Tag Archive | Salman

STUDIA HUMANIKA “Media Budaya, Budaya Media”

(Bagian II: Sisi Filosofis/Wacana)

Latar Belakang
Pada penghujung abad ke-20 dan awal abad ke-21, muncul arus balik sekularisasi atau penentangan terhadap sekularisme. Dengan arus balik tersebut, dinding-dinding pemisah antara entitas agama, sainstek dan sosial-budaya mulai lebur. Batasan antara sistem nilainya tidak lagi sepekat dahulu, ketika sekularisasi masih sangat kuat berpengaruh.

Meski telah terjadi arus balik sekularisasi, hubungan antara sains-teknologi, sosbud, dan agama, masih menghadapi dua permasalahan besar:

Pertama, masih berkembang anggapan di antara banyak para ilmuwan dan teknokrat (termasuk di ITB), bahwa agama menghambat perkembangan sainstek. Karena itulah, sekularisasi masih banyak didukung kaum ilmuwan dan teknokrat modern.

Kedua, adanya sistem nilai/ideologi tunggal yang sangat berkuasa/berpengaruh. Sistem tersebut adalah sistem nilai/ideologi ekonomi. Ideologi ini merengsek ke semua sistem dan memangsa nilai-nilai dari sistem-sistem tersebut.

Karena MEDIA menjadi ranah PERTEMUAN dan PERTEMPURAN antara ketiga sistem nilai di atas, maka ia menarik untuk dikaji.

Tujuan pengkajian ini adalah membangun sebuah STRATEGI KEBUDAYAAN yang memungkinkan terjadi DIALEKTIKA YANG SEHAT antara sistem AGAMA, SAISNTEK dan SOSBUD. Kajian media dalam kerangka strategi kebudayaan Indonesia, akan menyediakan dasar pemikiran, skenario-skenario dan model strategi kebudayaan dalam ranah media tersebut. Read More…

Studia Humanika “MENGUPAS MARXISME”

LATAR BELAKANG

Di Eropa, setelah runtuhnya Tembok Berlin dan lebih-lebih setelah keguncangan kapitalisme pada 2008, bergaung istilah “The Spectre of Marx”, “Hantu Marx”.

Koran-koran terkemuka Eropa mulai dari The Guardian sampai The Financial Times semuanya kembali menyebut sang filsuf, sejarawan dan ahli ekonomi revolusioner dari abad 19 ini. Di Jerman, cetakan “Das Kapital” dengan cepat hilang dari rak-rak toko buku. Bahkan presiden Prancis (saat itu), Nicolas Sarkozy, juga terlihat mencari-cari buku tersebut.

“Hantu Marx” juga telah lama melanda Indonesia, dalam konteks yang berbeda tentunya. Sejak Peristiwa G30S yang kemudian mengantarkan lahirnya Rezim Orde Baru, membicarakan pemikiran Marx adalah sesuatu yang bukan saja tabu, melainkan juga terlarang. Marx si Mbah Jenggot menjadi sosok yang menakutkan! Mungkin salah satu sebabnya, adalah pelekatan Marxisme dengan komunisme, ateisme, dan bahkan mungkin juga anarkisme.

Padahal, dalam wacana akademis, pemikiran Marx bergaung ke segala arah disiplin ilmu. Bukan saja ekonomi, melainkan juga sosiologi, politik, antropologi, komunikasi dll. Sayangnya, bahkan nama Marx pun sangat sulit ditemukan dalam buku-buku teks ilmu sosial sekolah menengah di Indonesia.

Kuliah ini bertujuan mengisi kekosongan “sejarah” tersebut. Insya Allah Studia Humanika kali ini akan memperkenalkan dasar-dasar pemikiran Marx dan pengaruhnya dalam berbagai disiplin ilmu sosial. Read More…

STUDIA HUMANIKA “IDEOLOGI: Sebuah Pengantar”

Pendahuluan
Apakah politik emansipasi masih mungkin di era pascamodern yang justru merayakan matinya subjek politik? Apakah perjuangan untuk merebut keadilan dan kesetaraan masih mungkin di tengah kapitalisme kontemporer yang kian membius kita sedemikian rupa, di tengah perpolitikan yang kian menjadi arena dagang?

