Tag Archive | sastra

Tentang Tuhan / Sapardi Djoko Damono

Tentang Tuhan

Pada pagi hari Tuhan tidak pernah seperti terkejut dan
bersabda, “Hari baru lagi!”; Ia senantiasa berkeliling merawat
segenap ciptaan-Nya dengan sangat cermat dan hati-hati tanpa
memperhitungkan hari.

Ia, seperti yang pernah kaukatakan, tidak seperti kita
sama sekali.

Tuhan merawat segala yang kita kenal dan juga yang tidak
kita kenal dan juga yang tidak akan pernah bisa kita kenal.

Sapardi Djoko Damono

__________
Dari Buku Satu, nomor 14, buku Kolam: buku puisi/Sapardi Djoko Damono, Jakarta: Editum, 2009

Kumpulan Cerpen Kompas

Tautan: cerpenkompas.wordpress.com

Rasanya Kompas adalah satu-satunya media arus utama yang paling sering mengantar sajian sastra ke depan khalayak. Bagaimana tidak, rubrik Seni yang berisi sub rubrik Cerpen, Puisi, dan Esei rutin dihardirkan tiap hari Minggu. Terpenting, sedari dulu media ini mudah diakses. Dari sekian rubrik tersebut, mungkin rubrik Cerpen-lah yang paling banyak menarik minat pembaca. Disamping memang menghibur, penulis-penulisnya pun memang sudah ternama. Yang lebih menyenangkan, sejak 1992, redaktur Kompas rutin membuat buku kumpulan cerpen pilihan tiap tahunnya. Buku kumpulan tersebut menjadi monumen cerpen-cerpen terbaik yang pernah dimuat Kompas dalam satu tahun.

Untuk itu Cerpen Kompas mingguan bisa jadi adalah telaga sastra yang inklusif yang bisa didatangi kapanpun, oleh siapapun.

***

Nah, kadang kita suka terlewat untuk membaca Cerpen Kompas mingguan. Ketika mencari koran hari Minggu, ternyata sudah habis di pasaran. Mau meminjam tetangga, eh, korannya sudah dipakai alas gorengan. Bingung kan?

Beruntung, masih ada orang yang berbaik hati mengliping cerpen-cerpen Kompas mingguan secara digital lewat blognya yang beralamat di cerpenkompas.wordpress.com. Dalam blognya tertulis kalimat tegas: “arsip cerita pendek kompas minggu”.

Blog bersahaja yang berjudul Kumpulan Cerpen Kompas ini dikelola oleh seorang anonim yang baik hati. Beliau yang menyebut dirinya sebagai “tukang kliping“, saya rasa adalah orang yang sangat berjasa sebagai ‘penunjuk jalan’ bagi masyarakat yang hendak mengunjungi kolam sastra.

Seseorang “tukang kliping” ini menulis di laman perihal blognya:

“Saya penikmat cerpen-cerpen pada harian Kompas minggu, lalu mengklipingnya di sini; siapa tahu saya mau membacanya lagi, entah sebagai pelepas penat, pengisi pundi jiwa, mungkin juga referensi atau cuma iseng. Mencarinya di tumpukan koran bekas tentu lebih melelahkan daripada menelusuri arsip digital yang sudah disimpan dengan rapi.”

ah, sungguh tulus dan rendah hati. Sungguh saya tidak mampu berterimakasih lebih banyak lagi atas dedikasi beliau. Untuk itu, saya tulis resensi tautan ini sebagai tanda terimakasih bagi beliau, si “tukang kliping“.[]

Arfan
__________

Seribu Kunang-kunang di Ingatan

Illustration by Gavin Will

Entah, sudah berapa kali saya berulang-ulang membaca cerpen Umar Kayam berjudul Seribu Kunang-kunang di Manhattan. Tidak pernah bosan membacanya. Anehnya, walau hapal cerita dan percakapan Jane dan Marno, kedua tokoh utama di cerpen ini, saya tidak pernah berniat untuk menduga-duga kalimat yang akan muncul di baris berikutnya. Selalu dan selalu saya tenggelam dalam suasana percakapan sentimentil kedua tokoh tersebut.

