Tag Archive | sejarah

Review: Agora

Cerita Hypatia Dari Alexandria

Poster film Agora.

Ia adalah seorang astronom, matematikawan, sekaligus filsuf ternama asal Alexandria, Mesir. Hypatia (370-415 M) berkembang ketika Alexandria berada dalam rentang masa kejayaan sebagai pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Sebagai cendekiawan, Hypatia berkegiatan di Musaeum Alexandria, sebuah komplek yang mencakup laboratorium penelitian, perpustakaan, ruang-ruang kelas, serta amphiteathre; yang kelak menjadi cikal bakal bentuk kampus modern. Dan, ya, Hypatia berkegiatan di hampir semua ruang Musaeum sebagai peneliti, pustakawan, dan juga pengajar filsafat alam.

Di zaman wanita masih menjadi warga kelas dua, Hypatia telah mencapai derajat tinggi berkat ilmu pengetahuan. Tidak hanya meneliti dan mengajar, Hypatia juga berperan sebagai pemuka masyarakat. Pendapatnya didengar, pandangannya diperhitungkan, tidak hanya dalam lingkaran masyarakat, tapi juga dalam lembaga semacam parlemen kala itu. Hypatia, ia pemikir, ia pengajar, ia legenda, dan ia wanita. Bayangkan!

Jika belum terbayang, ada baiknya anda menyaksikan film Agora (2009), sebuah film biografi tentang Hypatia karya sutradara Spanyol, Alejandro Amenábar. Sutradara sekaligus penulis skenario film ini mencoba menafsir sejarah hidup Hypatia dalam periode keemasannya, yaitu ketika Hypatia banyak menghasilkan karya hasil penelitian dan kegiatan akademisnya pada awal abad ke-5.

Sayangnya, dalam kenyataan, hampir semua rekam jejak karya Hypatia tiada yang bersisa. Sejarah sebetulnya ‘hanya’ mencatat Hypatia lewat surat-suratnya, atau tulisan-tulisan cendekiawan lain yang merujuk karyanya.

Kenapa gerangan karya Hypatia tiada yang bersisa?

Inilah salahsatu konflik menarik yang mewarnai plot film Agora. Selain pusat pembelajaran kebudayaan dan ilmu pengetahuan, Musaeum Alexandria juga menjadi tempat berdirinya kuil kaum pagan. Pada masa yang sama kota Alexandria, yang berada di bawah kekaisaran Roma, menjadi salahsatu pusat perkembangan agama Kristen. Disinilah konflik bermula. Kaum fundamentalis Kristen Romawi yang sedang gencar-gencarnya menyebarkan ajaran, menilai bahwa kaum pagan adalah para pendosa yang gemar melakukan bid’ah. Untuk itu, mereka harus di-Kisten-kan atau dimatikan sekalian.

Segala hal yang berkaitan dengan paganisme mulai dari patung hingga manuskrip dihancurkan dan dibakar. Tidak terkecuali Library of Alexandria yang menyimpan ribuan manuskrip dan dokumentasi penelitian maupun pemikiran cendekiawan Alexandria. Tercatat dalam sejarah, pada 391 M perpustakaan kuno yang kelak menjadi cetak biru perpustakaan modern tersebut dihancurkan oleh fundamentalis Kristen, termasuk karya-karya Hypatia di dalamnya.

Adegan film Agora.

Di tengah kemelut keagamaan yang semakin parah di Alexandria, Hypatia tetap melanjutkan risetnya tentang astronomi yang sempat tertunda. Keteguhan hatinya membuahkan hasil. Tercatat dalam sejarah, Hypatialah yang pertamakali memetakan bahwa bumi mengelilingi matahari dalam lintasan elips, ketika masyarakat belum lagi beranjak dari kepercayaan bahwa bumi itu datar dan adalah pusat alam semesta (riset Hypatia tentang orbit elips jauh mendahului hukum Johannes Kepler tentang hal yang sama pada 1609).

