Tag Archive | Studia Humanika

STUDIA HUMANIKA – Pengantar Mengenal Fenomenologi

Kuliah ini merupakan dasar untuk memahami apa itu fenomenologi. Untuk itu, pada tahap awal diuraikan sejarah gerakan fenomenologi (phenomenological movement) berikut dengan tokoh-tokohnya. Berikutnya di bahas topik, gagasan, konsep dan ruang lingkup kajian fenomenologi. Terakhir, didiskusikan pengaruh fenomenologi terhadap pelbagai pemikiran kontemporer, seperti pemikiran tentang politik, sosial, budaya, agama dan sains.

TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM
1. Agar peserta mendapatkan pengetahuan awal tentang munculnya gerakan fenomenologi.
2. Agar peserta memahami pelbagai tema dan konsep-konsep dasar dalam fenomenologi.
3. Agar peserta dapat merasakan manfaat fenomenologi dalam hubungannya dengan aktivitas keintelektualannya sehari-hari di kampus.

Metode Pembelajaran yang dipergunakan adalah kombinasi, ceramah, diskusi, dan simulasi secara terstruktur. Read More…

Studia Humanika – Mengkaji Ibnu Rusyd: dari Kosmologi ke Politik

Abū ʾl-Walid Muhammad bin Ahmad binʾ Rušd (Arab: أبو الوليد محمد بن احمد بن رشد), lebih dikenal hanya sebagai Ibnu Rusyd (Arab: ابن رشد), dan dalam literatur Eropa sebagai Averroes (/ əvɛroʊ.i ː z /; 1126 – 10 Desember 1198).

Ibnu Rusyd adalah seorang polymath Muslim, seorang master filsafat Aristoteles, filsafat Islam, teologi Islam, hukum dan yurisprudensi Maliki, logika, psikologi, politik, teori musik Arab, dan ilmu-ilmu kedokteran, astronomi, geografi, matematika , fisika dan mekanika langit. Beliau lahir di Córdoba, Al Andalus, Spanyol, dan meninggal di Marrakesh, Maroko.

Mazhab filsafat Ibnu Rusyd dikenal sebagai Averroism. Beliau adalah pembela filsafat Aristoteles terhadap klaim dari para teolog Islam seperti Al-Ghazali, yang khawatir bahwa ajaran-ajaran seperti itu akan menjadi penghinaan terhadap ajaran Islam.

Pemikiran Ibnu Rusyd, khususnya kajiannya tentang Aristoteles, sangat berpengaruh di kalangan pemikir Eropa zaman Renaissance. Sayangnya, di kalangan umat Islam sendiri, pemikiran Beliau belum begitu populer. Beliau memang tidak sendiri. Kebanyakan filsuf Muslim klasik hanya diperlakukan sebagai bagian dari romantisme sejarah. Mereka diangkat sebagai bukti superioritas Peradaban Islam atas Peradaban Barat di suatu masa, mungkin sebagai pengobat perasaan inferioritas terhadap Barat saat ini. Read More…

(STUDIA HUMANIKA) Kuliah Pengantar Mengenal Pemikiran Slavoj Žižek

Slavoj Zizek in Liverpool, cropped version of ...

Sebagai pemikir yang melawan arus, Slavoj Žižek seringkali hanya dipandang sebagai figur eksentrik atau reaksioner, dengan gaya menulis yang genit. Žižek memang gemar bicara tentang perkara teoretis yang sublim dan pelik dengan memadukannya pada berbagai gejala budaya pop. Misalnya membahas dekonstruksi filosofis dengan mengaitkannya pada film ‘Alien’; semacam bicara ihwal musik klasik dengan mengacu pada dangdut.

Gaya penulisannya memang sangat idiosinkretik, tak lazim dan agak di buat-buat, hingga substansi isinya memang sering terasa kabur. Sayang bahwa ini semua membuat para pembacanya jadi kurang peka terhadap kesungguhan substansi yang ditawarkannya. Di sisi lain, tulisan-tulisan Žižek memang juga fragmentaris dan tak mudah untuk dipadukan dalam suatu kesatuan utuh. Maka tak mengherankan bahwa orang sering tak terlalu melihat signifikansi yang serius pada tulisan-tulisannya itu.