Umar Kayam (1932-2002) dalam cerpen ini, sangat berhasil membangun suasana yang ‘hidup’ dan ‘nyata’ hanya dengan percakapan kedua tokoh yang dia ciptakan. Cerpen ini berkisah tentang dua pasangan selingkuh, Jane wanita Barat dan Marno lelaki desa yang sudah beristri. Alur dalam cerpen yang berlatar sebuah apartemen di Manhattan ini sengaja dibuat lambat, saya rasa, dengan maksud mempertajam suasana cerita. Umar Kayam dengan cerdasnya membangun suasana lewat percakapan.

***

Lewat percakapan pembuka tentang warna bulan, yang dimulai oleh Jane, sudah cukup untuk menggambarkan suasana ‘jenuh’ yang sedang memuncak perlahan. Hal ini dipertegas dengan ucapan Jane yang sekonyong-konyong menanyakan tentang Alaska, lalu melompat ke mantan pacarnya, ke boneka Indian, ke gedung Empire State dan lainnya, yang selalu saja dijawab Marno dengan kalimat-kalimat pendek.

Dalam percakapan ini terasa ada ketidakseimbangan minat antara Marno dan Jane. Keduanya yang sedang sama-sama ‘mabuk’ Martinni, seolah sedang berada di dua ruang berbeda walaupun sedang duduk satu sofa. Jane begitu antusias bercakap melawan Marno yang pikirannya sedang berada jauh dari jasadnya berada. Topik-topik yang dilempar Jane tidak serta merta membangkitkan minat Marno untuk bercakap. Itu karena ada pembicaraan yang sudah Jane katakan sebelumnya, atau pertanyaan yang Marno tidak bisa jawab, atau, memang Marno sedang tidak ingin berbicara saat itu.

Tiba-tiba timbul antusias Marno yang sedang memandangi kerlipan lampu-lampu gedung pencakar langit dari jendela apartemen Jane. Bukan karena Jane atau apa, tapi karena sambil melihat kerlipan lampu-lampu itu, Marno teringat akan kunang-kunang di sawah di desa. Seketika itu Marno membuka percakapan untuk kali pertama, yang tentu saja disambut Jane dengan antusiasnya:

“Oh, kalau saja…”

“Kalau saja apa, kekasihku?”

“Kalau saja ada suara jengkerik mengerik dan beberapa katak menyanyi di luar sana.”

“Lantas?”

Tidak apa-apa. Itu akan membuat aku lebih senang sedikit.”

Dari percakapan di atas, terlihat Marno yang begitu rindu akan desanya, akan rasa jati diri Marno yang seolah hilang selama berada di Manhattan, akan pengalaman masa lalu yang tergambar lewat memori auditorinya: suara jengkerik dan katak. Namun, sekonyong Jane menanggapinya dengan enteng:

“Kau anak desa yang sentimentil!”

“Biar!”

Marno terkejut karena kata “biar!” itu terdengar keras sekali keluarnya.

“Maaf, Jane. Aku kira scotch yang membuat itu.”

“Tidak, Sayang. Kau merasa tersinggung. Maaf.”

Marno mengangkat bahunya karena dia tidak tahu apa lagi yang mesti diperbuat dengan maaf yang berbalas maaf itu.

Umar Kayam dengan efektifnya menggambarkan sisi sentimentil Marno–yang tiba-tiba diusik Jane dengan entengnya, dan tentu saja membuncahkan sisi emosional Marno–hanya dengan kata “biar!” Hanya lewat kata tersebut, pembaca (setidaknya saya) sudah bisa menangkap beribu rasa emosional Marno yang spontan ditembakkan sebagai respon dari ‘ketersinggungan’ Marno akan tanggapan Jane. Narasi berlanjut;

Sebuah pesawat jet terdengar mendesau keras lewat di atas bangunan apartemen Jane.

Semula, saya kira, kalimat di atas hanyalah selingan tanpa makna. Saya berburuk sangka, Bahwa Umar Kayam kehabisan kata-kata. Namun anggapan saya mental seketika Jane menghardik keras:

“Jet keparat!”

Jane mengutuk sambil berjalan terhuyung ke dapur. Dari kamar itu Marno mendengar Jane keras-keras membuka kran air. Kemudian dilihatnya Jane kembali, mukanya basah, di tangannya segelas air es.