Sebagai filsuf, Hypatia bersikukuh untuk tidak pernah menerima mentah-mentah segala sesuatu yang belum sempat dipertanyakan, termasuk masalah keyakinan. Atas dasar inilah ia menolak untuk menerima ajaran Kristen. Karenanya Hypatia tetap dicap sebagai kafir oleh rahib-rahib Kristen saat itu. Dan seperi manuskrip karyanya, Hypatia ‘dihancurkan’ secara barbar dan biadab.

Terlepas dari akurasi sejarah dalam film Agora–mengingat minimnya sumber otentik mengenai Hypatia–saya tetap menikmatinya sebagai film biografi yang faktual. Diluar kekurangan fokus cerita akibat terlalu banyak konflik yang muncul, saya rasa film ini masih menyimpan daya tarik tematik, walaupun (jujur!) film ini agak membosankan di bagian pertengahan. Namun berkat akting Rachel Weisz yang secara anggun memerankan Hypatia, konsentrasi menonton saya tetap tertambat.

Lewat film ini saya baru mengetahui tentang Hypatia, cendekiawan visioner anak kandung budaya keilmuan Alexandria. Ia memiliki segala kriteria untuk digolongkan sebagai wanita modern, berpendidikan, beradab, dan terhormat. Karenanya, Hypatia adalah tipikal manusia yang melampaui zamannya.[]

Arfan

__________
Agora (2009)
Sutradara: Alejandro Amenábar | Skenario: Alejandro Amenábar, Mateo Gil | Pemain: Rachel Weisz, Max Minghella, Oscar Isaac.

Sumber gambar: imb.com & screen captured video.

Advertisements

Review: Sang Penari

Tafsir Visual Ronggeng Dukuh Paruk

Poster film Sang Penari.

Setelah menyaksikan film Sang Penari (2011) saya sempat kaget dan hampir-hampir kecewa, kalau saja saya tidak menemukan pernyataan sang penulis skenario, Salman Aristo, yang memilih mengatakan film ini terinpirasi kisah dalam trilogi Ronggeng Dukuh Paruk (1981), daripada mengadaptasinya.

“Karena sangat tidak mungkin mengadaptasi tiga cerita dalam trilogi novel itu ke dalam satu film.” tambahnya.

Pernyataan Salman sebelum film ini rilis pada 10 November 2011, boleh jadi adalah kalimat antisipasi agar penonton lebih permisif mendapati kenyataan bahwa tidak seluruh mozaik cerita novel terekam utuh dalam visualisasi. Dan memang tidak mungkin kisah dalam tiga buku–Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala–dimampatkan dalam gambar bergerak berdurasi satu jam lebih sedikit saja.

Sekilas Sinopsis
Film yang diangkat dari karya fenomenal trilogi Ronggeng Dukuh Paruk (RDP) milik Ahmad Tohari, mengangkat secuil kisah prahara sejarah 1965–dalam mata rantainya yang kesekian–yang menimpa komunitas kecil Dukuh Paruk. Pedukuhan sederhana dengan masyarakatnya yang belum tersentuh ideologi apapun selain kepercayaan terhadap arwah leluhur ini memiliki monumen kebudayaan turun temurun: seni ronggeng.

Film ini bercerita tentang kisah dua anak manusia di Dukuh Paruk, Srintil (Prisia Nasution) dan Rasus (Oka Antara) yang sejak kecil memendam perasaan saling menyukai. Dukuh Paruk, desa yang terlampau bersahaja memiliki seorang ronggeng yang dielu-elukan sebagai kebanggaan pedukuhan. Pada suatu pagi peristiwa keracunan tempe bongkrek merenggut nyawa nyai ronggeng dan sebagian penduduk desa. Srintil cilik turut merasa bersalah, karena orangtuanyalah si pembuat tempe beracun itu. Selepas kejadian maut tersebut Dukuh Paruk mati suri, terlebih karena tak adanya ronggeng.

