Tag Archive | FSK ITB

Diskusi Dwi Mingguan Forum Studi Kebudayaan ITB

Tema: Citra (image)
Setiap Rabu:  21 Maret – 22 Agustus 2012 (12 pertemuan)
Setiap pukul 15.00 – 17.00 WIB
@ Ruang Seminar FSRD ITB
Umum & Gratis

Advertisements

Studia Humanika, Kelisanan dan Literasi: Relevansinya Bagi Pendidikan dan Tradisi Keilmuan di Indonesia

Studia Humanika, Kelisanan dan Literasi: Relevansinya Bagi Pendidikan dan Tradisi Keilmuan di Indonesia adalah sebuah event serial kuliah umum yang diselenggarakan oleh Forum Studi Kebudayaan ITB dan Divisi Pengkajian dan Penerbitan YPM Salman ITB.

Latar Belakang

Cara hidup masyarakat Indonesia merentang sangat lebar. Sebagian masyarakat masih hidup seperti di zaman batu. Sebagian lagi di perkotaan, telah bersentuhan dengan teknologi cyberspace. Namun, keseluruhan rentangan tersebut secara kasar memiliki satu benang merah, yaitu tradisi kelisanan yang kental di semua lapisan.

Bagian terbesar masyarakat Indonesia masih hidup dalam tradisi lisan karena sulit mengakses buku, koran, internet dsb. Jikapun bisa, mereka tidak dapat mencernanya dengan baik karena faktor pendidikan. Sebagian kecilnya bisa mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi, dan memiliki akses terhadap buku, internet serta media elektronik lainnya. Namun, bukan berarti tradisi tulisan atau literasi tumbuh subur di kalangan ini.

Mengapa kita harus bicara soal tradisi kelisanan dan literasi?

Prof. Dr. Bambang Sugiharto, Guru Besar Filsafat UNPAR, menjelaskan bahwa berbagai permasalahan bangsa seperti etos kerja yang payah hingga KKN adalah akibat kegagalan sistem pendidikan. Pendidikan di Indonesia gagal melepaskan kita dari struktur mentalitas budak. Sejarah pendidikan kita bahkan adalah sejarah pelestarian mentalitas kuli secara sistematis, dari zaman Belanda hingga saat ini.

Kegagalan pendidikan salah satunya disebabkan oleh kegagalan dalam menumbuhkan budaya literasi di kalangan peserta didik dan pendidik. Prof. Dr. Bambang Sugiharto menjelaskan bahwa dunia baca-tulis memupuk sensibilitas lebih terhadap inti substansi dan penyebab-penyebab efisien, bukan pada kesan, efek ataupun penyebab formal.

Di negara-negara yang budaya lisannya masih kuat seperti Indonesia, tampilan formal dianggap lebih penting daripada substansi atau penyebab dasarnya. Untuk menyelesaikan persoalan, orang ramai membuat spanduk, imbauan dengan pengeras suara, iklan layanan dalam media massa, slogan, ataupun lembaga dan panitia. Riset yang sungguh-sungguh atas substansi atau penyebab dasar persoalan, sayangnya sering dilupakan.

Perilaku ini celakanya terbawa sampai ke dunia ilmiah. Misalnya, banyak karya ilmiah yang menderetkan nama-nama pemikir besar atau dipenuhi catatan kaki, namun substansi pembicaraannya tak jelas. Ternyata di Indonesia, pendidikan tinggi sekali pun tidak menumbuhkan budaya literasi (keberaksaraan) di kalangan peserta didik maupun pendidiknya.

Muncullah permasalahan penting yang perlu dipikirkan secara mendalam: akan seperti apa wajah pendidikan dan tradisi keilmuan di Indonesia pada masa depan? Pertanyaan inilah yang coba dijawab lewat kegiatan pengkajian ini.

Read More…