Ah, saya baru sadar, ternyata paragraf tentang pesawat jet di atas tak lain adalah sebuah celah yang diberikan ‘cuma-cuma’ oleh Umar Kayam bagi Jane untuk balas menumpahkan emosinya setelah ‘kalah’ dari Marno pada insiden “biar!” sebelumnya. Cerdas!

Percakapan berlanjut seperti pada fragmen-fragmen awal cerita. Berkisar di topik pembicaraan Jane yang sudah pernah Marno dengar dan lainnya. Intinya terjadi lagi ketidakseimbangan minat di antara keduanya. Sampai ketika Jane melontarkan pertanyaan yang membuat Marno tersenyum. Dan seketika itu pula antusias Jane meningkat. Penulis, Umar Kayam memanfaatkan sebuah cerita tentang hadiah yang dijanjikan Jane kepada Marno, demi menggambarkan antusiasme wanita ini.

“Oh, ya, Marno, manisku. Kau harus berterima kasih kepadaku. Aku telah menepati janjiku.”

“Apakah itu, Jane?”

“Piyama. Aku telah belikan kau piyama, tadi. Ukuranmu medium-large, kan? Tunggu, ya ……”

Dan Jane, seperti seekor kijang yang mendapatkan kembali kekuatannya sesudah terlalu lama berteduh, melompat-lompat masuk ke dalam kamarnya. Beberapa menit kemudian dengan wajah berseri dia keluar kembali dengan sebuah bungkusan di tangan.

“Aku harap kausuka pilihanku.”

Dibukanya bungkusan itu dan dibeberkannya piyama itu di dadanya.

“Kausuka dengan pilihanku ini?”

“Ini piyama yang cantik, Jane.”

“Akan kaupakai saja malam ini. Aku kira sekarang sudah cukup malam untuk berganti dengan piyama.”

Imajinasi pembaca tentunya sudah berlompatan kesana kemari dengan sekedar mengetahui bahwa hadiah yang dijanjikan Jane pada Marno adalah sebuah piyama. Saya pribadi berasumsi bahwa inilah klimaks kedua setelah peristiwa “biar!” di atas. Namun ternyata Umar Kayam berpendapat lain tentang kelanjutan kisah Jane dan Marno. Ah, terlalu manis untuk saya ceritakan di sini.

***

Usaha Umar Kayam dalam membangun suasana serta konflik batin (dua hal tersebut, sebagai warna paling dominan dalam cerpen ini), dengan cerdasnya dilakukan lewat percakapan. Hanya lewat percakapan. Percakapan kedua tokoh ciptaanya mengalir teramat natural, tidak ada kerancuan di dalamnya. Belum lagi sempalan-sempalan metafor yang disuguhkan Umar Kayam, seperti: …Jane seperti seekor kijang yang mendapatkan kembang kekuatannya setelah terlalu lama berteduh…, atau …pelan-pelan diciumnya dahi Jane, seperti dahi yang terbuat dari porselin., sungguh sangat nyata terbayang di dalam benak pembacanya (setidaknya saya berpikir begitu). Betul-betul cerpen manis dan elegan.

Sungguh cerpen Seribu Kunang-kunang di Manhattan begitu terngiang dalam benak saya, seolah meninggalkan seribu kunang-kunang di ingatan.[]

Bandung di tengah hujan, April 2011
Arfan
__________
NB: Bagi yang perlu mengakses cerpen secara utuh silakan ke laman blog ini http://nikenike.wordpress.com.
Catatan: pengalaman membaca teks dalam media kertas takkan tergantikan :)

Resensi: To Kill A Mockingbird

To Kill a MockingbirdMungkin hasrat ingin tahu terlampau fitrah ada dalam jiwa manusia. Dicarinya jalan untuk menembus benteng pribadi manusia lainnya. Dicarinya otoritas pemahaman terhadap kehidupan pribadi sesamanya dengan segala cara: sosialisasi, investigasi, gosip, hingga bergunjing. Termasuk, diterobosnya fakta-fakta rapuh yang kemudian dianggap kebenaran tentang seseorang, atau kita sebut prasangka (prejudice). Seperti  yang dikisahkan dalam To Kill a Mockingbird (1960).