Didorong perasaan bersalah, dan kepercayaan tetua Dukuh Paruk bahwa tubuhnya telah dirasuki indang ronggeng, Srintil memutuskan untuk menjadi ronggeng. Kesenian ronggeng kembali digelar. Dukuh Paruk kembali hidup. Ronggeng dalam kebudayaan masyarakat sekitar Dukuh Paruk adalah wanita yang tidak sekedar melenggak-lenggok di pentas, tetapi juga berarti wanita milik semua lelaki yang berani membayar.

Dengan definisi ronggeng tersebut, Rasus merasa Srintil telah dicuri dari kehidupannya. Srintil pun menghadapi dilema antara meneruskan cita-citanya menjadi ronggeng dan mempertahankan hubungannya dengan Rasus. Di bawah perasaan kecewa, Rasus pergi dari Dukuh Paruk, nasib membawanya memasuki dunia kemiliteran. Sementara Srintil semakin matang dan malang melintang di dunia ronggeng.

Tahun berganti tahun, dan sampailah masa dimana peristiwa geger 1965 berkecamuk. Rasus yang telah menjadi tentara menemukan kenyataan bahwa warga dan grup kesenian ronggeng Dukuh Paruk ternyata terlibat dosa sejarah tersebut, meski dalam arti yang paling bias. Akhirnya keadaan membawa dilema berikutnya, Rasus berada di persimpangan. Ia harus memilih antara pengabdian pada negara dan pencarian cintanya yang hilang, Srintil.

***

Sulit memenuhi niat saya sebelumnya, untuk tidak akan membandingkan kisah dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk dengan visualisasinya dalam film Sang Penari. Saya berusaha menonton film tersebut sebagai sebuah karya utuh yang tidak membawa beban berat untuk menyajikan kemahsyuran kisah dalam trilogi RDP. Setiap selesai menyaksikan scene demi scene, otak ini maunya mengomentari melulu kesesuaian cerita dalam film dengan kisah tertulisnya. Sulit untuk tidak. Karena, jujur, ketika menonton saya belum mahfum kalau film ini bukanlah adaptasi bulat, melainkan sekedar terisnpirasi kisah RDP, seperti pernyataan penulis skenarionya di atas.

Ada dua hal yang sengaja atau tidak selalu saya perhatikan dalam jenis film adaptasi literatur: visualisasi dan logika cerita. Dua hal tersebut yang akan memantapkan bentuk unsur-unsur penting cerita seperti latar, penokohan, dan plot. Apapun istilahnya, film adaptasi adalah dramatisasi kata-kata yang divisualisasikan. Film adaptasi haruslah mampu menyuguhkan pengalaman yang senada (jika tidak mungkin sama) dengan pengalaman membaca literaturnya. Untuk dapat memberikan pengalaman tersebut, maka visualisasi dan logika cerita menjadi penting.

Visualisasi yang Mantap
Sang Penari, saya rasa adalah film yang telah melampaui keperluan akan penilaian kualitas visualisasinya. Dalam hal ini sutradara Ifa Isfansyah patutlah berbangga atas hasil kerja kerasnya. Betapa segala hal berbau teknis nampak jelas direncanakan secara maksimal oleh Ifa, Yadi Sugandi (penata kamera), dan Eros Eflin (penata artistik).

Pengambilan gambar yang sering dilakukan secara tight (dekat, contohnya: wajah tokoh memenuhi layar) berhasil ‘mengumbar’ emosi tokoh-tokohnya secara total. Pengambilan gambar tanpa tripod (penyangga kamera) saat mengambil adegan-adegan dinamis seperti tarian ronggeng atau kericuhan pedukuhan, sehingga gambar menjadi goyang-goyang terkendali, membuat adegan lebih dramatis.

Adegan film Sang Penari.