Di tengah kecemasan dan pesimisme itu filsuf Slavoj Žižek muncul dengan sebuah gebrakan optimistis: POLITIK RADIKAL MASIH MUNGKIN! Filsafatnya adalah upaya untuk menyegarkan politik radikal tanpa kembali pada doktrin-doktrin perjuangan gaya lama. Kapitalisme global digital kontemporer dengan ciri-cirinya yang khas dan baru membutuhkan cara-cara perlawanan yang baru pula.

Dalam perspektif Zizek, ideologi mengandung karakter tautologis karena “tujuan sejari dari ideologi adalah konsistensi perilaku ideologis itu sendiri”. Ideologi ada dalam keperluan untuk terus menerus mereproduksi afirmasi gap itu sendiri.

Ideologi berakar pada fantasi dan pembentukannya bersandar pada jarak permanen antara yang-Simbolik dan yang-Riil. Ada tidaknya ideologi tidak ditentukan oleh sikap orang terhadapnya, tetapi oleh kesenjangan antara realitas (yang-Simbolik) di hadapan ketakmungkinan yang-Riil. Ideologi adalah “kesadaran palsu”, demikian menurut Zizek.

Suguhan fantasi dan permanennya ideologi ini dicontohkan melalui cerita tentang seorang mandor yang curiga bahwa ada buruh yang mau mencuri di pabrik. Berdasarkan kecurigaan itu, tiap sore ia memeriksa isi tas si buruh. Namun karena tak pernah mendapati barang curian apa pun di tas si buruh, bukannya berhenti curiga, ia malah berpikir jangan-jangan tas itulah barang curian sebenarnya.

Di sini, ketika si mandor tak menemukan apa yang dicari tapi memaksakan tas sebagai barang curian, ia menjadikan ketaksadarannya bukan lagi sebagai ekses dari realitas yang termanipulasi. Yang terjadi adalah ketaksadaran itu menyediakan dan mengubah koordinat realitas itu sendiri. Ia tak peduli pada fakta apakah “si buruh benar mencuri atau tidak”, tetapi ia mengkonstruksi dan membentuk realitas pencurian itu terlepas dari fakta apa pun sebelumnya.

Ini mirip dengan operasi ideolog Orde Baru yang selalu mengatakan, “anasir-anasir PKI” masih ada dan ancamannya nyata, terlepas dari fakta bahwa PKI sudah lama dihancurkan. Di titik ini jelaslah bahwa selama realitas ada selama itu pula ideologi itu ada. Read More…

STUDIA HUMANIKA “Media Budaya, Budaya Media”

(Bagian I: Sisi Praksis/Gerakan)

LATAR BELAKANG
Sejak terjadinya Renaissance, Aufklarung dan Revolusi Industri, pemisahan agama, sainstek, dan sosial-budaya semakin terlihat. Keterpecahan atau pemisahan ini lazim dikenal sebagai “sekularisasi”. Paham yang mendukung keterpecahan atau pemisahan tersebut dikenal sebagai “sekularisme”.

Akan tetapi, pada penghujung abad ke-20 dan awal abad ke-21, muncul arus balik sekularisasi atau penentangan terhadap sekularisme. Dengan arus balik tersebut, dinding-dinding pemisah antara ketiga entitas tersebut sebenarnya mulai lebur. Batasan antara sistem nilainya tidak lagi sepekat dahulu, ketika sekularisasi masih sangat kuat berpengaruh.

Meski telah terjadi arus balik sekularisasi, hubungan antara sains-teknologi, sosbud, dan agama, masih menghadapi dua permasalahan besar:

PERTAMA, masih berkembang anggapan di antara banyak para ilmuwan dan teknokrat (termasuk di ITB), bahwa agama menghambat perkembangan sainstek. Karena itulah, sekularisasi masih banyak didukung kaum ilmuwan dan teknokrat modern.

Kaum agamawan dan penganut agama perlu menggali, hal apa saja sebenarnya dalam agama yang mampu mendorong perkembangan sainstek? Usaha penggalian ini mau tidak harus berjalan selaras dengan usaha mengubah penafsiran dan pemahaman agama menjadi lebih lateral, terbuka dan dialektis.

KEDUA, adanya sistem nilai/ideologi tunggal yang sangat berkuasa/berpengaruh. Sistem tersebut adalah sistem nilai/ideologi ekonomi. Ideologi ini merengsek ke semua sistem dan memangsa nilai-nilai dari sistem-sistem tersebut.

