Tag Archive | tafsir novel

Review: The Old Man and the Sea

Santiago dan Marlin Itu…

Poster film The Old Man and the Sea.

Karya sastra yang indah memang tak pernah berhenti sampai sebatas teks. Setelahnya, akan selalu bermunculan karya tafsir tentangnya. Contoh populernya yaitu film. Film adaptasi merupakan media yang menggoda untuk menjadi alternatif bentuk dari karya prosa, cerpen, atau drama. Menggoda, karena di dalamnya seolah terjadi perdebatan imajinasi: imajinasi penonton (pembaca) melawan imajinasi sineas. Dalam konteks ini, menurut saya, tidak banyak film adaptasi yang terbilang berhasil.

Di antara yang sedikit itu adalah film pendek berjudul The Old Man and the Sea (rilis 1999) karya Alexander Petrov. Dari judulnya saja sudah bisa diterka, film ini adalah adaptasi karya Ernest Hemingway berupa novela berjudul sama, The Old Man and the Sea (terbit 1952). Karya penting Hemingway yang mengantar penulisnya memenangkan Pulitzer pada 1953 itu diadaptasi oleh Petrov dalam bentuk animasi berdurasi 20 menit saja. Lewat animasi pendek ini, Petrov mampu menyuguhkan secara utuh imajinasinya tentang kisah Santiago, nelayan tua yang heroik itu.

***

Di tengah kegamangan karena keberuntungannya yang makin tumpul, Santiago diam-diam masih memelihara semangat mudanya. Suatu malam, dengan diantar Manolin, bocah didikannya, Santiago berangkat melaut bersama puluhan nelayan di kampungnya. Santiago memisahkan diri. Di tengah laut, hanya ada ia, sampan, dan beberapa mata pancing. Satu persatu mata kail ia masukan ke kedalaman laut. Tak disangka-sangka, ada seekor ikan yang menyambar umpan. Dari tarikannya, Santiago menebak bahwa ini ikan besar. Santiago berjuang menarik tali pancing. Ia merasa karirnya sebagai nelayan belumlah habis.

Setelah seharian tarik ulur, seketika ikan yang tersangkut pada kail itu melompat ke udara. Santiago terbelalak ketika mengetahui bahwa ia sedang melawan marlin raksasa yang ukurannya lebih besar dari sampannya. Walau kekuatannya hampir habis dan tangannya perih teriris tali pancing, semangat mudanya yang belum padam membakar Santiago untuk terus berjuang menangkap marlin tersebut. Padahal Santiago bisa berhenti kapan saja ia mau. Namun dibalik semuanya, sebenarnya Santiago sedang memperjuangkan rasa yang terselip di batin. Sebuah rasa pembuktian yang tak lain ditujukan kepada diri sendiri: bahwa ia masih mampu!

Begitulah kira-kira sinopsis film juara kategori animasi pendek Academy Awards tahun 1999 ini. Banyak hal menarik dalam novela The Old Man and the Sea, yang terkenal karena bentuk deskriptifnya yang kuat, diringkas secara visual oleh Petrov dalam animasinya. Mulai dari konflik batin hingga konflik Santiago saat bergumul melawan ikan marlin, hampir semuanya persis tergambarkan. Kekurangan utama film ini, terutama adalah lemahnya penokohan Manolin, bocah yang sering menemani kegiatan Santiago. Dalam novela, penokohan Manolin termasuk kuat, karena ia bisa membawa dialog yang kelak akan menggambarkan kisah panjang Santiago. Namun begitu, film ini tetap mengandung kekuatan novela Hemingway yang paling sentimentil, yaitu kontemplasi pribadi seorang nelayan tua tentang kebanggan, kemuraman, hingga keyakinan hidup.

Adegan film The Old Mand and the Sea.

Secara umum, film ini berhasil membawa ruh yang terdapat dalam karya tulis aslinya. Jika boleh menganalisa, saya rasa ada dua hal utama yang memengaruhi keberhasilan film adaptasi ini:

Pertama, karya tulis yang diadaptasi menjadi film ini sedari awal merupakan karya yang ringkas dan padat.