Karakter-karakter kunci sungguh diperankan dengan maksimal. Pemeran Srintil, Rasus, Nyai dan Kang Kartareja, Kang Sakarya, hingga Sakum si buta penabuh gendang begitu total dan dramatis. Logat Banyumasan yang kental di setiap dialog terdengar alami. Khusus bicara peran, saya begitu terkesan menyaksikan pemeran Sakum dalam film.

Gerakan pemeran Srintil walau terlihat berusaha keras (baca: kurang luwes) saat adegan menari ronggeng dapat diatasi dengan sudut pengambilan gambar. Adegan yang memerlukan masyarakat umum untuk berinteraksi dengan tokoh utama, juga terlihat natural. Saya tidak menemukan pameo yang kaku (biasanya terlihat dalam gerak berjalan, atau gerak curi pandang ke kamera) yang berpotensi merusak suasana. Satu lagi yang patut diacungi jempol, adegan saat Srintil menjalani ritual bukak klambu dan ‘adegan kamar’ lainnya, jauh dari kesan seronok. Lagi-lagi teknik pengambilan gambar dan pencahayaan yang berperan di sini.

Pemilihan set lokasi terlihat maksimal. Bagaimana penggambaran pedukuhan, alam pedesaan, pasar, dan lokasi penting lainnya cukup mewakili gambaran seperti definisi cerita dalam novel aslinya. Walaupun ada scene yang menggambarkan pedesaan Paruk terlampau hijau, subur-makmur, padahal latar Dukuh Paruk dalam novel adalah desa yang kering kerontang. Namun, secara umum visualisasi film Sang Penari terbilang mantap.

Pemahaman Cerita yang Sulit
Sulit di sini bukan berarti cerita film ini berat, bukan pula karena alur yang terlampau canggih macam film-film eksperimental. Pemahaman cerita menjadi sulit justru karena hal-hal sepele. Hal-hal tersebut menjadi kekurangan yang memengaruhi logika cerita, kekurangan mendasar yang seharusnya dapat dihindari.

Pertama, minimnya narasi. Narasi menjadi penting dalam setiap karya yang bercerita. Dalam novel RDP narasi dipaparkan dengan sangat jelas, terutama karena penulisnya (Ahmad Tohari) mengambil sudut pandang orang ke tiga, pencerita yang serba tahu. Dalam film, entah mengapa pengenalan tokoh, penjelasan peristiwa, maupun penjelasan adegan penting lainnya terasa tergesa-gesa.

Akibat minimnya narasi, kaitan antara waktu dan adegan menjadi membingungkan. Maksud saya, dalam film ini adalah kaitan antara tahun dengan keadaan sosio-histori masyarakat. Memang ada penanda berupa tulisan tahun terjadinya kisah di layar. Namun apa yang sesungguhnya terjadi pada tahun tersebut kurang terjelaskan. Contoh fatalnya adalah adegan ketika pecahnya peristiwa 1965, hanya terjelaskan lewat suara berita di radio kuno. Selebihnya, penonton harus sudah tahu dari awal, bahwa pada 1965 ada gerakan G30S/PKI yang menyebabkan gegernya keadaan sosial politik kala itu. Lantas, bagaimana jika ada penonton yang tidak tahu tentang PKI dan pengaruhnya terhadap masyarakat?

Cukup sering saya temukan kejanggalan dalam film yang diakibatkan tiadanya narasi. Contoh lain yang juga fatal adalah adegan perubuhan makam Ki Secamenggala. Siapa yang merubuhkan, motifnya apa, dan dampak terhadap adegan selanjutnya apa sungguh membingungkan penonton. Lagipula, siapa itu Ki Secamenggala, kurang terjelaskan.

Kedua, penokohan yang menggantung. Siapa itu neneknya Rasus, siapa itu Juragan Perkebunan bersafari dan celana putih, siapa itu temannya Rasus dan Srintil yang menyetir mobil di akhir-akhir cerita, mereka adalah tokoh yang kurang terjelaskan perannya. Juga kurang masuk logika untuk apa mereka ada, karena tidak terlihat pengaruhnya terhadap jalan cerita.