Novel pertama dan satu-satunya, karya Nelle Harper Lee (1926-…) ini mengisahkan tentang bagaimana prasangka tidak hanya merugikan namun sekaligus berbahaya. Tidak pernah ada kebenaran dalam prasangka. Jikapun ada, kebenaran dalam prasangka sangatlah rapuh. Dalam cerita ini Harper Lee menyimpulkan lewat salah satu narasinya:

“Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya… hingga kau meyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya.”

Sekilas Sinopsis

Novel ini berkisah tentang kehidupan keluarga Atticus Finch, seorang pengacara lokal di Maycomb County. Atticus yang duda memiliki putra-putri,  Jem Finch (Jem) dan Jean Louise Finch (Scout). Mereka bertiga ditambah pembantu, seorang Afro-Amerika bernama Calpurnia, tinggal di pemukiman tua di pinggiran Alabama, Amerika Serikat. Read More…

Resensi: Ronggeng Dukuh Paruk

Ronggeng Dukuh Paruk (Trilogi)

Saya mengamini pendapat yang menyebutkan bahwa trilogi Ronggeng Dukuh Paruk (1981) merupakan karya masterpiece yang dihasilkan selama karier kesusastraan Ahmad Tohari. Saya pun meyakini bahwa trilogi Ronggeng Dukuh Paruk (selanjutnya tertulis RDP) merupakan satu dari sedikit literatur yang layak dibaca sebagai  roman sejarah yang menyinggung masa paling kelam dalam catatan historis kemanusiaan di Indonesia.

Ahmad Tohari terbilang berani untuk mengangkat tema yang termasuk tabu untuk dibicarakan di masanya. Tragedi 1965. Tragedi kemanusiaan yang dianggap sebagai noda sejarah yang diharamkan oleh rezim otoritarian yang bertiran kala itu, justru menjadi unsur gawatan dalam alur trilogi yang secara sentimentil didedahkan Ahmad Tohari dalam usahanya membangun klimaks cerita RDP.

Sekilas Proses Kreatif

Laiknya karya-karya sebelumnya, Di Kaki Bukit Cibalak (1978) dan Kubah(1980), Ahmad Tohari tidak sedikitpun mengabaikan pengalaman kedesaannya dalam merangkai cerita dalam trilogi RDP.

Lihatlah, begitu rincinya Tohari menggambarkan lansekap alam pedukuhan yang tak jarang dideskripsikan dengan istilah-istilah lokal. Begitu kompleksnya penokohan yang tercipta, sekaligus dengan ragam konflik kehidupan individu, lengkap dengan Read More…

Resensi: Kubah

Kubah

Kikuk selepas terbebas dari penjara di Pulau B., yang telah merenggut hidupnya selama 12 tahun, Karman berusaha berjalan menjauhi lapas walau gontai. Di bawah pohonan rimbun Karman akhirnya beristirahat, namun pikirannya tidak. Pikirannya melayang-layang ke tahun-tahun kelam di barak, ke momen pedih kehilangan istri dan sanak famili, sampai ke masa-masa getir saat dosa sejarah mulai ia tanggung. Dari sinilah cerita sepanjang sebelas bab dimulai.

Ada apa dengan Kubah?

Lewat novel Kubah (1980), Ahmad Tohari bercerita tentang sejarah kelam Indonesia pada masa-masa pengkhiantan sebuah partai komunis dari sudut pandang seorang Karman, seorang lelaki desa yang terpaksa menanggung beban sejarah. Berlatar pedesaan pada tahun 60-70an, Read More…

Resensi: Manusia Indonesia

Manusia Indonesia (Sebuah Pertanggungan Jawab)

“Wajah lama sudah tak keruan di kaca, sedang wajah baru belum jua jelas.” Itulah kutipan kalimat yang cukup menohok untuk mengawali sebuah buku yang cukup kontroversial di jamannya. Tepatnya sebuah buku yang disarikan dari naskah pidato kebudayaan Mochtar Lubis pada 6 April 1977, di TMII Jakarta.

Pertanyaannya, apa yang membuat buku ini kontroversial? Jawabnya adalah keseluruhan isi pidato Mochtar Lubis yang sangat tajam mengkritik keadaan sosial masyarakat Indonesia pada waktu itu. Bayangkan, saat kehidupan masyarakat Indonesia berada pada zona nyaman (tahun 1977 relatif tidak ada konflik berarti) sekonyong-konyong Bung Mochtar dengan pedas Read More…