Kuliah ini akan mencoba memperkenalkan kepada publik terbuka secara fasih dan renyah pemikiran Slavoj Žižek itu. Thomas Kristiatmo adalah orang pertama di Indonesia yang menuliskan sebuah buku utuh tentang pemikiran Slavoj Žižek dan telah diterbitkan untuk publik pembaca di Indonesia.

Di lingkungan orang-orang yang mengenalnya, Atmo, begitu dia biasa dipanggil, dikenal memiliki artikulasi yang baik dalam mempresentasikan berbagai pemikiran filsafat yang rumit melalui analogi-analogi yang mudah dimengerti. Begitu juga uraian-uraiannya dalam buku pertama karyanya “Redefinisi Subjek dalam Kebudayaan: Pengantar Memahami Subjektivitas Modern Menurut Perspektif Slavoj Žižek”. Read More…

Studia Humanika – Derrida: déjà vu (Pengantar dan Pembacaan Ulang)

Membaca Derrida adalah sebuah pengalaman déjà vu, pertemuan dengan seseorang yang sepertinya pernah kita kenal namun ternyata sama sekali tak kita kenal, pengalaman akan “orang baru” namun dengan memori lama. Dalam setiap déjà vu, terdapat sebuah ketegangan kecil antara kebaruan dan masa lalu, antara kejutan dan ingatan, antara perbedaan dan repetisi, antara masa kini dan masa lalu yang pernah hadir.

Derrida adalah sosok yang kita jumpai dalam momen déjà vu: kita tampak seperti telah mengenalnya dengan baik, tapi makin kita merasa telah mengenalnya, makin tampak bahwa kita belum terlalu mengenalnya. Maka, ketika pemikirannya kemudian dicerca, dianggap kuno, dan bahkan diklaim telah selesai oleh para penantang dan kritikusnya dalam perdebatan filsafat dewasa ini, kita perlu bertanya: benarkah Derrida sungguh-sungguh telah berakhir?

Sebuah pembacaan ulang akan menyelamatkan kita dari generalisasi yang membabi-buta dan membuka kembali reinterpretasi yang lebih serius atas oeuvre-nya. Pembacaan itu akan menunjukkan bahwa filsafat kontemporer tidak bisa kembali lagi ke era “pra-Derrida” tanpa memberikan jawaban yang memadai dan benar-benar adekuat terhadap problematik-problematik filsafat yang telah dibuka oleh dekonstruksi. Kembali ke era “pra-Derrida” dengan mengabaikan Derrida merupakan langkah gegabah yang tidak filosofis dan cenderung naif, sama seperti upaya untuk kembali ke “metafisika” tanpa terlebih dulu menjawab tantangan yang dimunculkan oleh “kritik metafisika”.

Seri kuliah filsafat ini merupakan sebuah pembacaan ulang atas Derrida dan dekonstruksi. Kuliah akan dimulai dari penelusuran secara sistematis problem-problem mendasar yang dihadapi oleh Derrida, dan bergerak pada metodologi, temuan teoretis dan implikasi serta problematik dekonstruksi. Kuliah ini dirancang untuk mengkaji pemikiran Derrida secara konseptual, dan diperuntukkan terutama bagi para pengkaji Derrida secara khusus, pembaca filsafat Barat, dan peminat filsafat pada umumnya. Read More…

Kuliah Umum – Yasraf Amir Piliang

SEMIOTIKA DAN HIPERSEMIOTIKA: Kode, Gaya dan Matinya Makna

“…Semiotika pada prinsipnya adalah sebuah disiplin yang mempelajari segala sesuatu yang dapat digunakan untuk berdusta.” (Umberto Eco)

Definisi Eco ini—meskipun mungkin sangat mencegangkan banyak orang—secara eksplisit menjelaskan betapa sentralnya konsep dusta di dalam wacana semiotika, sehingga dusta tampaknya menjadi prinsip utama semiotika itu sendiri. Akan tetapi, apa sesungguhnya maksud Eco dengan definisi tersebut: apakah ia tengah bermain-main; tengah menawarkan sebuah bahasa hiperbolis; tengah menciptakan metafora; atau tengah melakukan dusta itu sendiri? Sebab, bila segala sesuatu—yang dalam terminologi semiotika disebut sebagai tanda—semata alat untuk berdusta, maka setiap tanda akan selalu mengandung muatan dusta; setiap makna adalah dusta; setiap pengguna tanda adalah para pendusta; setiap proses pertandaan adalah kedustaan; Eco sendiri adalah seorang pendusta; dan, semiotika itu sendiri tak lebih dari sebuah ilmu tentang kedustaan?