Ketiga, hilangnya kesan jarak dalam latar. Contohnya, antara Dukuh Paruk dan pasar. Sedekat itukah hingga Rasus berpindah-pindah tempat begitu mudahnya, padahal Srintil yang ketika itu telah jadi ronggeng perlu naik andong ke pasar tersebut.

Keempat, adegan yang kurang jelas, yang tidak saya mengerti keterkaitannya dengan adegan-adegan lain. Adegan-adegan ini akhirnya mengganggu logika cerita keseluruhan. Contohnya, adegan Juragan Perkebunan yang bolak-balik ke Dukuh Paruk untuk menawar Srintil, terasa begitu cepat dan kurang jelas bagaimana akhirnya. Juga ada adegan ketika terjadi pembantaian bekas anggota partai terlarang yang ditembakki tentara. Dalam scene adegan tersebut, pencahayaan terlampau minim cenderung gelap. Mungkin untuk menghindari kesan sadis. Tapi akibatnya adegan tersebut jadi tidak jelas.

Adegan film Sang Penari.

Adegan kurang jelas lainnya, saat Srintil disekap oleh tentara, lalu temannya meminta pada penjaga supaya Srintil dapat keluar sementara waktu (Omong-omong, kenapa pula si temannya itu tidak ikut disekap? Padahal dia termasuk warga Dukuh Paruk yang kesemuanya ditangkap tentara. Kenapa dia sendiri tidak?). Mereka mengendarai mobil. Tiba-tiba Srintil ada di sebuah kamar, lalu meludahi cermin. Tidak jelas!

Untuk yang sempat membaca novelnya, adegan di atas pasti adalah adegan untuk menggantikan kisah saat Srintil ‘dijual’ oleh mandor yang baru berkenalan dengannya, kepada bos kontraktor di kota besar. Sebenarnya ini adalah adegan paling sentimentil dan paling berkesan, karena adegan inilah yang mengantar klimaks utama dari keseluruhan cerita trilogi Ronggeng Dukuh Paruk.

Terlepas dari pengaruh sensor atau hal teknis lainnya, kekurangan-kekurangan di atas pada akhirnya merusak logika cerita secara keseluruhan sehingga sulit untuk memahami film secara penuh. Sayang sekali.

***

Alhasil saya hanya mampu menduga-duga dan mengait-ngaitkan cerita dalam film dengan ingatan terhadap kisah dari novel RDP, artinya konsentrasi saya buyar. Sejujurnya, sungguh tidak nikmat menonton film adaptasi literatur dengan konsentrasi terpecah begini. Sebentar pikiran mencari ingatan gambaran dalam buku, sebentar lagi kembali mengamati layar lebar. Dalam hal ini, saya rasa beruntunglah penonton yang belum sempat membaca Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk.

Patut pula diperhatikan kekurangan-kekurangan yang sebetulnya remeh, namun justru berpotensi menggagalkan pemahaman penonton terhadap alur cerita seperti yang telah saya bahas di atas; terutama bagi penonton yang tidak awas (termasuk saya :b) dan bagi yang tidak paham ada apa di medio 60-an. Dalam hal ini, saya rasa jauh lebih baik untuk terlebih dahulu membaca Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk sebelum menonton film Sang Penari.

Akhirnya, saya kembali diingatkan, belum pernah ada film yang diadaptasi dari literatur berbahasa Indonesia yang betul-betul memuaskan.[]

Arfan

__________
Sang Penari (2011)
Sutradara: Ifa Isfansyah | Skenario: Salman Aristo, Ifa Isfansyah, Shanty Harmayn | Pemain: Oka Antara, Prisia Nasution, Slamet Rahardjo, Dewi Irawan, Landung Simatupang, Hendro Djarot, Lukman Sardi

Sumber gambar: Facebook.com/SangPenari.