The Old Man and the Sea karya Hemingway adalah prosa bertempo cepat dengan sedikit penokohan, serta konflik yang fokus dan tidak melebar. Beberapa menyebutnya novela, lebih panjang dari cerpen, namun tidak sepanjang novel. Walhasil, ide cerita yang diangkat menjadi sinema sudah bulat. Maka tidak perlu lagi menyaring secara berlebihan bagian-bagian tertentu yang akan difilmkan (seperti kebanyakan film adaptasi). Dengan kata lain, penonton yang telah membaca karya Hemingway tidak akan kecewa karena kehilangan terlalu banyak bagian novela; Sementara, penonton yang belum sempat membaca tidak akan kebingungan, karena plot cerita dalam film sama bernasnya dengan yang ada dalam buku.

Kedua, pemilihan teknik animasi yang tepat.

Ini yang menurut saya paling menarik. Alih-alih memanfaatkan teknologi digital, Aleksander Petrov sang animator, memilih teknik animasi manual. Ia menggambar rincian adegan per adegan untuk kemudian disatukan dalam komputer. Teknik ini, apalah namanya, persis seperti pada pembuatan film kartun tradisional, ribuan gambar yang kemudian ditampilkan bergantian secara periodik sehingga menghasilkan kesan bergerak. Petrov membuat hampir 29,000 gambar (!) untuk menghasilkan 20 menit gambar bergerak. Dalam animasi, ini hal yang wajar. Tapi tunggu dulu, teknik menggambar Petrov betul-betul manual. Ia menggunakan pastel yang dioles pada kaca sebagai kanvas, yang dibentuk sedemikian menggunakan jemari hingga menjadi lukisan yang diinginkan. Di titik inilah saya terkagum-kagum dengan karya animator asal Rusia ini.

Nah, ini maksud saya. Teknik menggambar Petrov yang menggunakan jemari sebagai kuas dan kaca sebagai kanvas, menghasilkan gambar-gambar realis yang boleh dikata tidak sungguh-sungguh menyerupai objek aslinya. Tepat seperti bentuk bayangan dalam kepala seseorang ketika sedang membaca karya sastra. Itulah mengapa saya begitu nyaman menonton film adaptasi ini, karena tidak merasa sedang didikte untuk mengikuti imajinasi pembuat film. Walhasil, sebagai penonton saya tidak terjebak untuk membandingkan film dengan imajinasi pribadi hasil pembacaan karya Hemingway tersebut. Toh, gambar animasinya cukup kabur untuk dapat dikatakan mendikte, namun cukup jelas untuk bercerita.

Dalam konteks film adaptasi sebagai “adu debat imajinasi”, seperti yang saya kemukakan di awal, teknik animasi Petrov berhasil berdiplomasi dengan santun kepada penontonnya. Lewat animasinya, Petrov seolah menawarkan tafsirannya atas karya Hemingway, namun tetap mempersilahkan penonton mengagumi imajinasinya sendiri.[]

Arfan

__________
The Old Man and the Sea (1999)
Sutradara: Aleksandr Petrov | Penulis: Ernest Hemingway (novel), Aleksandr Petrov (skenario) | Pengisi suara: Gordon Pinsent, Kevin Duhaney and Yôji Matsuda.

Sumber gambar: resensi-resensi-film.blogspot.com & screen captured video.

Review: Sang Penari

Tafsir Visual Ronggeng Dukuh Paruk

Poster film Sang Penari.

Setelah menyaksikan film Sang Penari (2011) saya sempat kaget dan hampir-hampir kecewa, kalau saja saya tidak menemukan pernyataan sang penulis skenario, Salman Aristo, yang memilih mengatakan film ini terinpirasi kisah dalam trilogi Ronggeng Dukuh Paruk (1981), daripada mengadaptasinya.

“Karena sangat tidak mungkin mengadaptasi tiga cerita dalam trilogi novel itu ke dalam satu film.” tambahnya.

Pernyataan Salman sebelum film ini rilis pada 10 November 2011, boleh jadi adalah kalimat antisipasi agar penonton lebih permisif mendapati kenyataan bahwa tidak seluruh mozaik cerita novel terekam utuh dalam visualisasi. Dan memang tidak mungkin kisah dalam tiga buku–Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala–dimampatkan dalam gambar bergerak berdurasi satu jam lebih sedikit saja.

Sekilas Sinopsis
Film yang diangkat dari karya fenomenal trilogi Ronggeng Dukuh Paruk (RDP) milik Ahmad Tohari, mengangkat secuil kisah prahara sejarah 1965–dalam mata rantainya yang kesekian–yang menimpa komunitas kecil Dukuh Paruk. Pedukuhan sederhana dengan masyarakatnya yang belum tersentuh ideologi apapun selain kepercayaan terhadap arwah leluhur ini memiliki monumen kebudayaan turun temurun: seni ronggeng.

