dan pelampung. Jika anda jijik-an, disarankan bawa snorkel pribadi.

Nelayan yang menyediakan jasa keliling pulau di Karimunjawa baik-baik. Mereka sering merekomendasi tempat-tempat yang layak dikunjungi. Bahkan kita bisa meminta untuk di antarkan ke pulau-pulau terluar di Karimunjawa, seperti Pulau Nyamuk, asalkan cuaca sedang baik. Biasanya, satu kapal diawaki oleh 3 orang nelayan yang bertugas sebagai kapten, penunjuk arah, dan anak buah kapal. Kebetulan, kami menyewa kapal Pak Yadi, yang bekerjasama dengan pemilik rumah sewa (Pak Musairi).

Jika beruntung mendapatkan nelayan yang baik, selain jalan-jalan, kita akan diberi service khusus. Contohnya kami, Pak Yadi sering menangkapkan ikan untuk kami. Bahkan kami diajarkan cara-cara menangkap ikan, menjaring, memancing, bahkan memanah ikan.

Saat singgah di salah satu pulau, sementara kami ber-snorkling ria, Pak Yadi menjaring ikan, Mas Ubet memanah ikan, Pak Muzakir memancing ikan. Mereka sangat ahli. Setelah ikan-ikan terkumpul, kami membakar bersama-sama di tepi pantai. Perut kosong setelah ber-snorkling, terisi kembali oleh ikan bakar. Mantap!

Oya, tidak semua pulau ‘gratis’ untuk disinggahi. Biasanya ada pulau-pulau yang mematok harga sandar kapal, berkisar antara puluhan ribu. Para nelayan disana sudah hapal pulau mana saja yang gratis. So, ask them! Ada pula pengelola pulau yang mematok Rp 10.000 per kepala. Mudah ditebak, kami tidak mengunjungi pulau tersebut.

Satu pesan kami, sesama backpacker: jangan merusak harga! Ya, harga-harga di Karimunjawa sudah seragam, jangan dirusak dengan menaikkan harga demi mendapat yang anda inginkan. Contohya, jika sedang tidak ada stok sewa snorkel, lalu anda memaksa nelayan untuk mencarikannya dengan imbalan anda berani membayar harga diatas Rp 30.000. Jangan! Karena harga anda akan jadi patokan di lain waktu.

“Orang Bandung suka ngerusak harga. Maksa ingin dapat snorkel, dia bilang mau bayar berapapun. Akibatnya,nelayan-nelayan di sini jadi naikkin harga! Duh saya bilang!” sahut Pak Musairi.

“Om, saya tahu om mampu bayar berapapun, tapi jangan gitu dong Om. Nanti harga disini jadi rusak! Kasihan yang lain (wisatawan lain. –rfun)” kata Pak Musairi saat menceritakan pengalamannya menasihati wisatawan kaya.

Begitulah.[]

Arfan

__________
Foto: dokumen pribadi

Kepulauan Karimun Jawa

Karimun Jawa adalah kepulauan yang terletak di daerah Utara pulau Jawa, tepatnya 5°49’ – 5°57’ Lintang Selatan – 110°04′ – 110°40′ Bujur Timur di daerah Laut Jawa.

Karimun Jawa termasuk daerah di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Setidaknya ada 27 pulau yang dimiliki Kep. Karimun Jawa

Banyak aktivitas yang dapat dilakukan oleh para pesiar, entah yang bergaya backpacker atau yang bergaya koper. Aktivitas yang dapat dilakukan di Kep. Karimun Jawa diantaranya adalah:
-Diving
-Snorkling
-Memancing
-Mengamati Burung, Terumbu Karang
-Berenang
-dll

Untuk mencapai Kep. Karimun Jawa dapat melewati Semarang atau Jepara.
Bagi para backpacker, dengan budget minimalis, disarankan menyebrang dari Jepara. Jalur itu pula yang kami lalui, demi menekan pengeluaran. Berikut rinciannya:

::Bandung – Jepara (11 jam), Bis Kramat Djati, dengan tiket Rp 72.000,-
::Jepara – Pelabuhan (10 menit), Becak, Rp 10.000,-
::Jepara – Karimun Jawa (6 jam), KMP Muria, Rp 28.500,-

Oke, setelah mendarat di Karimun Jawa, tinggal cari penginapan deh. Bebas, banyak banget penginapan di daerah ini. Mulai dari rumah penduduk, home stay, hotel, sampe pulau pribadi.Kisara harga: Rp 15.000,- sampe tak terbatas per kepala.