Lalu, bagaimana dengan hipersemiotika? Hipersemiotika dapat diartikan sebagai teori kedustaan. Awalan hiper pada istilah hipersemiotika—yang bermakna melampaui—memperlihatkan, bahwa hipersemiotika tidak sekadar teori kedustaan, akan tetapi teori yang berkaitan dengan relasi-relasi lainnya yang lebih kompleks antara tanda, makna, dan realitas, khususnya relasi simulasi. Pertanyaan pertama yang mungkin muncul adalah: apakah mungkin ada ilmu semacam itu? Bila ada, apa relasinya dengan semiotika (semiotics atau semiology)? Apakah ia berbeda dengan semiotika, atau merupakan kategori baru semiotika?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, maka Studia Humanika Salman akan mengadakan kuliah publik dari Yasraf Amir Piliang dengan judul: “Semiotika dan Hipersemiotika: Kode, Gaya dan Matinya Makna”. Kuliah ini merupakan pengantar awal untuk Serial kuliah publik berikutnya dari Yasraf Amir Piliang, yang mengangkat tema “Semiotika”, di bulan Desember mendatang. Read More…

Kuliah Umum "Memahami Bahasa Agama"

Memahami Bahasa Tuhan

Sebuah resensi dari buku Memahami Bahasa Agama

Bahasa kitab suci” Al Qur’an” terkenal sangat indah namun, sedikit orang yang mampu memahaminya. Dikarenakan Al Qur’an bukan kitab sastra juga buku ilmiah melainkan bahasa Tuhan. Bahasa arab kitab suci”Al Qur’an” seringkali di anggap kompleks oleh siap saja. Hanya, mereka yang memiliki intregritas dapat menjelakan dengan baik apa maksud bahasa Tuhan dalam kitab suci. Setidaknya, untuk mencoba memahami bahasa Tuhan seseorang harus memunyai bekal ilmu pengetahuan seperti, Ushul Fiqh, Nahwu, Mantiq, Balaghah, Ulumul Qur’an dan lain-lain.

Sekarang ini, banyak sekali orang yang hanya memahami bahasa Tuhan sesuai dengan kepentingannya sendiri. Misalanya, menafsirkan ayat-ayat untuk berjihad maupun untuk mengikuti kelompok Islam tertentu. Akhirnya, penafsiran yang di lakukan seolah-olah atas dasar kehendak Tuhan. Bukankah, menafsirkan bahasa Tuhan tidak boleh seenaknya sendiri?

Buku bertajuk ”Memahami Bahasa Agama: Sebuah Kajian Hermeneutika” karya Komarudin Hidayat hadir. Beliau, berupaya memperkenalkan metode baru kepada kita dalam menafsirkan kebahasaan Al Qur’an yakni dengan menggunakan metode baru ”hermenutika”. Sebab, al Qur’an erat kaitannya dengan masalah bahasa. Menurutnya, metode hermeneutika dapat membantu umat Islam dalam memahami bahasa teks suci yang berupa “Al Qur’an”.

Komarudin Hidayat, mengajak kepada pembaca untuk bersikap kritis dan kreatif dalam menafsirkan bahasa Tuhan. Selama ini, kendala memahami bahasa Tuhan menjadi persoalan serius yang kemudian telah meredupkan semangat mengintrepretasikan teks suci. Hal ini, telah menjadi persoalan laten di internal umat Islam. Menggunakan pendekatan metode hermenutika diharapkan dapat mempermudah kita dalam memahami bahasa teks suci yang berupa Al Qura’an. (hal 53)

Bahasa Tuhan memang sulit di prediksi apa bunyi kemauannya. Setelah bahasa Tuhan berwujud tulisan yang di tulis manusia secara tidak langsung menjadi kesempatan bagi manusia untuk menafsirkan sesuai pengetahuannya bukan? Dan, yang menjadi pertanyaan besar adalah sejauhmana keunggulan hermenutika bila dibandingkan metode-metode yang sudah ada seperti ilmu ulumul qur’an maupun ushul fiqh?