Film ini bercerita tentang kisah dua anak manusia di Dukuh Paruk, Srintil (Prisia Nasution) dan Rasus (Oka Antara) yang sejak kecil memendam perasaan saling menyukai. Dukuh Paruk, desa yang terlampau bersahaja memiliki seorang ronggeng yang dielu-elukan sebagai kebanggaan pedukuhan. Pada suatu pagi peristiwa keracunan tempe bongkrek merenggut nyawa nyai ronggeng dan sebagian penduduk desa. Srintil cilik turut merasa bersalah, karena orangtuanyalah si pembuat tempe beracun itu. Selepas kejadian maut tersebut Dukuh Paruk mati suri, terlebih karena tak adanya ronggeng.

Didorong perasaan bersalah, dan kepercayaan tetua Dukuh Paruk bahwa tubuhnya telah dirasuki indang ronggeng, Srintil memutuskan untuk menjadi ronggeng. Kesenian ronggeng kembali digelar. Dukuh Paruk kembali hidup. Ronggeng dalam kebudayaan masyarakat sekitar Dukuh Paruk adalah wanita yang tidak sekedar melenggak-lenggok di pentas, tetapi juga berarti wanita milik semua lelaki yang berani membayar.

Dengan definisi ronggeng tersebut, Rasus merasa Srintil telah dicuri dari kehidupannya. Srintil pun menghadapi dilema antara meneruskan cita-citanya menjadi ronggeng dan mempertahankan hubungannya dengan Rasus. Di bawah perasaan kecewa, Rasus pergi dari Dukuh Paruk, nasib membawanya memasuki dunia kemiliteran. Sementara Srintil semakin matang dan malang melintang di dunia ronggeng.

Tahun berganti tahun, dan sampailah masa dimana peristiwa geger 1965 berkecamuk. Rasus yang telah menjadi tentara menemukan kenyataan bahwa warga dan grup kesenian ronggeng Dukuh Paruk ternyata terlibat dosa sejarah tersebut, meski dalam arti yang paling bias. Akhirnya keadaan membawa dilema berikutnya, Rasus berada di persimpangan. Ia harus memilih antara pengabdian pada negara dan pencarian cintanya yang hilang, Srintil.

***

Sulit memenuhi niat saya sebelumnya, untuk tidak akan membandingkan kisah dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk dengan visualisasinya dalam film Sang Penari. Saya berusaha menonton film tersebut sebagai sebuah karya utuh yang tidak membawa beban berat untuk menyajikan kemahsyuran kisah dalam trilogi RDP. Setiap selesai menyaksikan scene demi scene, otak ini maunya mengomentari melulu kesesuaian cerita dalam film dengan kisah tertulisnya. Sulit untuk tidak. Karena, jujur, ketika menonton saya belum mahfum kalau film ini bukanlah adaptasi bulat, melainkan sekedar terisnpirasi kisah RDP, seperti pernyataan penulis skenarionya di atas.

Ada dua hal yang sengaja atau tidak selalu saya perhatikan dalam jenis film adaptasi literatur: visualisasi dan logika cerita. Dua hal tersebut yang akan memantapkan bentuk unsur-unsur penting cerita seperti latar, penokohan, dan plot. Apapun istilahnya, film adaptasi adalah dramatisasi kata-kata yang divisualisasikan. Film adaptasi haruslah mampu menyuguhkan pengalaman yang senada (jika tidak mungkin sama) dengan pengalaman membaca literaturnya. Untuk dapat memberikan pengalaman tersebut, maka visualisasi dan logika cerita menjadi penting.

Visualisasi yang Mantap
Sang Penari, saya rasa adalah film yang telah melampaui keperluan akan penilaian kualitas visualisasinya. Dalam hal ini sutradara Ifa Isfansyah patutlah berbangga atas hasil kerja kerasnya. Betapa segala hal berbau teknis nampak jelas direncanakan secara maksimal oleh Ifa, Yadi Sugandi (penata kamera), dan Eros Eflin (penata artistik).

Pengambilan gambar yang sering dilakukan secara tight (dekat, contohnya: wajah tokoh memenuhi layar) berhasil ‘mengumbar’ emosi tokoh-tokohnya secara total. Pengambilan gambar tanpa tripod (penyangga kamera) saat mengambil adegan-adegan dinamis seperti tarian ronggeng atau kericuhan pedukuhan, sehingga gambar menjadi goyang-goyang terkendali, membuat adegan lebih dramatis.