Nah, untuk kegiatan selama di Kep. Karimun Jawa, pinter2nya kita untuk mencari nelayan, warga atau siapapun untuk kita ajak berkegiatan bersama. Saya ceritakan kegiatan kami selama disana dalam tulisan berikut: Bicara Harga di Karimunjawa.

Oya, sangat disarankan mengunjungi Kep. Karimun Jawa pada bulan Maret-Agustus. Cuaca sedang optimal di saat ini. Diluar bulan-bulan ini, cuaca tidak menjanjikan. Gelombang tinggi. Perjalanan jadi terbatas.

Bintang 4,5 untuk Kep. Karimun Jawa
(setengah bintang dikurangi oleh CUACA BURUK, :))

Nol Rupiah, Susur Pantai di Gunung Kidul

 “Dari Sundak gak ada angkutan Mas. Kalo mau, jalan dulu ke pantai Baron, baru di sana ada angkutan!”

Itulah petuah terakhir supir minibus saat menurunkan kami di pantai Sundak. Namun, karena euphoria berlebih akan keindahan pantai, maka kami tidak menyimak kalimat ‘bijak’ sang supir.

Setelah lelah bermain ombak di tengah hari, kami beristirahat sambil mendirikan tenda. Saat sedang santai, barulah kami ngeh akan kata-kata sang si supir minibus tadi. Bahwa esok, saat kami akan kembali ke Jogja kami harus berjalan kaki menuju pantai Baron yang kami tidak tahu seberapa jauh jaraknya dari pantai Sundak.

Disusunlah rencana perjalanan esok hari. Karena tidak tahu berapa lama dan trek seperti apa yang akan ditempuh untuk berjalan menuju pantai Baron, maka kami harus berangkat sepagi mungkin dari pantai Sundak. Susur pantai kawan!

Garis Pantai Kabupaten Gunung Kidul
Garis pantai selatan di Kab. Gunung Kidul (40 km arah selatan Jogja) melintang sepanjang barat ke timur. Banyak pantai menarik yang sangat disarankan untuk dikunjungi. Rata-rata pantai di Gunung Kidul berpasir putih, daerahnya cukup sempit, pantai landai, bibir pantai didominasi karang tempat hidup berbagai makhluk air, bersih dan sepi pengunjung. Jadi, jika kita berkunjung di waktu yang tepat, (terutama di hari kerja) maka kita seakan berada di pantai pribadi.

Pantai-pantai dengan karakteristik khas tersebut, biasanya dibatasi oleh bukit karang di sisi kiri dan kanan. Kurang lebih ada 13 pantai yang berjajar dengan sekat bukit karang. Rute susur pantai yang (tidak) sengaja kami lakukan dimulai dari pantai Sundak, pantai Drini, P. Sepanjang, P. Kukup dan berakhir di P. Baron.

Menurut Pak Ponco, (warga di pantai Sundak) jarak dari pantai Sundak ke pantai Baron adalah 7 km. Trek perjalanan berupa bukit karang, perkebunan nenas milik warga, pasir putih pantai, dan pedesaan.

Here We Go
Perjalanan dimulai pada pukul 06.00 tepat, dari bukit karang sebelah kanan pantai Sundak. Tidak lama berjalan, kami menginjakkan kaki di pasir putih pantai Drini. Sayang, matahari belum tampak sempurna, sehingga pemandangan di pantai Drini kurang maksimal.

Terus berjalan ke barat, menyusur pantai Drini menuju ke pantai Sepanjang yang berjarak sekitar 1km. Kita akan disuguhi lansekap yang indah disini. Berjalan di pasir putih, dengan belaian ombak di kaki kiri, sementara sapuan tetumbuhan berdaun lancip di sisi kanan. Hijau batu karang yang berdiri di depan menandakan kami akan sampai di pantai berikutnya, Pantai Sepanjang.