Padahal idealnya, sistem nilai dalam sosbud sendiri harus berjalan seimbang, dan tidak hanya mementingkan sistem nilai ekonomi. Lebih luas lagi, sistem nilai dari agama, sainstek dan sosbud (meski ketiganya dalam arus balik sekularisasi menjadi semakin melebur) pun dapat saling berdialektika atau memperkuat satu sama lain.

Karena MEDIA menjadi ranah PERTEMUAN dan PERTEMPURAN antara ketiga sistem nilai di atas, maka ia menarik untuk dikaji. Tujuan pengkajian ini adalah membangun sebuah STRATEGI KEBUDAYAAN yang memungkinkan terjadi DIALEKTIKA YANG SEHAT antara sistem AGAMA, SAISNTEK dan SOSBUD. Kajian media dalam kerangka strategi kebudayaan Indonesia, akan menyediakan dasar pemikiran, skenario-skenario dan model strategi kebudayaan dalam ranah media tersebut. Read More…

STUDIA HUMANIKA “Mengenal Filsafat Platon”

Dia terlahir dengan nama Aristokles di Athena pada tanggal 7 bulan Thargelion (Oktober) 428/427 SM. Guru olahraganyalah yang menjulukinya Platon. Di Indonesia kita menyebutnya sebagai Plato gara-gara filsafat masuk ke negeri ini lewat bahasa Belanda. Namun, kalau kita mengikuti kata Yunaninya Pla/twn (Platon), dan kalau kita mau menyesuaikan diri dengan sebagian besar bahasa internasonal di Barat, lebih baik kita mulai menyebutnya Platon. Rasanya itu lebih cocok untuk menggambarkan munculnya kata-kata turunan platonisme, platonic, platonis atau platonisian.

Dia meninggal di usia 81 tahun, pada tahun 348/347 SM. Pemikirannya bertahan dan tetap dibaca orang hingga lebih dari 2000 tahun, menjadi dasar-dasar bagi Filsafat Islam mau pun Filsafat Kontinental. Syaikh Al-Akbar Muhyiddin Ibn ‘Arabi, yang juga digelari sebagai Ibn ‘Aflatun (Putra Platon), pernah mengatakan bahwa filsuf yang masuk surga hanyalah filsuf yang seperti Plato (aflatun ilahi), sementara Alfred North Whitehead mengatakan bahwa “Cara paling tepat untuk mencirikan tradisi pemikiran Barat adalah ia berisi rangkaian catatan kaki pemikiran Platon.”

Dalam kuliah Studia Humanika, dalam pertemuan pertama akan dibahas tentang buku Politeia, atau yang lebih dikenal dengan nama Republic, dalam dua sesi perkuliahan.

Secara umum di buku I sd IV The Republic, Sokrates berusaha membungkam argumentasi Thrasymakhos yang mengatakan bahwa dikaiosune (keadilan/kebenaran) adalah milik “dia yang paling kuat”. Dari situ, Sokrates kemudian mengusulkan sebuah bentuk pemerintahan ideal yang dilepaskan dari rujukan historis. Di polis virtual dan ideal itu, Sokrates hendak mencari bagaimana dikaiosune bisa tumbuh dan berkembang. Dan dari pembahasan tentang polis ideal, Sokrates lalu bergerak menerapkan hal tersebut dalam membahas “jiwa manusia”.

Pada buku V – VII The Republic, Sokrates akan mengguncang rasa perasaan normal kita. Di polis virtual yang ia idealkan itu, harta benda, para wanita dan anak-anak akan dijadikan milik bersama polis ! Sementara para filsuf akan bertugas mengurusi polis tersebut.

Di Buku VIII-IX The Republic, selanjutnya Sokrates akan menggambarkan bentuk-bentuk polis yang tidak benar/adil (adikia). Polis virtual dan ideal yang ia wacanakan akan merosot secara bertahap. Dan proses kemerosotan ini sejajar dengan macam-macam tipe manusia yang tidak benar/adil (adikios). Ia menggambarkan 4 rezim politik yang jelek, masyarakat yang membusuk akibat pemerintahannya yang buruk (dan yang terakhir ini adalah cermin pula bagi manusia yang “tidak adil”, yang menyeleweng [543a]).