Adegan film Sang Penari.

Karakter-karakter kunci sungguh diperankan dengan maksimal. Pemeran Srintil, Rasus, Nyai dan Kang Kartareja, Kang Sakarya, hingga Sakum si buta penabuh gendang begitu total dan dramatis. Logat Banyumasan yang kental di setiap dialog terdengar alami. Khusus bicara peran, saya begitu terkesan menyaksikan pemeran Sakum dalam film.

Gerakan pemeran Srintil walau terlihat berusaha keras (baca: kurang luwes) saat adegan menari ronggeng dapat diatasi dengan sudut pengambilan gambar. Adegan yang memerlukan masyarakat umum untuk berinteraksi dengan tokoh utama, juga terlihat natural. Saya tidak menemukan pameo yang kaku (biasanya terlihat dalam gerak berjalan, atau gerak curi pandang ke kamera) yang berpotensi merusak suasana. Satu lagi yang patut diacungi jempol, adegan saat Srintil menjalani ritual bukak klambu dan ‘adegan kamar’ lainnya, jauh dari kesan seronok. Lagi-lagi teknik pengambilan gambar dan pencahayaan yang berperan di sini.

Pemilihan set lokasi terlihat maksimal. Bagaimana penggambaran pedukuhan, alam pedesaan, pasar, dan lokasi penting lainnya cukup mewakili gambaran seperti definisi cerita dalam novel aslinya. Walaupun ada scene yang menggambarkan pedesaan Paruk terlampau hijau, subur-makmur, padahal latar Dukuh Paruk dalam novel adalah desa yang kering kerontang. Namun, secara umum visualisasi film Sang Penari terbilang mantap.

Pemahaman Cerita yang Sulit
Sulit di sini bukan berarti cerita film ini berat, bukan pula karena alur yang terlampau canggih macam film-film eksperimental. Pemahaman cerita menjadi sulit justru karena hal-hal sepele. Hal-hal tersebut menjadi kekurangan yang memengaruhi logika cerita, kekurangan mendasar yang seharusnya dapat dihindari.

Pertama, minimnya narasi. Narasi menjadi penting dalam setiap karya yang bercerita. Dalam novel RDP narasi dipaparkan dengan sangat jelas, terutama karena penulisnya (Ahmad Tohari) mengambil sudut pandang orang ke tiga, pencerita yang serba tahu. Dalam film, entah mengapa pengenalan tokoh, penjelasan peristiwa, maupun penjelasan adegan penting lainnya terasa tergesa-gesa.

Akibat minimnya narasi, kaitan antara waktu dan adegan menjadi membingungkan. Maksud saya, dalam film ini adalah kaitan antara tahun dengan keadaan sosio-histori masyarakat. Memang ada penanda berupa tulisan tahun terjadinya kisah di layar. Namun apa yang sesungguhnya terjadi pada tahun tersebut kurang terjelaskan. Contoh fatalnya adalah adegan ketika pecahnya peristiwa 1965, hanya terjelaskan lewat suara berita di radio kuno. Selebihnya, penonton harus sudah tahu dari awal, bahwa pada 1965 ada gerakan G30S/PKI yang menyebabkan gegernya keadaan sosial politik kala itu. Lantas, bagaimana jika ada penonton yang tidak tahu tentang PKI dan pengaruhnya terhadap masyarakat?

Cukup sering saya temukan kejanggalan dalam film yang diakibatkan tiadanya narasi. Contoh lain yang juga fatal adalah adegan perubuhan makam Ki Secamenggala. Siapa yang merubuhkan, motifnya apa, dan dampak terhadap adegan selanjutnya apa sungguh membingungkan penonton. Lagipula, siapa itu Ki Secamenggala, kurang terjelaskan.

Kedua, penokohan yang menggantung. Siapa itu neneknya Rasus, siapa itu Juragan Perkebunan bersafari dan celana putih, siapa itu temannya Rasus dan Srintil yang menyetir mobil di akhir-akhir cerita, mereka adalah tokoh yang kurang terjelaskan perannya. Juga kurang masuk logika untuk apa mereka ada, karena tidak terlihat pengaruhnya terhadap jalan cerita.

Ketiga, hilangnya kesan jarak dalam latar. Contohnya, antara Dukuh Paruk dan pasar. Sedekat itukah hingga Rasus berpindah-pindah tempat begitu mudahnya, padahal Srintil yang ketika itu telah jadi ronggeng perlu naik andong ke pasar tersebut.