Sama seperti dua pantai sebelumnya, pantai Sepanjang berpasir putih dengan hamparan karang datar di bibir pantai. Namun bedanya, garis pantai Sepanjang adalah yang terpanjang dari semua pantai di Gunung Kidul. Katanya, pemerintah setempat berencana untuk menjadikan pantai Sepanjang menjadi Kuta ke-2 di Indonesia.

Pada jalur perjalanan pantai Sepanjang kita bisa beristirahat di bukit-bukit karang yang cukup tinggi untuk melihat pemandangan pantai Drini di sebelah barat dan gugusan pantai-pantai di sebelah timur. Kita harus hati-hati untuk beraktifitas di bukit-bukit karang ini, karangya tajam kawan! Jurang bukit akan langsung melempar siapa saja yang tak waspada, menuju debur ombak di bawahnya.

Dari bukit di sekitar pantai Sepanjang jelas terlihat pantai Kukup, Baron, Ngrenehan, dan Ngobaran yang masing-masing dibatasi ‘sekat’ bukit karang. Mereka melirik-lirik dari balik bukit karang, minta dijamah.

Dari pantai Sepanjang, seharusnya kami singgah di pantai Kukup. Namun sayang, bukit karang pembatas pantai Sepanjang-Kukup yang cukup tinggi menyulitkan kami untuk mendakinya. Akhirnya kami berbelok ke Utara ke arah perkebunan milik warga.

Labirin Perkebunan Jagung
Dari sini kami tidak pernah lagi menginjak pasir putih. Kami menyusuri perkebunan jagung, nenas dan pedesaan yang sangat sepi. Bisa dihitung jari, warga yang berpapasan dengan kami.

Kami banyak menghabiskan waktu di perkebunan ini. Bukan menikmatinya, foto-foto, atau istirahat. Kami tersesat!

Kondisi perkebunan mengingatkan saya pada scene film “The Beach”, yang diperankan Leonardo di Caprio, saat dia berlari dikejar-kejar musuh di ladang dengan tumbuhan-tumbuhan setinggi orang bule dewasa. Bedanya, tumbuhan di film itu adalah pohon-pohon marijuana (Cannabis sativa). Sedangkan ladang tempat kami tersesat adalah pohon-pohon Zea mays (Jagung boss!). Sayang sekali. :p

Yang menarik, saat saya bertanya kepada dua ibu-ibu petani di kebun Jagung perihal jalur menuju pantai Baron, mereka menjawab dengan bahasa Jawa yang sangat tidak saya pahami. Saya tahu sedikit bahasa Jawa standar. Namun, bahasa yang ibu tersebut gunakan, saya betul-betul tak paham.

Saya : “Bu, numpang tanya, kalo mau ke pantai Baron lewat mana ya?”

Ibu 1 : “#7*$&%*#(@&$*($*!”

Saya : “Mmmmmhhh…”

Ibu 2 : “Iki toh, *%$&(@&%(#$!” (sambil menunjuk-jari ke arah Utara)

Saya : “Oooohh! HATUR NUHUN Bu!”

Ibu 1&2: “….” (sambil angguk-angguk, lalu saling pandang keheranan)

Ternyata, bahasa Indonesia belum menjadi bahasa nasional sesungguhnya, sebagaimana ikrar Sumpah Pemuda.

Selepas terbebas dari ‘labirin’ perkebunan, akhirnya kami menemukan jalan aspal. Waktu menunjukkan pukul 12.00. Sambil istirahat, kami menikmati buah srikaya yang kami dapat (curi) dari kebun. ;)

Kami melanjutkan perjalanan melalui jalan aspal yang diapit oleh pesawahan di kiri kanan. Cukup jauh kami berjalan. Tidak banyak yang bisa diceritakan.