Kedua ilmu tersebut sudah lama di jadikan pijakan di kalangan umat Islam untuk menafsirkan teks suci”Al Qur’an”. Dalam buku ini, penulis menunjuk kepada tiga macam bidang kajian wacana yaitu, ungkapan yang di gunakan untuk menjelaskan objek pemikiran metafisis. Kedua, bahasa kitab suci”Al Qur’an”. Ketiga, bahasa ritual keagamaan (hal 67)

Dengan begitu, maksud teks suci bisa di mengerti pembacanya. Terlepas dari semua itu, saya rasa wacana pemikiran yang di tawarkan oleh Komarudin Hidayat patut di pertimbangkan. Sebagai seorang muslim yang bepegang teguh pada ajaran Al Qur’an sudah sejatinya kita tidak boleh berhenti untuk mengkajinya. Kehadiran buku ini, penting untuk di baca oleh siapa saja. Sebagai khazanah keilmuan di zaman kekinian. Mengingat, bahwa Al Qur’an bukanlah manuskrip atau buku ilmiah yang menyajikan formula baru eksak.

Sehingga sulit bagi seseorang untuk memprediksikan bunyi dan makna teks yang sesungguhnya. Lewat buku ini, sekiranya dapat menumbuhkan spirit bagi umat Islam untuk mengembangkan kajian mengenai kitab sucinya yang berupa “Al Qur’an” sesuai dengan perkembangan keilmuan.Sebagaimana dikatakan Yasraf Amir Piliang dalam pengantarnya.

Buku ini, menawarkan sebuah perluasan horizon untuk pemahaman bahasa agama. Serta memperkenalkan metode baru dalam menafsirkan pemahaman teks-teks keagamaan seperti Al Quran dan As Sunnah. Tentunya, merugi bila Anda melewatkan buku ini bukan?

(Peresensi adalah Ahmad Faozan, Ketua Himasakti (Himpunan Mahasiswa Alumni Santri Keluarga Tebuireng), Yogyakarta. Artikel ini di copy dari http://oase.kompas.com. Read More…

Kajian Sastra Interdisipliner

Pengkajian sastra yang dilakukan dalam kelas-kelas akademik maupun di buku dan jurnal sastra kebanyakan membahas ‘karya sastra’ dalam artiannya yang sempit, yaitu prosa, puisi, dan/atau drama. Yang termasuk prosa ‘hanyalah’ genre novel atau cerita pendek. Esai, otobiografi, ataupun risalah perjalanan, maupun bentuk lain dari tulisan verbal jarang sekali dibahas—apalagi tulisan yang bentuknya non-verbal.

Dalam kelas-kelas sastra di universitas, karya sastra yang berupa prosa, puisi dan drama tadi pun lebih sering dibahas elemen strukturalnya. Hal ini membuat kajian sastra menjadi sempit sekali cakupannya. Padahal sastra dapat berarti teks secara luas.

Dalam sejarahnya, sastra pun mempunyai fungsi yang berbeda-beda dan penting. Berkembangnya teori bahasa di abad ke-20 dan ke-21 membuat cakupan sastra menjadi sangat luas hingga meliputi seluruh set institusi ideologi: jurnal, kedai kopi, artikel sosial dan estetika, uang, ceramah agama, terjemahan klasik, iklan, buku panduan sikap dan moral, kaset, instalasi dll. Meluasnya cakupan ini memaksa kajian sastra untuk melonggarkan dirinya hingga melampaui batas-batas ‘disiplin’.

Forum yang diberi judul Kajian Sastra Interdisipliner ini menawarkan sedikit dari sekian banyak kajian sastra yang melampaui batas disiplin ilmu, ia akan mengekplorasi persinggungan (intersection) sastra dengan disiplin ilmu lainnya. Read More…