Keempat, adegan yang kurang jelas, yang tidak saya mengerti keterkaitannya dengan adegan-adegan lain. Adegan-adegan ini akhirnya mengganggu logika cerita keseluruhan. Contohnya, adegan Juragan Perkebunan yang bolak-balik ke Dukuh Paruk untuk menawar Srintil, terasa begitu cepat dan kurang jelas bagaimana akhirnya. Juga ada adegan ketika terjadi pembantaian bekas anggota partai terlarang yang ditembakki tentara. Dalam scene adegan tersebut, pencahayaan terlampau minim cenderung gelap. Mungkin untuk menghindari kesan sadis. Tapi akibatnya adegan tersebut jadi tidak jelas.

Adegan film Sang Penari.

Adegan kurang jelas lainnya, saat Srintil disekap oleh tentara, lalu temannya meminta pada penjaga supaya Srintil dapat keluar sementara waktu (Omong-omong, kenapa pula si temannya itu tidak ikut disekap? Padahal dia termasuk warga Dukuh Paruk yang kesemuanya ditangkap tentara. Kenapa dia sendiri tidak?). Mereka mengendarai mobil. Tiba-tiba Srintil ada di sebuah kamar, lalu meludahi cermin. Tidak jelas!

Untuk yang sempat membaca novelnya, adegan di atas pasti adalah adegan untuk menggantikan kisah saat Srintil ‘dijual’ oleh mandor yang baru berkenalan dengannya, kepada bos kontraktor di kota besar. Sebenarnya ini adalah adegan paling sentimentil dan paling berkesan, karena adegan inilah yang mengantar klimaks utama dari keseluruhan cerita trilogi Ronggeng Dukuh Paruk.

Terlepas dari pengaruh sensor atau hal teknis lainnya, kekurangan-kekurangan di atas pada akhirnya merusak logika cerita secara keseluruhan sehingga sulit untuk memahami film secara penuh. Sayang sekali.

***

Alhasil saya hanya mampu menduga-duga dan mengait-ngaitkan cerita dalam film dengan ingatan terhadap kisah dari novel RDP, artinya konsentrasi saya buyar. Sejujurnya, sungguh tidak nikmat menonton film adaptasi literatur dengan konsentrasi terpecah begini. Sebentar pikiran mencari ingatan gambaran dalam buku, sebentar lagi kembali mengamati layar lebar. Dalam hal ini, saya rasa beruntunglah penonton yang belum sempat membaca Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk.

Patut pula diperhatikan kekurangan-kekurangan yang sebetulnya remeh, namun justru berpotensi menggagalkan pemahaman penonton terhadap alur cerita seperti yang telah saya bahas di atas; terutama bagi penonton yang tidak awas (termasuk saya :b) dan bagi yang tidak paham ada apa di medio 60-an. Dalam hal ini, saya rasa jauh lebih baik untuk terlebih dahulu membaca Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk sebelum menonton film Sang Penari.

Akhirnya, saya kembali diingatkan, belum pernah ada film yang diadaptasi dari literatur berbahasa Indonesia yang betul-betul memuaskan.[]

Arfan

__________
Sang Penari (2011)
Sutradara: Ifa Isfansyah | Skenario: Salman Aristo, Ifa Isfansyah, Shanty Harmayn | Pemain: Oka Antara, Prisia Nasution, Slamet Rahardjo, Dewi Irawan, Landung Simatupang, Hendro Djarot, Lukman Sardi

Sumber gambar: Facebook.com/SangPenari.

Menanti Sang Penari

Saya pribadi tidak merasa perlu melihat visualisasi elektronik dari cerita fenomenal berjudul “Ronggeng Dukuh Paruk” (1981) yang legendaris itu. Kenapa? Karena Ahmad Tohari (1948-…) sang empunya cerita sudah ‘terlalu’ rinci menggambarkan segala sesuatu yang bisa diimaji dalam masterpiece-nya ini. Anda pembaca Ronggeng Dukuh Paruk (RDP), tentunya sudah ‘mendokumentasikan’ secara khusus gambaran tentang Srintil, Rasus, suasana Dukuh Paruk, hingga puncak peristiwa komunisme yang melukai hati, dalam imajinasi pribadi.

Cerita RDP diadapatasi (kembali) dalam film berjudul “Sang Penari“. Film karya sutradara Ifa Isfansyah yang skenarionya ditulis oleh Salman Aristo, Ifa Isfansyah, dan produser Shanty Harmayn ini akan rilis pada November 2011.