Tiba di Pantai Baron
Pukul 13.00 kami tiba di Pantai Baron. Berarti, total waktu tempuh perjalanan susur pantai adalah 7 jam. Tidak ada yang istimewa di pantai ini (setidaknya menurut pendapat saya pribadi). Dari gerbang masuk sudah banyak terlihat sampah dan kios-kios yang semrawut. Mungkin karena pantai ini adalah pantai yang paling sering dikunjungi wisatawan.

Berhubung sangat lelah dan karena kesan pertama yang tidak menggoda (banyak sampah dll), maka saya jadi malas untuk melihat-lihat pantai. Beristirahatlah kami di warung es kelapa muda, yang rasanya seperti minuman dari surga, saat itu.

Tidak lama, kami menumpang minibus yang bertebaran di pelataran parkir pantai Baron, menuju Wonosari untuk kemudian ke Jogja.

Cukup kecewa juga, karena perjalanan ini berakhir di pantai Baron. yang tidak istimewa saat itu. Seharusnya, perjalanan kami dimulai dari pantai Baron dan berakhir klimaks di pantai Sundak. Lalu merana karena tidak ada kendaraan pulang dari pantai Sundak. :)

Oke, tak apa-apa. Yang cukup menghibur, kami menyadari bahwa kita sudah dapat mengunjungi lima dari banyak pantai yang indah di Kab. Gunung Kidul, tanpa mengeluarkan uang tiket, retribusi, dsb. Hanya dengan nol rupiah saja![]

Arfan

__________
Foto dokumentasi: Angga, Subarkah

Pantai Sundak, Indah Karena (Tidak) Dikelola Pemerintah

“Pantai ini punya-nya Kesultanan Jogja mas, yang ngurus ya kita ini!” begitu kata Pak Ponco, pemilik warung sekaligus kuncen pantai Sundak.

Takjub. Itulah kesan pertama saat menginjakkan kaki di Pantai Sundak. Awalnya saya ragu akan menemukan pantai yang “ideal” di Jogja. Apalagi pantai di daerah wisata populer seperti Jogja.

Bayangan saya, pantai di daerah wisata populer tidak akan jauh berbeda dengan keadaan pantai-pantai lain yang terkenal, seperti Pangandaran, Parangtritis, bahkan Kuta. Keadaan yang seolah-olah “wajib” bagi pantai populer, biasanya kotor, sampah berserakan, jongko pedagang yang acak-acakan, dan lainnya (meskipun tidak semua pantai populer seperti itu). Nyatanya asumsi saya mental, dibantah oleh keadaan di Pantai Sundak. Nanti saya ceritakan.

Sekilas Tentang Pantai Sundak
Secara birokratis (baca: administratif :b) Pantai Sundak berada di desa Sidoharjo, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi D.I.Yogyakarta.

Konon, penamaan Sundak adalah kependekan dari Asu dan Landak. Jadi ceritanya, dahulu ada asu (anjing) yang bertengkar dengan landak. Anjing itu mengejar landak yang berlari menuju goa. Pemilik anjing keheranan setelah mendapati anjingnya basah kuyup saat keluar dali mulut goa. Setelah dicek, ternyata di dalam goa tersebut terdapat sumber mata air. Hal ini merupakan keberuntungan bagi warga di daerah yang sulit air ini.

Karena perkelahian anjing dan landak dianggap membawa berkah, maka dinamakanlah daerah ini sebagai Sundak. Asu dan Landak.

Jika anda ingin mengunjungi tempat ini tok, disarankan membawa kendaraan pribadi saja. Lain halnya bila anda berencana menyusur pantai menuju pantai Baron, 7 km dari pantai sundak ke arah barat, lebih baik anda mencarter minibus dari Terminal Wonosari.

Untuk akomodasi, jika ingin nyaman dan tidak merepotkan warga, lebih baik untuk membangun tenda. Tapi, warga pemilik warung di pantai Sundak mengizinkan kok, jika anda ingin bermalam di warung milik mereka.

Untuk masalah konsumsi, warung milik warga setempat–yang biasanya hanya satu yang buka–menyediakan penganan standar dengan harga terjangkau, seperti nasi goreng, mie ayam, dan lainnya. Tidak ada yang istimewa selain keramahan si pemilik warung.