Di buku X The Republic, Sokrates dengan berat hati lalu menyatakan penolakannya pada Homeros (Sang Pendidik bangsa Yunani). Di buku terakhir ini Sokrates juga menggambarkan hukuman yang akan diterima jiwa-jiwa yang tidak benar/adil dan hadiah-hadiah yang akan diterima para jiwa yang baik hidupnya di dunia setelah mereka mati.

Dalam pertemuan kedua, akan membahas tentang Arete: Pemikiran Umum Platon yang didasarkan pada buku “Arete: Hidup Sukses Menurut Platon” karya A. Setyo Wibowo. Arete dalam bahasa Yunani artinya adalah sesuatu yang baik, yang unggul. Dalam literatur Yunani, bila diterapkan pada seseorang, arete itu mengungkapkan kualitas-kualitas seperti keberanian, kecakapan, kegagahan dan kekuatan.

Dalam pengertian moral, arete berarti keluhuran, kemanfaatan, dan kebaikan dalam memberikan pelayanan. Makna filosofis dari arete berkaitan dengan keunggulan yang dimiliki. Bila seseorang menjalankan ‘fungsi yang dirancang’ untuknya, dan ia melakukannya dengan sempurna, maka ia dipandang memiliki arete; ia cakap di bidang itu. Misalnya, seperti alat pangkas rumput yang dirancang untuk itu, maka alat itu melakukan fungsinya lebih baik daripada alat-alat lainnya. Arete itu ada di dalam jiwa manusia, dan setiap manusia harus menemukan apa arete yang dimilikinya, mengoptimalkan jiwanya dalam arete. Read More…

STUDIA HUMANIKA “Kampung Kota, Harapan Ruang Publik”

LATAR BELAKANG
Bandung adalah wajah kota besar Indonesia yang terus bertumbuh dengan pesat. Sebagai sebuah kota, Bandung (dan juga kota-kota besar lainnya) senantiasa membutuhkan ruang publik. Secara umum, ruang publik adalah ruang yang secara fisik maupun sosial dapat diakses oleh setiap warga kota, apapun latar belakang sosial-budaya maupun agamanya, untuk rupa-rupa kegiatan.

Pertumbuhan kota-kota besar di Indonesia sayangnya cenderung berpihak kepada masyarakat kelas menengah ke atas, dan meminggirkan masyarakat menengah ke bawah. Akibatnya fungsi ruang publik semakin melemah di perkotaan. Contoh yang paling gamblang adalah menyusutnya area-area terbuka seperti lapangan dan taman kota di Bandung. Area-area tersebut kerap beralih fungsi menjadi pusat perbelanjaan, kompleks permukiman atau perkantoran yang notabene hanya diperuntukkan bagi kalangan atas.

Namun, di tengah kecenderungan pertumbuhan seperti itu, masih ada harapan akan munculnya ruang-ruang publik di perkotaan. Harapan ini muncul dari wilayah-wilayah yang terselip di antara glamornya gedung-gedung perkotaan. Masyarakat di wilayah ini masih memiliki keterikatan sosial sedemikian rupa, yang mencirikan perkampungan tradisional. Karena itu, wilayah-wilayah yang terselip ini dapat disebut sebagai “kampung kota”. Read More…

STUDIA HUMANIKA – Pengantar Mengenal Fenomenologi

Kuliah ini merupakan dasar untuk memahami apa itu fenomenologi. Untuk itu, pada tahap awal diuraikan sejarah gerakan fenomenologi (phenomenological movement) berikut dengan tokoh-tokohnya. Berikutnya di bahas topik, gagasan, konsep dan ruang lingkup kajian fenomenologi. Terakhir, didiskusikan pengaruh fenomenologi terhadap pelbagai pemikiran kontemporer, seperti pemikiran tentang politik, sosial, budaya, agama dan sains.

TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM
1. Agar peserta mendapatkan pengetahuan awal tentang munculnya gerakan fenomenologi.
2. Agar peserta memahami pelbagai tema dan konsep-konsep dasar dalam fenomenologi.
3. Agar peserta dapat merasakan manfaat fenomenologi dalam hubungannya dengan aktivitas keintelektualannya sehari-hari di kampus.

Metode Pembelajaran yang dipergunakan adalah kombinasi, ceramah, diskusi, dan simulasi secara terstruktur. Read More…