Sebelumnya RDP pernah divisualisasikan dalam film berjudul “Darah dan Mahkota Ronggeng” (1983) setelah cerita bersambung di koran Kompas ini dibukukan. Film lawas yang dikerjakan oleh sutradara Yazman Yazid kurang begitu populer, mungkin karena pengaruh represif rezim saat itu yang tidak memberi ruang gerak pada segala isu berbau komunisme yang notabene menjadi konflik dalam cerita RDP.

Happy Salma dalam film Sang Penari.

Kekhawatiran
Sejujurnya, ketika mengetahui cerita Ronggeng Dukuh Paruk akan diadaptasi (kembali) dalam sebuah film, saya sedikit khawatir. Dari pengalaman menyimak film adaptasi novel yang pernah ada, saya tidak pernah terpuaskan. Mungkin banyak dari anda yang juga memiliki pengalaman kecewa terhadap film adaptasi novel, apalagi karya sastra. Memang wajar. Adalah sebuah hal sulit untuk menterjemahkan karya tulis dalam sebuah media visual. Sulit dan kerap mengecewakan, karena imajinasi individual tidak pernah dapat terakomodir dalam sebuah visualisasi massal, sebuah film.

Makanya saya mengkhawatirkan memori-imaji yang telah Ahmad Tohari sapukan di kanvas imajinasi saya sebagai pembaca, kelak akan rusak setelah menyimak film Sang Penari.

Setidaknya ada dua kekhawatiran saya (tapi semoga buruk sangka saya ini patah kelak):

Pertama, khawatir kurang kuatnya penokohan dalam film. Gambaran kekenesan Srintil, kelelakian Rasus, lansekap Dukuh Paruk, hingga kecabulan masyarakatnya, telah dideskripsikan oleh Tohari begitu rincinya di tiap narasi dalam novelnya. Pembaca, dalam hal ini menerjemahkan deskripsi cerita langsung dari penulisnya. Nah dalam film, penonton berada di posisi  menyimak citra hasil ‘karangan’ sutradara dan penulis skenario, yang menerjemahkan cerita dari penulis. Jadi saya khawatir ada bias deskripsi.

Kedua, khawatir hilangnya plot maupun konflik-konflik kecil yang sesungguhnya sangat berarti. Garis besar RDP menceritakan tragedi kemanusiaan 1965, sebuah catatan gelap di Indonesia dari sudut pandang jelata yang diwakili Srintil dan Rasus. Karena bercerita lewat tokoh jelata, Ahmad Tohari banyak mendapat lahan untuk mengungkap sisi-sisi humanis manusia. Maka setiap konflik dalam novel RDP, betapapun sepele, justru menjadi sangat berarti dalam menyusun klimaks yang mengguncang. Nah, karena durasi film tidak panjang, sisi plot dan konflik inilah yang saya khawatir akan hilang di sana-sini.

Sedangkan untuk masalah pemeran tokoh cerita dan setting cerita, saya tidak begitu ambil peduli. Toh imajinasi anda tentang cantiknya paras Srintil pasti berbeda dengan imajinasi saya. Toh fantasi sutradara tentang suasana malam bukak klambu, saat Srintil ‘diwisuda’, pasti berbeda dengan fantasi anda. :-b

Antisipasi
Untuk itu saya kira, perlulah melakukan antisipasi dengan meletakkan sejenak seluruh bayangan penokohan dan plot yang terbaca dari literatur karya Tohari sebelum menyimak visualisasinya. Tinggalkan memori-imaji cerita bersama lembaran novel Tohari di rumah. Pergilah ke bioskop dengan ceria, bukan dengan niat membandingkan buku dan layar lebar, tentu saja supaya tidak kecewa.

Namun bagi anda yang belum sempat membaca RDP, saya tidak tahu–oleh karenanya tidak dapat menyarankan–apakah lebih baik membaca novelnya terlebih dulu sebelum menyimak filmnya, atau sebaliknya. Karena sesungguhnya pengalaman membaca dan menonton tidak akan pernah sama.

Tetapi, dari semua kekhawatiran di atas saya hanya dapat berasumsi: karena Ronggeng Dukuh Paruk begitu menawan hati, maka Sang Penari patut dinanti.[]

Arfan

__________
Sumber gambar: Facebook.com/SangPenari
Keterangan: Sinopsis cerita novel bisa dilihat di resensi Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk di blog ini.