Oh ya, untuk kegiatan MCK, tersedia WC yang didirikan oleh warga. Meski sederhana, entah mengapa saya sangat betah berlama-lama di dalamya. Mungkin karena kebersihannya yang di atas rata-rata WC umum kebanyakan.

Potensi Flora dan Fauna Pantai Sundak
Saya tidak dapat berkata banyak tentang flora dan fauna yang ada di pantai sundak. Karena ilmu biologi saya sangat minim. Namun jika anda ingin tahu, ada blog siswa-siswi SMAIT Nur Hidayah yang cukup baik menjelaskan potensi flora dan fauna di pantai Sundak (http://www.bioman-smaitnurhidayah.co.cc/2009/03/will-go-to-sundak-beach.html).

Perjalanan ke Pantai Sundak
Untuk mencapai pantai ini kita harus naik-turun angkutan umum. Jika titik start adalah Malioboro, kita harus berjalan ke arah:

  • Stasiun Lempuyangan. Lalu cari bus ke arah
  • Terminal Giwangan. Dari terminal Giwangan, naik bus tujuan
  • Terminal Wonosari untuk kemudian berganti kendaraan menuju
  • Pantai Sundak.

Nah, di terminal Wonosari, saya mulai bingung. Setelah bertanya kiri kanan, ternyata jarang ada angkutan umum ke Pantai Sundak, apalagi pada hari-hari biasa. Alih-alih kecewa, saya justru sangat senang, pasalnya, Pantai Sundak pasti sepi pengunjung

Beruntung, salahsatu pengemudi minibus (Di Jawa Barat lazim disebut elf [baca: elp], minibus berasap hitam yang –rata-rata– pengemudinya berpotensi menjadi pereli Dakkar, dan kernetnya berbakat menjadi stuntman) menawarkan untuk mengantar kami langsung ke Pantai Sundak dengan biaya charter. Lobying skill kita diuji disini.

Berangkatlah kita dengan kepercayaan penuh kepada supir minibus, bahwa kita akan dibawa menuju ke jalan yang benar. Tak dinyana, meskipun daerah pedesaan yang relatif terpencil, namun kondisi jalan raya menuju Pantai Sundak sangat mulus. Jauh jika dibandingkan dengan kondisi jalan raya di kota besar yang berjerawat.

Sekitar satu jam, selain jalur mulus dan perjalanan yang berkelok-kelok, kami disuguhi pemandangan yang menyita mata. Jalan raya pedesaan diapit oleh rimbun pohon jati yang berselang-seling dengan ilalang. Pohon-pohon bengkok berkayu keras sering terlihat memanjati karst batu kapur berwarna putih yang kontras menjulang di atas rimbun rerumputan. Menjelang pantai, debur ombak bersorak menyambut kedatangan siapa saja yang berkunjung. Sungguh, saya sangat terkesan dengan pengalaman ini.

Heavenly Sundak
Setibanya di Pantai Sundak, kami diwanti-wanti oleh supir minibus bahwa tidak akan ada kendaraan untuk pulang nanti. Kendaraan hanya ada di hari Minggu, dan itu esok lusa. Kendaraan hanya ada di Pantai Baron, dan itu jauh dari sini. Tidak ada cukup waktu untuk was-was, debur ombak pantai Sundak sudah menggapai-gapai minta dijamah.

Oke, saya perlu mengatakan bahwa Allah adalah Seniman. Apa yang ada di depan mata adalah lukisan maha indah, lukisan dengan dominasi syahdunya biru langit dan sejuknya hijau perairan. Terbingkai oleh bukit karang di kiri dan kanan, sapuan awan di sisi atas dan pasir putih di sisi bawah. Cantik!

Kawasan pantai Sundak cukup sempit. Jika kita berjalan dari batas bukit karang di sisi kanan ke bukit karang sisi kiri, mungkin hanya memakan waktu tiga menit. Sepanjang itulah pasir putih pantai Sundak. Oh ya, saya lupa menyarankan; gunakan kacamata hitam pada tengah hari, karena pemandangan sangat silau, saking putihnya pasir pantai.

Perlu diceritakan di sini, bahwa selain indahnya kombinasi benda alam dalam view di pantai Sundak, hal lain yang menarik perhatian saya adalah pasir putih pantai Sundak sangat bersih. Tidak ada sampah sama sekali. SAMA SEKALI.

Sebenarnya ada papan pengumuman yang berisi larangan bagi pengunjung untuk berenang di pantai Sundak. Namun, beruntung saat kami ke sana, ombak sangat tenang dan perairan surut hingga sejauh 10 meter dari bibir pantai. Air laut yang terperangkap dalam palung-paling karang yang dalamnya sekitar sepinggang orang dewasa, menjadi tempat yang sempurna untuk berenang.

Bahkan kita dapat berjalan-jalan mencari bintang laut di area batu karang yang meluas, karena air surut. Tapi hati-hati, sangat disarankan untuk menggunakan alas kaki, karena selain karang yang tajam, disini banyak bulu babi. Bukan karena haram, tapi bulu babi itu tajam. Hehehe.

Oh ya, hati-hati jika berenang di pantai ini. Disarankan untuk melihat kondisi dengan seksama. Jika gelombang tinggi dan perairan tidak surut jangan memaksakan untuk berenang. Menurut beberapa sumber, sudah ada korban ganasnya pantai berkarakter pantai selatan ini.

Goa Sejarah Penamaan Pantai Sundak
Saya bertemu Pak Ponco, yang bersama anak perempuannya mengelola warung nasi. Warung ini adalah satu-satunya warung yang tidak pernah tutup. Setelah memperkenalkan diri, saya asyik bercerita dengannya. Beliau mengatakan bahwa dahulu, ombak bisa mencapai mesjid, sambil menunjuk mesjid (yang jarang digunakan) yang berjarak kira-kira 20 meter dari bibir pantai.

Beliau menyarankan kami untuk melihat-lihat goa yang menjadi sejarah penamaan pantai Sundak ini. Kami diantarnya ke sana. Goa yang cukup gelap ini memiliki kedalaman sekitar 5 meter saja. Di ujung goa terdapat semacam sumur mata air. Uniknya meskipun sangat dekat dengan pantai, air ini rasanya tawar. Menurut Pak Ponco, air disini tidak pernah surut. Di sumur inilah si Anjing tercebur saat mengejar landak.

Klimaks di Bukit Sunset
Bukit sebelah barat pantai Sundak sama seperti bukit sebelah timur, merupakan bukit karang yang berlumut. Tidak terlalu tinggi untuk dinaiki. Di atas bukit terdapat semacam gazeebo permanen sebagai tempat untuk memandang suguhan lukisan cakrawala.

Kami lebih memilih duduk-duduk di dekat bibir jurang bukit. Dari sini pemandangan sangat memikat. Pantai Sundak terlihat keseluruhan di samping timur, sedangkan di samping barat terlihat pantai Drini dan kapal-kapal nelayan yang berlabuh. Saya menyimpan sensasi takjub untuk menunggu sunset yang beberapa saat lagi terjadi.

Saya tidak salah, inilah klimaks pertunjukan alam di pantai Sundak. Jingga mengiringi surya kembali ke peraduan. Jika ini film drama, saya akan menangis darah. :)

Pantai Sundak Milik Kesultanan
Saya bertanya ihwal siapa yang sebenarnya pengelola pantai ini. Dan ternyata, menurut pengakuan Pak Ponco, oantai Sundak adalah milik Kesultanan Yogyakarta.

“Pantai ini punya-nya Kesultanan Jogja mas, yang ngurus yaa, kita ini!” begitu kata Pak Ponco, pemilik warung sekaligus salah satu kuncen pantai Sundak.

Menurut pengakuannya, dia tidak dibayar dalam menunaikan tugasnya memelihara pantai ini.

“Yaa, ini salah satu bentuk pengabdian saya kepada sri sultan, mas!” katanya sambil memandang pantai, dengan mimik yang puas.

Saya berasumsi, bahwa pantai ini bersih dan tertata rapi, karena tidak dikelola oleh pemerintah. Birokrat yang bekerja berlandaskan materi.

Pantai ini sangat bersih dan sangat tertata rapi, karena dikelola oleh Pak Ponco. Rakyat bersahaja yang bekerja berlandaskan pengabdian. Pengabdian sepenuh hati kepada Sri Sultan, pemimpin yang beliau anggap bijaksana.[]

Arfan

__________

foto dokumentasi: Angga, Subarkah, Faisal

Gugusan Pantai di Gunung Kidul, Jogjakarta

Gugusan pantai Kab. Gunung Kidul berada di 40 km selatan Jogja. Pantai-pantai yang ada di gugusan ini diantaranya adalah:
– Pantai Baron
– Pantai Kukup
– Pantai Sepanjang
– Pantai Drini
– Pantai Sundak
– Pantai Siung
– Pantai Wediombo

Masing-masing pantai memiliki keindahan alam dan potensi wisata tersendiri. Namun ada persamaan yang menjadi ciri khas pantai-pantai tersebut: pasir putih, kontur yang landai, daerah yang tersekat bukit karang, dan yang paling utama, SEPI! :)

Untuk cerita pengalaman di Pantai Sundak, bisa dibaca di jurnal saya berjudul Pantai Sundak Indah Karena Tidak Dikelola Pemerintah. Untuk cerita pengalaman susur pantai, bisa dibaca di Nol Rupiah Susur Pantai di Gunung Kidul.

Untuk keterangan lain, bisa dicari di Google :)

Very recomended places to visit.[]

Villa di Puncak Gunung Salak

Oleh Arfan Nurhadi

“Nu paling awis, ongkos ngangkutan materialna!” sahut seorang peziarah yang turut andil membangun ‘villa’ di puncak Gunung Salak.

Memang ‘villa’ gubuk yang dibangun dengan material kayu dan seng ini sangat sederhana. Namun pernyataan mas-mas tadi, mengenai mahalnya ongkos angkut material gubuk dari kaki gunung ke puncak, menjadi masuk akal mengingat track pendakian Gunung Salak yang cukup ekstrim.

Jalur Pendakian Cidahu
          Beberapa jalur pendakian menuju puncak Gunung Salak (baca: Salak I) diantaranya adalah Jalur Cidahu, jalur Cimelati, dan jalur Gunung Bunder. Jalur resmi pendakian adalah jalur Cidahu. Sedangkan jalur Cimelati merupakan jalur illegal, karena tidak ada proses registrasi untuk melewati jalur tersebut. Sementara itu jalur Gunung Bunder merupakan jalur pendakian yang melewati puncak Salak II.

Karakteristik masing-masing jalur sangat berbeda. Karakter track jalur Cidahu cukup variatif, mulai dari undakan akar, jalan setapak berbatas jurang, tanah rawa sedalam matakaki, hingga tebing yang menuntut pendaki memanjat tebing dengan bantuan tali.

Waktu tempuh dalam kondisi normal adalah 6 jam, mulai dari pos registrasi Hutan Wisata Cangkuang menuju Puncak Salak I. Waktu tempuh relatif lama, karena jalur Cidahu dilewati dengan cara memutar, mengikuti kontur punggungan gunung menuju Barat lalu berbelok ke Utara.

Jalur pendakian di jalur Cidahu sangat jelas, jarang ada jalur cabang. Pengelola memasang patok tiang berwarna hijau tiap 100 meter (patok HM – hektometer). Patok inilah yang menjadi petunjuk dalam pendakian jalur Cidahu. Lokasi pemasangan patok sangat konsisten, sehingga pendaki tidak perlu khawatir tersesat asal seksama dalam memperhatikan patok.

Sumber air terakhir berada di pos Bajuri, sekitar HM 28. Di lokasi ini ada dua area dataran cukup luas untuk camping jika berencana bermalam.

Jalur pendakian Cimelati
          Karakteristik jalur Cimelati sangat bertolak belakang dengan jalur Cidahu yang landai namun bervariatif. Jalur Cimelati didominasi undakan batu dan akar yang sangat curam. Jarang terlihat jurang seperti pada jalur Cidahu, mungkin karena jalur Cimelati ini merupakan lembahan gunung. Jalur ini ditutupi vegetasi yang cukup lebat. Baru terasa esensi penamaan Gunung Salak saat melewati jalur ini, karena beberapa kali terlihat pohon salak di sudut-sudut bebatuan.

Banyak cabang yang membingungkan pendaki yang baru pertama melewati jalur ini. Oleh karena itu kebanyakan pendaki Gunung Salak tersesat saat melewati jalur Cimelati. Namun begitu banyak pendaki mengatakan jalur Cimelati merupakan jalur ekspres. Pasalnya, dalam kondisi normal, waktu tempuh menuju puncak Salak I berkisar antara 3 – 4 jam.

Sumber air terakhir jika mendaki melewati jalur Cimelati berada di area ‘Pipa’. Begitu para pendaki menamakan area ini, karena di lokasi ini terdapat pipa yang mengalirkan mata air menuju kaki gunung.

Area ini merupakan sumber air, karena pipa tersebut bocor dan air bocoran pipa sering dimanfaatkan pendaki untuk perbekalan. Area pipa ini setidaknya memiliki tiga cabang, ke arah puncak Salak I, ke arah air terjun, dan ke arah menyesatkan:) Terdapat satu dataran yang cukup luas untuk bertenda, yaitu sekitar tiga menit sebelum area pipa.

Puncak Salak I
          Puncak Gunung Salak (Puncak Salak 1) berada di ketinggian 2211 mdpl. Setidaknya ada tiga area dataran yang memungkinkan untuk mendirikan tenda. Dataran di puncak Salak I dikelilingi oleh vegetasi pepohonan yang cukup lebat, dan hanya menyisakan sedikit space pemandangan ke bawah yang mempertegas bahwa dataran ini adalah puncak gunung.


Area paling nyaman adalah area tempat plang penanda puncak berdiri. Dataran disini dapat memuat hingga tiga tenda dan sekaligus menyuguhkan pemandangan kota Bogor yang dibingkai oleh untaian tumbuhan paku di bagian bawah dan iringan kapas awan di bagian atas. Puncak Gunung Bunder (Puncak Salak II) terlihat jelas, menunggu untuk dipijak.

Villa di Puncak Gunung Salak
          ‘Villa’ di puncak Gunung Salak, merupakan fakta yang cukup unik. Akibat dimakamkannya Mbah Gunung Salak (konon beliau adalah sesepuh salah satu pesantren) di puncak Salak I, maka banyak masyarakat yang mengunjungi makam tersebut sekedar untuk berzikir sekaligus tadabbur alam di puncak gunung.

Atas inisiatif beberapa santri yang hampir sebulan sekali mendaki puncak Salak I untuk berziarah, maka didirikanlah gubuk kayu persis di depan makam. Luasnya cukup untuk 7-9 orang dewasa tidur di dalamnya.

Yang unik, mereka tidak sekedar membangun gubuk tempat camp, melainkan dibangun pula gubuk khusus kegiatan dapur, lengkap dengan peralatan masak, bahkan di bawah gubuk camp, terdapat bath tub keramik yang dapat menampung air hujan. Mereka pun mengijinkan bagi siapa saja untuk menggunakan segala fasilitas gubuk tersebu, kapanpun. Karena itulah saya menyebutnya villa.

Beruntung saya dan teman-teman sempat bercengkrama dengan para santri tersebut di puncak. Sebenarnya, kami tidak perlu mendirikan tenda, karena mereka menawarkan kami untuk menggunakan gubuk tersebut untuk beristirahat. Cuma, punggung ini tidak rela jerih payahnya mengangkut tenda tidak dianggap.

Ada hal yang paling berkesan bagi saya di kala itu. Sepanjang malam mereka mengaji Al-Quran dengan suara lantang, dan entah mengapa suasana di puncak terasa sejuk. Tidak terasa lagi dingin akibat kuyup guyuran hujan sejak siang. Telinga disuguhi lantunan ayat suci, mata dimanjakan kerlap-kerlip city lights, dan hati diliputi bahagia.[]

__________
ilustrasi: doc. pribadi